Magic You

Magic You
chapter 33


__ADS_3

...Prov Kenzo Dwigantara...


Aku berlari sekencang mungkin berharap bis belum berangkat. "Sial... Kenapa bisa ketiduran sih." Aku memaki diri karena tak disiplin waktu.


Baru pertama kali aku begini. Ck.


Aku menatap depan, ternyata bis belum berangkat. "Yosh."


Aku semakin mempercepat lariku.


"Geser-geser." Aku menyenggol seseorang di hadapanku. Gerakannya sangat lamban, aku benci harus menunggu.


Aku mencari bangku kosong.


Ah itu dia.


Aku berjalan menuju bangku itu.


Wanita lamban itu menyosor bangku yang mau kududuki tadi. Ck.


"Aku deluan, haha." Ucapnya bangga.


Cari masalah dia. Aku menatapnya tajam.


Dia yang tadi sekilas menatapku, malah tak menggubrisku.


Ck. Terpaksa aku harus berdiri sepanjang perjalanan memegangi pegangan bis.


Bis sudah berjalan. Tak ada lagi tempat berdiri selain tempat ini, kalau ada aku bakalan ke sana, jauh dari cewek ngeselin ini.


"Biasa aja dong matanya. Risih lihatnya." Cetusnya tak bersalah.


"Aku berdiri karena kau!" Kataku tegas untuk menjelaskan bahwa karena dia aku jadi begini.


"Siapa cepat dia dapat." Dia menaikkan ujung hidungnya dengan telunjuknya mengejekku.


Sialan.


Aku jarang melihat wanita seperti ini.


...


Arah tatapannya berubah arah. Dia melihat ke arah seorang nenek yang tengah berdiri. Dia kembali menatapku dengan tajam sambil menunjukku dengan jari telunjuknya.


"Jangan duduk di sini."


Dia langsung berlari dan mengajak nenek itu ke bangkunya. "Nenek duduk di bangku saya aja ya nek. Soalnya nanti nenek jatuh." Katanya lembut.


Senyum terlukis di wajahku.


Cih aneh. Waktu ngomong padaku dia kasar, tapi waktu ngomong sama itu nenek-nenek malah sangat sopan.


Lama perjalanan akhirnya sampai di kampus.


Mataku tertuju padanya.


Sewaktu dia turun ada buku yang terjatuh dari tasnya.


Aku berjalan mengikutinya dan mengambil buku itu.


Aku melihat arah tujuan dia berjalan.


Hem. Kami satu kampus rupanya.

__ADS_1


Menarik.


Dia memasuki kampus dengan celenga-celengok. Heh. Dia masih MABA aja udah terlambat.


"Ngapain kau masuk!" Teriakan Bobi yang merupakan salah satu panitia MOS. Setiap orang menatap wanita itu. Dia tampak pucat sambil membalikkan badan.


Aku memperhatikan gerak-geriknya. Apa yang akan dia lakukan.


"Kau terlambat kan?!" Bobi mengertaknya. "Keluar dari barisan, berdiri di sana sendiri!" Bobi mengarahkan tangannya ke depan lapangan untuk mempermalukan dia.


"Lihat... Ini yang terjadi kalau kalian tak tepat waktu!" Sambung Bobi.


"Heh kau! Push up 50 kali!" Sambungnya.


"Hah?!" Dia kaget.


"Hah, hoh, hah, hoh. Cepat lakukan!"


Aku yakin kalau sudah begini dia pasti akan menurut. MABA yang lemah.


Beberapa hitungan dia sudah ngos-ngosan.


"Cepatt! Kenapa berhenti! Lanjut!" Jerit Bobi.


Dia kembali memaksakan diri malaksanakan perintah. Tak lama kemudian dia berhenti tak sanggup melanjutkan.


"Duduk lagi! Cepat berdiri!"


Wajah wanita itu tampak merah padam. Dia sangat marah.


"Kenapa?! Berani?!" Bobi masih dengan gaya senioritas mulai berulah sombong.


Aku menutup telinga dan berbalik.


Hemm. Terlalu biasa.


Aku melangkahkan kakiku berjalan acuh ke dalam ruang panitia.


"Iya! Kenapa!" Terdengar suara bentakan wanita.


Aku kembali membalikkan badan melihat apa yang terjadi.


Cewek itu memarahi seniornya?


Semua terdiam. Seketika menjadi hening.


Aku menyungingkan senyum melihat keberaniannya.


Bobi sedikit terkejut kemudian tersenyum kecut melihatnya. "Berani kau ya?!"


"Ngapain aku harus takut samamu! Sama-sama makan nasi kan?!" Aku menunjuknya kesal. "Kau pikir kau siapa?! Jangan sombonglah!"


Mataku terbelalak.


Hem. Gila ya ni cewek.


Ini kesempatanku untuk mendekatinya.


"Kalau mau nge-MOS ya nge-MOS aja... Ngak usah songong!"


Aku berjalan semakin dekat padanya.


"Kurang ajar.." Bobi tampak jengah dan berjalan emosi mendekatinya.

__ADS_1


Aku meraup lehernya dari belakang. "Ni bocah. Aku yang urus." Kataku pada Bobi dengan mengedipkan mata. Dia mengangguk paham.


Cewek ini menoleh ke belakang melihatku.


"Apa-apaan ka.." Dia mencoba memprotes.


"Stt." Aku menutup mulutnya dengan satu jari telunjukku. "Ikuti aja." Aku berjalan menjauh kerumunan MABA sambil menariknya.


***


Kami dalam satu ruangan yang sama. Aku mencari-cari nama wanita ini.


"Siapa namamu?"


"Valen." Jawabnya acuh.


"Valen..." Aku menyisir deretan nama di list MABA tahun ini. "Ah.. Valentresia?" Aku memastikan.


"Hem."


Aku menutup kertas memandangnya datar. "Etikamu sangat buruk ya."


Dia mendengus kesal.


Aku semakin penasaran padanya.


"Mana ada anak kedokteran begini." Sindirku.


"Terserah aku lah. Keluargaku aja ngak ada yang keberatan, kau pula yang keberatan."


"Hem." Aku menyenderkan diri di kursi dudukku. "Kau menjatuhkan ini di bis tadi." Aku menunjuk buku itu.


Dia tampak sangat terkejut.


Sekali lagi ini kesempatanku. Sepertinya buku ini sangat berharga baginya.


"Dddari mmana kkau dapat?" Dia gagap.


"Kan tadi udahku bilang. Dari bis bego." Aku mengulang kalimatku.


"Biasa aja dong. Lebay." Sambungku.


Dia mencoba merenggutnya dengan cepat. Tapi tanganku lebih sigap mengarahkan tangan ke belakangku sehingga tak dapat di gapainya.


Hah... Kena kau... Kau akan jadi pacarku Valen.


"Kasih ngak!" Jeritku.


Aku tersenyum sinis padanya. "Akan kuberikan kalau kau jadi pacarku."


Dia menjerit ke sembarang arah. "Maumu apa sih peri!! ini terjadi lagi!! Aku benci kau!!"


Peri?


Matanya di arahkan padaku. "Dengar ya... Aku ngak bakalan mau jadi pacarmu... Sekalipun aku akan terkena sialll. Aku tak mau..."


Dia hendak beranjak pergi ruangan.


Aku bangkit berdiri dan berjalan cepat ke arahnya, menyudutkan dengan mengunci badannya di antara kedua tanganku yang bertumpu pada meja yang membuatku berada di hadapannya sangat dekat.


Dia memukul perutku dan membuatku meringis kesakitan. Dia langsung melepaskan diri dan pergi.


Aku tersenyum.

__ADS_1


Baru kali ini aku merasa sangat tertantang. "Gimanapun caranya. Kau akan jadi milikku."


__ADS_2