Magic You

Magic You
Aku Kenapa?


__ADS_3

Catatan penulis:


Cuma mau bilang, jangan lupa like comment dan vote ya guys...


Semakin banyak kalian tinggalkan jejak semakin sering Author up ceritanya loh... Dukungan kalian sangat berarti bagi Author πŸ₯ΊπŸ™...


Jadi semangati aku terus ya guysss!! πŸ€©πŸ‘


-----------------------------------------------------------


"Pagi Ma. Pa," sapaku sambil mengambil roti yang telah di sediakan Mama dan langsung mau berangkat dengan merangkul tasku bahu kananku.


"Dio. Makan itu duduk. Makan yang tenang," jerit Mama saat aku berjalan menuju pintu depan.


"Ngak sempat ma. Keburu telattt," balasku sambil terus melangkah dan kemudian melambai, "Bye Ma, Pa." Kataku sambil melambaikan tangan dan langsung cabut.


"Mama sama Papa mau ngomong sesuatu!" Panggil mama.


"Nanti aja Ma, pulang sekolah nanti!" Ucapku lagi.


Btw si Bryan mana ya? Kok udah ngak kelihatan aja pagi pagi.


Ah. Udah biasa juga sih. Tu anak kan selalu datang ke sekolah pagi pagi buta. Ntah apa juga dia ke sekolah cepat cepat. Dasar kembar GJ.


Aku naik ke keretaku dan dan memasang helm. Melakukan keretaku kencang dan sampai sekolah dengan selamat. Aku berjalan ke dalam kelas memalui lorong sekolah.


"Hai kak Dio,"


"Hai kak,"


"Aduh ganteng banget. Hai kak Dioo,"


Aku hanya membalas dengan senyuman kecil dan mengedipkan mata membalas sapaan mereka.


Dan mereka hanya memekik kegirangan.


Heh. Dasar cewe.


Aku melihat ke sebelahku, Gia yang baru datang melewatiku begitu saja.


Aku menahan tangannya, "Heh. Sapa dulu kek temanmu yang ganteng ini." Ucapku kesal.


"Ah lama! Udah mau masuk kelas!" ucapnya sambil menepis tanganku dan meninggalkanku terburu buru.


Aku menarik tangannya berjalan ke arah yang berlawanan dari kelas. "Heh! Mau ke mana?!" Jeritnya kesal.


"Udah ikutin aja."


Dia memukul mukul tanganku, "Ish! Udah mau masuk kelas Dio!"


"Diem atau enggak aku gendong," ancamku membuat dia semakin marah. "Coba aja! Aku bakalan laporin kau ke guru BK! Biar di skors sekalian kau!" sambungnya.


Aku menoleh ke nya dan berhenti, "O ho... ide bagus. Kalau aku di skors, kau juga bakalan di skors. Blee."


"Dio! Jangan kaya anak anak! Udah SMA, kelas 3 semeter 2 lagi! Kalau ngak belajar mau jadi apa kau!" Dia menaikkan tangannya prustasi, "Arh... Udahlah nanti aja aku ceramahnya! Ayo masuk kelas!"


Dia menggenggam tanganku dan menarikku ke kelas. Aku tersenyum kecil, buat Gia marah pagi pagi seru tau. Hehe...


***


"Kerjakan soal halaman 28. Kerjakan 30 soal pilihan berganda dan 5 uraiannya. Siapa yang sudah selesai kumpul," ucap bu Juminten di depan kelas.


Aku mulai mengerjakan tugas dengan lumayan serius, dan tentunya di bantu oleh Mbah Google.


Belum sampai 10 menit leherku kebas dan aku coba merentangkan kedua tanganku. "Tinggal 12 pilgan dan uraian," ucapku sembari merengangkan badan.


"Siap," ucap Gia yang berada di sebelahku yang kini hendak ke depan.

__ADS_1


Aku menahan tangannya, "Ih. Bagi bagi jawaban lah. Parah bener."


"Ih. Jawab aja sendiri." Dia pergi ke depan dengan membawa buku latihannya untuk di kumpul dan kembali ke bangku.


Aku manatapnya tajam, "Dasar pelit. Orang pelit kuburannya sempit."


Dia tersenyum miring ke arahku, "Kalau mau lebar mau buat mall namanya."


Aku memutar bola mataku malas, "Terserah."


Aku kembali ke soal latihanku. Tak sengaja aku melihat buku paket matematikanya. "Ckckck, Itu buku paket ngapa jadi buku sakit. Full banget sama jawaban." Kataku melihat buku paketnya. "Pinjem dong," ucapku.


Dia menarik bukunya, "Gak ada. Kerjakan sendiri."


"Ck. Pelitt.." aku membuang wajahku dan kembali mengerjakan soal.


Terdengar suara kekehan Gia membuat aku menoleh, "Apa yang lucu."


"Kau itu aneh. Di mana mana kalau orang duduk di sebelah orang juara kelas pasti bakalan ketularan rajinnya. Tapi kau... Malah makin malas."


Aku berdecak kesal, "Kalau cuma mau menhina mending ngak usah ngomong."


Dia tersenyum dan mendekatkan dirinya kepadaku. "Mana yang ngak kau mengerti, biar aku ajari." Dia melihat bukuku.


Aku tersenyum kecil. Kemudian berhenti tersenyum.


Ngak, aku lagi marah. Ngak boleh luluh!


"Gak usah. Pake google juga bisa." Aku kembali menarik bukuku. "Mana yang sulit hm? Cepetan. Habis waktu, nanti nilaimu malah ngak ada."


Aku menghembuskan nafas berat dan akhirnya luluh juga, "Yang ini sampe bawah belum selesai." Aku menunjuk soal yang belum aku kerjakan.


"Sini. Lihat baik baik caranya biar nggak bego lagi," katanya sambil merangkulku dan kemudian mengerjakan soal.


Aku melihat wajahnya yang sangat dekat di wajahku.


Cium boleh ngak ya?


Ah, ntar dia marah dan ngak jadi bantuin ngerjain soalku lagi.


"Udah sekarang kerjain. Ini caranya sama sama yang sebelumnya aku kerjakan, cuma beda angka aja," jelasnya membuyarkan lamunanku.


"Apaan. Aku masih ngak paham. Pelan pelan dong.."


Dia mendengus kesal. Dan aku yakin dia akan merepet lagi.


"Ya ya ya. Udah tau. Aku langsung kerjakan," kataku sebelum dia mengomel.


Aku kembali melihat bukuku dan benar saja. Aku ngak paham..


Aku coba mengerjakannya dan akhirnya aku membuka google. Gia mengambil ponselku, "No Google pake otak sendiri."


Aku menggaruk kepalaku, "Iya deh aku ngak ngerti. Terserah mau merepet atau gimana, terserah." Aku pasrah.


Dia mendengus berat. Dia menangkup kedua pipiku dengan sepasang tangannya, "Dio makanya di dengar orang ngomong... Jangan bayangin cewe mulu!" Katanya geram.


Ya ampun. Dia memegang wajahku tapi efeknya sampai seluruh tubuh.


"Iya sayang.. maaf ya," kataku tersenyum lebar.


"Sayang sayang, pala mu peang. Udah lanjutin ngerjainya," katanya sambil mengambil bukuku.


Kali ini aku beneran jadi fokus melihat soalnya. Ntar takut dia marah lagi.


***


"Gia, kau pulang bareng aku. Kita makan makan kuy," ajakku.

__ADS_1


Mau belajar. Itu pasti kalimatnya.


"Mau bel.."


"Sttt.. nanti malam kan kau belajar juga. Jadi sore ini kita jalan jalan lah. Jangan terlalu porsir belajarnya."


Dia menghela nafas berat, "Ngak. Aku cape."


"Oh ayolah... Kenapa kau malas banget gerak. Apa perlu aku gendong?"


Dia mendengus, "Cape tau... Aku mau tidur. Ngantuk."


Tak perduli aku menarik tangannya dan mengajaknya langsung masuk ke dalam mobilku, "Diam dan ikuti saja."


Aku menutup pintu Gia dan kemudian berjalan memutar dari luar untuk duduk di kursi pengemudi.


Aku melihat ke arah Gia sampingku, dia memeluk tasnya. "Bodo amat. Aku mau tidur."


"Ngak akan," kataku sambil mengemudikan mobil dengan kencang.


"Dio! Kau gila?!... Pelankan!" Jeritnya pecah.


"Makanya bangun." Ucapku santai.


"Iya iya! Pelankan tapi!"


Haha. Memang harus pemaksaan dianya mah.


Aku menelan mobilku tersenyum miring.


Aku menatapnya dia berusaha membuka matanya yang berat.


Hm. Apa aku keterlaluan?


Aku mengusap kepalanya, "Semalam tidur jam berapa?"


"Empat."


Aku menatapnya tajam, apa karena telfonan dengan orang misterius yang ngak aku kenal siapa dia?


"Ngapain aja?" Tanyaku lagi.


Dia menarik tanganku yang ada di kepalanya dan kembali menggenggamnya di atas tas yang ada di pahanya, "Jangan di elus gitu. Aku makin ngantuk." Katanya dengan mata tertutup menganguk.


Aku tersenyum kecil dan mengeratkan genggamanku dengan mengelus punggung tangannya dengan jempol, "Ya udah tidur aja. Kita langsung pulang."


Dia tersenyum dan kemudian tertidur total.


Aku melihat tangannya yang menggenggamku.


Tangannya lembut.


***


Sudah sampai tapi Gia masih tertidur.


"Gi udah sampai," bisikku di telinga Gia.


Dia terbangun dan kemudian merenggangkan badannya, "Oh. Oke. Makasih."


Dia membuka pintu dan kemudian melambaikan tangan singkat dan pergi.


Ada rasa yang kurang saat dia pergi.


Ck. Ntahlah. Kenapa dia tak mengelus pipiku atau apalah gitu? Kenapa malah langsung pergi gitu aja?


"Aww!!" Terdengar suara Gia yang menjerit dari luar.

__ADS_1


Aku terkejut dan langsung pergi keluar. "Gia! Kau tak apa?!" Tanyaku sambil mencari keberadaan Gia.


__ADS_2