
Aku menelan ludahku berat.
Tuhan selamatkanlah aku dari cobaan ini.
Aku membalikkan badanku kaku. Dan mencoba tetap tenang dengan ekspresi datar.
Jessen berjalan mendekatiku.
Dia semakin dekat dan dekat. "Woy jangan mendekat, aku punya semprotan cabe di kantongku!"
Jujur, sebenarnya ngak ada semprotan cabe di kantongku. Aku bilang gitu biar dia berhenti mendekat.
Jessen tetap berjalan mendekatiku. Membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke hadapanku. "Celanamu ngak ada kantongnya." Dia menjitak kepalaku.
Aku melihat celanaku. Aku langsung cengo karena tampak seperti penipu amatiran yang idiot.
Ah, aku tak peduli. Aku menatap Jessen lantang. "Aku mau keluar!"
"Buka pintunya!" Pekikku.
Jessen menegakkan kembali badannya. "Bukannya kau yang datang ke sini."
"Ya kau keluar aja dari jalan kau masuki tadi." Sambungnya.
Aku menggaruk kepalaku prustasi kemudian menatapnya. "Gini ya Jes, aku udah capek dengan hal yang terjadi samaku sekarang!"
Aku harus cerita ke dia. Tak peduli kalau dia bakal lupa sama seperti Tessa waktu aku jelasin. Aku tak peduli!
Aku menarik tangan Jessen dan membawanya ke kursi belajarnya. Menarik bangkunya dan mendudukkan Jessen di sana, memutar bangkunya ke hadapanku. "Dengar." Aku menarik nafas dalam-dalam.
"Aku terkena kutuk sihir! Ini semua karena aku membantu nenek-nenek yang kehujanan di jalan."
Aku menarik tempat duduk lain yang tak jauh dariku ke hadapan Jessen dan duduk di sana. "Dia memberiku permintaan agar dikabulkan nya. Karena aku ngak minta apapun ke dia, dia memohon aku untuk membahagiakan seseorang."
"Dan ternyata itu kau!" Aku menunjuk Jessen dengan kesal.
"Aku di beri buku penyelesaian misi untuk membahagiakanmu! Itu sebabnya aku selalu bertanya apa yang membuatmu bahagia!" Aku menarik napasku yang terengah engah karena menjelaskan ke Jessen dengan penuh penekanan di dalam setiap kalimat yang kuucap.
"Dan setiap kali aku ke kamarmu, bukan karena aku keganjenan samamu. Tapi ini karena sihir gila yang membuatku teleportasi ke kamarmu!" Sambungku.
Jessen hanya menatapku dalam diam. Dia meletakkan siku tangannya ke meja belajar yang ada di sebelah nya, menopangkan dagu pada tangannya. Mukanya sangat datar.
"Jessen aku serius. Untuk apa aku bohong, please percaya." Ucapku lemah. Kepalaku tertunduk. "Kalau memang ngak percaya, aku juga ngak maksa kok. Ya udahlah terse.. "
Jessen mengelus kepalaku lembut.
Eh, ini seriusan.
Aku mendongakkan kepalaku menatapnya.
Dia berdiri dan memelukku.
Mataku terbelalak.
Dia percaya!
Tanpa aba-aba tanganku membalas pelukannya dengan merangkul badannya.
Rasanya bahagia sekali.
__ADS_1
Namun, pandanganku kembali memudar menghilang dan badanku terasa mengambang. Aku menutup mataku.
Tak lama badanku seperti berbaring di satu tempat. Aku membuka mataku perlahan. Ini tempat tidurku.
Tadi itu mimpi?
Yah...
Serius itu mimpi?
Oalah... Di saat Jessen percaya samaku. Dan ini ternyata hanya mimpi.
Hehh
Kesal banget!
***
Aku berjalan di koridor sekolah. Menguap karena bosan. "Pelajaran sejarah memang melelahkan telinga."
Aku memandang sekitar menjernihkan pikiran.
"Ehem." Terdengar deheman dari seseorang di belakangku. "Hai." Sambungnya.
"Hai kak." Sapaku ke kak Rio.
"Mau ke mana?"
Aku menatap depan sambil berpikir. "Ngak tau kak. Aku juga bingung."
Kak Rio merangkulku. "Main basket yuk."
Aku tak yakin dengan ajakan kak Rio. "Aku ngak pandai main basket kak."
Karena ngak ada pilihan lain, aku mengangguk setuju aja.
***
Aku bermain basket bersama kak Rio. Sebenarnya kami hanya main-main tangkap menangkap bola aja sih. Tapi terasa seru.
Karena kelelahan aku meminta jeda bermain. "Kak istirahat dulu yuk. Capek."
Kak Rio mengangguk. "Oke."
Kami duduk di pinggir lapangan.
"Aku beliin minum ya." Tawar kak Rio.
Aku segan bilang iya ke kak Rio. "Em, ngak usah deh kak. Ngerepotin."
Dia tersenyum. "Enggak kali." Dia bangkit berdiri. "Aku pergi dulu ya."
Kak Rio memang sangat baik.
Selagi menunggu kak Rio. Aku teringat sesuatu. "Apa bener ya semalam itu mimpi?"
Aku mencoba mereview memori kembali. "Kok terasa nyata banget."
Aku menatap depanku. "Kalau nyata pun, palingan kak Jessen bakalan lupa sekarang."
__ADS_1
Aku mendengus dengan napas berat.
Tak lama aku mengayal kak Rio datang. Dia duduk di sebelahku. "Mikirin apa sih?" Tanya kak Rio penasaran.
"Eh, ngak apa kak. Biasa, tentang mata pelajaran." Jawabku.
Kak Rio hanya mengangguk mengerti.
"Nanti kita pulang bareng kan?" Kak Rio mengingatkanku kembali.
"Ah iya. Pasti dong." Sambungku.
Drett
Ponselku bergetar. Tertulis nama "Setan" di layar ponselku.
Yup, aku menamai Jessen dengan nama setan di ponselku. Gedeg soalnya lihat dia.
Aku mengangkat ponselku. "Ya kenapa?"
"Pulang bareng aku."
"Ngak bisa, aku udah punya janji."
Jessen malah mematikan ponselnya secara sepihak.
Dia marah apa gimana?
Tunggu, kenapa aku jadi mikirin perasaannya. Dia aja ngak pernah memikirkan perasaanku.
Ngak tau ah. Bodo amat.
***
Aku berjalan melalui koridor sekolah. Bel pulang sudah lama di bunyikan, aku sengaja agak memperlama waktu untuk keluar sekolah karena pasti koridor sangat ramai.
"Valen." Kejut kak Rio.
Aku terkaget. "Ah kak Rio. Aku pikir siapa."
"Kok lama banget sih keluar kelas nya?"
"Hehe, kalau baru bel pulang koridor ramai kak, jadi aku keluar agak sepian aja." Aku tersenyum kecil.
"Em, bener juga sih." Kak Rio merangkulku.
"Kan udah aku bilang kita pulang bareng." Terdengar suara Jessen dari belakang kami. Dan sekarang dia berada di sebelahku memisahkan antara aku dan kak Rio.
Jessen menatap Rio sinis. "Dia pacarku, jangan sentuh dia."
Ntah rasa bodoh yang menyelimuti otakku atau apa aku juga ngak tau, tapi aku merasa sangat senang di anggap pacar sama Jessen. Aku kembali memukul kepalaku untuk menyadarkanku dari bayangan aneh di kepalaku.
Val, kau udah janji sama kak Rio semalam untuk pulang bareng dia, jangan buat dia kecewa.
"Jes, aku udah janji sama kak Rio kemarin. Jadi aku harus tempati janjiku." Sambungku.
Jessen melirikku sekilas kemudian menghadap depan. "Aku ikut."
Aku bingung melihat Jessen. "Ha? Ngapain kau ikut?"
__ADS_1
"Karena kau pacarku." Ucap nya datar.
Kalimat itu berhasil membuat bibirku melukis kan senyuman kecil. Aku memang ngak salah dengar. Jessen beneran mengakui aku pacarannya.