Magic You

Magic You
chapter 42


__ADS_3

Deg


Deg


Deg


Badanku membantu mendengar kalimat Jessen tadi. Aku mencoba melepaskan pelukannya. Dia semakin memelukku erat. "Udah aku bilang aku masih sakit. Rawat yang bener lah." Kata Jessen tanpa melihat ke arahku dan tetap menutup matanya.


"Kau udah gila ya?!" Pekikku.


Dia menatapku datar. "Kenapa?"


Aku menggelengkan kepalaku tak percaya. "Kau benar-benar sudah tak waras."


Jessen menenggelamkan wajahnya di leherku, membuat jantung ini berdebar seperti berlari maraton 100 meter!


"Memang pacaran ngak boleh bermesraan?" Kata Jessen polos.


Tunggu. Apa kubilang? Polos? Tindakan seperti ini polos kau katakan Val?!


Di mana otakmu!


Suasana semakin memanas.


Dia semakin mendekapku dan bernapas di leherku.


Val! Sadar! Sadar!


Jangan sampai kau lepas kendali!


Dia semakin mengeratkan dekapannya.


Semakin erat.


Erat.


Aku tak dapat lagi mengontrol diri!


Ini keadaan di luar dugaan!


VALEN!!!! SADAR!!!


Aku tersentak. Imanku takkan kalah dengan kenikmatan dunia!


"JESSEN!" Jeritku.


Dia tersentak.


Aku langsung menepis dengan menghentakkan tanganku kemudian berdiri dari posisiku. "Aku ngak mau berbuat yang begituan! KAU GILA!"


Aku berjalan dengan sedikit berlari ke arah luar kamar kemudian menutup kamar Jessen dari luar.


Nafasku mengebu-bebu tak terkontrol. Aku mencoba menenangkan alur pernapasanku. Kemudian aku terus menokok kepalaku.


ANJRITTT...


Hampir aja aku terlena!


Aku mengipasi diriku dengan tangan. "Val... Kau harus lebih banyak berdoa!" Pekikku pelan.


Aku berjala menuju sofa ruang tamu Jessen.


Aku mengusap wajahku gusar.


Aih... Val Val. Untung ngak terjadi apa apa samamu!


Gimanapun aku harus cepat pergi dari sini! Aku tak mau semakin hari semakin menggila hal yang akan terjadi padaku.


Ngak. Ngak mau!


Aku semalam ini tak akan tidur. Takutnya Jessen akan datang ke sini dan melakukan hal yang enggak engak padaku! Aku ngak mau!


Selagi aku menyenderkan kepala di sofa ini aku memandang langit langit. Kalau aku ngak di sini aku akan pindah ke mana ya?


Beberapa lama aku berpikir.


"Aha! Aku tau!" Terbesit suatu ide di otakku. "Aku bakalan tinggal di rumah Tessa."


Ktak


Pintu kamar Jessen terbuka.


Kepalaku refleks melihat ke arah pintu melihat dia berdiri dengan mata melihat ke arahku. Dia berjalan ke arahku dengan cepat membuat jantung ingin meledak.


Kedebuk


Dia terjatuh.


Heh?


Jessen menangis seperti anak kecil. "Aduh... Sakit... Val... tolongin aku." Rengeknya.


Dia kenapa lagi?


Dia berdiri dan kembali berjalan ke arahku. Aku menyingkirkan diri dengan menatapnya aneh.


Dia menatapku dengan memandang wajah Poppy eyes. "Kau jahat."


Dia kemudian menatap depan. "Kau akan meninggalkanku dan pergi dengan Ken!" Dia mengentak layaknya anak SD yang marah karena tak di berikan permen.


Dia duduk di sebelahku. "Kau jahat!" Dia menangis dan merengek.


Ada yang salah nih di otak Jessen.  Aku memegang jidatnya. Pantas saja... Panas.


Kemudian Jessen membaringkan tubuhnya di sofa dengan kepala di lengan sofa dan tangan yang memeluk kaki yang di tekuk.


Dia tertidur.


Aku memijati kepalaku yang pusing memikirkan apa yang sekarang sebenarnya terjadi.


Dia berlaku aneh dari tadi... Apa karena demamnya tak kunjung sembuh?


Aku menggelengkan kepalaku.


Aduhhh


Kalau Jessen sakit, merepotkan banget!


Aku pergi ke dapur dan mengambil segelas air putih. "Stres aku mikirinnya."


Aku kembali ke sofa dan melihatnya. Dia tertidur sangat lelap.


Aku pun duduk di sisi lain dari sofa dan menyenderkan kepalaku di bahu sofa. "Yang aku pikir tadi ni orang mesum. Rupanya sikap aneh ni orang bakal muncul kalau dia sakit... Oalah."


Aku menggelengkan kepalaku. Ngak sangka ternyata sikap lain Jessen yang sangat aneh ternyata begini.


Ckck.


Ntahlah. Jessen sangatlah sulit di tebak. Mempelajari tingkah lakunya seperti mempelajari teka teki silang yang membingungkan.


Aku menutup mataku. "Hem. Jes Jes."


***


Pagi pagi buta ini aku terbangun dan mencoba memasak sesuatu di dapur. Aku telah mempelajari beberapa cara memasak beberapa makanan.


Aku sungguh salut dengan banyaknya bumbu dapur yang di miliki Jessen, sepertinya dia memang suka memasak juga. Kalau engak, mana mungkin dia memiliki banyak bumbu dapur yang tersusun rapi dan lengkap.


Aku mulai memasak.


Di mulai aku memasak nasi terlebih dahulu. Kemudian aku mulai memasak lauk untuk sarapan.


Aku mulai memasak.


Sekitar 20 menitan aku pun selesai memasak.


Ku siapkan semua yang akan kami makan di meja makan.

__ADS_1


Tada... Semuanya selesai.


Aku berjalan mendekati Jessen. Aku memegang kepalanya lagi. Demamnya sudah tak ada lagi.


Aku sedikit kuatir pada keadaan Jessen.


Bukan apa apa... Takutnya dia DBD. Semalam dia udah mulai sembuh kemudian panas lagi dan sekarang sembuh lagi. Kalau nanti dia demam lagi, mau ngak mau aku harus memaksanya untuk ke rumah sakit!


Aku menunggu dia terbangun saja. Soalnya masih jam 5 pagi.


Sebelum itu aku mandi sajalah. Biar nanti langsung makan dan berangkat.


Aku pun mempersiapkan semua perlengkapan mandiku dan bergegas mandi.


Setelah selesai aku melihat Jessen yang sudah terbangun dan duduk di sofa dengan pandangan lurus.


Dia sakit lagi?


"Oy Jes." Panggilku.


Dia melihat sekilas ke arahku kemudian berjalan ke arah meja makan.


Aku mengikutinya. "Ini tadi aku udah masak." Aku ngak terlalu pede dengan masakanku. "Kalau ngak enak, jangan marah. Itu salahmu yang menyuruhku harus masak." Kataku.


Dia melihatku kemudian mengambil nasi, lauk pauk dan makan. Dia makan tanpa ekspresi.


Aku duduk di hadapannya. Suasana jadi canggung.


Kalau sekarang aku mau ngomong apa ya?


"Kau makan." Katanya tanpa melihatku.


"Em. Ya." Aku langsung mengambil nasi serta lauk paukku.


Kalau di perhatikan, sepertinya dia udah sembuh deh. Sikapnya kembali normal.


Aku melahap nasiku sambil terus memperhatikannya.


"Kenapa dilihatin mulu?" Dia lirikku.


Aku menggeleng dan mengalihkan pandangan.


Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan kanannya dan bernapas berat.


Aku memegang jidadnya. "Kau udah ngak panas lagi." Ku turunkan tanganku. "Jes. Kalau kau panas lagi. Kita langsung ke dokter aja. Takutnya kau kena DBD." Kataku.


"Hem." Jawabnya singkat.


Aku kembali memakan makananku.


Jessen melihatku. "Kita nanti pergi sama."


"Tumben."


"Kau mau atau engak?" Katanya datar.


Mumpung lagi baik si Jessen.


"Mau mau." Jawabku.


Kami pun lanjut sarapan.


Setelah beberapa menit kami menghabiskan makanan. Jessen berdiri. "Aku mandi dulu. Persiapkan apa yang perlu kau siapkan."


Aku mengangguk.


Aku pun mengambil tasku yang sudah kubereskan sebelumnya. Aku rangkul tasku di pundak.


Aku menunggu Jessen selesai mandi. Dia pun keluar sambil merapikan bajunya.


Aihhh.... Keren banget sih nih orang...


Bikin hilaf aja...


Ku palingkan pandangan ku.


Aku mencoba membuka buku anatomi fisiologi. Agar pandangan ku teralih dari padanya.


Sesaat kemudian dia duduk di sebelahku. Aku melihat ke arahnya, dia menatapku datar dengan handuk di kepalanya. Dia menaikkan kakinya ke atas sofa menyilang kemudian menghadapku.


"Keringkan." Katanya.


Jangan jangan dia demam lagi!


Aku memegang jidatnya.


Tapi ngak panas.


"Aku ngak sakit lagi." Di memutar bola matanya ke kanan. "Keringkan rambutku."


Hah?


"Gini ya Jes. Aku tuh ngak paham denganmu. Kenapa kau jadi manja gini, padahal kau kan ngak sakit lagi?"


"Kau mau misimu selesai ngak? Kalau mau, kerjakan apa yang kuperintahkan."


Aku mendengus kesal. Kemudian menghadap ke arahnya dan mengeringkan rambutnya.


Dia terus menatapku.


Jantungku berdegup kencang.


Deg deg


"Ee.. Kita nanti naik kereta apa mobil?" Aku mengalihkan pembicaraan. Aku ngak pingin klep jantung ini sobek tak dapat menahan aliran darah yang berpacu kencang keluar masuk jantung.


Dia masih tak menjawab.


"Eeem.. rambutmu udah kering. Kita bisa berangkat." Aku melepaskan handuk yang ada di kepala.


Aku bangkit berdiri begitu pun dia. Dia mengandengku kemudian berjalan, membuatku mengikuti arahnya.


Deg deg


Kami menuju parkiran mobil. Dia membuka pintu untukku masuk. Dia melepaskan genggamannya.


Aku pun masuk.


Aduh... So sweet banget...


Dia pun masuk dari pintu lainnya. Dia duduk di sebelahku sambil menghidupkan mesin mobil. Dia melihatku. "Kalau aku pingsan. Kau harus membopongku, aku tak peduli, kau harus mengangkatku kalau aku jatuh. Makanya tadi aku memegangi mu."


Ku menangissss.... Membayangkan... Kenapa aku terlalu baper sama Jessen...


Nyesal aku baper sama Jessen.


Kenapa coba aku masih mikir Jessen akan menyukaiku.


Valen. Kau itu cuma seperti babu doang bagi si Jessen! Jangan berharap lebih Bambang!


Aihhh


"Heh! Mentang mentang aku harus nyelesain misi, kau jadi suka suka gitu samaku?! Engak ya! Aku bukan babu! Aku ngak mau hanya di anggap jadi seorang pesuruh!" Komentarku.


Dia menatapku datar. "Jadi apa? pacar huh?."


Deg


Eh...


"Yah engak gitu juga." Aku memegang leherku salah tingkah


Aduh salah ngomong nih aku. Kan kesannya aku jadi pingin di anggap lebih sama Jessen.


Dia kembalikan pandangannya mengahadap depan dan mengendarai mobil.


***

__ADS_1


Sesampainya di kampus, Jessen memarkir mobilnya. Di hadapan kami banyak berdiri mahasiswi yang menunggu seseorang.


Ah?.. aku memiringkan kepala ku sambil berfikir.


Mereka kok lihatin ke arah sini ya?


Mereka tampak melompat lompat kecil dengan sorakan memanggil seseorang. Hah?


Aku melihat gerak gerik bibir mereka.


Jessen...?


Mereka memanggil Jessen?


Wew... Secepat itu kak popularitas si Jessen di kampus ini?


Jessen memarkir mobilnya dan menghetikannya. Dia keluar dan menutup pintunya.


Suara semakin semarak.


Anjrit anjrit.


Aku pun keluar dari mobil Jessen dengan kaku.


Semua seketika hening.


Waduh.


Mereka menatapku tajam.


Aku meneguk air liur ku berat.


Jessen melihat mereka kemudian menatapku datar. Dia berjalan ke arahku.


Dia mencium pipiku.


WHAT?!


Dia menatapku lekat-lekat dan tersenyum miring.


Dia kembali menegakkan badannya meninggalkanku.


Sedangkan setiap siswi yang ada di sini menganga melihat kejadian tadi... Bahkan aku sendiri pun mengaga.


Salah satu dari mereka berlari ke arah Jessen. "Pak. Say.."


"Dia pacar saya. Bukan urusanmu." Tatap Jessen tawar ke arahnya.


Dia terkejut dan menunduk.


Jessen kembali melanjutkan langkahnya.


Aku berulang kali mengedipkan mata tak percaya.


Aku pun berjalan dengan kaku menuju ke dalam kampus dengan tatapan beberapa pasang mata menatapku.


***


Aku makan di kantin dengan berbagai kebisingan di sini.


"Valen!"


Kepalaku menoleh ke arah jeritan wanita yang memanggilku.


Dia berjalan cepat ke arahku sambil membawa makanan yang di pesannya. "Valen." Katanya ngos-ngosan dan duduk di sebelahku.


"Apa Tes?" Aku bingung apa yang membuat Tessa sebegini hebohnya.


Dia mendekatkan wajahnya ke kupingku berbisik. "Kau di cium Jessen di parkiran ya?"


Aku terbatuk.


"Ohok ohok. Kau tau dari mana?"


"Beritanya udah tersebar luas Val."


"Hah?!"


"Jadi bener itu Val?"


Aku menggaruk pipiku pelan. "Iya."


Tessa membolangkan matanya menutup mulut.


"Ta tapi, bukan aku yang mau Tes. Dia yang cium tiba-tiba. Aku ngak tau bakal jadi begini." Sambungku cepat.


"Jessen kok. Kok. Dia bisa. Maksudku, bisa juga di mencium cewek ya?!" Tessa menggeleng tak percaya.


"Kok malah mikir itu sih Tes. Pikirin aku lah! Gimana nasibku sekarang?!"


Tessa memegang dagunya. "Kalau cuma ciuman sih. Itu mah biasa Val." Kata Tessa. "Banyak orang pacaran yang melakukannya."


"Heehh?! Tapi kan.."


"Ngak apa Val. Palingan besok mereka pada lupa. Lagi pun, kan bagus Jessen buat gitu. Jadi semua cewek ngak akan berani dekatin Jessen lagi selain kau. Hehe."


Aku menjitak kepala Tessa. "Kau ini kok malah mikir gitu." Aku menyulangkan nasi goreng ke dalam mulutku dengan kesal.


Gimana nanti di rumah? Takutnya Jessen..


Aku harus pindah ke rumah Tessa.


"Tes. Aku..."


"Oh iya Val. Aku bakalan pindah ke Prancis." Tessa menatapku sedih. "Aku bakalan lanjut kuliah di sana, ini karena orang tuaku pindah kerjaan. Aku harus ikut mereka." Tessa memelukku erat. "Aku akan sangat merindukan mu." Sambung Tessa.


Jadi... Gimana nasibku nanti. Aku bakalan tinggal bareng Jessen dong.


Tessa menepuk pundakku. "Aku yakin si Jessen itu baik samamu Val. Semangat ya."


Tessa menjauhkan badannya dari dekatku. "Pokoknya, sampai aku kembali lagi ke sini. Aku akan menunggu undangan pernikahan kalian. Hehehe."


Aku mencubit lengan Tessa pelan. "Apaan sih Tes?" Aku memalingkan wajahku kesal. "Dia ngak pernah menganggapku sebagai pacarnya sungguhan. Percuma mengharapkannya." Kataku malas.


"Ngak lah Val. Aku yakin si Jessen itu suka banget samamu. Yakin aku." Tessa merangkulku. "Aku soalnya ngak pernah lihat Jessen sepeduli dan seganas ini sama cewek lain. Kecuali sama mu. Hehe." Goda Tessa.


Aku mendorong tubuh Tessa.


"Kurang ajar kau ya..." Aku menjewernya.


Dia malah semakin tertawa.


Bruk


Meja kami di pukul. Aku melihat mendongak ke atas. "Ken."


"Apa ku bilang mengenai ciuman." Dia memarahiku.


Dia duduk di hadapanku dengan sorotan tajam. "Pipi dan bibir mu hanya milikku."


Kali ini Tessa yang menatapku bingung.


"Apaan sih Ken?!"


"Aku tak terima. Lihat aja nanti." Ken pergi dari hadapan kami.


Tessa masih melihatku dengan penuh tanda tanya.


"Biasa, dia mah agak aneh... You know lah..." Aku berusaha menyangkal pemikiran aneh yang mungkin telah terbesit di pikiran Tessa.


Tessa mengangguk mengerti dan kembali dengan meminum dan menyuap sesuap bakso yang ada di hadapannya.


Fuhh...


Aku ngak habis pikir sama segala hal yang terjadi padaku hari ini.


Ya ampun... Kepalaku sangat pusing memikirkan semua hal yang terjadi sangat cepat dan selalu membuat ku terkaget kaget...

__ADS_1


Aku pusing!


__ADS_2