
...2 Tahun Kemudian......
Aku berlari secepat kilat pergi ke kampus, aku melihat jam tanganku menunjukkan pukul 08:30. "Sial. Terlambat!" Aku terus berlari dan berlari.
Aku berhenti di halte bis. Aku terus berdecak kesal sambil terus mengenhentak-hentakkan kaki. "Lama banget sih busnya... Ck."
Ponselku bergetar. Aku mengangkatnya.
"Val.. Kau di mana?! Udah masuk!.. Kakak pembinaan udah mulai Acara MOS-nya."
"Ish.. sabar dong Tess, aku lagi nunggu bis nih."
"Hah?! Kau masih nunggu bis. Terserahmulah Val.." Tessa yang kesal lihat aku langsung mematikan sambungannya.
"Ah elah... Gitu aja marah."
Bushh.
Suara angin dari kenalpot bus pun menguap ketika berhenti di hadapanku. Aku langsung masuk.
"Geser-geser." Seseorang datang bersamaan dari pintu masuk menyosorku begitu aja masuk ke dalam.
Ngak punya sopan santun ya nih orang.
Aku pun masuk setelah dia. Melihat ada peluang satu kursi kosong, aku pun berlari dan langsung duduk di sana sebelum lelaki yang songong tadi duduk. "Aku deluan, haha." Ucapku bangga.
Dia menatapku tajam.
Bodo amat... Apa peduliku.
Bus pun berjalan. Lelaki itu terpaksa berdiri sambil memegangi pegangan bus karena tak ada kursi kosong lagi.
Sialnya, kenapa dia harus berdiri di sebelahku. Aku sedikit meliriknya, dia masih menatapku kesal.
"Biasa aja dong matanya. Risih lihatnya." Cetusku.
"Aku berdiri karena kau!" Pekiknya.
"Siapa cepat dia dapat." Aku menaikkan ujung hidungku dengan telunjukku mengejeknya.
Aku tak mau melihatnya lagi. Buat mood makin buruk aja.
...
Aku melihat ada seseorang nenek tua yang terlihat tak sanggup lagi untuk berdiri, badanya yang ringkih lebih mudah terombang-ambing setiap kali bis menurunkan dan mempercepat lajunya. Rasanya sedih melihat dia, aku berdiri dan menunjuk tajam lelaki songong tadi. "Jangan duduk di sini."
Aku langsung berlari dan mengajak nenek itu ke bangkuku. "Nenek duduk di bangku saya aja ya nek. Soalnya nanti nenek jatuh."
Nenek itu tersenyum dan mengikuti arahanku.
Aku membawa nenek itu dan membiarkan dia duduk di sana. Aku kembali ke tempat berdiri nenek itu sebelumnya mengantikan posisi berdirinya.
Huff... Ya sudahlah Val. Membantu yang lemah itu berkat.
Tujuan tempat kuliahku pun sampai. Aku turun dari pintu belakang karena lebih dekat.
Aku pun kembali berlari masuk ke dalam.
Aku memasuki pagar kampus. Terlihat para MABA sudah berbaris mengikuti arahan, aku memasuki barisan mengendap-endap.
"Ngapain kau masuk!" Teriakan orang itu membuat semua mata memandang ke arahku. Aku membalikkan badan dan melihat orang tersebut.
Yup benar. Dia senior...
"Kau terlambat kan?!" Dia menunjukku. "Keluar dari barisan, berdiri di sana sendiri!" Dia mengarahkan tangannya ke depan lapangan agar mempertontonkanku sambil di hina.
Ishh.. Aku mengikuti arahannya dan berdiri di tengah-tengah lapangan.
"Lihat... Ini yang terjadi kalau kalian tak tepat waktu!" Dia menghinaku.
"Heh kau! Push up 50 kali!" Suruhnya.
__ADS_1
"Hah?!" Aku kaget.
"Hah, hoh, hah, hoh. Cepat lakukan!" Dia kembali memaki.
Ish.. aku mengikuti perintahnya.
Satu, dua, tiga, empat, lima,... Aku udah ngos-ngosan. Aku memang tak terbiasa berolahraga, aku benci olahraga.
"Cepatt! Kenapa berhenti! Lanjut!" Jeritnya.
Enam, tujuh, delapan, sem... bil... lan...
Aku udah tak sanggup lagi. Aku terduduk di halaman itu.
"Duduk lagi! Cepat berdiri!"
Aku berdiri dan mengerang kesal.
"Kenapa?! Berani?!" Katanya sombong.
"Iya! Kenapa!" Bentakku tak kalah keras dari suaranya.
Semua terdiam. Seketika menjadi hening.
Tessa yang melihatku terkejut.
Sang senior sedikit terkejut kemudian tersenyum kecut. "Berani kau ya?!"
"Ngapain aku harus takut samamu! Sama-sama makan nasi kan?!" Aku menunjuknya kesal. "Kau pikir kau siapa?! Jangan sombonglah!"
"Kalau mau nge-MOS ya nge-MOS aja... Ngak usah songong!" Sambungku.
Suasana mulai memanas. Semua MABA melihatku kagum.
"Kurang ajar.." Sang senior itu jengah dan berjalan emosi mendekatiku.
Seketika tangan seseorang meraup leherku dari belakang. "Ni bocah. Aku yang urus."
Aku sedikit menoleh ke belakang.
Itu pria songong yang kujumpai di bis tadi.
Aku menelan salivaku berat.
Tunggu tunggu, aku mana boleh takut..
"Apa-apaan ka.."
"Stt." Dia menutup mulutku dengan satu jari telunjuknya. "Ikuti aja." Dia berjalan menjauh kerumunan MABA sambil menarikku.
***
Sekarang aku berada berhadapan dengannya di satu ruangan. Jarak kami hanya di batasi dengan meja.
Lelaki itu tampak melihat-melihat deretan kertas nama. "Siapa namamu?"
"Valen." Jawabku acuh melihatnya.
"Valen..." Dia mencari namaku di listnya. "Ah.. Valentresia?" Dia memastikan.
"Hem."
Dia menutup kertasnya memandangku datar. "Etikamu sangat buruk ya."
Aku hanya mendengus kesal.
"Mana ada anak kedokteran begini."
Aku kesal dan merasa tersinggung. "Terserah aku lah. Keluargaku aja ngak ada yang keberatan, kau pula yang keberatan."
"Hem." Dia menyenderkan diri di kursi duduknya. "Kau menjatuhkan ini di bis tadi." Dia menunjuk buku yang membuat mataku seketika terbelalak sangat sangat kaget.. Bu.. Buku mistis.
__ADS_1
Gemboknya terbuka!
"Dddari mmana kkau dapat?" Aku gagap.
"Kan tadi udahku bilang. Dari bis bego."
Aku terkaget sambil berdiri. Ntah ini karena buku itu atau kata bego yang keluar dari bibirnya yang membuatku terngiang seseorang yang harusnya kulupakan.
Ngak, ngak, jangan lagi!!
"Biasa aja dong. Lebay." Sambungnya.
Aku mencoba merenggutnya dengan cepat. Tapi tangannya lebih sigap mengarahkan tangannya ke belakangnya sehingga tak dapat kugapai.
"Kasih ngak!" Jeritku.
"Akan kuberikan kalau kau jadi pacarku."
Kakiku lemas.
Ini kembali terjadi... Namun dengan orang yang berbeda...
Aku menjerit ke sebarangan arah. "Maumu apa sih peri!! Kenapa ini terjadi lagi!! Aku benci kau!!" Aku memaki tanpa memperdulikan dia yang bingung melihatku.
Mataku kuarahkan padanya. "Dengar ya... Aku ngak bakalan mau jadi pacarmu... Sekalipun aku akan terkena sialll. Aku tak mau..."
Aku hendak beranjak pergi ruangan.
Dia bangkit berdiri dan berjalan cepat ke arahku, menyudutkan dengan mengunci badanku di antara kedua tangannya yang bertumpu pada meja membuat dia berada di hadapanku sangat dekat.
Aku memukul perutnya dan membuatnya meringis kesakitan. Aku langsung melepaskan diri dan pergi ke barisanku tadi.
***
Melihat kedatanganku, sang senior yang mengancamku tadi tak bicara apapun lagi. Mungkin dia pikir aku udah di beri hukuman oleh si Psikopat bis tadi.
Aku pun mengikuti MOS seperti murid biasa.
***
Setelah MOS usai kami pun pulang. Aku masih bergidik ngeri dengan kejadian hari ini. Ini serem banget.
"Kau kenapa Val?"
Aku tau bakalan percuma ngasih tau Tessa. Jadi hal ini takkan kuberitahukan. "Ngak apa Tes."
Tessa mengangguk. "Oo, btw tadi kau keren sih menghina kakak senior tadi."
"Hehe." Aku masih tertawa garing karena masih terngiang buku mistis.
"Kalau aku perhatikan nih ya... Semenjak kau di tinggal Jessen kau jadi sedikit berubah jadi cewe yang lebih tegas."
Mendengar nama Jessen membuat bulu kudukku berdiri. "Jangan bahas dia Tes." Aku menatap Tessa tajam.
"Iya iya." Kata Tessa mengerti.
"Sayang..." Terdengar suara yang tak asing dari belakang kami.
Kami mendongak. Kak Rio.
Kak Rio memeluk Tessa erat. "Aku kangen banget sama kamu deh."
"Apaan sih?! Merinding tau ngak!" Bentak Tessa.
Kak Rio yang mendengan jawaban dari pacar kesayangannya itu tertawa bahagia.
Aku pun ikut tertawa melihat mereka. Dunia ini sangat terbalik ya... Tessa yang dulunya sangat membenci kak Rio, malah luluh menjadi pacarnya. Sedangkan kak Rio yang sangat membenci cewek jutek seperti Tessa, malah jadi baper karena sikap Tessa yang tak mudah di tebak.
Hahaha, pasangan yang serasi tapi aneh.
Tunggu tunggu... Tapi aku masih sangat berfikir keras tentang buku itu...
__ADS_1
Gimana buku itu bisa ada di dia?... Dan terbuka lagi...