Magic You

Magic You
chapter 56


__ADS_3

...Ken prov...


Aku terus mendengus kesal sampai pulang dari kampus. "Sialan tu cewek!"


Kenapa dia selalu ada di mana Valen ada. Kayaknya aku harus memberikan pelajaran tu cewek.


"Ken."


Aku menoleh melihat seseorang yang memanggilku.


"Oh. Theo."


Theo berjalan sedikit berlari ke arahku.


Hm. Terbesit suatu pikiran yang menurutku dapat memberi pelajaran si bekicot.


Theo merangkulku. "Main basket kuy. Dah lama ngak main kau."


"Biasalah bro. Lagi banyak tugas."


"Hm... Tugas memikat hati cewek ya? Haha."


"Bangsat kau."


"Haha. Ngak lah. Bercanda... Btw aku bingung samamu, masa ngak ada satu cewek pun yang nyantol di hatimu. Banyak loh cewek yang mengemis, pilih satu kali untuk coba-coba." Theo menyikutku.


Plak


Theo memegangi kepalanya kesakitan karena geplakkanku.


"Cih. Cewek kayak mainan aja samamu sat."


"Ya iyalah. Apa lagi coba. Nikmati aja dulu lah masa perjaka ini."


Aku memiringkan sedikit sudut bibirku jijik. "Yakin kau masih perjaka?"


"Hehe. Pernah coba sih... Matep."


Aku menggelengkan kepala miris. Kenapa aku bisa berteman dengan Fuckboy mix Badboy seperti ini sejak TK.


"Coba aja kali coy. Ntar ketagihan."


"Otakku tak serusak otakmu."


Theo melepas rangkulannya dan memegangi tengkuk belakangnya dengan melipat kedua telapak tangannya di sana. "Hah... Malaslah ngomong sama orang sepertimu."


Cih.


Oh ya... Aku hampir lupa rencanaku. "Eh btw, kau masih nampung cewek ngak jadi pacarmu?"


Theo tanpa berfikir. Ah elah, sok sok-an mikir ni orang... Toh juga dia bakal bilang iya.


"Iya."


Benerkan.


"Hm. Aku ada kenalan cewek cupu. Kayaknya bisa jadi main mainanmu."


"Ah... Paling malas sama cewek cupu bro... Ngak pandai bercinta mah mereka."


Cih. Bener-bener ni anak...


"Ya kau ajarin lah." Bentakku.


"Ngak asik bro. Maunya kan langsung, masa pake ajar ajar lagi.. Kan cuma di jadikan mainan. Kecuali kalau mau jadikan istri, nah.. itu baru cari yang yang berpengalaman."


Plak


Aku menggeplak kepalanya lagi.


Aku menggelengkan kepala dan menatapnya datar.


"Ya iyalah Ken. Masa aku nikah sama barang second. Ya enggak lah. Ogah..."


"Jadi kenapa kau ngak mau sama cewek yang mau ku kenalin?"


Dia menaikkan alisnya sambil tersenyum miring. "Aku masih belum mau nikah. Puasin aja dulu sekarang."


Aku mau mengeplak kepalanya lagi. Tapi di tahannya. "Ya iya... aku mau kau kenalin sama tu cewek. Tapi jangan salahkan aku kalau hanya jadi mainan ya."


Aku tersenyum licik. "Hm. Terserahmu."


Hehe... Kena kau sekarang bekicot.


***


Esok harinya.


Ini hari Minggu. Dan betapa gilanya aku sampai sampai cari tau tentang si bekicot, walaupun ngak banyak yang tau mengenai dia. Bahkan aku cuma tau tentang nama lengkap, kelas, dan nomor hpnya. Cih, bego, tapi ini harus aku lakukan biar kekesalanku terhadapnya terbalaskan.


Aku menelponnya.


"Halo. Ini siapa?" Katanya.


"Eh bekicot. Aku mau jumpa kau sekarang."


"Kau siapa?"


"Is... Ken."


"Apa buktinya?" Jawabnya masih dengan suara datar.


Aku kesal. "Save nomorku. Kita Video Call."


"Ck. Kalau ini beneran Ken-tang, aku ngak mood lihat mukanya. Dan kalau enggak dia, aku juga malas lihat muka siapapun."


"Heh. Bekicot. Sumpah ya, kau buat geram aja."

__ADS_1


"Bodo."


Tut Tut Tut


Cih... Dia mematikan ponselnya secara sepihak.


Wah bener bener ni cewek.


Aku menelponnya lagi. Dia mengangkat teleponnya.


"Apa?"


"Eh bekicot! Kok kau matikan sih!"


"Masalah? Terserah aku lah."


Aku menarik nafas panjang. "Heh. Kau, astaga.. Gini ya, aku cuma mau jumpaan samamu. Sebentar aja."


"Malas."


"Bekicot... Aku udah naik pitam ngomong sama kau ya. Aku ini seniormu! Bisa ngak kau sopan! Jawab iya kak, atau baik kak, atau apalah yang sopan!"


"Oh."


"Hmm... Sekarang kau jawab dengan sopan." Kataku sambil mengertak gigiku geram.


"Ah. Malas."


Aku mengusap wajahku gusar.


"Jangan panggil aku bekicot." Sambungnya.


"Ah. Malas." Aku beo kalimatnya.


"Oke." Dia mematikan ponselnya lagi.


Arh... Kesambet apa sih nih anak?! Bebal banget... Ya kali aku kalah lagi dari dia?


Ck. Sial.


Aku kembali menelponnya.


"Cya. Aku mau jumpa samamu."


"Oh."


"Hm."


"Aku nya yang ngak mau jumpa."


Sh.... Geram sekali.


"Cya. Aku mau mengenalkan kau dengan Theo temanku. Kau kan suka sama dia karena aku lagi berbaik hati padamu."


"Ngak perlu."


"..."


"Gimana? Mau kan? Cuma ngobrol sebentar aja kok."


"Hm."


Yes....


"Rumahmu dimana?"


"Ngak perlu di jemput. Aku bisa sendiri. Aku tunggu di lapangan basket biasanya Theo main."


"Oh. Oke."


Dia mematikan ponselnya secara sepihak lagi.


Ck.


Udahlah Ken. Ngak usah panas lagi. Karena sebentar lagi tu bekicot bakalan kena perangkap.


***


"Theo ini Cya. Cya ini Theo." Aku memperkenalkan mereka bergantian.


Cya tersenyum kaku.


Sekarang kau bisa tersenyum. Tapi nanti kau akan menangis.


Theo yang sangat handal dalam memikat hati wanita memulai aksinya.


"Kamu manis ya." Theo gombal.


"M makasih."


Aku udah khatam tingkah di bangsat satu ini. Dasar..


Theo merangkulku. "Aku pinjam princessnya ya." Kemudian dia memegang tangan Cya. "Yuk berangkat."


Cya mengangguk malu.


Cih. Bisa malu juga ni bekicot.


Giliran sama aku aja, bacotnya ngak ketulungan.


Theo menepuk pundakku. "Luan ya bro."


"Lah kok perkenalannya cepat? Masa aku di tinggal gitu aja?" Kataku tak terima.


"Ah elah. Ngak apa lah bro... Makanya cari cewe." Theo kembali membalikkan pandangannya ke Cya dengan tersenyum dan mengandengnya. "Yuk."


Mereka pergi aja meninggalkan ku.

__ADS_1


Shit... Main serobot aja tu orang.


Yah... Tapi ngak apalah. Semakin cepat dekat, semakin cepat si bekicot tersakiti.


Hem.


***


Malam hari.


Aku menatap langit dari luar jendelaku. Begitu tenang dan hambar.


Namun terlihat indah. Hem.


Sesaat kemudian hujan mengguyur kota ini. Suasana menjadi semakin dingin. Aku teringat kejadian di rumah Valen.


Senyum kecil tergaris di wajahku. Aku menciumnya.


Tak bisa terbayangkan betapa bahagianya aku.


Drett


Ponselku bergetar. Valen?


Tumben dia menelponku.


Aku mengangkat ponselku. "Iya by."


"Kau tau ngak di mana Cya?! Dari tadi aku telfon dia ngak balas."


Ck. Kenapa cariin si bekicot sih?!


"Ngak." Kataku singkat.


"Cya belum balik ke rumah Ken." Kata Valen panik.


"Ngapain sih pedulikan dia."


"Ken. Kalau dia kenapa-kenapa aku akan menyalakan mu!"


"Kok aku?"


"Ya iyalah. Tadi sebelum dia berangkat dari rumahnya dia telpon aku. Dia bilang dia samamu dan si Theo itu... Iya kan? Kau jangan bohong!"


Ck. Dasar pengadu...


"I iya by... Tapi kan, aku ngak bareng mereka... Mereka jalan bareng berdua tadi."


"Apa?! Kau tinggalkan Cya berdua dengan orang asing?!"


Ck. Mati aku.


"Kalau kau ngak jumpa sama dia. Aku takkan ingin berjumpa denganmu juga! Titik!"


"I iya by... Aku cari dia." Kataku pasrah.


Valen mematikan ponselnya.


Cih... Memang tu anak otaknya main banget ya... Dia ngak percaya aku 100% mengajaknya, makanya dia telpon Valen... Ternyata bener dia itu pintar.


Aku menelpon Theo.


Dia mengangkat. "Ha? Kenapa Ken?"


"Mana si Cya?"


"Bukannya udah pulang ya? Kami udah pulang dari tadi perasaan."


"Hah? Serius kau?


"Iya... Masa aku bohong."


"Kok katanya dia ngak ada di rumahnya?


"Oh, ngak aku antar sampai rumahnya. Dia bilang dia ada urusan lain."


Aku menyerngit dahi, aku curiga Cya di apa apain. "Kau ngak ngapa ngapain dia kan?"


"Ya engak lah. Dia polos banget damn... Ngak mungkin asal ku gas langsung. Ya pake taktik lah."


"Oh ya... Aku cuma pesan satu."


"Apa?"


"Jangan sampe lecet tu cewek."


Dia tertawa. "Wess... Kesambet apa kau jadi pedulian gini."


"Bukan peduli." Kataku datar. "Nanti gebetan ku marah kalau temannya di apa apain."


"Ehey... Udah punya gebetan juga kau ya."


"Diem kau."


"Iya Ken. Aku cuma mainin perasaan tu cewek doang. Sebagai hiburan pemandangan aja, soalnya dia lucu kalau malu."


Cih. Apanya yang lucu?!


"Iya ya. Terserahmu."


"Oh iya. Terakhir kali kau bersamanya di mana?"


"Lapangan basket tadi, lalu kami pisah."


"Oo. Okelah."


Aku pun mematikan ponselku.

__ADS_1


Ck. Dimana sih tu anak? Ngerepotin aja.


__ADS_2