
catatan penulis:
jangan lupa di like komen di vote ya... di beri hadiah juga ❤️... Love you guysssss
Jessen menatapku dengan kepalanya bertumpu pada salah satu tangannya.
Sedangkan aku terus berpacu dengan waktu mengerjakan tugas uang di berikannya.
Dia melipat tangannya di atas meja perpustakaan ini melihat ke bawah melihat jam tangannya sekejap. "Lama."
"Ish. Sabar lah. Ini juga udah usaha kali." Ucapku kesal. Ngak sabaran banget sih.
Sedikit lagi... Cepat...
"Yes. Siap!" Kataku bersemangat. Tapi aku ngak sadar kalau di perpus, semua orang memperhatikan ku kesal.
Aku menepuk menyatukan kedua telapak tangan ku memohon maaf. "Maaf ya." Kataku sambil tertunduk malu.
Mataku kembali mengarahkan Jessen. Ku serahkan selembar kertas jawaban ku. "Nih. Siap kan." Kataku bangga.
Dia mengambil kertasnya. "Cih. Kau mau mempermalukan diri mu nanti di seleksi lomba huh?"
"Kenapaaa. Jawaban aku itu bener tau."
Dia menokok kepalaku dengan kertas yang ku kerjakan tadi. "Jawaban mu hanya benar 3 dari 10."
"Ah. Mana mungkin. Coba deh di cek lagi." Aku masih tak percaya. Aku udah mati matian mengerjakannya. Masa salah 7!
Dia meletakkan kertasku di meja. "Kalau masih ngak percaya. Tanya aja guru matematika di kantor guru. Palingan nanti kau akan semakin di permalukan."
Aku mengacak rambutku kesal. "Arh... Masa banyak banget sih salahnya. Ngeselin banget."
Jessen bangkit berdiri dan berjalan ke arahku dan berhenti di sebelah ku, "Ayo ikut aku."
Aku mengangguk lemas. Dan berjalan bersamanya.
***
Kami berdiri menghadap halama sekolah di bawah sana. Yup, kami lagi berada di roof top sekolah.
Aku meminum minuman kotak yang di beli Jessen tadi. Ntah kenapa dia jadi sangat manis.
"Manis banget sih tiba-tiba." Kataku tanpa menatapnya sambil tersenyum.
Deg!
Jessen memelukku dari belakang dan menyenderkan dagunya di bahuku. "Jadi selama ini aku apa? Pahit hem?"
Dia tersenyum miring melihatku.
Aku diam tak bergeming.
Jedag jedug nih jantung. Astaga.
Dia membalikkan badanku dan kembali memelukku.
Dengan cepat dia mencium bibirku.
__ADS_1
Kepalaku buntu masih shock.
Dia berhenti dan menatapku tersenyum. "Kenapa ngak di balas ciuman aku hem?" Katanya dengan suara sensual.
Wajahnya yang menatapku begini membuatku gagal konsentrasi dan ngak tau mau ngomong apa.
Dia terkekeh singkat. Memegang tengkukku dan kembali menciumku singkat.
"Aku sayang kamu." Kata Jessen dengan wajah yang masih sangat dekat di hadapanku.
Aku tersenyum dengan sedikit kaku.
"Kalau udah nikah. Aku mau tidur sekamar sama kamu." Kata Jessen.
Deg! Pikiranku seketika melayang ke mana mana. Kkenapa bahas kamar coba?!
"Aapa sih Jes! Kkan aku bilang. Aaku ngak mau hamil!" Kataku grogi.
Jessen mempererat pelukannya. "Jadi nanti setelah kita nikah. Kita mau ngapain coba?" Dia menaikkan salah satu alisnya.
"Nga ngapain kek. Pokoknya ngak begitu! Aku masih di bawah umur!"
"Hm. Iya." Jessen melepaskan pelukannya. " Aku ngak suka menunggu lama. Jadi pernikahan harus di percepat."
"Huh? Apaan sih. Ngak sabaran banget."
"Aku mau mempercepat pernikahan secepat mungkin. Semua udah di atur mama dan papa. Juga udah di konfirmasi juga ke kakek nenek."
Aku mencubit pipi Jessen. "Emang kau mau secepat apa? Lusa kita nikah nya."
"Hm. Boleh."
Jessen hanya tersenyum. "Ayo balik ke kelas." Sambung nya.
Aku mengangguk dan diam. Menunggu dia jalan deluan.
"Kenapa ngak jalan?" Tanya Jessen.
Aku mengibas-ngibaskan tanganku menyuruh dia jalan deluan. "Kau jalan luan aja. Aku ntar nyusul."
Jessen mengenggam tanganku. "Ngak. Kita barengan."
Aku tersenyum kecil. Beneran sangat manis.
Kami pun masuk ke kelas masing-masing.
***
Esok harinya.
Sangat miris melihat diriku sendiri.
Aku gagal masuk seleksi lomba matematikanya. Hua.... Hiks... Sedih banget ya elah...
Di tambah sore ini hujan deras lagi. Sedih banget... Bercampur campur....
Seleksi di adakan sampai sore, dan sangat melelahkan.
Aku masih berdiri di depan pagar sekolah dan sekarang Tessa berada di sebelahku.
__ADS_1
"Sabar Val. Semua pasti ada jalannya." Kata Tessa.
"Lebay banget sih Tes, kayak aku menghadapi masalah yang teramat besar aja. Aku cuma sedikit sedih doang aja kok." Aku mencoba kuat. Padahal udah mau nangis aja rasanya. Udah cape cape belajar, malah hasilnya kegagalan. Hiks. Kejam.
Sret.. terdengar suara payung terbuka dari arah sebelah Tessa, membuat kami sama sama menoleh ke sumber suara.
Kak Rio?
Oke Val... Pura pura ngak kenal. Toh juga dia ngak bakalan kenal sama mu.
Dia tersenyum ke arah Tessa.
"Hai say..mm" Kalimat Rio terputus karena Tessa menutup mulut Rio dengan telapak tangannya cepat.
Tessa membolangkan mata ke arah Rio dan kemudian melihat ke arah ku. "Val. Aku pulang deluan ya. Ada yang perlu aku tangani."
"Oh. Onghey.." Kataku.
Tessa pun pergi meninggalkan ku seorang diri. Di tengah hujan.
Sesaat kemudian ada seseorang memegang tanganku. "Val."
Aku mendongak, Jessen.
Wajahnya lemas. Jangan jangan dia ngak lulus juga. "Kau ngak lulus?"
"Lulus."
Aku menatap nya bingung. "Terus?"
"Ngak apa." Dia menatapku dengan tatapan nanar.
Oh.
"Aku anter kamu pulang." Kata Jessen perhatian.
Mendengar kalimat perhatian dari Jessen membuat aku jadi baper.
Aku mengangguk. "Hm iya."
***
Sesampainya di depan rumahku. Jessen tampak semakin lemas. Dia sakit?
Aku memegangi jidadnya.
Sial! Panas!
"Kamu kenapa ngak bilang kalau sakit!" Aku marah.
Dia memelukku menundukkan kepalanya di bahuku lemah. "Kepalaku pusing banget Val." Katanya dengan lemah.
Aku memegang badan agar tak jatuh. "Kamu kalau sakit ngak perlu anterin aku... Gimana sih!"
Mendengar keributan aku yang merepet sama Jessen, nenek pun keluar dan menemui kami.
"Eh. Kenapa ini?!" Kata nenek panik.
"Jessen sakit nek. Tapi masih nganterin aku nek! Valen ngak tau kalau Jessen sakit... Kalau tau Valen ngak bakalan izinin.." jelasku.
__ADS_1
"Udah udah. Langsung aja bawa Jessen ke dalam." Kata nenek sambil membuka pintu lebar.