Magic You

Magic You
Chapter 84


__ADS_3

Catatan penulis:


hi guys.... mari di dukung ya shay karya aku... gimana caranya...



vote cerita aku


like dulu sebelum baca ya guys... (kenapa ngak habis baca aja? karena takutnya kalian baca dan lupa ngak terlike jadinya.)


beri hadiah ke cerita aku guys...


Rate bintang 5 cerita aku yauuu



Dan... juga... kalau kalian suka sama cerita aku jangan lupa di share ke teman teman kalian ya guysss..


buat aku semakin semangat nulis ceritanya guys... ongehh...


pokoknya love you banget lah guys...


salam sehat... jangan lupa jaga kesehatan. Terapkan 3 M dalam aktivitas kalian guys...


love you all


 


Ah... Aku punya ide.


Aku langsung berbalik badan dan mengandeng Tian. "Hehe." Kataku cengengesan melihat Jessen.


"Jes... Aku ingin obatin kakakku. Kasian dia. Lihat noh.." kataku seraya menepuk nepuk pelan bahu Tian.


"Kakakku lagi sakit. Jadi kami harus segera ke rumah sakit. Jadi... Aku harus segera bawa dia sekarang." Aku terus mencoba mengarang kalimat.


Jessen menatapku datar kemudian melihat ke arah Tian dan melihat ku lagi.


Tian diam saja dan hanya menatap Jessen dalam. Apa yang dipikirkan Tian sekarang ya?... Astaga... Jangan sampai dia berfikir yang aneh aneh.


"Em. Jadi kami berangkat dulu ya. Hehe. Bye Jes." Sambil menggandeng Tian dan melewati Jessen.


Tep. Langkahku terhenti saat tangan Jessen memegang pundak ku.

__ADS_1


Aku menelan ludah berat. Wadaw..


Aku menoleh ke belakang melihat nya. "Ke kenapa Jes?"


"Dia bukan kakak kandung mu kan. Jangan membodohi ku." Ucap Jessen tajam.


Jleb. Bagaimana dia tau...


"Cih." Jessen tertawa sinis.


Dia pun pergi meninggalkan kami.


Em.. Jjadi dia ngak marah kan ya?... Apa dia marah? Apa gimana?


Aku jadinya harus apa? Mau lakuin apa? Apa?....


"Ngak jadi mengobati ku." Tanya Tian membuat aku kembali tersadar dari pikiran ku yang ruyem tadi.


"Eh. Jadi jadi." Aku mengangguk dan berjalan.


Tunggu. Aku baru sadar kalau dari tadi aku masih mengandeng nya.


Menyadari itu aku langsung melepaskan tanganku.


"O oh. Iya iya." Kataku.


***


Aku mengobati Tian di kursi panjang umum tanah lapang. Tian terus menatapku, seperti ada yang ingin di pertanyakan nya.


"Kau mau nanya sesuatu?" Tanyaku.


"Em." Mengangguk. "Itu tadi pacarmu?"


Aku terkekeh. "Pacar? Ya engak lah."


"Oh. Gitu."


"Aku tu mah udah move on suka darinya." Ujarku bangga.


"Move on? Kalian pernah pacaran?"


"Hahaha. Ngak gitu. Aku tu pernah suka sama dia. Tapi, karena aku sadar dia itu menyebalkan, aku move on lah dari nya."

__ADS_1


"Oh." Dia mengangguk.


"Aku ngak suka kau panggil aku kakak." Katanya datar.


Huh?


Maksudnya?


"Kakak? Emangnya aku bilang tadi aku bilang gitu apa?"


"Kau menganggapku kakak di hadapan nya."


"Hehe.. tapi kan emang bener sih kau itu kakakku."


"Tapi aku ngak suka di panggil itu."


"Iya.. ngak lagi."


"Hm."


Deg deg.


Aku kembali terkejut saat dia memelukku tiba-tiba.


Aku terkejut membuat aku tersedak ludahku sendiri.


"Val. Badanku sakit." Katanya.


Aku menolak badannya. "Jangan di dorong lah. Sakit." Katanya yang kemudian melepaskan ku.


"Makanya jangan meluk."


Dia tersenyum miring.


Dengan pencahayaan sinar senja yang menerpa wajah nya. Dia kelihatan begitu estetik. Wkwk.. kenapa otak aku begini yak...


"Aa..." Pekikku saat dia mencubit pipiku keras. "Sakit woy."


"Kau sendiri kenapa tiba tiba cengengesan."


"Hehe. Ngak apa sih. Biasalah."


Dia menggelengkan kepalanya aneh melihatku.

__ADS_1


Wkwk. Makin lama otak ini makin bobrok aja.


__ADS_2