
Aku menghirup aroma nasi goreng yang ada di hadapanku sambil menutup mata meresapinya. "Mm..."
Aku membuka mata perlahan. Aku memandang Jessen yang ada di hadapanku. Tatapannya sangat tajam.
Aku mengerutkan dahi. "Biasa aja dong." Aku melilitkan mie baksoku dengan garpu dan menyantap nya.
Dia melipat kedua tangannya di meja. "Sayang."
Deg
Aku ngak salah dengar kan?... Sayang?!
Aku buru-buru menelan makanan yang baru kulahap tadi dan meminum teh manis.
"Blah blah blah..." Aku kepanasan karena meneguk teh panas.
Aku kembali melihat Jessen, dia tak bergeming.
"K kau... Maksudnya... Hah?" Kalimatku masih terbata-bata.
Aku masih mengipasin lidahku yang kepanasan.
Apa dia ingin aku jadi pacar yang uwu apa gimana?
Tunggu, kok aku jadi panikan gini ya... Apa kubalas aja?
"I ya... Sa sayang." Aku grogi.
Dia malah terkekeh singkat. "Heh."
"Sayang kalau kau ngak makan bakso pake saus dan kecap ini." Sambung Jessen sambil memegangi saus dan kecap di tangannya.
Jessen memegangi kepalanya sambil kembali terkekeh. "Bukan manggil kau sayang."
Jleb... Wait what?!
Aku kepedean. Oh man... Damn.
"Sepertinya kau sangat ingin memanggilku sayang." Kata Jessen dengan penekanan pada akhir kalimatnya. "Bisa sih, tapi jangan keseringan. Ntar nyaman lagi." Dia kembali tertawa.
"Ya enggak lah. Ngapain juga manggil kau sayang. Kau udah ngak waras." Cetusku. "Aku tadi mikir kau yang bilang aku sayang. Ya karena aku ngak enak hati aja kalau ngak bales kalimatmu pakai sayang itu, ya aku panggil sayang juga."
Dia menaikkan alis acuh dan kembali menatap makanan yang ada di hadapannya.
Ck... Val Val... Udah di bilang kalau nelaah kalimat Jessen itu harus dengan pikiran yang panjang, biar paham kalimat dia yang sangat absurd itu.
"Sebenarnya kita jenis pacaran apa sih?!" Bentakku. "Ah, ya udahlah... Kesel aku. Terserah lah."
Jessen melihatku dengan memiringkan sedikit kepalanya, kemudian dia menggeleng kan kepala acuh.
***
Sekarang kami berjalan di trotoar jalan.
__ADS_1
Aku bingung mau buat apa ke dia biar dia bahagia hari ini. Ya tapi apa? Aku juga ngak tau.
Tiba-tiba langkah Jessen terhenti. Arah pandangan seperti melihat sesuatu di belakangku. Aku menoleh dan melihat ada wanita paruh baya yang tampak elegan.
Melihat tatapan Jessen, terlihat sangat fokus.
Jangan-jangan... Jessen suka sama tante-tante!
Aku memukul kepala Jessen. "Melotot terus. Kalau doyan yang tuaan ngapain pacaran samaku!"
Dia melirikku dongkol dengan mata melotot emosi sambil memegangi kepalanya yang ku timpuk tadi. "She is my mom."
Ups... Salah paham.
"Hehe, aku pikir siapa. Maaf." Aku memalingkan wajahku dari Jessen.
Aku kembali melihat wanita itu. Wanita itu tampak membalas tatapan Jessen, dia sama sekali tak tersenyum sedikit pun, bahkan terlihat sangat dingin seperti tak saling kenal. Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi antara hubungan mereka?
Jessen kembali berjalan melanjutkan langkahnya tadi.
"Oy Jes." Panggilku.
Dia menoleh.
"Samperin kek mamamu." Ujarku. "Atau kau pulang bareng aja sama dia. Aku jalan kaki aja juga ngak apa kok." Saranku.
Jessen tertawa hambar. "Itu tak akan pernah terjadi." Kemudian dia membalikkan badannya kembali ke posisinya semula.
Dugaanku pasti benar. Dia pasti punya masalah sama mamanya.
***
Jessen dan aku tengah duduk di kursi taman, aku menatap Jessen dengan penuh konsentrasi.
Dia menatap lurus ke depan tanpa kata.
Aku bingung harus apa. Kayaknya Jessen itu memang banyak masalah, tapi dia selalu menutupinya dengan ekspresi datar nya.
"Jes." Panggilku.
Dia melihatku datar.
Memang sepertinya Jessen membutuhkanku untuk membuat dirinya bahagia. Aku merangkul nya.
Dia masih menatapku datar.
Aku mencoba menjelaskan padanya. "Well, aku tau sebenarnya aku ngak banyak bantu kau dalam menggapai kebahagiaanmu. Setidaknya aku berusaha." Aku menghela napas berat. "Kau ngak perlu cerita tentang kesedihanmu padaku, karena itu pasti membuat mu semakin sedih. Aku cuma mau bilang hidup itu harus terus berlanjut, jadi jangan memikirkan kesedihan, tapi carilah kebahagiaan. Atau paling tidak buatlah suatu kebahagiaan bagi dirimu sendiri."
Jessen tersenyum kecut padaku. "Kau kenapa? Kesurupan hantu orang bijak."
"Ck, aku ngomong bagus kau malah hina. Bodo amat lah." Aku mendengus kesal.
Seketika itu juga Jessen memelukku.
__ADS_1
Aku harus tenang...
Tenang Val, tenang.
"Kau sakit jantung ya. Jantungmu berdebar kencang." Ledeknya sambil tertawa kecil.
"Ish... Kalau ngak berdetak berarti aku udah mati." Pekikku.
Bukan malah melepaskan dekapannya, Jessen malah semakin memelukku erat.
Aku hanya tersenyum di balik dekapan Jessen.
Udah Val, jangan kelamaan. Kalau kau baper, ingat... Jessen ngak bakal mau tanggung jawab sama perasaanmu.
Aku menepuk pundak Jessen. "Udah udah."
Dia melepaskan rangkulannya menatapku dengan penuh arti.
Aku memicingkan mata memahami maksud tatapannya. Tapi kalau di lihat-lihat Jessen kalau senyum ketampanannya jadi bertambah.
Aku memalingkan wajahku darinya.
Takut imanku goyah.
Aku bangkit berdiri. "Udah. Yok pulang." Aku berjalan deluan.
"Hei bego." Panggil Jessen. Aku menoleh ke arahnya.
"Parkiran di sana." Jessen menunjuk arah yang berbanding terbalik dengan arah jalanku.
Dengan wajah tembok aku berbalik arah dan berjalan terus.
Parah
***
Aku terlentang di kasurku sambil membayangkan kejadian hari ini.
Kalau di pikir-pikir, kenapa aku selalu terlihat luar biasa bego kalau di hadapan Jessen ya... Apa cuma karna aku memiliki rasa padanya?
Ck... Kenapa kalau suka sama orang kita terlihat bodoh...
Tunggu, kita? Sepertinya hanya aku yang seperti ini... Miris.
Aku membalikkan badanku jadi posisi terlungkup.
Oh ya, aku jadi teringat satu hal, buku mistis!
Aku bergegas mencari buku mistis dalam tas ku. " Yak ketemu." Aku membuka buku nya. "4/15" itu yang tertulis di sana. Warna tulisan angkanya berbeda, biasanya berwarna hitam kali ini berwarna emas.
"Tunggu, ini apa?" Aku melihat ada potongan kertas kecil berwarna emas yang membatasi halaman buku.
"Hemm, maksudnya mungkin hanya di beri pembatas buku biasa sama nenek peri yang kemarin itu. Tapi masalahnya kok bisa misi terselesaikan udah sampai empat aja? Kan terakhir kali masih 2. "Aku berpikir sejenak menelaah maksudnya. "Apa mungkin Jessen sangat bahagia hari ini sampai misi terselesaikan sampai lompat level begini?... Mungkin kali ya." Aku tersenyum senang. " Syukurlah kalau begitu. Semakin sering lompat level semakin cepat hidupku kembali seperti semula.
__ADS_1
Aku merentangkan tanganku lega. "Kali ini bisa tidur nyenyak."