Magic You

Magic You
Chapter 81


__ADS_3

Catatan penulis;


Jangan lupa di like komen dan vote ya... Kalau ngak ada vote, di berikan hadiah juga boleh kok... Hehe...


Selamat membaca ✌️😊...


 


Aku berjalan meninggalkan nya yang ada di dalam perpus dengan sebelumnya melapor dulu ke petugas perpus bahwa aku meminjam buku matematika yang ku ambil tadi.


Rasa kesal dan cemas aku rasakan sekarang. Bagaimana tidak, kalau aku jumpa lagi dengannya bagaimana?


Jadi babu gratis dong..


Rasanya seperti ingin menangis. Hu hu hu...


Udahlah, aku ngak mau pikiran itu sekarang. Mendingan aku pikirkan mengenai lomba yang akan aku ikuti Minggu depan nanti.


Huf. Semoga aku bisa sukses... Aminnn...


Aku berjalan di koridor sekolah. Kembali melihat pengumuman perlombaan, aku ingin memastikan kapan, di mana, dan apa persyaratan lainnya yang perlu aku persiapkan.


Aku menatap Mading sekolah ini.


"Rabu depan rupanya. Tunggu dulu... Huh? Di adakan seleksi lusa baru ikut lomba... Gila lebay amat."


"Hem.. oh pantesan, rupanya ini lomba nasional antar sekolah rupanya."


Aku masih terus membaca dan menunjuk Mading tersebut. "Hanya di ambil satu orang per satu mata pelajaran! Wah ini baru setres! Ya kali.. "


"Pengumuman hasil seleksi pertama akan di lampirkan besoknya di Mading pengumuman ini. Wew... Agak jantungan juga, kalau rangking terakhir malu banget yak." Aku kembali teringat kalimat kawanku di kelas tadi.


Tapi aku ngak boleh menyerah. Ngapain aku harus takut? Ngak ada yang perlu di takut kan.


Aku harus tetap coba.


Valen... Pasti bisa!


Aku pun kembali membalikkan badan. Dan ternyata dari kejauhan tampak Jessen yang berjalan sambil melihat ponselnya. Sial.


Sebelum Jessen mendongakkan kepalanya. Aku buru buru melihat tempat persembunyian. Kau tau lah... Nanti dia pasti berfikir aku pingin banget jumpa sama dia, dan berakhir aku jadi babunya. Euhhh ngak mau!


Ah. Aku melihat ada pot bunga besar di dekat Mading. Pot itu agak menempel pada dinding yang berbentuk siku karena dinding tersebut menempel dengan tiang beton yang berbentuk persegi.


Di sana terdapat celah untuk bersembunyi.


Dan di saat itu juga aku ngumpet di situ sambil berjongkok.


Aku berdoa sambil menutup mata. Semoga dijauhkan dari Jessen sang titisan iblis.


"Pergi kau Jessen. Pergi... Hus hus pergi sana. Jauh jauh gih.." Ucapku pelan dan hampir seperti berbisik.


"Jangan ke sini. Jangan ke sini... Pergi sana. Hus hus. Sana..." Aku mengibas-ngibaskan tanganku kecil.


"Udah jauh ngak ya tu Dajal..." Kataku penasaran tapi masih dengan tutup mata.


Aku pun mengintip sedikit.


Mataku terbelalak dan jatuh terduduk di lantai. "Astaga." Kataku terkejut saat melihat nya ternyata sudah di hadapanku sambil berjongkok menatapku datar.


"Ngapain kau disini." Kataku sedikit panik.


"Itu seharusnya pertanyaan ku." Ucap nya dingin.


Gleg. Aku menelan ludah berat.


"Ah. Aku tau." Katanya lagi.


"Kau ingin melihat ku tanpa ketahuan makanya kau bersembunyi di sini kan." Tambah nya.

__ADS_1


"Idih... Siapa juga yang mau lihat kau." Bantahku.


"Kau harus mengikuti perintah ku mulai hari ini." Katanya dengan senyuman miring.


"Apaan. Kan aku ngak mau jumpa samamu. Lihat... Kau sendiri yang ke sini menemui ku." Sambungku lagi.


"Kau pikir aku tak tau kalau kau dari tadi sudah mengetahui keberadaan ku."


Deg.


Pasti dia salah paham lagi.


"Dengan begitu artinya kau yang dengan sengaja melihatku dan memperhatikan ku dari jauh." Jelasnya.


Dah lah. Salah pengertian lagi ni anak.


Aku bangkit berdiri karena kesal. "Ish. Engak loh! Ngapain juga aku mau melihat mu! Kayak ngak ada cowok lain aja di dunia ini kau buat. Sadar oy sadar."


Dia bangkit berdiri. Dan berjalan semakin dekat padaku.


"Kkau mau ngapain." Kataku sambil bergerak mundur perlahan.


Dia semakin mendekat dan membuat ku semakin mundur ke belakang terus.


Gila. Aku harus kabur.


Aku berlari.


Tep. Tangan Jessen memalang ku menempel di dinding sehingga aku tak bisa kabur.


Lagi lagi aku menelan ludah berat.


Aku kembali melihat nya. Posisi berdiri nya hanya satu jengkal dari padaku.


Dia mendekatkan wajahnya ke arah ku.


Spontan tanganku menutup mulutnya. Ntahlah, dalam pikiran bawah sadar ku yang kotor ini membayangkan bahwa dia akan menciumku.


"Kau pasti mau cium aku kan?! Dasar bedebahhh.."


Dia terkekeh singkat. "Cih. Menciummu? Siapa... Aku?" Dia menggeleng kepala nya aneh melihatku.


Kemudian dia menunjuk rambutku. "Ada ulat di kepalamu. Warna hijau. Makanya jangan suka sembunyi di bawah tanaman." Katanya enteng.


Ulat?


Ihhhh.... Aku paling geli dengan segala jenis serangga!!


"Jessen.... Ambil ulatnya!!" Pekikku ketakutan.


"Malas." Katanya acuh seraya membalikkan tubuhnya.


Sial...


Aku menarik tangannya. Membuat dia tak jadi berbalik meninggalkan ku.


"Please... Ambil ulatnya." Kataku dengan suara bergetar ketakutan.


"Aku malas."


"Ish. Jahat banget sih. Cepetan..." Aku menarik tangannya yang ku genggam tadi.


"Aku tak peduli." Dia menunjuk kepalaku. "Lihat. Ulatnya udah mau semakin masuk ke dalam rambut mu." Katanya datar.


Sial!!


Aku sangat takut dan dengan cepat memeluk Jessen erat. "Cepat ambil. Geli banget tau ngak!"


Dia diam.

__ADS_1


Aku menarik narik bajunya. "Cepat... Ish... Takut loh..."


"Iya iya." Katanya pada akhirnya.


Syukurlah...


Dia memegang rambut ku mengambil ulat yang ada di kepalaku.


Aku semakin memeluknya erat.


Ih.. geli banget bayangin ulatnya.


Ish...


"Cepetan." Pekikku lagi.


"Jangan banyak gerak. Tuh kan, ulatnya makin masuk."


Aku semakin mendekapnya. "Em.."


Euh...


Dia mengibas pelan rambutku.


Sebenarnya aku antara takut sama jadi baper.


Arh... Apaan sih ni otak.... Heh Valen!!! Sadar!!! Move on dong!!!


"Udah belum." Kataku lagi.


"Hm." Jawabnya.


Aku pun langsung melepaskan pelukanku.


"Makasih." Ucapku cepat sambil membuang wajahku.


Aku pun bergerak menyingkir darinya dan berjalan melewatinya.


Tep. Tanganku di tahan olehnya.


"Mau ke mana?"


"Kelas lah."


Dia menaikkan alisnya dengan tatapan datar. "Eh. Kau sudah kalah bertaruh. Sekarang kau harus turuti segala kemauan ku."


"Ah. Gila ya. Aku ngak mau."


"Kau yang salah pengertian." Kataku sambil bersikeras untuk tetap menang.


Dia melipat kedua tangannya di dada. "Oh. Berarti aku bisa mengambil kesimpulan."


Kesimpulan?


"Maksudmu?"


"Kau adalah orang yang tak berpendirian, tak dapat di percaya, suka berbohong, dan tak bisa di andalkan."


"Apaan. Kenapa jadi nuduh gitu?!"


"Lihat saja sekarang. Belum sampai 1 jam kau berjanji, sekarang kau sudah mengingkari."


Ish... Kok gitu sih. Kenapa jadi aku yang salah.


Dia membalikkan badan dan hendak berjalan pergi.


Ck...


"Iya iya... Apa yang kau inginkan sekarang." Ucapku sambil menghentakkan kaki kesal.

__ADS_1


Mengesalkan sekaliii...


__ADS_2