
Mata ini rasanya berat sekali, ngantuk...
Aku berusaha keras membuka mataku yang berat ini. Tapi seberapa kerasnya aku membuka mataku, mata ini terus terpejam.
Hari ini pelajaran matematika. Ya, matematika!
Rasanya sangat sebal. Udah kemarin belajar matematika di bentak Jessen melulu, sekarang belajar matematika lagi. Ini rasanya ngak adil.
Suara guru sudah bergema samar-samar di telingaku, semakin tak jelas. Aku benar-benar tidak konsentrasi lagi. Aku melipat kedua tanganku di meja dan menundukkan kepalaku di sana. Tidur sebentar akan membantu.
Posisi ini sebenarnya sangat tidak etis untuk tidur. Tapi ntah kenapa aku tidur begitu lelap.
Kedubrak
"Eh copot." Latahku keluar seketika sesaat seseorang memukul keras mejaku.
"Valen! Udah nilai kamu selalu rendah, malah tidur lagi di kelas!" Jerit wanita paruh baya yang sedari tadi mengajar.
Aku menundukkan kepala menyesal. "Ma maaf Bu." Kataku pelan.
Wanita itu menunjuk ke papan tulis yang di depan kelas. "Kerjakan soal di papan nomor 3!"
Aku berjalan seraya menggangukkan kepala.
Ck, ada aja masalah pagi-pagi begini.
Aku mengambil spidol di samping meja guru, kemudian berjalan menghadap papan tulis yang tertera soal yang dimaksud.
Aku terkejut melihat soalnya. Soalnya mirip sama soal yang kemarin aku bahas sama Jessen.
Yuhu... Aku bisa jawab...
Aku mengerjakan soal tersebut dengan mudah. Kukembalikan spidol ke meja guru dan kembali ke tempat duduk.
Bu Sri yang mengajar terkejut melihat jawabanku. Dia masih cengo dengan posisi berdiri di sebelah mejaku.
"Val kok bisa." Bisik Tessa.
Aku melipat kedua tanganku bangga.
Dia mencubit lenganku. "Caramu beda sama yang di ajarkan ibu." Pekik nya pelan.
Aku bingung. "Serius kau Tes?"
"Iya... Tapi jawabanmu sama seperti jawabanku." Sambung Tessa sambil menelaah jawabanku yang di papan tulis. "Jawabanmu sangat singkat. Beda sama cara Ibu."
Bu Sri melihat ke arahku. "Valen."
"I iya bu." Aku shock.
Bu Sri tersenyum dan memandang murid-murid di sekitar. "Tepuk tangan untuk Valen..."
Suara tepuk tangan membanjiri kelas.
Bu Sri menepuk kepalaku pelan. "Siapa yang ngajarin?"
"Be belajar sendiri Bu... Sa sama les online Bu." Kalimatku terbata-bata. Ya kali aku bilang Jessen yang ngajar, nanti malah di cie-ciein sama mereka.
Bu Sri mengelus kepalaku. "Bagus-bagus. Lanjut kan."
Aku hanya mengangguk kaku dan mencoba tersenyum walau tampak di paksakan.
__ADS_1
***
Aku berjalan pulang bersama Tessa. Kami bercanda ria sepanjang perjalanan. Aku kembali teringat kejadian kemarin waktu Jessen mengajarku. Ada gunanya juga belajar sama Jessen, walaupun bolak-balik di hina. Apa aku harus ngasih dia sesuatu... ya untuk balas budi?
"Val." Kalimat Tessa membuat lamunanku berhenti.
Aku menatapnya. "Ya?"
Tessa melihatku sambil memicingkan matanya penasaran. " Kau... Pacaran ya sama kak Jessen?"
Kalimat itu membuatku terbatuk karena tersedak ludahku sendiri.
"Oy oy... Biasa aja kali." Tessa menepuk-nepuk pundakku pelan.
Aku mencoba kembali bernapas. "Kok kau bilang gitu?"
Tessa memegangi tengkuknya. " Soalnya, kemarin aku lihat kau dan Jessen berduaan naik kere..." Aku menutup mulut Tessa. Aku takut ada yang dengar dan jadi membuat hoax di sekolah.
"Sttt... Jangan keras-keras." Pekikku pelan. Aku menatap sekeliling ku, masih banyak siswa-siswi yang lalu-lalang di sini karena kami belum jauh dari sekolah. Kemudian aku melepaskan tanganku dari mulutnya.
Tessa menatapku dengan senyuman nakal, dia menaik-turunkan alisnya.
"Aku ngak ngapa-ngapain sama dia. Kami cuma ke perpus dan belajar, ngak lebih." Jelasku.
Tessa mengangguk-anggukkan kepalanya dan masih tersenyum, seolah-olah aku menyembunyikan kejadian kotor antara aku dan Jessen.
Padahal kan ngak ada apa-apa.
"Tes... Aku serius... Ngak ada apa-apa." Aku meyakinkan Tessa bahwa aku ngak main-main.
"Iya loh, aku percaya." Sambung Tessa.
"Tapi kan Val, kalau kejadian kemarin di lihat sama orang lain pasti bakal berabe." Tessa mengingatkan.
Tessa menatapku serius. "Tapi sayangnya bukan cuma aku yang lihat Val."
"Ma maksudnya?"
"Kelompok gibah sekolah kemarin itu berpapasan samaku sesaat ketika akuĀ lihat kau dan Jessen. Aku yakin mereka lihat kejadian kemarin dan sekarang lagi menyebar luaskan beritanya." Bisik Tessa.
Aku menelan ludah berat.
Gimana kalau memang benar mereka menyebar luaskan beritanya.
Damn
Bisa-bisa nama baikku tercemar.
Dremm...
Terdengar suara kereta yang mendekat dan berhenti di sebelah kami. Aku langsung mengenalinya karena dia ngak menggunakan helm.
Aku dan Tessa pun berhenti.
"Naik." Kata Jessen padaku.
Gila ya ni orang, di sebelahku ada Tessa Bambang...
Aku memberikan kode pada Jessen dengan gerakan bola mata ke kanan ke kanan menandakan ada Tessa di sebelahku, bibirku kukecilkan, dan tanganku kukibas-kibaskan bermaksud mengusir nya.
Dia membalasku dengan tatapan datar. "Oh ini temanmu." Jessen mengalihkan pandangannya ke Tessa. "Kenalin aku Jessen, pacar Valen."
__ADS_1
Aku kembali terbatuk keras karena kalimat Jessen.
Eh Bambang, aku udah berusaha menghilangkan rumor tentang kita pacaran, dan kau... Malah memperbesar berita nya!!
Tessa tersenyum lebar ke arahku. Seperti puas karena dugaannya benar. "Hem... Kalau begitu aku pulang dulu ya. Da da." Tessa melenggang pergi meninggalkan kami.
Aku memalingkan wajahku ke arah Jessen. "Dasar ka..." Jessen langsung memasang helm full facenya padaku. "Naik." Sambungnya.
Aku menghentak-hentakkan kakiku kesal kemudian naik ke kereta.
Kalau ngak karna harus menyelesaikan misi aku ngak bakal mau satu kereta sama orang yang super duper nyebelin ini.
***
Tempat yang sunyi... Senyap... Bahkan kalau jarum jatuh pasti suaranya kedengaran.
Yup... Kami lagi ada di perpus.
Jessen membaca buku sekarang. Aku merogoh tasku mencari buku mistis itu. Ketemu... Aku membuka buku itu tapi masih dalam posisi berada di dalam tas. Misi yang terselesaikan: 2/15.
Dua?... Hem... Terakhir kali aku buka seperti nya masih satu deh. Ah aku tau, itu pasti karena kemarin kami belajar bareng sama Jessen jadi bertambah satu.
Wait, wait, ini buku misinyakan membahagiakan Jessen. Jadi, waktu aku belajar sama dia... Dia bahagia?
Hem... Aku jadi malu... Apa bener Jessen udah mulai suka samaku?
Aku memperhatikan Jessen sambil tersenyum.
Jessen melihatku kemudian menyentil jidatku.
"Aduh." Aku memegangi jidat.
"Apa?" Kata Jessen.
"Kau udah mulai sukakan samaku." Ujarku bangga sambil menarik turunkan alisku.
"Heh." Dia tersenyum meledek. Dia menatap arah lain acuh. "Kalau kau satu-satunya wanita di dunia ini, mungkin iya." Hinanya.
Pisau mana pisau...
Rasanya aku ingin gorok lehernya deh.
"Terus, kenapa misi terselesaikanku bertambah." Aku tak mau kalah. Aku harus menegakkan harga diriku.
Dia kembali melihat buku bacaannya. "Oh. Baru kali ini aku lihat orang sebegomu. Jadi aku terhibur." Jawabnya singkat.
Tretaktak
Seperti nya tulang rusukku terasa retak. Menyakitkan...
Aku memutar bola mataku kesal.
"Aku mau makan!" Cetusku. Ya, kalau aku kesal rasanya pingin makan.
Aku bangkit berdiri. "Kau mau ikut ngak?" Sambungku.
"Kau makan banyak tapi nutrisinya ngak pernah sampai ke otak." Sindirnya.
Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya. "Terserah!"
Aku pun berjalan pergi. Jessen memegang tanganku. "Tunggu aku ikut."
__ADS_1
"Tadi kalimat nya kayak ngak mau ma..." Jessen menutup mulutku dengan tangannya.
"Stt. Udah turutin aja." Sambungnya datar.