
Jangan lupa Like, komen dan kalau bisa di vote yau.... thanks...
Happy reading...
________________________________________________
Aku berjalan menyusuri lapangan basket mencari keberadaan Cya.
"Val!"
Aku menoleh dan melihat Cya yang tenagh duduk di kursi penonton dan melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum dan segera berjalan ke arahnya memutari lapangan karena sedang ada yang bermain di sana.
Aku duduk di sebelah kirinya.
Dia memelukku. "Val... Aku dari tadi nungguin loh. Kamu lama banget."
"Wkwk. Maaf ya."
Dia melepaskan dekapannya. Menatapku dengan tersenyum. "Iya ngak apa."
Dia kembali mengarahkan pandangan ke lapangan basket. Aku mengikuti arah pandangnya.
Aku sedikit terkekeh. Heh, ternyata dia memperhatikan salah satu pria yang bermain basket.
Ganteng banget memang.
Normal kali kalau mata kita jadi jernih kalau lihat cogan. Namanya juga cewek.
Sesaat kemudian mata di tutup oleh seseorang. Yang pasti aku yakin bukan Cya. Aku menolak tangannya. Aku melihat ke arah orang itu.
"Apaan sih lihat cowok lain. Udah punya pacar juga."
Ken duduk di sebelah kiriku.
"Heh. Aku ngak pernah punya pacar. Titik."
Aku pun berdiri dan beranjak ke sebelah kanan Cya dan memeluknya. "Cy. Jangan biarkan dia ke sebelahku." Bisikku ke Cya. Cya mengangguk.
Saat Ken berdiri Cya menghalangi. "Heh. Jangan dekat dekat. Bukan muhrim."
Ken kembali duduk dan berdecak kesal.
Aku dan Cya kembali mengarahkan mata kami ke cowok yang sangat tampan yang bermain basket tadi.
Cowok itu mengambil minumnya, meminumnya kemudian menyiram wajahnya dengan air mineralnya.
Aku tersenyum melihat tingkah menawan cowok itu. Sedangkan Cya... Dia menutup mulutnya memekik kegirangan. Wkwk.
Aku melihat Cya yang sedari tadi katanya tak lepas dari pria itu. Aku jadi sedikit terkekeh. Dasar Cya.. Cya..
"Heh." Ucap Ken membuat kami menoleh ke arahnya.
Mata Ken menatap Cya datar.
Ken duduk mendekat ke sebelah Cya, yang di mana sebelumnya berjarak karena bangku kosong yang ku tinggalkan.
Ken menunjuk badan Cya dari atas sampai bawah. "Orang kayak kau. Mana mungkin dia suka."
Cya yang tidak terima memandang Ken sinis. "Kenapa rupanya?"
Ken sedikit mendekatkan badannya ke arah Cya. "Dia itu suka cewek yang..." Ken menaikkan salah satu alisnya. "Seksi." Bisiknya.
Dup
"Aduh." Ringis Ken setelah kakinya di pijak oleh Cya.
"Sotoy kau." Sambung Cya kesal.
"Kau ngak percaya."
"Enggak lah." Cya menunjuk Ken dengan kesal, dia meyakini bahwa cowok idamannya adalah lelaki yang baik. "Aku tau. Kau suka menjelekkan dia karena kau ngak mampu jadi orang se-kece dia, ya kan." Cya menaikkan sudut bibirnya kesal.
"Cih." Ken menatap Cya enteng. "Aku kenal dia. Lihat ini." Ken menghadap depan ke lapangan basket.
"Theo!" Panggil Ken.
Aku dan Cya yang tak percaya menatap ke lapangan basket.
"Oh Ken!... Join lah!" Kata si lelaki yang Cya idolakan tadi.
"Luan aja bro. Lagi ladenin fans." Katanya dengan penekanan pada kalimat akhirnya.
"Haha. Ada aja kau..." Si cowok itu melanjutkan aktivitasnya.
Kami melongo melihat Ken dan Theo bergantian. Terutama Cya yang sangat shock.
Damn.
Kemudian Cya mengahadap ke Ken.
Ken menatap Cya dengan songong. "Heh."
Cya menelan salivanya berat tak berbicara satu katapun.
"Oh ya. Tenang aja... Ungkapan rasa cintamu itu bisa ku rahasiakan... Asal satu sarat."
"Jangan ganggu aku mendekati Valen." Sambung Ken dengan kalimat yang mengintimidasi.
Cya menatapku.
Shit... Cara Ken sangat curang...
Aku yakin Cya bakalan setuju.
Ck.
Kemudian Cya kembali menatap Ken.
__ADS_1
Ken manatap Cya menang. "Gimana?"
Cya menghadapkan pandangannya ke arah depan. "Tak peduli." Kata Cya singkat kemudian menatap Ken datar.
Hah? Cya membelaku.
"Toh juga dia ngak kenal aku. Bahkan sekalipun dia menjauh dan merasa jijik padaku. Aku tinggal cari yang lain." Cya melentikkan jarinya di hadapan wajah Ken. "Cowok ngak cuma satu di dunia."
Whua... Aku sangat terharu sambil bertepuk tangan. Aku bangga punya teman seperti Cya. Aku memeluki Cya.
"Sarange.... Muach." Aku mencium pipi Cya.
"Wkwk. Iya beb." Cya tertawa.
Ken menatapku dengan tak terima. "Beb? Kau panggil dia beb... Aku tak pernah kau panggil beb. Belum lagi kau cium dia... Aku kan mau."
Plak
Cya mengaplak kepala Ken. "Enak aja. Siapa kau minta di cium Valen. Pacar juga bukan. Sembarang."
"Heh cewek judes. Aku pacarnya."
"Emang iya Val?" Cya menatapku.
Aku menggeleng. "Ngak."
Cya kembali menatap Ken. "Denger kan. Jadi kau pergi aja sana gabung sama geng Fuckboy-mu itu. Kami mau berangkat. Bye."
Cya menoleh ke arahku. "Kuy."
Aku mengangguk bersemangat. "Kuy."
"Eh.." Ken yang tak terima di katakan sebagai anggota geng Fuckboy angkat suara. "Siapa yang kau katakan fuckboy cewek judes?" Ken menggertakkan gigi.
Cya menunjuk wajah Ken. "Kau." Kata Cya enteng. "Dan satu lagi. Namaku bukan cewek judes. Aku punya nama." Kata Cya datar.
Ken membolangkan matanya geram. "Siapa namamu?"
"Ah.. Sekarang kau mau jadi fansku, makanya nanya nanya namaku huh?" Cya semakin memanas manasin Ken.
Aku suka ini. Cya sangat the best... Pokoknya sangat super duper favorit my best!!!
"Hahaha." Aku ikut tertawa menimpali.
Ken menatapku. "By. Kamu jangan ikutan kayak cewek judes begini. Nanti otakmu rusak seperti dia." Ken menatap Cya geram.
"By by by, siapa by? Nama aku itu Valen. Bukan By." Sambungku.
"Lihat aja nanti ya by. Kau tak akan..."
"Akan apa?" Andrenalinku meningkatkan semenjak di bantu Cya. Aku jadi semakin berani.
"By..." Ken menekan kalimatnya geram padaku.
Aku memeluk Cya. "Aku mau pergi bareng Cya."
"Kalau gitu aku ikut." Kata Ken cepat.
Dia mengambil ponselnya dan terlihat menelpon seseorang. Dia membuat speaker sehingga kami dapat mendengar.
"Halo nek."
Nek?
"Iya Ken. Ada apa nak?"
Serius dia nelpon nenek.
"Valen mau pergi nek. Valen Ken temenin ya nek, takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nek."
Cih. Dasar tukang konporin.
"Iya iya.. Jagain cucu nenek ya Ken."
"Oke nek."
"Iya Ken."
Nenek menutup panggilannya.
Ken tersenyum picik. "Aku menang."
Cih...
Cya mendekatkan bibirnya telingaku. "Gimana Val?"
"Ck. Aku juga males banget. Tapi dia udah nelfon nenek aku. Ish." Dengusku kesal.
"Udah. Ngak usah bisik bisik. Omongannya kedengaran." Cetus Ken.
Aku pun membereng Ken dengan tatapan berapi-api. "Iya. Kau ikut. Ish.."
Aku memegangi tangan Cya. "Yuk Cya, kita berangkat deluan."
Aku pun menarik tangan Cya dan berjalan mendahului Ken.
Ken mengikuti kami dan mensejajarkan diri dengan kami. Dia berdiri di sebelahku. Dia merangkulku.
Aku melepaskan tangannya. "Ish. Kayak orang mau nyebrang aja, gandeng gandeng segala."
"By, kalau kau jatuh gimana?"
"Kan aku udah gandeng Cya. Ngak perlu di gandeng lagi. Aku bukan anak TK."
Aku menyingkir berpindah posisi ke sisi lain lengan Cya dan menggandengnya lagi, membuat lagi lagi Cya yang berada di tengah tengah kami. Dengan kami masih terus berjalan.
"By.."
__ADS_1
"Namaku Valen. Bukan by... Emang kau pikir aku bysul apa." Umpatku.
"Ya enggak lah by. By itu Baby..."
"Cih. Emang kau bapaknya." Sindir Cya yang membuat aku jadi terkikik.
"Eh cewek judes. Ngak usah ikut campur."
"Heh." Cya menyungingkan senyum menyindir. "Kasihan."
"Hah?" Ken meminta penjelasan.
"Pikir aja sendiri." Sabung Cya datar.
***
Esok harinya
Semenjak kemarin, aku jadi semakin akrab dengan Cya. Dia sangat cocok di ajak berteman.
Hari ini kami berangkat bareng. Cya yang menjemputku di rumah.
"Hi Val. Kuy berangkat." Cya bangkit dari posisi duduknya yang sedari tadi menungguku di ruang tamu.
"Kuy." Kataku seraya berjalan menyusulnya.
Aku dan Cya pun berangkat.
Setelah sampai di kelas kami pun menunggu kehadiran Dosen.
Hari ini mata pelajaran Jessen. Tapi dari tadi dia belum kelihatan.
Jessen kemana? Tumben terlambat.
Cya yang duduk di sebelahku menatapku bingung. "Kenapa Val?"
"Kok Jes.. maksudnya pak Jessen lama datangnya ya?"
Dia mengusap dagunya dengan telunjuk. "Hm. Iya ya. Tumben. Biasanya kan bapak itu cepat."
Aku mengangguk menyetujui.
Sret...
Pintu kelas kami terbuka. Menampakkan sosok lelaki seumuran kami dengan membawa kertas. Yup. Dia komting kelas.
"Guys..." Katanya membuat semua pasang mata melihat ke arahnya.
"Pak Jessen ngak bakal ngajar lagi. Dia pindah." Sambungnya.
Dia mengangkat sedikit kertas di tangannya. "Dan ini absen. Nanti di isikan." Jelasnya.
Terdengar suara keluahan mahasiswi yang mengidolakan sosok Jessen. Cih.
"Kok pindah... Baru juga masuk..."
"Ho oh... Malah belum sempat aku dapet lagi."
"Yah... Calon imamku pindah..."
Apaan sih mereka. Ngak jelas.
Cya mengangkat tangan. "Emangnya bapak itu kenapa pindah Henri?"
"Bapak itu kembali ke Amerika melanjutkan Studi." Sahut Henri.
Cya ber-oh ria. Tanpa bersuara.
Aku sedikit shock. Dia kok ngak bilang kalau mau pulang?! Ck, kesel aku jadinya.
Tunggu.. Apa alasanku makannya aku harus marah karena ngak di hubungi?
Kan aku bukan siapa siapa lagi bagi Jessen.
Aku menyenderkan kepalaku di meja.
Aku tersenyum miris melihat diriku yang mengharapkan cinta dari seorang Jessen. Cih.
"Eh.. Btw, aku pernah dengar kalau dia balik bukan karena studi... Tapi karena mau nikah." Terdengar suara lambe turah di belakangku.
"Eh iya iya... Aku juga dengar gosip itu sih."
"Ya iyalah... Apa lagi coba yang mau di kejar sama asdos tampan Pangeran Idaman Wanita itu. Ya pasti dia bakalan cari istri."
"Ho oh... Yang pasti se-level sama dia."
"Bener tu."
"Enak banget ya yang dapet dia... Berasa dapet paket komplit."
"Iya... Iri ya kan.."
"He eh.."
Kuping aku terasa panas. Kenapa harus bahas mengenai Jessen menikah?!
Ish... Jangan jangan dia beneran bakalan nikah bareng tunangannya itu?! Ish...
Aku mengenggam telapak tanganku kesal.
Hatiku sangat panas. Menyebalkan sekali...
Aku jadi semakin membenci Jessen... Aku menyesal pernah mencintainya...
Kenapa aku harus tetap mencintainya?!
Aku harus move on!
__ADS_1
Lihat saja... Aku bakal melupakanmu seutuhnya Jes!...
Lihat aja!