
Happy reading guys š¤ā¤ļø
Aku tengah duduk tersungkur di meja dengan tangan lurus dan terlungkup di sana. Hari yang melelahkan hari ini.
Pulang sekolah bukannya aku istirahat, aku malah membantu di ekskul si Jessen!
Osh... Capek banget.
Ruangan ini udah sepi karena ekskul juga udah selesai di adakan. Aku pulang ajalah, biar langsung tidur.
Aku bangkit berdiri dari bangkuku. Kubalikkan badanku. "Astaga!" Aku terkejut karena melihat Jessen berdiriĀ di belakangku.
Aku mengelus dadaku menenangkan diri. "Untung ngak copot jantungku."
"Bantu aku nyusun laporan." Ucapnya.
Alisku saling bertautan kesal. "Enak aja. Udah cape nih."
"Eh. Asal kau tau aja. Aku ke sini juga karena Pak Saroso. Kalau ngak ya malas." Sambungku.
Dia menatapku dalam diam. Kemudian memberikan ku sesuatu.
"Kue?" Kataku setelah melihat bungkusan yang di berikan nya.
"Hm. Makanlah."
Hem... Curiga aku. Ada udang di balik bakwan sepertinya.
"Ngak ada apa apa. Makan aja." Dia menarik tanganku dan memberikan kuenya.
Aku pun membukanya dan memakannya.
Dia duduk di kursi. "Kalau makan itu duduk."
"Hm. Iya iya." Kataku dengan mulut penuh. Aku pun duduk di sebelahnya.
Dia menatapku dengan kepala yang bertumpu pada salah satu tangannya. "Apa hubungan mu dengan cowo itu kemarin?" Tanya nya.
Aku berfikir sejenak. "Oh. Tian. Dia cuma teman."
Aku kembali melahap kueku. "Kenapa?"
Dia diam sejenak. "Kau ngak perlu banyak berteman dengan banyak lelaki."
Aku kembali bingung dengan kalimatnya. Aku memegang daguku sambil berfikir. "Aku mana punya banyak teman cowo. Temanku yang cowok cuma dia."
__ADS_1
Dia menatapku tajam. "Cuma dia?" Dia menekan kalimat nya seperti tak terima dengan kalimat ku.
Aku coba kembali mengingatkan. "Hooh. Cuma dia. Memangnya siapa lagi?"
Dia semakin kesal. "Jadi aku ini apa?"
Mimik wajahnya berubah kaku saat menyadari kalimat yang barusan dia katakan.
Oh... Jadi dia minta di anggap juga.
Aku tersenyum kecil. "Apa ya?..."
Dia memalingkan wajahnya dariku dan menatap depan datar. "Ngak perlu di jawab."
"Eeehh?... Kalau ngak ku jawab, kauĀ malah ngak bisa tidur nanti." Godaku dengan sedikit terkekeh meledek. "Kau itu adalah..."
Aku jadi teringat sesuatu... Ingat saat aku selalu bersamamu. Cih. Walau mengesalkan karena aku yang selalu baper deluan. Tapi aku selalu ingat saat aku dianggap sebagai. "Orang yang selalu ada di pikiran ku."
Dia menoleh ke arah ku.
Eh. Aku tadi ngomong ya... Aih...
Aku mengutuki bibirku sendiri. Sial...
Dia kembali menatapku dan tersenyum miring. "Segitunya suka samaku huh?" Dia menaikkan salah satu alisnya.
Aku berdiri.
Sret. Dia menarik tanganku ke bawah dan membuatku terduduk lagi.
Aku membuang wajahku. "Udahlah. Ngak usah di pikirin. Aku ngak bakal suka lagi samamu."
Dia mendekatkan bangkunya. "Kenapa?" Tanyanya dengan senyuman miring.
"Ntah." Ucapku acuh masih tak dengan menatap matanya.
"Udah... Ngak usah di bahas lagi.." Pekikku. Sangat tak suka dengan bahasan ini.
Dia memutar bangkuku dengan tangannya tak lepas dari tempat dudukku. "Kalau ngak bisa anggab aku teman. Anggap aku pacar." Ucapnya.
Deg deg.
Aku menatap Jessen. Kemudian aku menggelengkan kepala, teringat pada Tessa. Aku ngak mau ngecewain Tessa lagi. "Ngak aku ngak mau."
"Masalah temanmu itu ya?" Tanyanya membuat aku terkejut.
__ADS_1
"Kkau tau..."
Dia mengangguk. "Mereka bilang kau kecentilan dan cari muka padaku."
Aku menunduk. Jahat sekali.
"Jangan di pikirkan. Memangnya kau begitu? Enggak kan." Sambungnya lagi.
Aku terharu mendengar kalimat Jessen. Aku mendongakkan kepalaku. "Kenapa kau tiba-tiba baik ngomongnya." Aku sedikit terkekeh.
Dia tersenyum kecil dan menyentil jidatku. "Udah di belain juga. Malah di ledek."
Aku tersenyum singkat. "Em. Iya."
Mataku membulat saat dia memelukku.
"Jangan dekati cowok lain. Awas aja kalau coba coba." Katanya.
Aku tersenyum di balik pelukan ini. "Kenapa rupanya kalau aku dekat sama cowok lain?"
"Aku akan menghukummu."
Aku mendengus kesal. "Dikit dikit hukum, dikit dikit hukum. Emang situ pengadilan apa."
Dia terkekeh singkat. "Biarin."
Dia melemahkan dekapan nya. Menatap mataku lekat. "Aku serius. Jangan dekati cowok lain. Terutama... Jangan pernah peluk siapapun kecuali aku, anggota keluarga mu dan guling."
"Cih. Apaan sih."
Dia mengelus kepalaku. "Panggil aku kamu... Jangan KAU. Paham kan."
Aku tersenyum kecil. "Em. Iya."
Dia membalas senyuman ku.
Kemudian dia berdiri. Berjalan mengambil sesuatu.
Bruk.
Beberapa tumpukan laporan di letakkan di hadapan mejaku. "Bantu kerjakan. Jangan buang buang waktu."
Sial.
"Jes. Gimana sih. Masa baru so sweet so sweet tan udah terasa pahit aja." Ucapku tak terima.
__ADS_1
Dia duduk di sebelahku. "Udah kerjai aja." Katanya tanpa melihat ku. Dia mulai mengerjakan tugas dan tak memperdulikan ku.
Ish.. dah lah.