
Catatan penulis:
hi guys... jangan lupa di like komen dan vote ya, Kalau ngak ada vote bisa di beri hadiah juga boleh kok wkwk...
happy reading guys 🤗❤️
________________________________________________
Aku berjalan memasuki gerbang sekolah. Jam pelajaran akan segera di mulai.
Hari baru, semangat baru. Yup... Semangat baru...
Aku harus bisa jadi murid berprestasi mulai dari hari ini. Ya, hari ini. Hehe.
Yakin? Ya yakin lah... Kan aku udah pernah tamat dari sini... Awokawok...
Aku harus menata hidup ku menjadi lebih baik lagi.
"Semangat!!!"
Semua orang yang ada di halaman sekolah ini menatapku aneh.
Ups.. sangkin bersemangat nya aku sampai menjerit.
Aduh... Malu anjrit.
Aku pura pura stay cool dan berjalan santai menuju ke dalam sekolah.
Saat aku berjalan menuju kelas, banyak siswa yang mengumpul pada dinding pengumuman sekolah yang ada di aula sekolah.
Kenapa ya?
Sesaat kemudian Tessa dari belakang merangkul ku. "Valen.." panggilnya.
"Oy.."
"Hehe. Ke kelas kuy."
"Kuy lah."
Kami pun ke kelas bersama.
Kami memasuki kelas dan duduk di bangku kami.
"Oh ya Tes. Tadi di luar ada apa ya?"
"Ntah. Palingan lomba mungkin."
Mataku terbelalak. "Benarkah?! Aku mau ikut..." Kataku riang.
Seluruh kelas yang awalnya ribut. Kini menjadi hening dan menatapku tajam.
"Lah. Kenapa?" Aku melihat mereka semua.
"K k kau.. mau ikut lomba?" Tanya Fanny shock.
"Ya iya." Kataku yakin.
Tiba-tiba tawa pun pecah di dalam ruang kelas ku.
"Val.. Val... Lucu banget lawakanmu... Haha..."
"Aku serius." Kataku lagi. Lagi lagi kelas jadi hening.
Kemudian Yaya merangkul ku. "Kau serius?"
"Iya loh.. masa main main sih."
__ADS_1
"Ngak biasanya kau mau ikutan. Kau kan paling malas kalau ikut ikutan lomba begini... Salut aku lihat perubahan mu Val." Ucap Tessa kagum.
Sehebat itukah kalau aku ikut lomba?
Ckck. Luar biasa.
Aku mengangkat daguku bangga. "Iya dong."
"Hem... Asalah kau ngak jadi rangking yang paling terakhir." Hina Ria.
"Ya engak lah. Aku akan berusaha untuk itu. Aku pasti bisa."
Mereka masih menatapku tak percaya.
"Ya udah terserah kalian." Kataku acuh dengan sedikit kesal.
Lihat saja nanti.
***
Bel istirahat pun berbunyi. Semua orang di dalam ruangan kelas pun pergi ke kantin.
Aku merapikan bukuku dan mengambil kartu perpus ku.
"Ngapain ke kantin bawa kartu perpus?" Tanya Tessa.
"Kantin? Ngak lah. Aku mau ke perpus." Kataku enteng.
Aku tak terima dengan kesemena menaan mereka men-judge aku tak bisa memenangkan lomba itu.
Tessa melongo melihat ku.
Ish.. Tessa juga ngak percaya rupanya.
"Udahlah Tes. Aku mau ke perpus dulu."
"Eh. I iya iya."
Sedangkan Tessa melambaikan tangan dengan wajah keheranan.
Ah. Terserah.
Aku berjalan ke perpus sambil melewati koridor sekolah. Sebelumnya aku melihat pengumuman di mading pengumuman. "Ah... Lombanya Minggu depan. Aku ambil matematika aja deh. Iya iya, ambil matematika aja..." Kataku sambil mengelus elus daguku.
Kemudian aku membalikkan badan.
Bruk. Aku menabrak seseorang.
"Aduh." Aku mengelus jidadku. "Maaf maaf."
Kemudian aku mendongak ke atas melihat orang tersebut.
Damn... Jessen...
Ngak. Sekarang aku udah jadi berani. Aku ngak takut lagi dengannya!
"Apa?!... Ngak jadi aku minta maafnya. Kau yang salah. Kau yang harus minta maaf pada ku." Tegasku.
Dia menatapku datar dan tajam.
Kenapa nyali ku jadi ciut njir.
Aku pura pura terbatuk mengendalikan rasa ketakutan ku. "Ehem. Biasa aja lah."
Dia masih menatapku dengan tatapan mengerikan itu.
"Ngak. Aku ngak takut samamu. Sekali pun kau memberikan ku buku teror... Aku ngak akan takut. Cih. Aku bukan wanita lemah kau tau." Aku mulai menguatkan mentalku.
__ADS_1
Dia masih diam.
Damn. Aku jadi makin takut.
"Dah lah. Aku cabut. Malas berlama lama dengan mu." Aku langsung cabut ke perpus dengan langkah kaki yang ku percepat.
***
Aku mengelus dadaku karena masih jantungan. "Gila gila. Serem amat sih tu anak."
Aku menarik nafas ku dan mengeluarkan nya. "Fuh.."
"Lebih baik aku membaca buku sekarang." Kataku sambil mencari cari buku matematika di perpus ini.
Aku mencari buku olimpiade matematika yang lengkap dan mudah di pahami. Dan... Yes. Aku menemukan nya.
"Hehe... Lihat aja. Aku pasti bisa." Aku membusung kan dadaku.
"Btw, si Jessen itu memang ngak ada hawa hawa semangat yak... Mukanya datar amat. Ah, palingan dia akan menjumpai kebahagiaan barunya nanti. Hem... Terserah lah."
"Oh iya, kalau dia bakalan bahagia dengan yang lain. Aku bahagia dengan siapa? Ck... Sedih juga aku kembali mikirin ini. Antara sakit hati dan kecewa, semua jadi campur aduk."
"Huh... Ya sudahlah Val. Mau gimana lagi. Aku harus tetap semangat."
"Hup hup hup.... Semangat semangat semangat aye..." Aku berjoget ria dengan suara yang aku pelankan. Ya kali, ini kan di perpus.
Aku pun membalikkan badan.
Seketika badanku menjadi kaku saat melihat ternyata Jessen tengah melihat ku dengan tatapan sinis di kursi baca perpus.
Oh shit... Malu banget...
"Aapa kau lihat lihat?! Kalau ngak senang ngak usah di lihat lah." Kataku dengan sedikit gogi karena malu.
Aku pun membalikkan badan membelakanginya hendak berjalan meninggalkan nya.
"Heh."
Kata itu membuat aku berhenti dan membalikkan badan kaku.
"Apa?" Kataku.
"Jangan pernah lagi muncul di hadapan ku. Kau membuatku muak."
Kretektek... Rusuk ku rasanya seperti hancur berkeping keping.
Sialan!
"Heh... Siapa juga yang mau melihat mu! Euhhhhh najis." Pekikku.
"Cih." Dia meremehkan ucapan ku.
"Ish.. uekkk sok ganteng banget sih kau."
Mampus kau... Emang enak ku hina!
Dia menaikkan salah satu alisnya. "Kalau kau muncul lagi di hadapanku gimana?"
"Heh. Ngak bakal. Kalau iya, aku bakalan menuruti semua perkataan mu." Kataku yakin.
Eh tunggu. Bukannya Jessen itu rada psiko. Kalau aku jumpa dengannya dengan unsur kesengajaan... Aku bakalan jadi babu nya dong..
"Stuju." Katanya singkat.
"Wait.. tunggu. Ngak jadi ngak jadi." Kataku cepat.
Dia kembali menaikkan alisnya songong. "Berarti benar kau tak tahan tak melihat ku huh?"
__ADS_1
Cih... "Ish... Iya Iya aku setuju." Aku menyetujui nya.
Ih... Lihat aja. Aku ngak bakal kalah.