Magic You

Magic You
chapter 15


__ADS_3

Rasanya begitu gila. Ternyata aku masih suka sama Jessen. Aku memukul lagi kepalaku kemudian mencubit pipiku kasar.


Val sadar!!!


"Eh bego, kau kenapa?" Kata Jessen.


Aku menghentikan tingkah lakuku.


"Kalau kau pukul terus kepalamu, kau jadi tambah bego." Hina nya.


Aku melihat Jessen sambil tersenyum. "Eng... Gak apa."


Kami pun berjalan bersama.


***


Di parkiran.


Kak Rio melajukan kereta nya. Ke arahku dan berhenti tepat di sebelahku. Dia membuka penutup helmnya dan mengarahkan pandangan ke arahku. "Naik Val." Ucap kak Rio sambil tersenyum.


Aku mengangguk dan hendak naik.


Jessen menarik kerah belakang bajuku. "Jangan naik." Jessen lirik tajam Kak Rio.


Aku melepaskan tangan Jessen. "Apaan sih Jes, cuma naik kereta doang." Aku kembali naik ke kereta kak Rio. Setelah aku naik Jessen juga ikutan naik.


Aku sedikit memutarkan badanku ke belakang melihat Jessen. "Apa sih? Kita udah kaya cabe-cabean tau ngak." Cetusku. "Turun turun!"


Jessen tak menggubris perkataanku.


"Kau mau jalan atau apa? Cepat!" Sambung Jessen ke kak Rio.


Terdengar suara dengusan nafas yang berat dari kak Rio. Hembusan nya terasa sangat kesal.


Kak Rio melajukan keretanya.


Selama perjalanan aku menutup wajahku.


Malu shit... Ini semua karena Jessen. Aku melirik ke belakang melihat Jessen.


Dia menatapku dan tersenyum meledek.


"Kenapa kau senyam-senyum. Gila ya?!" Cetusku sembari masih dengan menutup wajah.


Dia tampak acuh dan menatap ke arah lain.


Untungnya di sekolah tadi udah sepi. Kalau enggak, dimana kutaruh wajahku?! Bisa-bisa kami akan di juluki trimasketir cabe-cabean pedas... Arh...


***


"Itu kak rumahku." Aku menunjuk rumahku. Rio mengangguk.


Setelah sampai di depan gerbang, Jessen turun dan aku pun juga.


Aku tak dapat melihat wajah kak Rio karena dia menutup wajahnya dengan penutup helm. Aku benar-benar ngak enak hati. "M maaf kak."


Kak Rio mengelus kepalaku. "Iya. Aku pulang ya."


"Iya kak." Jawabku.


Kak Rio melajukan keretanya dan pergi.


Aku menatap Jessen dengan penuh amarah. "Kau lihat... Dia pasti kecewa!"


"Kau pikir aku ngak kecewa melihatmu."


Aku berfikir sejenak menelaah jawaban Jessen. Dia kecewa? "Ke kenapa kau kecewa? Kau kan ngak pernah suka samaku."


Dia melihatku kemudian berjalan meninggalkanku di belakang nya.


Aku mengerutkan bibirku. "Kacang."


Aku pun membuka pintu pagarku dan masuk.


Drett

__ADS_1


Ponselku bergetar. Aku melihat layar ponselku, ada pesan dari setan alias Jessen.


Setan: "Nanti malam aku tunggu di depan rumah mu."


Ngapain?


Karena aku takut di apa-apain dia, lebih baik aku ngak ikutan.


Aku: "Ngak bisa."


Dia tak menjawab lagi.


Ya udahlah Val, tak usah di masukkan hati. Toh juga si Jessen memang orangnya gitu.


***


Tok tok tok


Aku mengucek mataku yang sedari tadi terlelap.


"Valen, itu teman kamu datang." Terdengar suara nenek dari balik pintuku.


"Iya nek." Aku menyahut. Temanku?


Ah pasti Tessa.


Tanpa menunggu lama aku bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu. Aku membuka pintu, kulihat nenek yang cengar-cengir padaku. "Kenapa nek?"


Nenek mencubit pipiku gemas. "Cucu nenek udah besar."


Huh? ini sangat ambigu. "I iya nek."


"Oh ya, mana dia nek?" Tanyaku pada nenek.


"Tu, di ruang tamu." Nenek menyenggol bahuku. "Jangan pulang malam-malam ya." Kata nenek masih dengan tersenyum.


"Tessa kan nek yang datang?" Aku memastikan.


Nenek mengerutkan dahinya. "Ya enggak toh. Tapi pacar mu."


Jangan-jangan.


Aku segera bergegas ke ruang tamu. "Jessen!" Kalimatku membuat kepala Jessen menoleh ke belakang melihatku. "Ngapain datang, kan aku udah bilang aku ngak mau ikut." Sambungku.


Aku menghampirinya lalu duduk disebelahnya dan menatap dengan picingan mata.


Dia membalas tatapanku dengan tatapan datar. "Kau mau menyelesaikan misimu ngak?"


"Ya iya, tapi kan aku cape.." Aku menghentikan kalimat akhirku.


Tadi dia bilang menyelesaikan misi.


Jadi kemarin ngak mimpi!


Aku membolangkan mataku. "Kau ingat?"


"Kau pikir memoriku terbatas sepertimu." Katanya masih dengan raut wajah datar.


Aku terlonjak kaget.


Thanks Lord!!!  Akhirnya ada orang yang percaya dan mengingat setiap kata yang kuucapkan.


"Makasih Jes kau masih mengingat nya!!" Jeritku. "Pokoknya aku akan membuatmu bahagia hari ini... Aku janji." Kataku dengan semangat.


Aku berdiri dari dudukku. "Aku siap-siap dulu. Kau tunggu di sini. Aku ngak bakal lama." Kataku dengan bersemangat.


***


Di perjalanan aku sangat bahagia.


Yess. Pasti aku akan menyelesaikan misiku dengan mudah.


Tapi ngomong-ngomong ini mau ke mana ya? "Ini mau ke mana?" Aku memulai pembicaraan.


"Kau mau ke mana?" Dia malah tanya balik. Dia niat ngak sih jalan-jalan.

__ADS_1


"Terse..." Aku menghentikan kalimatku. Kalau aku bilang terserah, dia bakal ajak aku ke perpus lagi. Ngak aku ngak mau. Kalau ke mall, aku lupa bawa dompet dan cuma bawa uang Rp.50.000... sial, kenapa aku bisa lupa bawa dompet. Kalau ke taman. Ngapain juga malam-malam begini ke taman.


Jessen menghentikan keretanya mendadak, membuat kepalaku terdorong ke punggungnya. Aku mendongakkan kepalaku melihat sekeliling.


Damn, parkiran perpus.


Shh... Masa perpus lagi sih.


"Ck. Kok perpus sih." Gerutuku.


"Kelamaan kau berpikir." Sindirnya.


Aku turun dari kereta begitu pun Jessen. Dia membuka helmnya dan meletakkannya di keretanya lalu berjalan deluan. Aku membuka pengait helmku. Tunggu tunggu, ngak bisa di buka. Aku masih berusaha membukanya. "Ish... Payah banget sih." Pekikku pelan.


"Cepat." Panggil Jessen.


Ck sabar dong. Helm ini cari gara-gara aja sih.


Jessen kembali ke tempatku berada. "Nyusahin aja." Dia medekatkan wajahnya ke arah wajahku untuk membuka pengait helm.


Aku menahan nafasku. Tenang Val... Calm down...


Ctak


Pengait helmku terbuka. Jessen membuka helmku dan meletakkan helm di kereta nya. "Udah."


"Tarik napasmu." Katanya sambil kembali berjalan.


Rasanya wajahku udah sangat panas karna malu.


***


Aku menutupi wajahku dengan buku yang tadi kuambil dari rak buku. Aku masih jantungan, terutama sekarang kami tengah berhadapan.


Konsen Val, konsen...


Tak


Jessen menurunkan buku yang menutupi wajahku tadi. Aku sontak terkejut.


Dia membalikkan bukuku. "Buku mu terbalik." Katanya.


Aku melihat sampul bukuku tadi. Untuk sekian kalinya aku kembali seperti orang dungu di hadapannya.


"Ehem." Aku sedikit batuk untuk menetralkan ekspresiku. "Ada gambar yang terbalik tadi. Ja jadi aku balikkan bukunya." Kataku canggung.


Dia menaikkan salah satu alisnya. Sebelum dia melanjutkan kalimatnya aku mulai bicara. "Ngak usah di bahas." Aku menarik bukuku dan memalingkan wajahku.


"Kau sendiri waktu di rumahku tadi, apa yang kau bilang sama nenek?, tingkah nenek jadi aneh karena kedatanganmu." Aku mengalihkan pembicaraan dengan melihat ke arah lain, yang pasti ngak menghadap Jessen.


"Kalau ngomong lihat mata. Itu kan yang kau bilang ke aku waktu itu." Ujar Jessen yang membuatku jadi tambah kaku. "Oh iya aku ingat, setelah itu kau pukul perutku." Dia tersenyum miring.


Telak


"Iya iya." Kuarahkan pandanganku ke Jessen.


"Aku bilang kita ini teman. Dan aku permisi untuk mengajakmu belajar." Katanya singkat.


Dia menyisir rambutnya depan dengan tangan kemudian bernapas berat. "Mata pelajaran apa yang ngak kau tau?"


"Em.. fisika, mm, kimia, akutansi, pokoknya yang menghitung hitung gitu." Jawabku.


Jessen mengambil buku matematika di rak buku yang tak jauh dari tempat kami. Kemudian dia duduk di sebelahku. "Aku ajari dari awal atau gimana?"


Wew... Ternyata dalam diri Jessen ada sepercik kebaikan.


Aku mengangguk dan tersenyum. "Iya, dari awal."


Dia menatapku datar. "Ngak kusangka, ternyata kau sangat bego di kelas."


Jleb...


Ku menangissss, membayangkan, betapa kejamnya dirimu menghina daku...


"Niat ngajar ngak sih?!" Pekikku.

__ADS_1


"Kalau ngak niat ngapai aku sampai cari buku ini bego." Hina nya. "Udah, kita mulai aja." Jessen mulai membuka buku dan mengajarku.


__ADS_2