Magic You

Magic You
Chapter 99


__ADS_3

Hujan semakin deras. Jessen tidur di kamar tamu yang telah di sediakan.


Aku tidur di kamar jadi ngak tenang. Apa Jessen baik baik aja?


Atau dia makin sakit?


Tadi dia udah makan nasi dan obat sih. Tapi tetap saja aku kuatir.


Tok tok tok.


Pintu kamar terketuk. Siapa?


Aku berjalan menuju pintu kemudian aku membukanya.


Aku terkejut melihat Jessen tengah berdiri dengan wajah pucat. "Val."


"Loh kok ngak istirahat?"


Dia mengusap usap bahunya. "Dingin. Dan aku ngak bisa tidur. Aku tidur sama kamu ya."


Mataku terbelalak.


"Eenggak enggak. Aku kan cewe. Kamu cowo."


Jessen kecewa dan tambah lemas. "Aku ngak akan ngapa ngapain. Kakek nenek juga di rumah. Please Val. Kepalaku pusing banget." Rintihnya.


"Hm. Ya udah." Aku menunjuk nya. "Awas loh kalau macam macam."


Dia mengangguk.


Dia langsung tertidur di ranjang ku. Sedangkan aku menutup pintu.


Kemudian aku duduk di lantai bersender di penyangga ranjang dan kemudian tidur.


Aku ngak mungkin tidur bersamanya di satu ranjang. Ngak ngak boleh.


Sesaat setelah aku menutup mata. Seseorang merangkul tangan ku dan tidur di bahuku.


"Aku juga tidur di sini."


Ah... Aku baru ingat. Jessen kan kalau sakit memang sangat manja. Pantas aja dia begini.


Aku menggeleng. "Kamu tidur di ranjang sana. Ntar makin sakit."


"Ngak apa. Kan ada kamu. Kamu rawat aku lah."


Aku terkekeh. "Apa sih. Manja banget." Ledekku.


Dia menatapku lekat-lekat. "Emangnya ngak boleh manja sama istri Hem?"


"Eh. Kita belum suami istri."


Dia tersenyum kecil dan memelukku. "Aku bilang ke papa mama dan kakek nenek biar pernikahan kita di percepat."


"Huh? Maksudnya? Jadi kapan?"


"Besok."


Mata ku terbelalak. "Lah. Kok aku baru tau!"


Dia menatapku kesal. "Kan kau yang dua hari yang lalu ngusulin untuk nikah lusa. Berarti besok."


"Eh?... Lah. Aku cuma bercanda kali.,"


Jessen mendengus kesal. "Jadi kamu bercanda mengenai pernikahan. Kamu kok gitu."


Aku jadi serba salah. "Mmaksudnya ngak gitu."


"Jadi."


Aku menggosok kepalaku. "Aduh... Gini loh Jes. Aku, maksudku kita kan belum izin dari sekolah untuk pernikahan kita besok." Aku mencari alasan.


Dia menimpa kakiku dengan salah satu kakinya dengan badan miring ke hadapan ku.


Deg!


Astaga. Kenapa posisinya begini?!


"Udah aku bilang kan. Semua udah di atur sama orang tua aku dan kakek nenek." Dengusnya kesal.


Arh... Ngak ada penolakan lagi intinya. Ya udahlah.


"Iya deh..." Kataku pasrah.


"Kenapa lemes gitu mukanya." Kata Jessen.


Aku menatapnya. Dan tersenyum lebar. "Ngak sayang. Aku senang." Ucapku lembut.


Jessen tersenyum. "Kamu panggil aku sayang?"


"Iya dong. Biar mesra." Godaku.


Dengan cepat Jessen mengangkat ku dan mendudukkanku di antara pahanya dengan posisi menyamping. Kemudian kaki yang lain menimpa pahaku mengunci pergerakan ku. Tangannya merangkul pinggangku.


Bibirnya dengan cepat melahap bibir ku. Bibir nya hangat karena masih demam.


Dia memperdalam ciumannya. Aku mendorongnya cepat. "Belum nikah." Kataku.


Dia menatap ku kecewa dan mendengus kesal.


***


Esok harinya.


Ini hari pernikahan kami. Banyak tamu yang datang!


Tentu bukan teman teman kami, tapi rekan kerja orang tua Jessen dan rekan kerja kakek nenek.

__ADS_1


Pernikahan berlangsung hikmat dan berjalan lancar. Dari permulaan sampai akhir, semuanya tak ada kendala.


Setelah acara selesai dan semua tamu sudah pulang. Papa dan mama serta kakek dan nenek menjumpai kami.


Mereka memeluk kami ntah untuk ke sekian kalinya dalam satu hari ini. Mereka amat senang sampai terus menerus memeluk kami dan mengucapkan selamat.


"Selamat ya sayang... Semoga langgeng." Kata mama Jessen.


"Amin." Jawabku.


"Jaga istri kamu baik baik ya Jes. Kakek titip cucu kakek." Kakek menepuk pelan pundak Jessen.


Jessen tersenyum. "Baik kek."


"Papa udah nyiapin kalian satu vila. Di depan sana sudah ada supir pribadi Papa yang akan mengantarkan kalian. Kalian akan tinggal di sana untuk malam ini. Dan besok, kalian akan tinggal di apartemen yang papa sediakan untuk kalian. Pakaian juga sudah lengkap. Jadi tinggal kalian tempati saja." Kata papa sambil tersenyum lebar.


Wadaw... Bener kata Jessen. Semua udah di atur, bahkan sampai tempat tinggal.


Kami mengangguk.


***


Di dalam mobil hanya ada keheningan. Namun tidak di dalam otakku, aku sangat senang!


Aku menghadap kaca pintu mobil yang gelap dan kemudian menghayal.


Akhirnya berlibur juga ke Vila yang indah. Melihat taman yang indah dan sebagainya... Wah... Ngak sabar.


Hanya ada aku... Hem... Mantap...


Kemudian aku tersadar saat melihat bayangan Jessen di kaca pintu mobil yang sekarang di hadapanku.


Deg!


Aku baru ingat.


Aku bakalan sekamar dong dengan Jessen!


Ngak ngak!


Pasti ada dua kamar nanti...


Eh. Kalau cuma satu gimana?!


Tenang tenang. Kan ada ruang tamu, mending kau tidur di sana dari pada satu ranjang dengan Jessen. Ya kan..


Hahh.... Tenang saja... Ngak akan terjadi hal yang aneh aneh nanti! Positif thinking Val... Be positif!


***


Sesampainya di Vila. Dan ksmi berada di dalam.


Pemandangan yang menakjubkan dari luar halaman yang luas, begitu pula dengan di dalam Vila seperti sekarang ini.


Aku tersenyum lebar sambil menutup mata. Mencium aroma segar dari udara malam sangat menyejukkan, padahal ini di dalam rumah Vila, tapi terasa sejuk.


Set.. tanganku di tarik dengan cepat.


Dep.. kepalaku mendarat di dada seseorang, sedangkan tangan seseorang itu merangkul pinggangku.


Aku mendongak.


Jessen menatapku dengan senyuman kecil yang sulit aku artikan.


Di sentuhannya pipiku dengan ujung jari telunjuknya dan menurun ke leher ku.


Malam ini dia tampak sangat tampan, dengan setelah Jas putih dipadu dengan kemeja krim dan dasi putih. Rambutnya yang klinis tersisir ke belakang sangat pas dengan front wajahnya yang beralis tebal, hidung mancung dan bibir pink alami.


Sangat menawan.


Ku lingkarkan tanganku di tengkuknya. Sedangkan wajahnya semakin mendekat.


Eh. Val. Sadar!


Aku menggeleng menyadarkan diri. "Em. Aku mau mandi dulu." Kataku.


Dia menatapku datar dan berdecak. "Ck. Pergilah."


Aku pun pergi. Tapi tunggu, aku ngak tau di mana kamar mandi.


Aku mengehentikan langkahku.


Aku kembali menoleh ke arah Jessen. "Jes. Kamar mandi mana?"


Dia menunjuk suatu ruangan. "Di dalam kamar. Sekaligus di situ udah ada baju untuk mu. Sebenarnya di sebelah kamar juga ada. Terserah mu mau pakai kamar mandi mana."


Aku mengangguk.


Aku pun masuk ke sana.


***


Mataku melongo.


"Bb bajunya ttrra transparan!" Pekikku pelan.


Sial. Kalau tau gini aku bakalan ambil baju aku di rumah tadi!


Aku kembali melihat pakaian dalam. "Apaan nih! Berumbe?!"


Sial. Aku harus pakai?!


Ngak ngak mau!


Tapi kalau ngak pakai ini. Aku pakai apa?!


Astaga!!..

__ADS_1


Tenang Val. Tenang. Calm down...


Oke.. Aku pakai baju ini. Setelah itu aku pakai selimut menutupinya!.. Yah... Benar benar!


Aku pun mengambil pakaian ini dan segera mandi yang ada di dalam kamar mandi kamar. Biar cepat dan ngak memakan waktu.


***


Ah.. segarnya setelah mandi.


Aku menghanduki kepalaku dan berjalan ke ranjang. Kemudian aku mengambil selimut.


Ktek.


Kamar terbuka. Badanku langsung berbalik.


Jessen tengah berada di depan pintu menatapku dari atas ke bawah.


Damn!


Dia berjalan masuk dan menutup pintu.


Di masukkannya salah tangannya ke dalam saku celana pendeknya. Sedangkan tangannya yang lain memegang tengkunya dan berjalan sambil menatapku.


Kenapa badan ini jadi kaku!


Jessen memeluk pinggangku. Mendekatkan wajahnya di leherku. "Hm. Harum sekali." Katanya dengan suara kasual.


Aku menolaknya, namun hanya membuat badannya sedikit bergerak ke belakang sedangkan tangannya masih tetap memeluku. "Mmandi sana!" Pekiku.


Dia terkekeh singkat. "Udah. Waktu kamu mandi aku mandi di kamar mandi lain."


"Yyaudah. Sana. Aku mau tidur di sofa aja." Kataku.


Jessen menaik salah satu alisnya dan tersenyum aneh.


Dia menggendongku menurunkan ku di ranjang dan langsung memelukku.


Jessen menghadap kan wajahnya tepat di atas wajahku. "Kamu suka gelap apa terang, hem?"


Huh?


What?!


Wait a minute?


Kamar kami memang hidup lampu. Tatapi tak terang, hanya lampu tidur.


Dia mau ngapain?!


Astaga! Jangan jangan...


"Ngak keduanya Jes... Hmm..." Mulut ku terkatub saat Jessen mencium leherku.


Jessen menaikkan kepalanya menatap ku. Dia tersenyum kecil. "Itu bukan pilihan sayang."


Jessen mencium bibirku perlahan.


Memperdalam ciumannya dan semakin memanas.


Tangan Jessen masuk ke dalam baju dress transparan ku. Mengelus perut ku dan pinggul ku.


Hmmm... Kenapa ak sangat menikmatinya.. hmm..


Dia menatapku dengan tatapan nanar seperti akan menerkamku. "Aku mau punya anak."


"Jes... Hem... uUh.." Jessen meremas bagian atasku.


Kenapa aku makin mendesah...


"Jes. Tapi kan kamu janji kita bakalan tetap sekolah... "


"Tetap sekolah. Sekolah di rumah sayang... Ngak akan ganggu apa apa. Hem?" Jelas Jessen.


"Ngak mau Jes."


Dia tampak marah.


Jessen menciumku. Dan mulai bermain lidah. Aku bahkan terbuai dengan perilakunya.


Val... Ngak! Kau harus sekolah!


Jessen menjauhkan sedikit wajahnya. "Baiklah. Kamu akan tetap sekolah. Tapi aku akan tetap meminta jatah ku malam ini." Dia kembali menciumi leherku.


Badanku bergetar menahan rasa nikmat ini.


Aku sedikit mendorong nya. Dia kembali menatapku.


"Jessen sayang... Nanti aku hamil. Mana bisa ke sekolah."


Dia mengelus pelan gundukanku lembut.


Hem...


"Ngak akan hamil. Aku akan pakai k*nd*m." Katanya dengan suara lirih menahan nafsunya. "Ayolah sayang... Aku tak dapat tahan..." Ciuman Jessen turun ke leher, memberi kiss mark di sana.


Aku mengangguk kecil. "Baiklah. Kkalau gitu."


Dia menatapku cepat.


"Llagipula. Kau.. kan suamiku." Aku melihat ke arah lain malu setelah mengatakan ini.


Jessen tersenyum senang mendapatkan lampu hijau padaku.


Seketika Jessen menjadi agresif dan membuat badanku terus menggeliat.


πŸ™† (Author cekkk): Wkwk. Ngak tau lagi mau nulis apa di part senam malam ini. Aye ngak terlalu paham.Β  Udahlah ya guysss, hem😌😌... Harap maklum ya.

__ADS_1


__ADS_2