Magic You

Magic You
Chapter 26


__ADS_3

"Hmm." Aku berdehem malas.


Aku melayangkan pandanganku kedepan.


Tunggu itu mama Jessen!


Hah kok di sini?!


Apa lagi cari si Jessen?


Tapi kalau aku kasih tau Jessen, takutnya Jessen marah lagi..


Aduh, apa ya?


"Kau lihat apa?" Teguran Jessen membuatku melihat ke arahnya dengan cepat. Dia hendak melihat arah pandanganku tadi tapi kualihkan dengan memegang wajahnya dengan kedua tanganku, membuat wajahnya terarah padaku.


"Ngak, ngak ada." Aku bangkit berdiri dan menarik tangannya pergi menjauh dari kursi kami tadi.


Dia terikut tarikan tanganku. "Eh, kenapa?"


Sambil terus berjalan cepat aku menarik tangannya. "Udah ikutin aja."


Setelah cukup jauhku rasa aku melepaskan tanganku, namun tangan Jessen kembali mengenggam tanganku. "Jangan lepas."


Wait wait...


Aku ragu kenormalan otak Jessen sekarang. "Kau sehat?"


"Sakit." Jawabnya. "Obatnya cium aku." Sambungnya datar.


Aku terkekeh luar biasa. "Hahaha, memang kau sudah gila... Hahaha."


Dia menarik tanganku membuat badanku merapat dengannya seketika. Dia mendekatkan wajahnya. Jarak kami sangat sangat dekat, bahkan lebih dekat dari pada waktu aku dengan kak Rio. Sedikit lagi...


Plak


Satu tamparan melayang di wajah Jessen. Itu spontan kulakukan.


Matanya terbelalak sambil memegangi pipinya.


Aku mundur dengan cepat. "Kau sih gila!" Pekikku.


Serius... Aku sangat menjaga kesucian bibirku ini. "Jangan sembarang ya Jessen! Kalau seperti ini aku bisa membencimu!"


Aku berjalan pergi meninggalkan Jessen seorang diri. Aku pulang!


***


Wajahku kutenggelamkan di bantal. Sampai semalaman ini aku tak bisa berhenti memikirkan Jessen. DIA SANGAT TOKSIK.


Aku terus memukul-mukul bantalku. "Is... Apa-apaan sih dia! Bahkan dia lebih parah dari pada Rio!"


Pukulanku semakin lama semakin melemah karena kecapekan. "Gila kali tu orang ya!"


Aku menelentangkan badanku kasar.


"Bodo amat sama misi... Ini udah ngak bener. Aku tak peduli sekali pun aku akan terkena sial, aku rela!"


Aku coba mengatur nafasku yang naik turun karena emosi.


"Huh.."


"Mulai besok aku ngak mau berhubungan lagi sama dia. Titik!"


Aku berjalan ke meja belajarku hendak menyusun roster mata pelajaran. "Tas aku mana?"


Aku menokok kepalaku gusar. "Ah elah, ketinggalan di perpus."


"Ah, bodo amatlah. Pakai buku baru aja."


***


Aku masuk kelas lebih lama karena aku tau Jessen pasti akan datang lebih awal.


Aku masuk kelas hampir berpapasan dengan guru yang akan mengajar di kelas. Dengan sedikit berlari aku duduk di bangkuku.

__ADS_1


"Tumben lama Val?" Bisik Tessa.


"Aku ngak mau bahas ini. Please jangan ngomongin apa-apa. Kepalaku pusing."


Tessa menaikkan bahunya. "Terserah sih."


Aku ngak akan mau berhubungan dengannya atau dengan siapapun... Valid no debat!


"Berdiri." Ucap ketua kelas memberi aba-aba kepada seluruh murid.


Kami pun mengikuti instruksi nya.


"Beri salam."


"Selamat pagi Bu." Jawab kami serentak.


"Pagi." Sahut ibu sambil kembali duduk. "Silahkan duduk."


Kami pun duduk.


"Keluarkan kertas selembar. Kita tes sekarang. Buat kursi berjarak, tidak ada menyontek berjamaah! Kumpulkan semua tas ke depan!"


"Yahh." Terdengar suara ricuh bersungut-sungut.


"Issh malah belum belajar lagi." Ucapku pelan. Semalam setelah menyusun roster aku langsung tidur pula... Ck


Semua murid merapikan kursi dengan berjarak.


Tes berlangsung hening.


Soal biologi nya beranak lagi... Satu nomor 5 soal!! Bengek lihatnya.


Aku menjawab apa adanya aja. Iya apa adanya... Soalnya kutulis ulang lagi di kertas jawaban apa adanya. Otakku buntu.


Aku memantau kondisi, melihat guru sambil curi-curi kesepatan.


Apa lagi yang kulakukan kalau ngak gugeling...


Aku cepat-cepat mengetik soal dan langsung menulis jawaban sekencang mungkin aku bisa.


"Waktu habis. Saya hitung sampai tiga, setelah itu tidak saya terima lagi. Satu."


Damn aku baru jawab 2 soal dari 10 soal!


Semua murid ricuh memberikan lembarannya ke guru. Dan aku masih gugeling cuyy...


"Dua."


Ah udah lah... Yang penting kumpul.


"Ti."


"Ini Bu..." Aku memberikan lembaranku. Aku kembali ke bangkuku.


Ntah berapalah nilaiku ini.


Guru memeriksa tugas kami. "Yang tidak lulus..."


Pasti banyak yang ngak lulus, yakin aku.


"Hanya Valentresia."


"Hah? Kok bisa." Pekikku.


"Kenapa tidak bisa? Semua teman kamu dapat menjawab. Hanya kamu yang tidak." Lugas sang guru. "Kamu kemari."


Aku berjalan ke arahnya. Dia memberikan selembar kertas. "Ini soal 1-50, besok harus selesai."


"Iya Bu." Aku kembali ke bangkuku dan melihat soal itu.


Whattt esay semua! Dan yang paling horor... Soalnya beranak.


Pisau mana pisau....


Aku terus menggerutu sepanjang mata pelajaran berlangsung.

__ADS_1


Arhhhh


***


Kringg


Bel istirahat berbunyi.


"Val ngak ke kantin?" Tanya Tessa.


"Ngak, aku mau bahas soal."


"Wih rajin."


Aku mendengus kesal. "Bukan rajin Bambang... Kalau ngerjainya pulang sekolah mana sempat... Keburu telattt."


"Hehe iya ya." Tessa menepuk pundakku. "Semangat. Tarik ses..."


"Semongko." Sambungku malas.


Di balas sumringah dari Tessa. "Ah mantap."


"Aku ke kantin dulu ya Val... Laper."


"Hmm."


Lagi-lagi aku di tinggal sendiri. Btw kelas juga sepi, cuma aku penduduk satu-satunya sekarang. Ngak apa lah, aku fokus jawab aja.


Aku mulai menjawab soal.


Ngak terlalu sulit sih... Kan bisa searching. Ngak kayak tadi. Huh. Ya paling-paling cuma capek nulis aja.


Aku menulis dengan begitu fokus sambil mendengarkan lagu menggunakan headset.


Rasanya moodku kembali naik mendengarkan lagu Eenie Meenie - Justin Bieber.


"You seem like the type


To love 'em and leave 'em


And disappear right after this song


So give me the night


To show you, hold you


Don't leave me out here dancin' alone"


Aku mulai menggoyangkan kepalaku semangat.


"You can't make up your mind, mind, mind, mind, mind..


Please don't waste my time, time, time, time, time...


I'm not tryin' to rewind, wind, wind, wind, wind....


I wish our hearts could come together as one..."


Ketika aku mau menjerit headsetku di cabut.


"Apa sih!" Aku menoleh ke sebelahku. JESSEN.


"Jangan jauhi aku." Katanya.


Sebelum aku bangkit berdiri Jessen menekan pundak agar tetap terduduk. "Udah aku bilang. Jangan. Jauhi. Aku." Dia menekan setiap kalimat dari mulutnya.


"Terserah aku! Bukan urusanmu!"


Dia mengusap tengkuknya tanpa melihat ku. "Maaf."


"Hah?" Aku ngak salah dengarkan.


Dia kembali menegakkan badannya. "Terserah kau mau dengar atau tidak. Yang penting sudah kukatakan."


Dia bangkit berdiri dan berjalan keluar kelasku.

__ADS_1


"Itu maksudnya dia minta maaf apa gimana?" Aku menyandarkan badanku di kursi. Aku sedikit terkekeh kecil. "Mungkin kali ya?"


__ADS_2