Magic You

Magic You
Chapter 96


__ADS_3

Bel sekolah telah di bunyikan. Seluruh murid di kelas berhamburan ke luar setelah guru mata pelajaran keluar terlebih dahulu.


"Val. Nonton drakor bareng kuy..." Tessa yang telah pindah tempat duduk di sebelahku sangat bersemangat mengajakku kegirangan.


Tessa menunjukkan flashdisk nya. "Banyak drakor keren Valll.... Terutama kita harus lihat drakor yang ada Kim Tae Hyung nya..... Kuy lah."


Aku mengusap tengkukku hendak menolak ajakan Tessa. Aku tau apa yang akan terjadi kalau aku nonton bareng Tessa. Pasti aku ngak bakalan konsen dengan alur ceritanya karena dia ke-asyikan menjerit, memeluk dan menggoncang badan ku saat idolnya lagi mengadu acting. Ampun.... Aku udah pengalaman dengan Cya dulu...


"Hehe. Aku lebih suka nonton suara hati istri di rumah sambil makan popcorn." Ucapku.


"Ih... Apaan sih Val. Becanda mulu."


Aku cengengesan.


"Is. Valen ih. Memangnya kau udah jadi istri apa. Doyan cerita yang begituan." Sindir Tessa tanpa tau sebenarnya aku bakalan nikah.


Jleb.


Ngenak banget.


"Ya udah deh. Kuy pulang." Ajak Tessa.


"Kuy." Aku mengikuti.


Dreettt


Ponselku bergetar, aku mengangkatnya. Jessen.


"Ha?" tanyaku.


"Bantuin aku di ruang debat," katanya.


"Is. Capek," bantahku. Aku sangat malas.


"Cepat datang," dia mematikan ponselnya.


Aku berdecak kesal. Aku mengarahkan pandangan ke arah Tessa, "Tes, kau luan aja. Aku ada kerjain tugas lain beb."


"Apaan tu?" tanya Tessa penasaran.


"Ekskul debat beb."


Tessa mengangguk-anggukan kepalanya. "Ah iya iya. Kalau gitu baku luan ya."


"Oke.."


"Bye..." Tessa pun pergi.


Aku berjalan menuju ruangan debat.


Selang beberapa lama aku pun sampai di ruangan tersebut. Aku melihat Jessen tengah sendiri duduk dengan beberapa tumpukan laporan di sebelah nya, sedang dia terus menulis.


Hm. Kasian juga.


Aku pun berjalan ke sebelahnya.


Dia mendongak saat aku berada di sebelahnya. "Hm," Katanya kemudian dia memberikan beberapa laporan padaku, "Ini daftar laporan orang yang akan di seleksi untuk lomba." Catat nama nama orang yang di laporan ini di buku ini," dia memberikan bukunya padaku.

__ADS_1


Aku mengangguk dan duduk di sebelahnya. Aku mengambil pulpen dan mulai menulis.


Catatannya tak terlalu banyak karena memang yang mengikuti nya cuma beberapa, termaksud aku. Aku mengambil matematika sedangkan Jessen fisika. Bisalah si Jessen.


Aku sedikit menoleh ke arah Jessen. Dia banyak menulis, dan aku ngak paham itu. Aku mengidikkan bahu, terserah.


Ku selesaikan tugasku dengan cepat dan tepat.


Aku selesai terlebih dahulu. Jessen masih sibuk menulis. Inisiatif ku aku pun mengambil botol mineral ku. Ku arahkan ini ke Jessen, Jessen melihatku. "Mau?" tanyaku.


Dia mengangguk dan kemudian meminumnya.


Setelah dia minum aku mengambil botolnya.


"Hari ini kau ke rumahku. Kita bahas pernikahan." Kata Jessen.


Aku agak kaget karena masih asing dengan kalimat pernikahan.  Sesaat kemudian aku mengangguk. "Iya."


Dia menutup buku dan laporan nya, setelah itu dia merengangkan badannya.


Dia melihatku. "Ayo pulang. Aku udah selesai."


Aku mengangguk, aku merangkul tasku dan berdiri. Begitu pula dengan Jessen.


***


Kami berjalan ke parkiran dan kemudian masuk ke dalam mobil Jessen.


Jessen belum juga jalan.


"Jes," panggil ku.


Dia menoleh. "Kamu harus yakin. Jangan ragu. Harus optimis dong kamu."


Dia tersenyum simpul. "Hm. Btw, sejak kapan manggil aku pake kamu segala?"


"Oh. Kalau gitu aku panggil kau anak dajal aja. Biar lebih cocok dengan sikapmu yang nyebelin kayak dajal.


Dia terkekeh singkat. "Hem," dia melihatku, "Memangnya kau mau punya suami Dajal?"


Eh. Iya juga.


Dia menghidupkan mesin mobil nya sambil tersenyum.


Kami pun berangkat ke rumah Jessen.


***


Setelah sampai di depan rumah, kami pun masuk ke dalam.


Tep


Tep


Tep


Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Itu mama Jessen.

__ADS_1


Mama Jessen berjalan ke hadapanku. Melihat ku lekat lekat. "Kamu..."


"Ah. Kamu Valentresia kan?.." Kata mama Jessen bersemangat. "Papanya kamu pernah jadi teman kerjanya papa Jessen."


Aku tersenyum kaku. "Iya Tante."


Dia memegang pundak ku dengan kedua tangannya. "Kalau ini calon mantu mama. Mama setuju."


Mataku terbelalak.


Huh?


Kok cepet amat setujunya?


Mama Jessen memelukku. "Jangan panggil Tante sayang. Panggil Mama aja."


Aku mengangguk kaku. "I-iya ma."


Tante memelukku erat.


***


Beginilah pertemuan ku dengan mama mertua. Mama Jessen sangat terbuka padaku dan bahkan menganggapku sama seperti anaknya sendiri.


Jam tiap jam berlalu kami habiskan dengan berbicara mengenai pernikahan kami. Besok Mama dan Papa Jessen akan datang ke rumah untuk melamar ku, walaupun kami ngak bakal hadir karena besok masih akan belajar di sekolah di tambah dengan ekskul, mereka tak keberatan. Karena lagi pula yang kami pentingi adalah sekolah, mereka merasa wajar.


Aku pun pulang di antar oleh Jessen.


Sesampainya di depan pagar ku, Jessen pun menghentikan mobilnya.


"Udah sampai." Kataku.


Jessen mengganguk. "Hm."


"Em. Aku masuk dulu ya. Bye." Aku keluar mobil nya.


Dia juga ikutan keluar.


"Mau ngapain Jes?" Tanyaku sambil menutup pintunya dan berdiri di sebelah mobil nya.


Jessen berjalan ke arah ku.


"Rumah mu sepi." Katanya.


Aku melihat ke arah rumah kemudian kembali melihat nya. "Em. Kayaknya kakek dan nenek lagi pergi."


Dia mengangguk, dia mencondongkan badannya.


Dia mencium bibirku singkat. Kemudian menaikkan sudut bibirnya tersenyum. "Semangat malam calon istri ku."


Seketika wajah ini terasa sangat panas akibat malu di buatnya.


Aku mendorong tubuhnya. Dan menjauh. "Jjangan tiba tiba gitu dong!" Kataku marah tetapi tak melihat ke arah nya kerena malu.


Aku masuk ke dalam rumah ku dengan cepat, beberapa kali aku terantuk karena arah pandanghanku tak jelas dengan cepat melihat Jessen dan depanku dengan beberapa kali di lihat dengan cepat.


Astaga... Aku malu sekali!

__ADS_1


__ADS_2