
Catatan penulis:
Yuhu gengsss.... Jangan lupa di like, comment, vote ( kalau ngak ada beri hadiah koin ya guys... Hehe) dan rate 5 Yau...
Wkwk. Cuma mau bilang itu aja sih...
Thanks bagi yang udah beri, semoga dapet pahala, panjang umur, sukses selalu... Amin...
Oke deh... Lanjut aja bacanya ya guys... Lope yu ❤️
Happy reading....
"Ehem... Apakah ini sudah terekam. Sepertinya sudah.. Aku mulai saja.
Hi.. aku Jessen. Hari ini aku baru tau apa sekarang fungsi alat rekam ini, akan ku jadikan ini diaryku." Terdengar suara Jessen yang sangat datar.
"Hari ini aku berjumpa dengan wanita aneh yang menolong kucing dengan gaya polosnya yang terlihat seperti idiot. Dugaan awalku pasti satu sekolah denganku karena seragam yang dikenakannya sama denganku.
Sampai di sekolah aku berjumpa dengannya lagi di kantin, dia menyapaku dengan gaya idiot nya lagi.
Aku yakin dia merupakan salah satu dari banyak wanita menjijikan yang tebar pesona padaku. Aku sangat membenci mereka.
Tapi, dia tampak berbeda dengan wanita lain yang mendekat padaku." Suara datar Jessen berubah menjadi sedikit tertawa.
"Dia sangat marah ketika aku merendahkannya di kantin tadi. Anehkan? Padahal dia deluan yang keganjenan. Cih.
Aku jadi ingin mengerjainya. Aku akan teror dia dengan caraku seperti biasanya pada wanita yang coba mendekatiku. Pastinya dengan teror ancaman buku." Sambungnya.
Rekaman ini... Sepertinya di rekam pada saat aku...
Shit.. ini pasti saat aku pertama kali mencoba mendekatinya di SMA...
Sumpah malu banget.
Jadi dia sengaja mengerjaiku, dasar teganya...
Sesaat kemudian rekaman baru terdengar.
***(Rekaman selanjutnya)
"Hari ini aku berjumpa dengannya. Seperti biasanya, dia bertindak idiot, dia berlari di koridor... Cih.
Tapi setelah mengetahui aku berjalan di area ini dia merubah sikapnya menjadi tenang. Seakan-akan aku tak melihat tingkah idiotnya itu.
Dia mempercepat langkahnya kemudian masuk ke suatu kelas.
Hm.. ternyata itu kelasnya.
Aku menghentikan langkahku dan duduk di ruang tunggu yang ada di depan kelasnya.
__ADS_1
Sesaat kemudian dia keluar dan membentakku...
Hem... Dia berusaha membuat nada berani padahal aku tau dia ketakutan melihatku.
Hm, semakin menarik aja.
Sesaat kemudian aku menjumpainya dan memberi buku catatan ancaman padanya. Wajahnya sangat pucat, heh, aku sangat menikmati wajah ketakutannya."
***(Rekaman selanjutnya)
"Dugaan ku benar, dia sangat takut dengan ancamaku semalam sehingga dia datang hari sangat cepat. Heh.
Hari ini aku mengetahui namanya. Valentresia.. Dia terlihat bodoh dengan dasi yang terbalik... oh ya, aku baru ingat, dia kan idiot.
Aku mengetahui namanya setelah melihat bet namanya tadi pagi setelah aku menyudutkannya di kelas pagi-pagi buta.
Purutku masih sakit karena menerima pukulan darinya hari ini. Sial."
Jessen terdengar seperti terkekeh kecil.
"Ntahlah... Mungkin dia berfikir aku adalah cowok mesum. Cih. Dasar otak udang."
"Aku mengancamnya kembali dengan surat di bawah laci mejanya, dia harus tanggung jawab dengan perbuatannya."
"Aku mengerjainya bukan sampai situ saja. Aku menembaknya. Aku mau lihat apa yang akan di lakukan si idiot ini...
Dan dia menolakku. Cih, aneh. Bukannya dia suka padaku? Kenapa dia menolak?
Hem.. Terserah.
***(Rekaman selanjutnya)
Suara Jessen yang terdengar riang.
"Hahaha, ini gila, bisanya aku belajar di jam segini, malah jadi shock karena kedatangannya. Dia ada di kamarku pagi pagi buta ini. Dia terlihat sangat bodoh... Dia yang datang kenapa dia yang panik? Heh.. bodoh bukan...
Ntah kenapa perasaan penasaran ku timbul kembali...
Aku kembali mengerjainya. Aku menyuruhnya untuk pulang sendiri dengan modal ponselku.
Awalnya aku kira dia akan tetap di kamarku sambil menangis. Tapi sia malah beneran pergi...
Aku tak mungkin setega itu padanya.
Setelah beberapa saat dia berjalan. Aku bergegas mengikutinya dari belakang. Dengan pakaian Woody dan berjalan sedikit tertunduk aku mengikutinya sambil sedikit menyamar.
Sialnya aku tersandung dan terjatuh.
Sedangkan dia yang panik karena menggapku penjahat menjerit padaku.
Aku langsung berlari meninggalkannya kemudian bersembunyi.
__ADS_1
Selang beberapa saat dia sedikit jauh dari pada jarakku. Aku kembali membuntutinya dengan perlahan. Jangan sampai teledor lagi.
Dan dia sampai ke rumahnya dengan selamat. Dan... Dia masuk dengan memanjat pagar... Ckckck."
Jessen tertawa.
"Cewek apa cowok tu anak."
Astaga... Ternyata yang waktu itu Jessen...
Lelaki yang berwoody yang aku pikir penjahat itu Jessen.
Ternyata dia... Astaga...
"Sesampainya di sekolah aku ingin berjumpa dengannya, ya... Dengan alasan meminta barangku kembali. Dia terlihat sangat kesal dan mengambil barangku kemudian memberikan padaku. Dia pergi meninggalkanku.
Why? Kenapa marah ke aku? Seharusnya kan aku yang marah ke dia karena masuk kamar pribadiku?"
"Pulang sekolah ini, aku pulang dengan agak lama. Namun aku sebelumnya melewati kelas si bego, kelasnya sudah kosong. Aku melihat ada buku kecil, dan ternyata ini buku si bego... My Diary. Itu tulisan awalnya, kemudian ada tanda kepemilikan namanya tercantum di situ. Aku membacanya satu persatu.
Cih... Dia beneran menyukai... Bahkan sangat. Lihatlah betapa gilanya dia sampai mengambar anime mengenai aku dan dia. Dasar curut. Aku terus membacanya sampai aku berada di rumah.
Aku duduk di meja belajar. Namun, beberapa menit aku belajar... Si bego ini datang ntah dari mana... Dan kenapa pertanyaan aneh... 'Kakak mau aku ngelakuin apa?' itu yang dia bilang. Dan juga mengenai utusan peri... Cih.. aku tau dia bego. Tapi tak perlu lah sampai otaknya juga telat berkembang kayak anak-anak... Masih percaya peri lagi. Ckck.
Mungkin dia beneran sangat terobsesi denganku dan melakukan segala cara untuk mendekatiku. Hem.
Tapi aku terlanjur penasaran padanya. Ikuti aja alur otak ni makhluk."
***(Rekaman selanjutnya)
"Hari ini pertama kali aku memeluk wanita. Dan itu aku lakukan pada si bego ini."
Jessen terkekeh sekilas.
"Aku ngak tau apa yang ada di otakku sekarang. Tapi aku tau, aku sangat ingin terus di dekatnya."
"Aku membuatnya di hukum oleh guru killer yang mengajanya pagi ini. Dia sangat marah padaku. Memang apa urusanku.
Dia kembali bertanya mengenai apa yang membuatku bahagia. Aku malas menjawabnya karena memang tak ada juga yang membuatku sangat bahagia sejauh ini.
Aku menolak permintaannya itu.
Dan untuk pertama kalinya aku melihat dia menangi karena sikapku tadi. Kenapa?"
"Aku mengikutinya sampai ke gudang belakang. Dia tengah bersama seseorang... Itu anak baru.
Seketika aku menjadi jengkel. Kenapa harus rangkul rangkulan begitu?..."
"Setelah kejadian itu. Aku tak melihat Valen sampai pulang sekolah. Cih. Apa dia bersama anak baru itu?
Sesampainya aku di rumah dengan kembali ke rutinitas sehari-hariku yaitu belajar. Tapi aku begitu lelah, membuatku sedikit mengantuk. Aku membaringkan tubuh di ranjangku. Sesaat kemudian ada sedikit angin menerpa diriku. Kemudian Valen hadir di kamarku... Kenapa aku senang dia datang? Apakah hari ini kami akan jalan bersama lagi... Hem. Aku harap begitu."
__ADS_1
catatan penulis:
di like, komen, beri hadiah dan kalau bisa di vote yau.... tencu...😘