Magic You

Magic You
chapter 62


__ADS_3

Catatan penulis:


Semangat bacanya yaw.... Jangan lupa di like, comment dan kalau bisa di vote dan diberi hadiah yaw... Thanks


...Ken Prov...


Aku mengejarnya dan menghadangnya. "Ngak ada naik bis. Pulang bareng aku."


"Ngak mau."


"Bekicot!"


"Kentang."


"Ck. Aku ngak akan ngebut lagi."


"Tetap ngak mau."


"Bekicot, jangan bantah!"


"KRP, jangan maksa."


Aku mengacak rambutku kesal. Aku selalu kalah berdebat dengannya.


"Denger. Kau pulang denganku. Aku yang bawa kau sampai sini dan aku harus tanggung jawab sampai kau sampai di rumahmu dengan selamat. Paham?" Jelasku dengan berusaha tetap tenang.


"Ken-tang. Tadi kan kau ngak jemput aku dari rumah. Kita hanya berjumpa di halte. Jadi kau tak perlu sampai mengantarku. Paham."


Tarik nafas... Buang... Sabarkan dirimu Ken... Memang otak ni anak terbuat dari batu, semen dan bahan material bangunan keras lainnya. Jadi kau harus sabar.


Gimana sih biar bisa menang debat dengannya? Arh..


"Eh. Sekali aja aku menang debat denganmu, apa susahnya sih."


"..."


Dia diam menatapku.


"Pulang bareng aku ya?" Aku memohon.


"Ngak."


Arh.... Udah sampai merendahkan diri juga, ni orang ngak bakal ngalah.


Aku ngak sengaja lihat ke arah belakang bekicot. Itu mama hendak masuk ke dalam mobil. Tepat sekali waktunya.


Nah... Kesempatan.


Aku melambaikan tangan. "Mama!" Panggilku.


Mama menoleh. "Eh... Ken." Mama kembali menutup pintu mobilnya dan berjalan ke arahku.


Kali ini aku akan menang debat.


Bekicot pun membalikkan badan. Dia tersenyum dan menyalam mama.


"Eh Cya."


"Iya Tante."


"Eh. Kalian udah saling kenal ya?"


Aku mengangguk.


Nama tampak sangat senang. "Wah... Syukurlah."


Mama nampak mengedipkan mata ke aku sambil tersenyum.


Aku sedikit mempelototkan mata sambil sedikit mengeleng adat mama ngak berfikir yang aneh aneh.


"Cya ngak sekaligus ke rumah Tante?"


Wow. Ide yang bagus ma.


Aku masih berusaha tetap cool.


Aku melihat ke arah bekicot yang tampak kaku.


"Eng. Cya lagi banyak tugas kampus Tante."


"Bohong ma. Dia ngak ada tugas kampus. Itu mah alasannya doang." Timpaku. Hehe. Rasain kau. Ngak bisa nolak kan.


Aku di cubit si bekicot di bagian ulu hatiku. Pedas banget.


Mama memegang tangan Cya. "Kamu hari ini ke rumah Tante ya. Tante ingin banget kamu ikut. Kemarin waktu kita jumpa kamu ngak mau ikut. Sekarang ikut ya..." Sekarang mama memohon.


Cya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Hem Hem... Kenak kan kau.


Dia pun mengangguk. "Iya deh Tante."


Mama tampak sangat berseri. "Oke kalau begitu. Kamu bereng Tante aj..."


"Bareng Ken aja ma." Sambungku cepat.


Jawaban ku di tatap sinis oleh Cya.


"Oh. Bagus banget kalau begitu." Mama melihat Cya kembali. "Mama eh.. Tante tunggu kamu di rumah ya Cya." Mama sengaja dengan kalimat mama yang di ucapkannya.


Aku tersenyum melihat mama.


"Tante pergi dulu ya."


Bekicot dan aku pun mengangguk.


Yes...


Mama pergi meninggalkan kami.


Cya menatapku dengan sangat tajam. "Licik kau ya."


"Biarin."


Dia memutar bola matanya geram.


Aku membalikkan badan. "Cepat ikuti aku."


"KRP sialan." Maki bekicot.


Aku terkikik dalam hati.


Aku menang.

__ADS_1


Aku pun naik motorku dan di ikuti bekicot.


Dia ngak mau memelukku.


Hem. Karena aku udah tau kekurangannya. Aku akan balas dendam.


Ku gas sedikit keretaku tanpa melajukannya.


Deb


Yang benar aja. Dia memelukku. Aku tersenyum dalam helm full face ku.


"Eh kentang. Jangan cari kesempatan dalam kesempitan kau ya." Pekiknya.


"Yang erat peluknya. Perjalanannya jauh. Ntar jatoh loh." Ancamku.


Dia memukul punggung belakangku. "Rese..."


Baru kali ini aku lihat dia beneran sangat kesal. Hehe. Emang enak.


Aku pun melajukan motorku.


Dia memelukku erat ketakutan.


Aku memegang tangannya yang ada di perutku.


"Ih. Apaan sih. Jangan kendaraan satu tangan lah. Nanti kecelakaan."


Cih. Masa?


Aku tak melepaskan tangannya. "Yang penting kau jangan banyak gerak dan bertingkah macam macam. Biar kita ngak jatoh."


"Ish. Awas aja nanti."


Aku terkekeh. Kalau takut jadi tambah cerewet ya...


Aku memperlambat jalannya agar semakin lama sampai.


"Lama banget sih sampe." Katanya masih dengan menutup mata.


"Kan aku udah bilang. Perjalanannya jauh."


Dia mencubit perutku lagi. Ahr... Kecil cubitannya, tapi pedas banget.


Oh... Macam macam ya.


Aku sedikit menggoyangkan motorku.


Dia semakin erat merangkulku. Hehe.


"KRP. Kau jangan macam macam. Aku jantungan."


"Makanya jangan di cubit."


"Ish.."


Aku melihat sekejap tangannya yang memelukku erat dengan tanganku ikut menimpali tangannya.


Sepertinya aku harus lebih sering jumpa mama deh. Biar kejadian seperti ini sering terulang.


***


Kami pun sampai di rumahku dan aku berhenti di halaman depan garasi. Ada mobil asing di sini. Siapa yang datang ya?


Bekicot dengan cepat melepaskan tangannya dari mendekapku dan langsung turun.


Dia tampak sangat menahan marah. Wajahnya sangat merah.


"Kau. Ish. Aku sangat membencimu." Dia menghentakkan kaki geram.


Aku turun dan membuka helm.


Duduk menyamping di motorku. "Bodo amat."


Aku mengikuti gayanya khasnya saat membuatku kesal.


Dia membuang wajah acuh.


Aku pun berjalan memasuki rumah dengan di ikuti Bekicot.


Kami langsung di sambut dengan dua pasang suami istri. Mama papa dan juga om dan tante teman kerja papa.


"Eh pasangan mudanya udah datang."


Aku menyerngitkan dahiku. Tunggu, maksudnya?


"Ken ternyata udah kenal dengan tunangannya ya." Kata papa.


Wait. Huh?


Aku menatap Cya yang membuang wajahnya kesal.


Cya calon aku?


Hah? Aku terkekeh. Loh kok?


Aku mengangguk mengerti. Sepertinya aku ngak bakal membatalkan rencana ini. Hem..


"Cya duduk dong di sebelah Tante." Ucap mama dengan memberi ruang duduk antara mama dengan tante yang aku pikir ini pasti mama. Sedangkan papa dan teman kerjanya duduk berdampingan mengajakku duduk dengan kode melambaikan tangan agar duduk di antara mereka juga.


Cya dan aku berjalan duduk di tempat kami masing masing. Dan sekarang kami saling berhadapan.


Cya menatapku sangat datar dan emosi. Sedangkan aku melihatnya dengan cengengesan.


"Mama sebenarnya mau ngasih tau besok. Tapi karena Tante Erni bilang kalian akan bersama datang ke sini. Jadi sekalian aja hari ini pertemuan kaliannya." Kata mama Cya.


Cya melihat mamanya kemudian menatap ke sembarang arah sambil menghela nafas. "Iya ma."


Oo. Jadi dia lemah kalau berurusan dengan orang tua.


Hem. Anak yang baik. Hehe.


"Ken. Cya manis kan?" Tanya mama ke aku.


Cya menatapku datar dan tajam.


"Kalau juteknya hilang. Pasti manis." Kataku menggodanya.


Dia membuang wajah malas sambil menggelengkan kepalanya.


Aku terkekeh singkat.


Setiap orang tua seperti memberi kode satu sama lain. Kemudian mama mulai bicara. "Kalian ngak mau jalan jalan dulu di luar berduaan." Mama memainkan mata ke arahku.

__ADS_1


Aku tersenyum. "Boleh ma."


Aku pun berdiri dan berjalan pindah posisi ke sisi lain dari tempat duduk mereka agar tidak membelakangi orang tua. Menunggu Cya berjalan ke arahku.


Aku mengalihkan pandanganku ke Cya. "Yuk ngobrol sebentar di luar." Katanya.


Cya bangkit berdiri sambil membungkukkan badan hormat ke orang tua kami, berjalan izin keluar.


Dia pun berjalan ke ku kemudian hendak berjalan melewati ku begitu saja.


Aku memegang tangannya. "Kamu rangkul aku dong." Kataku mengerjainya.


Aku menaikkan salah satu alisku.


Ngak bisa nolak kan kau.


Dia mengendengku.


Hem. Aku tersenyum penuh kemenangan.


Kami pun berjalan ke luar.


Setelah kami sampai di depan rumah dan berjalan menuju taman. Dia melepaskan tangannya gusar.


Dia menatapku datar. "Kau sengaja kan mengerjaiku."


Aku sudah menaikkan bahuku acuh. Pura pura bodo.


Aku menatapnya mengejek dengan tanganku ku lipat di dada. "Jadi, bekicot ini ya tunanganku."


Dia memutar bola matanya kesal. "Kau pikir aku mau samamu."


Senang sekali rasanya mengetahui bekicot adalah tunanganku.


"Ngapain senyum senyum." Katanya datar melihatku.


Aku menarik tangannya ke atas bahuku dan memegang pinggangnya.


Wajahnya masih sama. Datar.


"Bekicot. Aku ini tunanganmu. "


"Tau." Ucanya datar.


Ish... Jutek amat sih jawabnya.


"Heh. Bersikaplah sopan."


Dia hanya diam tak menggubris kalimatku.


Aku ingin sekali menciumnya. Ingin melihat wajahnya memerah.


Aku mendekatkan kepala ku padanya.


Cium aja kali ya...


Burgh.


Aku memegang perutku meringis kesakitan. "Sakit bekicot!!"


Aku melepaskan pelukanku dan menjauhkan sedikit badanku darinya.


"Makanya. Jangan aneh-aneh."


"Ish.. Tunangan macam apa kau."


"Macam gitu lah." Katanya acuh.


Kan aku cuma mau... cium. Aku membuang wajahku kesal.


Dia menggelengkan kepala aneh melihatku.


Aku tersenyum dan mendekapnya lagi lebih erat.


"Lepas." Dia menatapku datar.


"Ngak." Kataku pelan.


"Lepas."


"Ngak mau bekicot." Kutekanan kalimatku kesal.


"Kau mau aku cium?"


Kalimatnya membuat ku terbelalak.


Serius?


Hehe.


Dia melingkarkan tangannya di pundakku. Dia mendekatkan wajahnya ke arah ku.


Aku melihat bibirnya yang semakin mendekat.


Kepalaku perlahan mengikuti arah bibirnya yang sangat menggoda.


"Lepasin dulu pelukannya. Biar aku lebih leluasa." Bisiknya pelan.


Jantungku berdegup sangat kencang. Wajahnya sangat dekat. Ku lemahkan dekapankan. Astaga... Aku ingin sekali dicium olehnya.


Aku melihat ke arah bibirnya dan sedikit ku miringkan kepalaku. Tinggal sedikit lagi...


Set...


Dia melencengkan kepalanya ke arah sisi lain ke sebelahku. Dia tak jadi mencium dan hanya mengerjaiku.


Aih...


"Otak kotor... Ckck." Katanya dengan wajah masih berada di atas pundakku.


Burgh


Dia kembali memukul perutku lagi.


Dia mengerakkan badannya menjauh dari padaku.


"Eh. Asal kau tau. Ciumanku itu eksklusif." Ucap si bekicot tinggi hati.


Dia melihatku datar. "KRP." Kemudian pergi meninggalkanku tanpa rasa bersalah.


Aku melihatnya pergi menjauh dari kejauhan sambil tersenyum walau menahan sakit perut akibat dugeman darinya.


Dia adalah wanita pertama yang mampu membuatku tersenyum lagi. Dia membuatku tersadar dari tindakanku yang terlalu bodoh mencintai seseorang yang bukan milikku dengan kalimat datar yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Cih... Aku tak dapat pungkiri...


Aku benar benar jatuh cinta padamu bekicot.


__ADS_2