
"Kenapa... Kan ngak salah. Kan enak ada teman yang bantu ngerjai tugas. Mau cewek mau cowok, kan sama aja sih. Lebay." Aku pun berdiri dari dudukku.
"Kau anterin aku ke kampus atau gimana?" Sambungku.
Dia tak memperdulikan pertanyaanku.
Aku menaikkan salah satu ujung bibir atasku menyerong.
Udah paham lah ya kan.
Dia pasti takkan mau mengantarku.
Aku pun beranjak pergi dari hadapannya.
Dia menahan tanganku membuatku menoleh ke arahnya. Dia melepaskan tangannya. "Selesai ngampus. Kau langsung pulang."
Aku memutar bola mataku ke kanan. "Iya loh..."
Aku kembali berjalan ke luar apartemen Jessen.
Aku pun pergi ke kampus dengan kendaraan umum.
Sialnya nasibku.
***
Aku mengikuti kuliah dengan lancar hari ini pada matkul pertama yang masuk. Sekarang jam istirahat, aku pun ke kelas Tessa untuk mengajaknya ke kantin bareng.
Aku melihat Tessa lagi berduaan dengan kak Rio.
Ya kali aku ke sana. Menganggu orang pacaran dan jadi nyamuk itu ngak enak, jadi aku memutuskan ke kantin seorang diri.
Aku pun memesan bakso di kantin. "Bu. Bakso satu." Pesanku pada Bu kantin.
"Oke mbak. Pas banget ini tinggal cukup buat satu mangkok lagi."
Aku terkekeh. "Hehe, hari ini keberuntungan saya."
Ibu itu pun tertawa juga.
Plak.
Tawa kami pun berhenti seketika saat ada seorang yang menghentak meja memesan orderan di depan warung sang ibu.
Itu Ken.
"Itu bakso untuk ku." Dia menatapku tajam.
Aku memandangi Ken. Karena aku ngak mau cari gara-gara lagi dengannya aku memilih untuk mengalah. "Ya udah deh buk. Saya soto ayam aja."
"Baik mba.."
Plak.
"Eh mbak eh copot copot." Ibu kantin kaget.
"Aku pesan itu juga. Aku pesan semua soto ibu sekarang. Jangan sisahkan untuk porsi siapapun."
"Ta tapi mas."
"Ngak ada tapi-tapi." Ken melihat sesaat pada ibu itu dengan amarah.
Aku melirik Ken dengan sedikit kesal. "Emang kau beneran mau pesan itu semua?"
Dia menatapku sombong. "Aku bisa membeli apapun yang ku inginkan."
Cih. Tinggi hati sekali anda...
Udahlah Val. Ngalah aja.
"Ya udahlah Bu. Saya pesan..." Aku kembali memesan.
"Aku beli semua jualan ibu hari ini." Ken mengambil sesuatu di sakunya. Dia mengambil selembar cek dan menulis. "30 juta cukup?" Ken melihat ke arah ibu kantin.
Ibu kantin shock. "Cu cukup mmas." Ibu itu menjadi gagap.
Dia kembali menatapku bangga karena berhasil membuatku gagal makan.
Rasanya kesal dan muak. Dari pada darah tinggiku meledak, lebih baik aku pergi dari sini.
Aku berjalan ke arah perpus menenagkanku dari kekesalan tadi. Ngak jadi makan. Ck.
*Di perpus.
Aku membaca buku praktek klinik. Mempelajari gimana aku bisa membuka klinik yang baik dan benar saat aku sudah tamat nanti.
Ktak.
Buku yang kupegang berdiri di meja baca di turunkan dengan paksa oleh seseorang secara tiba-tiba di sebelahku.
Aku melihat orang itu. "Apa sih? Kau makan aja sana di kantin tadi sampai kenyang." Bentakku pada Ken.
Dia duduk di sebelahku dan melipat kedua tangannya. Menatapku dengan sangat acuh.
Dia tak bicara apapun.
"Ish. Apa sih. Risih." Karena aku ngak mood lihat dia, aku pun beranjak pergi.
Saat aku mau berdiri. Dia menarikku membuat aku terjatuh di pangkuan duduknya.
Aku terkejut melihat wajahnya yang sangat dekat dengannya. Dia mengunci tubuhku dengan mendekapku membuat wajahku dan wajahnya satu arah lurus saling tatap.
Aku mau menjewernya keras.
"Aa... Sakit... " Pekiknya.
"Lepaskan dulu aku!"
Dia menatapku. "Aku takkan melepaskanmu."
Dia semakin keras kepala.
Aku menjitak kepalanya keras. "Lepaskan!"
"Ah. Valen." Dia melihatku marah. "Kalau kau semakin menguatkan suara mu. Aku tak segan-segan mencium bibirmu." Dia memicingkan matanya. "Sampai kau megap."
Mataku membolang.
Sifat psiko-nya ngak berubah!
Aku mencekek lehernya, membuat tangannya spontan melepas dan memegang lehernya.
Ini kesempatanku melepaskan diri.
Aku langsung keluar dari dekapannya dan berdiri menjauh darinya. "Ken! Aku udah punya pacar. Kau harus ingat itu!"
Dia melihatku dengan tatapan yang datar. "Aku lebih baik darinya."
Aku mencoba menurunkan nada suaraku. "Tapi aku." Aku menurunkan kepalaku. "Maaf. Aku ngak bisa."
Aku melihat Ken yang berdiri dan berjalan ke arahku, dia langsung memelukku. "Jangan pernah benci samaku. Dan cobalah mencintaiku." Dia melepaskan pelukannya dan pergi.
"Ken." Panggilanku berhasil membuat langkah Ken berhenti Tampa menoleh ke arahku. "Kau dengar ngak sih? Aku udah punya pacar. Aku ngak mau nyakitin hatimu semakin dalam. Jadi tolong, lupakan saja aku." Jelasku.
Aku berharap dia mengerti. Aku tak mau menjadi orang yang suka PHP in orang. Aku tau kalau aku tak mengatakan ini, dia akan semakin mengejarku, sedangkan aku tak dapat membalas cintanya. Aku tak tega.
Ken yang tadinya diam kembali berjalan melanjutkan langkahnya yang sebelumnya terhenti karena dia mendengarkan penjelasanku.
"Ken. Kau dengar ngak sih." Aku tak yakin Ken mendengarkan kalimatku.
Ck. Keras kepala banget sih!
Aih... Ngak paham lah sama Ken.
***
Aku masuk ke dalam apartemen Jessen.
Di sini sepi. Dia ngak ada di dalam ya?
Aku pun menutup pintu apartemennya. Aku berjalan menuju ruang tamu dan duduk di sana. Aku rengangkan badanku yang terasa pegal tadi. "Huh.."
__ADS_1
Jessen keluar dari kamarnya, wajahnya tampak sangat merah padam. Apa dia barusan marah-marah?
Dia melihatku sekilas dan melanjutkan jalannya ke arah dapur. Mataku selalu mengikuti arah kemana dia pergi.
Dia tampak meneguk air putih kemudian berjalan ke arahku. Dia duduk di sampingku. Menyenderkan badan di bahu sofa dan menutup mata.
Hem?
Dia kenapa?
Aku ajak ngobrol atau gimana ya?
Ah. Nanti kalau aku ngajak ngobrol dianya makin bad mood gimana?
Aku sedikit batuk dengan sengaja. "Ehem. Kau sakit?"
Dia membuka matanya sedikit dan menoleh ke arahku tanpa berkata.
Kayaknya iya deh.
Aku memegang jidatnya dengan telapak tanganku.
Eh.. serius! Dia demam!
"Kau sakit!" Aku langsung bangkit berdiri dan gelagapan mau buat apa.
Sebentar. Kalau demam harus di kasih Paracetamol.
Oke Paracetamol...
"Jes. Kotak obatmu ada di mana?"
Dia menunjuk ke arah meja yang ada di dekat kami.
Aku memeriksa laci meja itu. Dan menemukan kotak obat, aku mengambil Paracetamol dan air hangat untuk meminum obat ini. Aku memberikannya kepada Jessen.
Dia meraih obatnya dan meminum dengan air yang kuberikan tadi.
Aku kembali duduk di sebelahnya. "Kau sebaiknya tidur di kamarmu."
Dia memegang tanganku. "Tuntun aku sampai kamar."
Eem.. ngokey.
Aku pun mengatar dia ke kamarnya.
Ku selimuti dia. Setelah melihat semua sudah beres, aku pun hendak keluar kamar.
Dia menggenggam tanganku. "Kau tidur di sini juga. Kalau aku butuh bantuan, kau harus ada."
Aku memegang tengkukku merasa agak bingung. Aku takut dia apa-apain sama ni orang.
Dia berdecak kesal. "Aku takkan berbuat yang aneh-aneh. Aku tanggung jawab." Ucapnya lemah.
"Eh. Ya udah. Aku di sini tidurnya."
Dia pun kembali menutup mata.
Tapi aku ngak se-menstrim itu tidur satu tempat tidur dengan Jessen.
Aku berjalan ke meja belajar Jessen dan duduk di situ.
"Kau ngapain di situ?" Tanya Jessen. Dia menepuk nepuk sebelah tempat tidurnya. "Di sini aja."
"Gila kau ya! Aku di sini aja. Kalau kau butuh ya tinggal panggil." Jelasku.
Dia kembali menutup mata.
Aku memperhatikan dia yang sekarang tampak lemah.
Aneh juga ya, lihat orang yang paling nyebelin jatuh sakit.
Iblis sepertinya bisa sakit juga.
Aku sedikit terkekeh.
"Woah..." Aku menguap. Matkul ini sangat melelahkan. Masuk pagi, pulang malam, aku harus terbiasa.
Mataku sangat berat sekarang. Aku pun meletakkan kepalaku di dalam dekapan tanganku yang ada di meja belajar Jessen. Aku tertidur.
***
Aku melihat ada selimut yang menutupi tubuhku dan juga Jessen di sebelahku. Kami di selimuti oleh atu selimut.
Lah. Dia kok jadi ikutan tidur duduk di meja belajar seperti aku sih?
Aku memegang jidatnya. Panasnya udah mulai turun. Syukurnya.
Aku pun langsung bangkit berdiri dan berjalan ke arah dapur untuk memasak sarapan. Tak lupa aku membawa ponselku, aku mau searching mau masak apa untuk orang sakit.
Aku melihat dengan seksama ponselku. "Kayaknya setiap orang sakit selalu pada umumnya di kasih bubur ya..."
Aku pun menyiapkan bubur untuk Jessen dan sekaligus aku lah ya kan...
Aku pun mempersiapkan jus terong Belanda dengan air hangat agar Hb darah Jessen naik.
Aku pun meletakkan semuanya di atas meja makannya.
Untungnya ini hari Sabtu. Jadi weekend.
Aku berjalan ke kamar untuk memanggil Jessen.
Dia masih tertidur. Aku sedikit menyenggol badannya.
Dia membuka matanya.
"Makanannya udah siap."
Dia berdiri dan berjalan ke belakangku. Dia memelukku.
Deg
"Kakiku lemas. Jadi kau tuntun aku seperti ini." Katanya datar.
Aku menjauhkan diriku darinya. Membuat badannya menjadi oleng hampir terjatuh. Aku memegang tangannya. "Heh. Kau kok jatoh."
Dia menatapku kesal. "Udah aku bilang. Kaki aku lemas. Kalau enggak, ngapain aku minta kau tuntun bego."
Iya juga ya... Awalnya aku pikir dia mah modus. Rupanya menang kakinya yang masih lemah.
***
Dia duduk tanpa menyulangkan sesuap bubur ke dalam mulutnya.
"Makan lah." Aku memperhatikannya.
"Suapin." Dia membuka mulutnya.
"Heh. Kau kok jadi manja gini sih."
"Cepat."
Aku mengerutkan bibirku kesal. "Iya."
Aku pun menyuapin Jessen.
***
Setelah makan kami menonton film di televisi. Jessen tampak tak menikmatinya. "Udah Jes. Tidur aja sana."
Dia menatapku. "Anterin aku."
Aku menggaruk kepala jengah. "Emang aku baby sister apa?! Udah pergi sana."
Dia tak kunjung pergi. Dia tetap duduk si sebelahku. Dia sedikit terbatuk.
Aduhhh. Kalau dia tambah penyakit lagi, aku mah yang jadinya repot!
"Iya iya. Biar aku antar ke kamarmu."
Aku pun merangkulnya menuju kamar.
__ADS_1
Dia sana aku meletakkannya. Tangan Jessen tak lepas dari rangkulan tanganku tadi.
"Apa lagi?" Kataku malas.
Dia menarik tanganku membuat aku tertidur di sampingnya. Dia kembali memelukku. "Jangan ke mana-mana. Di sini aja. Aku ngantuk."
Deg
Hari ini jadi semakin aneh. Jessen jadi manja ngak jelas gini. Kenapa dia?
Apa karena faktor sakit. Membuat dia jadi bertingkah aneh?
Aku melihatnya. Dia sudah tutup mata. Dia tampak sangat lelah.
Aku mengelus kepalanya. Terlihat senyuman terlukis di wajahnya.
Kalau semakin di pandang. Jessen Terlihat sangat manis ketika dia tersenyum.
Aku menokok kepalaku. Apaan sih Val! Jangan lagi! Tobat tobat!
Dia kembali mengeratkan pelukannya.
Jantungku sangat berdegup kencang.
Gila... Kenapa jadi panas begini?
Ngak Val. Ngak!
Aku terus menyadarkan diri agar tak melakukan hal yang... Berdosa...
***
Aku terbangun.
Sial! Dari tadi aku tertidur?!
Aku melihat Jessen masih tertidur dan masih memelukku.
Huh. Oke... Ini udah terlalu lama.
Udah jam berapa ini?!
Aku melihat jam yang ada di kamat Jessen.
Jam 13.30 jimm
Aku dari pagi, tidur lagi rupanya tadi...
Aih... Aku memcoba membangkitkan diri.
Dia terbangun dan melihatku.
Dia tersenyum.
Aku menatapnya ngerih. "Jes. Kayaknya kau masih sakit deh." Aku meragukan kesehatan Jessen.
Ya tau sendiri kan... Sejak kapan Jessen jadi mudah tersenyum?
Dia kembali memasang wajah datar. "Kita di sini aja."
Wait a minute.
Aku menokok jidad Jessen. "Kau makin sakit kayaknya."
Dia memutar bola matanya kesal. "Ish." Dia melepaskan dekapannya.
Dia pun bangkit berdiri. Dia ke meja belajarnya. Dia membuka buku dan belajar.
Aku pun duduk dari tidurku tadi. Sebenarnya dia kenapa sih? Ngak jelas banget.
Aku bangkit berdiri. "Kalau kau ada yang perlu aku tolong. Panggil aku di ruang tamu." Aku kembali berjalan.
Aku berjalan ke ruang tamu sambil menghidupkan televisi.
Aku kembali memikirkan Jessen. Tu anak kenapa yak?
Dan aku juga. Kenapa juga aku mau di peluk peluk sama dia!
Aku menggaruk kepalaku kesal.
Arh...
Untuk menenangkan pikiran aku pun membuka ponselku.
Eh apa ini? Ada 100 pesan dan 100 telepon tak terjawab.
Aku pun membaca pesannya.
Dari Ken.
Hei
Hei
Hei...
Angkat teleponnya....
Kau kenapa pergi ke apartemen Jessen semalam!
Hei
Cepat jawab
VALEN!!!
Pesan itu terus menerus sampai 100 kali terkirim ke aku.
Damn!!!
Kok dia tau?!
Gimana ini?!
Kalau ketauan aku beneran tinggal dengan Jessen. Akan tersiar kabar Hoax mengenai diriku.
Pasti semua satu sekolah akan menganggapku wanita murahan....
Padahal aku melakukan ini karena alasan utang Budi dan untuk menyelesaikan misi gila dari peri!!!
Astaga!!!
Oh Tuhan....
Tet tet tet...
Terdengar suara bel apartemen Jessen.
Feeling aku udah ngak enak.
Aku berjalan ke arah pintu apartemennya dan mengintip melalui lubang kecil khusus untuk melihat siapa tamu yang akan datang.
Aku melihat dari situ siapa yang datang.
Betapa terkejutnya aku. Lagi lagi aku shock dengan satu orang yang sama... Yaitu Ken.
Aku menggaruk kepala prustasi. So sekarang apa yang harus aku lakukan... Apa aku harus lompat dari gedung ini. Kan engak mungkin.
Tak berapa lama Jessen datang dan hendak membuka pintu.
"Hei... Kau gila ya?!" Jerit padanya
Aku kembali menutup mulutku.
Aku membawa Jessen ke tempat yang agak jauh dari sana.
Setelah cukup jauh aku mulai angkat bicara.
"Itu Ken! Aku harus jawab apa?! Dia tau kalau aku ada di rumahmu! Aduh gimana ini?!"
Jessen hanya memiringkan sedikit kepala acuh. "Memangnya kenapa?"
__ADS_1
Aih.... Kesel bet dah... Ni orang Ngan tau malu... Atau apa sih?!
Ya lord... Please bantu aku....