
Catatan penulis;
Cuma mau bilang... Jangan lupa di like komen vote dan di beri tips ya guys...
love you....
...Author POV...
Rio duduk di kelasnya bersama Jessen di sebelah nya. Rio bingung harus mulai dari mana agar bisa jadi anak emas seperti Jessen.
"Apa." Ucap Jessen tiba tiba tanpa melihatnya membuat Rio terkejut ternyata si Jessen peka di lihati.
Rio menggeleng cepat dan memalingkan wajahnya kembali menatap papan tulis dan memperhatikan guru mengajar.
Rio kembali curi pandang melihat ke arah Jessen.
'Apa coba yang buat dia pintar, hm.'
'Kayaknya di mulai dari fokus belajar deh.'
'Oke kalau gitu.'
Rio terus bermonolog dalam hati.
Rio memperhatikan kembali papan tulis dan kemudian fokus untuk belajar.
***
Jam istirahat berlangsung.
Rio terus memperhatikan gerak gerik Jessen. Sungguh dia ingin menjadi idaman Tessa, jadi dia harus belajar dari Jessen.
Sekarang Rio terus mengikuti Jessen yang melintasi koridor.
Jessen yang sangat risih di perhatikan terus oleh Rio dari belakang pun berhenti. Rio terkaget. Dia membalikkan badan dan menatap tajam Rio. "Apa huh."
Rio menatap ke kanan ke kiri linglung bingung. Rio memegang tengkuknya kaku.
Jessen memicingkan matanya curiga. "Dari tadi kau terus menatap dim diam." Jessen membulatkan matanya. "Jangan jangan kau..."
"Wow wow... Aku ngak gay bro... aku normal!" Rio buru buru menghadang kalimat Jessen.
"Aku cuma..."
Jessen kembali memicingkan mata nya semakin curiga.
"Cuma... Mau jadi pinter doang. Itu aja." Sambung Rio dengan jadi merasa malu.
'Shit. Kenapa jadi grogi kayak nembak cewek sih! Bangsat!' Batin Rio sambil menghentakkan kaki gusar.
"Banyak baca buku aja sono. Kali perlu les privat biar kau fokus belajar. Ngapain harus buntutin aku. Jijik." Jessen menatap Rio tajam.
'Eh. Bener juga ya. Ngapain juga aku buntutin orang kayak fans fanatik. Euh...' Rio jijik sendiri dengan dirinya.
"Oh. Bener juga. Aku cabut dulu. Kau pikir aku ngak jijik apa buntutin cowok. Eukkk..." Rio berlagak seolah olah muntah.
Rio pun cabut.
Jessen yang melihat Rio tadi jadi aneh. "Lah. Kan seharusnya aku yang muntah. Ngapa jadi dia?"
Jessen menggeleng kan kepala nya dan kembali berjalan menuju kelas pacar nya. Eh, maksudnya istri. Hehe.
Beberapa langkah Jessen jadi senyum sendiri karena ngak sabar melihat istrinya. Padahal baru di tinggal sebentar, tapi rasanya sangat rindu.
Jessen melihat istrinya yang sedang sibuk memekik kegirangan bersama teman sekelas wanitanya melihat laptop beramai ramai.
Lihat apa coba?
"Aa... Ganteng banget aktor nya."
"Astagoyyy... Seksi banget tau ngak..."
"Terbakar ini terbakar...."
"Hmm.. Idaman banget." Sambung Valen mengiyakan.
Melihat istrinya menatap pria lain selainnya membuat mood Jessen jadi panas berbalut kesal.
Jessen masuk ke dalam kelas Valen. Tapi Valen dan kawan kawan masih fokus menonton tanpa memperdulikan.
Tessa menyikut Valen karena sadar ada Jessen di sini. Tessa tau kalau sekarang Jessen dan Valen sudah pacaran, padahal sebenarnya mah udah nikah.
"Apasih Tes. Sabar dong... Aku lagi nunggu roti sobek." Kata Valen acuh sambil terus tersenyum menatap layar laptop.
Jessen semakin terbelalak marah.
'Dia doyan lihat roti sobek orang lain?! Ngak cukup apa lihat punyaku!!!" Pekik Jessen dalam hati dengan penuh amarah.
Tessa semakin takut dan kembali menyikut Valen. Sedangkan teman teman Valen terlonjak kaget melihat Jessen di hadapan mereka yang berdiri dengan wajah merah padam, namun bibir mereka bungkam.
"Val... Oy... Jangan nonton lagi.." Cicit Tessa pada Valen menatap Jessen takut.
Valen menatap Tessa kesal. "Apa sih. Lagi hot... Hot..." Kata Valen terbungkam saat melihat arah pandangan Tessa.
"JESSEN?!" Jerit Valen kaget.
Jessen yang udah sangat kesal pun pergi meninggalkan Valen.
__ADS_1
"Aduh tes. Ngapa ngak bilang dari tadi." Valen lemes.
Tessa memicingkan matanya. "E eleh. Dari tadi kan udah ku kode. Kau yang ngak peka. Gimana sih?"
Valen menganguk kepalanya kesal. "Aku harus apa dong?"
"Ya kejarlah!" Kata mereka serentak kesal melihat Valen yang masih ngak peka.
"Hehe.. iya ya. Oke.. bye guysss..." Valen pun berlari mengejar Jessen.
Sedangkan para wanita yang menonton drama cogan tadi malah menggeleng melihat Valen. "Ckckc... Val Val... Untung kawan... Kalau ngak..." Kata mereka seraya mengelus dada menahan emosi.
"Dah lah. Play kan lagi dramanya. Sumpah, cowoknya ganteng jir..."
"Onghey..."
Mereka pun melanjutkan tontonan mereka.
***
"Jes jangan marah dong Jes..." Valen menoel noel bahu Jessen.
Jessen tak bergeming dan hanya membaca bukunya yang di ambilnya tadi di rak perpus.
Mereka tengah ada di perpustakaan. Jessen sangat marah pada Valen.
Cemburu?
Tentu saja, Jessen sangat cemburu.
"Jes... O Jes..."
"..."
"Sayang..."
"..."
"Ntar jelek loh kalau marah mulu..."
"Bodo."
"Yang... Sayang..."
"..."
"Suamiku tersayang..."
"..."
"Sayang..."
"Jangan gitu dong yang..."
Jessen bangkit dari duduknya. "Males ngomong sama kamu."
Jessen pergi meninggalkan Valen.
"Yah... Kayaknya marah banget dia." Gerutu Valen.
Valen memukul kepala pelan. "Kau sih. Ngapain juga lihatin cowok lain. Kan udah punya suami." Kutuk Valen.
***
Sampainya di rumah. Jessen pulang deluan dengan pertinggal chat pada ponsel Valen.
Suamiku ❤️
Aku pulang deluan.
^^^Yah... Kok aku di tinggal sih yang^^^
^^^(Read)^^^
Dia bahkan ngak balas chattan Valen.
Bener marah mah dia...
Valen akhirnya pun pulang sendiri.
***
Sesampainya di rumah. Valen hanya melihat Jessen di meja belajar di kamar.
Jessen tak menggubris Valen datang.
"Jes..." Panggil Valen.
"..."
"Oke maaf aku salah. Janji ngak akan lakuin lagi." Valen berjanji dengan menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya berbentuk V.
Jessen masih diam dan hanya belajar. Dia memang sangat kesal.
Valen duduk di sebelah Jessen. "Sayang."
Valen jadi kesal sendiri. "Kalau kamu ngak lihat aku. Ntar aku nekat ya."
__ADS_1
Jessen tak perduli.
Valen mendengus kesal. Membalikkan kursi putar Jessen menghadap ke arahnya.
Cup
Valen mencium singkat Jessen. Jessen masih diam.
Aneh. Biasanya kan kalau so sweet begini seharusnya pertahanannya luluhkan?
"Kok masih diam Jes." Tanya Valen.
Sebenarnya Jessen sangat terkejut dan ingin sekali mencium Valen lagi. Tapi perlu dia ingat, dia sedang marah, jadi ngak boleh tersenyum.
Lagi pula kalau di pikir pikir oleh Jessen sendiri, dia memang terlalu ke kanak kanakan. Dia kan tau Valen takkan selingkuh, buktinya saja sewaktu Jessen diam diam membuka ponsel Valen, Valen sudah memblock nomor Tian yang paling di benci oleh dirinya tanpa sepengetahuannya. Bukankah itu sangat manis.
Tapi dia ingin melihat apa reaksi kelanjutan istrinya ini.
"Jes.. Maaf. Aku cuma suka kok sama mereka sebagai idola. Yang aku cinta itu kan kamu. Jangan gitu dong Jes..."
Jessen masih menatap Valen diam. Namun hatinya saat senang.
Valen mendekatkan wajahnya. "Cuma kamu kok paling ganteng di mata aku. Serius..."
Pertahanan Jessen luluh. Dia tersenyum kecil.
Jessen langsung mengayunkan ciumannya ke bibir Valen.
Valen senang Jessen tak marah lagi.
"Jangan ulangi." Jessen menatap intens mata Valen.
Valen menganguk. "Janji."
Jessen bangkit berdiri dan mengangkat Valen dengan gaya ala bridal style ke ranjang.
Meletakkannya di sana kemudian memeluk nya di sebelah nya.
"Kamu tadi mau lihat roti sobek kan?"
Deg!
Valen menggaruk telinganya yang tak gatal. "Am. I-itu..."
Jessen tersenyum miring. Gimanapun dia tak ingin istrinya memikirkan lelaki lain walaupun itu hanya idolanya saja. Dia ingin Valen hanya memikirkannya.
Jessen mencium bibir Valen dengan lembut sambil menaikkan baju Valen perlahan. Jessen mulai meraba setiap inci tubuh istrinya yang menjadi satu satunya candunya.
Valen menyerang nikmat membuat Jessen semakin bersemangat.
"Sayang..." Desis Valen saat tangan Jessen mulai meraba dan meremas bagian atas miliknya.
Jessen memandangi wajah istrinya. "Aku mau yang..."
"Pelan pelan ya..."
Jessen tersenyum. Kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga sang istri. "Pelan tapi ganas gimana?"
Seketika bulu kuduk Valen menegang takut. "Jessen. Em"
T
ubuh Valen bergetar menerima ciuman agresif Jessen.
Jessen sangat bersemangat sekarang.
Dengan cepat tanpa melepaskan ciumannya dia langsung melucuti semua pakaian nya dan juga Valen.
Jessen menindih tubuh Valen dan terus menciuminya dengan ganas.
Valen terperanjat saat merasakan sesuatu yang keras di bawah sana hendak masuk ke area bawah Valen.
Cepat cepat Valen mendorong Jessen. "Kamu udah pakai k*nd*m belum?"
Jessen mengerang kesal.
Arh... Kenapa waktu lagi bersemangat begini malah teralihkan oleh pemakaian alat kontrasepsi ini.
Jessen sungguh malas mengambil nya. Dia sangat terangsang soalnya. "Yang... Ngak usah dong... Aku pingin masih segera nih... Ehm..."
"Ngak. Ngak bisa. Pakai dulu."
Arh... Mengesalkan.
Jessen pun terpaksa bangkit berdiri dan memakai nya terlebih dahulu.
Cepat cepat Jessen langsung menindih tubuh Valen dan memeluknya. "Udah." Ucap Jessen dengan wajah murung.
Valen terkekeh. "Kok bete sih yang."
"Tau." Jessen buang muka.
Valen mencium bibir Jessen lembut membuat Jessen kembali bersemangat.
Suasana ruangan semakin panas dan memanas. Keringat bercucuran dan suara desahan melingkupi ruangan ini.
Kenikmatan yang di rasakan pasutri muda ini sangat di nikmati dengan penuh bergairah oleh mereka.
__ADS_1
Fine... Bagi yang belum ada pasangan mau istri maupun suami... Mohon bersabar. Ntar pasti. Akan ada waktunya kalian merasakan kebahagiaan seperti mereka. Hehehe... Amini aja cuy... AMIN...