Magic You

Magic You
Chapter 109 (End)


__ADS_3

...20 Tahun Kemudian...


"Mama. Cepetan. Fian ngak bisa terlambat ma."


Valen cepat cepat memasang sepatu vansusnya dan segera berjalan ke arah anak lelaki nya yang cerewet. "Sabar dong sayang. Ini masih juga jam 7." Valen mengacak rambut anaknya.


Sedangkan Jessen terkekeh kecil melihat anak dan istrinya. Bukan tanpa sebab, kenapa anak anak lebih taat waktu di bandingkan ibunya? Ckck, ada saja.


Kemudian Fian masuk ke dalam mobil susuk di kursi belakang begitu pun Valen masuk ke dalam mobil tapi duduk di kursi d pan bersebelahan dengan Jessen yang mengemudikan mobilnya.


Fian mengomel ngomel tanpa suara karena kesal dengan keterlambatan mamanya yang tak taat aturan. Di lain sisi Valen terkekeh melihat anaknya yang kopas banget dengan papanya.


Brum...


Mobil pun melajudengan kecepatan sedang.


Fian: Anak bungsu yang paling rewel dan fotokopian Jessen banget. Pokoknya pas banget deh. Cuma ada bumbu cerewet dan sedikit bawel aja, ya... Campuran dari Valen lah. Sedangkan kakak Fian adalah the most wanted in her school.


"Fian fian. Bawel banget sih... Hahaha.." Tawa Vye.


Vye: kakak satu satunya Fian. Sangat perfek. Udah cantik, periang, sopan dan sangat manis. Semua menyukainya. Tak terkecuali adik bungsunya. Fian sangat tak suka jika ada yang menggoda kakaknya. Dan terus terang saja, Fian pasti bakalan neror itu orang dan ngak segan segan men-taekuondo lelaki itu jika menyentuh kakaknya.


***


"Fian sayang aku.. " Gia memanyunkan bibirnya manja. Semata mata hanya menggoda Fian yang sangat dingin.


Walaupun begitu, mereka adalah teman sejak kecil dan masih kokoh berteman sampai sekarang.


"Apaan sih. Kealayan kau nggak pernah berkurang ya. Sakit jiwa kau ya." Hina Fian yang kesal dengan teman satunya ini yang sangat bobrok nggak karuan.


Gia: Anak tunggal dari nggak ada saudara. Ya iyalah namanya anak tunggal, gimana sih. Hehe..


Tinggal bersama kedua orang tuanya, Ken dan Cya. Yup... Mereka sudah menikah guys..


Cup


Gia menoleh ke arah seseorang yang mengecup pipinya tadi. "DIO!!"


Dio cengengesan.


Dio: anak sulung dari satu bersaudara. Sikap tengil. Suka sukanya kalau berbuat dan suka menggoda wanita tanpa serius dengan satupun di antara mereka.


Btw, dia anak dari Rio dan Tessa.

__ADS_1


"Di cium dikit aja marah." Kata Dio tak merasa bersalah.


"Kau tu ya... Sembarang banget sih jadi orang! Nyosor tiba tiba! Pipi ku jadi ngak suci!!!!..." Gia men lap pipinya sedangkan Dio sangat menikmati pemandangan Gua yang memarahinya. "Eh!! Sempat kalau aku hamil... Aku bakalan bunuh diri dan jadi kuntilanak yang gentayangi kau!!..."


"Pff.." Fian menahan tawa.


"Whuahaha... Eh. Nyium orang itu nggak bakalan buat hamil bego!" Hina Dio.


Kemudian Dio beralih melihat Fian. "Eh. Adik ipar udah datang. Calon aku udah sampai kelas kan ya.. Aku mau samperin dulu.. bye.." Dio beranjak pergi tapi di sangkal Fian dengan menggenggam pergelangannya.


"Satu, aku bukan adik ipar mu. Dua, jangan pernah godain kakakku." Mata Fian melotot.


Dio terkekeh. Kemudian merangkul Dio. "Tenang aja bro. Aku bakalan seriusin kakak mu. Hehe.."


Fian memutar matanya malas. 'Kalau ngak teman, udah ku bogem ni orang.'


***


Tok tok tok...


"Papa pulang." Jessen masuk baru pulang dari kantor.


Valen menoleh. Dari ruang tengah.


Jessen melepaskan jasnya meletakkan nya di sebelah sofa tempat Valen duduk bersantai dan meletakkan tasnya juga di sebelah jasnya yang tadi.


Jessen langsung bergelayut memeluk Valen. "Capek."


Valen terkekeh.


"Ada pertemuan dengan rekan bisnis baru tadi. Jadi aku terpaksa pulang selarut ini." Jessen mengeratkan pelukannya.


"Oh. Ya. Kamu kok belum tidur? Nak anak mana? Udah tidur kah?"


"Aku nungguin kamu. Dan anak anak udah tidur."


Jessen tersenyum. "Berarti malam ini..."


"Apa?..."


"Aku mau... Mumu mumu.." Jessen memanyunkan bibirnya manja.


"Cih." Valen terkekeh singkat. "Tadi katanya cape. Sekarang malah mau olah raga malam."

__ADS_1


"Sayang... Ayo... Ya ya ya.. "


Valen tersenyum.


Dengan cepat kilat Jessen langsung mencium bibir istrinya. Mengulum bibir Valen sambil terus memeluknya.


'Euh.. jijik.' batin Fian saat melihat adegan ciuman kedua orang tuanya di ruang tamu.


Tadinya dia mau ambil air putih. Tapi gak jadi. Pemandangan malam ini merusak matanya yang barusan bermimpi indah mengenai rumus fisika.


Fian kembali masuk ke dalam kamar dan membuka jendela kamar mencari udara.


"Ish... Nyebelin banget."


***


Drett


Ponsel Vye bergetar. Vya mengangkatnya tanpa melihat nama di sana.


"Hai calon istri."


Vye terkekeh. Ini pasti temannya Fian.


Sungguh Vye sangat tak minat dengan brondong. Tapi lucu juga kalau di kerjain. "Iya calon suami."


Dio terkekeh. Sebenarnya Dio menyukai Vye cuma karena penasaran saja. Dio hanya ingin mencoba jalinan asmara dengan senior yang populer di sekolah. Lebih dari itu tidak ada.


Well... Sama sama bermuka dua bukan?


"Kamu ngapain?" Tanya Dio.


"Tidur."


"Mimpiin aku ya." Dio berbisik manja.


"Cih.. Masih bocil udah nakal." Kekeh Vye. Sekarang Vye kembali malas meladeni orang, dia sangat ngantuk. "Pergi minum susu sana. Biar tinggi. Aku tidur dulu ya. Bye."


Vye mematikan ponselnya sepihak kemudian menonaktifkan nya.


"Nyusahin aja."


"Lah.. kok di matiin?" Dio kesal. "Ya udahlah, besok kan bisa telfon lagi. Lihat aja, aku bakalan jadiin kamu pacar aku. Hem.." Dio terkekeh singkat.

__ADS_1


__ADS_2