Magic You

Magic You
Chapter 91


__ADS_3

Selang beberapa menit biang lala ini akhirnya bergerak. Dan Jessen masih memelukku sambil menutup mata dan ekspresi datar.


Ngak tau udah seberapa merah wajah ku sekarang. Dan seberapa detik lagi klep jantung ku bakalan lose karena darah yang berpacu kencang.


Aku hendak menyingkirkan lagi badanku darinya dengan perlahan, agar biang lalanya ngak goyang lagi.


"Eem." Erangnya kesal. Dia kembali mengeratkan pelukannya.


Deg deg


Astaga... Jantungku...


"Jes... Aku. bisa. serangan. jantung kalau begini." Ucapku mendat mendat karena masih jantungan.


Dia membuka matanya dan menatapku datar. "Lemah banget jantungmu."


Kretek... Sakit banget hati aku njir...


Aku membuang wajahku. "Biarin."


Dia melepaskan pelukannya dan duduk bersender dengan tangan di lipat di dada. "Payah." Ledeknya.


Rasanya seperti... Pingin nyekek dia tau ngak!


Sabar... Sabar... Ini adalah cobaan...


Mengambil ponselku. Aku lihat udah jam 20.30.


Oh. Astaga, aku ngak boleh pulang telat.


"Siap ini. Kita langsung pulang. Aku ngak bisa lama-lama." Ucapku.


Jessen menganguk singkat. "Hm."


***


Setelah kami sampai di bawah. Kami pun keluar dari dalam biang lala dan berjalan menuju parkiran.


Kami masuk ke dalam mobil dan kemudian melaju menuju ke rumahku.


***


Sesampainya di depan pagar rumah Jessen pun menghentikan mobilnya.


Aku melihat ke arah nya. "Aku masuk dulu."

__ADS_1


"Hm."


Aku mengusap tengkukku kaku melihat ke arah lain. "Dan kau, langsung pulang ya. Jangan keluyuran. Udah malam."


Aku kembali melihat nya.


"Hm." Dia mengangguk singkat. "Tapi, sejak kapan kau sok perduli denganku." Dia tersenyum miring.


"Apa sih Jes. Cuma sekedar mengingatkan. Kalau kau mau pergi juga.. ya terserah.. aku tak perduli."


"Oh ya?" Dia menaikkan salah satu alisnya.


"Iyaa.. terserah..."


Dia memegang dagunya. "Kalau sama wanita lain gimana?"


Kok jadi bahas cewek lain sih! Ck.


"Cih. Ya udah. Bodo amat." Aku jadi kesal. Dan langsung membalikkan badan dan mencoba membuka pintu.


Masih terkunci?


Aku kembali membalikkan badan melihat nya dengan tatapan penuh amarah. "Bukalah."


Aku berdecak kesal. "Udahlah. Buka aja napa sih."


Dia mencondongkan tubuhnya hendak berbisik padaku. "Val. Sini deh."


"Ngak mau. Buka aja ini." Aku menunjuk nunjuk pintunya. Malas lihatnya.


"Iya. Makanya sini dulu." Dia memaju mundur kan jarinya di depan wajahnya memanggil.


Ish...


Aku pun mendekat kan wajah ku. "cepat. Apa."


Dia menyentil jidatku. "Aku bakalan langsung pulang. Ngak ada yang lain, cuma kamu. Tadi bercanda." Dia tersenyum kecil.


"Oh. Kalau asli juga ngak apa." Aku menantang. "Aku bisa telpon Tian kok. Biar kami makin dekat." Aku tak mau kalah.


Senyuman nya berubah menjadi diam dan datar. "Kenapa bahas Tian."


"Karena kau bahas cewe lainlah."


"Kan aku udah bilang bercanda. Dan kenapa kau bahas dia." Ucap Jessen tajam.

__ADS_1


Apa.. salah?


Dia membuang wajah kesal sambil menggeleng geleng malas.


"Aaku cuma bercanda juga kali."


Dia tak menggubris kalimatku.


Dia menekan tombol di pintunya. "Udah terbuka. Keluar lah."


Aku menoelnya. "Jes aku bercanda loh."


Dia tak menjawab.


"Jes... Bercanda. Maaf." Aku menatapnya ragu.


"Kan... aku sayang nya sama kamu." Sambung ku.


"Huh? Apa?" Tanyanya cepat.


"Maaf." Kataku lagi.


"Bukan. Bukan itu. Kalimat setelah nya."


Apa?... "Aku sayang nya sama kamu, maksudnya?" Ucapku sambil mengingat kalimat ku.


"Huh? Kurang denger aku." Dia mendekatkan wajahnya padaku.


Cih... Dasar modus.


"Aku sayang sama kakek nenekku." Kataku dengan ekspresi datar seperti nya.


Dia menyungingkan senyuman di wajah. "Ulangi yang benar."


"Iya. Aku sayang kamu. Udah kan."


Dia mengangguk sambil masih tersenyum. Kemudian dia menekan tombol yang ada di pintu mobilnya. "Udah ngak terkunci lagi."


Aku mengangguk. Membuka pintu, keluar dan menutup pintu.


Mobilnya pun berjalan dan pergi.


Aku melangkah kan kaki masuk ke rumah.


Ku pegang pipi ku malu sambil berjalan. "Aa..." Pekikku pelan.

__ADS_1


__ADS_2