Magic You

Magic You
chapter 64


__ADS_3

Aku langsung berjalan ke arah Jessen dengan cepat. "Ngak bisa gitu dong Jes."


"Apa peduliku?"


Aku menarik narik lengan baju Jessen. "Jes jangan gitulah."


"Kau ke sini kan karena kemauan mu sendiri. Jadi itu masalahmu." Katanya cuek tanpa melihatku.


Aku duduk di sebelahnya lemas sambil memijit kepalaku, pusing memikirkan apa yang terjadi.


Tapi sesaat kemudian aku bingung melihat sudut ruangan ini yang terlihat sangat sepi. Dari pandanganku sepertinya ini di apartemen lagi deh. Dan btw... Foto calon si Jessen kok ngak ada di sini?


"Eh. Kapan kau nikah?" Tanyaku memastikan rumor yang beredar itu bener apa enggak.


"Siapa yang mau nikah?" Dia balik nanya.


"Ya.. kau lah."


Dia melihatku datar. "Aku tidak akan nikah."


"Serius? Berarti gosip itu ngak bener dong ya kan..."


"Heh?" Dia menaikkan alisnya.


"Ngak apa. Ngak usah di bahas."


Dalam hati aku sangat bersorak kegirangan.


Aa.... Yes yes yes... Jessen tak akan nikah... Seneng banget akuuu... Aaa....


Sebuah sentilan mendarat tepat di jidadku. "Tadi ketakutan. Sekarang senyum senyum. Kesurupan kau." Ejeknya.


Gila.. dari tadi aku senyum senyum apa?.. Aih... Malu maluin...


Aku kembali membuat wajah datar menatapnya. "Enak aja bilang aku kesurupan. Kau tu yang kesurupan wewegombel."


"Wewe apa?"


"Wewegombel loh..."


"Siapa dia?"


Wait. Ni anak kudet banget sih mengenali nama hantu indo. Well walaupun aku juga ngak begitu kenal sama si wewegombel, tapi setidaknya aku tau wewegombel itu setan.


"Itu setan loh... Masa sih kau ngak tau."


"Dari pada menghapalin nama setan. Aku lebih baik menghapalkan tabel periodik."


Is.. susah ya ngomong sama orang pinter!


"Terserah lah Jes."


Aku kembali memegangi kepalaku dengan jari jari tanganku. "Jes. Aku pulang gimana... Aku ngak bawa apa apa loh Jes... Terus aku harus apa?... Please lah Jes... Aku beneran bingung harus apa..."


"Kalau kau datang karena buku ajaib. Berarti kau pulang juga dengan buku ajaib."


"Maksudnya?" Mohon maaf, otakku memang belum ngeh.


Dia mendengus berat. "Apa yang kau perbuat pada buku ajaib itu makanya kau datang kesini, perbuat lagi ke buku itu biar kau pulang." Jelasnya.


"Ooo. Hehe, iya juga ya."


Lah... Tapi buku ajaibnya mana yak?


Aku langsung berdiri dan melihat ke setiap sisi sudut yang ku lewati tadi.


Lah kok ngak ada?


Aku berjalan keliling ruangan sambil melihat lihat di mana buku itu berada. Mana coba bukunya...


Ah... Mungkin aku harus bayangin aku kembali pulang ke rumah. Pasti aku bakalan balik!


Aku menutup mataku dan membayangkan aku kembali ke rumah. "Aku pulang ke rumah."


Tapi tak terjadi apa apa. Huh?


Aku mengekang lagi kalimatku. "Aku pulang ke rumah."


Masih tak terjadi apa apa.


Aku membuka mataku. "Ish... Kok belum pulang sih!"


Aku kembali berjalan ke arah Jessen dan duduk di sebelahnya. "Ngak bisa Jes." Rengekku.


Dia melihatku dan menaikkan bahunya sekejap ke atas kemudian kembali lagi meminum air putih.


"Jes..."

__ADS_1


"..."


"Jessen. Jawab napa sih." Aku mulai kesal.


"Masakin aku makan dulu."


"Is. Kok tiba-tiba nyuruh! Heh, aku ini bukan babu!"


"Mau di bantu ngak."


Aku berdecak kesal dan berjalan ke arah dapur. Ck. Terpaksa baku harus mengikuti perintahnya.


Aku memasak mie instan.


Aku ngak mau repot. Yang penting siap masak.


Setelah selesai aku pergi berjalan ke meja Jessen dan memberikan mie nya. Aku duduk di hadapannya.


"Udah kan. Terus aku pulang gimana?"


"Tunggu aku selesai makan."


"Hem.."


Aku pun duduk sambil mengarahkan pandangan ku ke segala arah sudut rumah. Dari pada aku melihatnya terusan, nanti aku di pikir ganjen pula.


Lama lama aku berpikir. Kenapa sebelum pulang ngak jalan jalan aja? Mumpung ada di luar negeri ya kan... Hehe.


"Kita jalan jalan dulu kuy.."


"Ngak."


"Sebentar aja." Aku memohon.


"Ngak."


"Ck. Pelit banget."


"Aku tak peduli."


Ish... Ngeselin.


Dia pun selesai dengan makanannya.


Dia berjalan menuju sofa ruang tamu dan duduk di sana. Dia melihatku dan menepuk nepuk bagian di sebelahnya. "Duduk sini." Katanya datar.


Deg


Jessen meletakkan kepalanya di pundakku dan menutup matanya.


Aku hanya diam tanpa kata.


Kemudian dia memelukku. Membuat jantungku semakin berdegup kencang.


"Kau tadi di rumah memikirkanku kan?"


Aku menggelengkan kepala. "Ngak." Kataku berdusta. Ya kali aku bilang iya... Aku rindu kamu...  Cuih... Ngak mungkin!


Dia menatapku datar. "Jangan bohong."


"E engak."


"Val." Dia semakin tajam mengintimidasiku ku.


Aku menatap ke arah lain. "Engak loh."


"Aku udah paham logatmu kalau kau bohong. Kau lupa." Jelasnya.


Deg.


Aih.. bener juga. Udah berapa kali aku tercyduk berbohong dengan kebodohan yang sangat tak estetik.


Aku menyerah. "Iya. Tapi aku udah melupakanmu. Paham."


"Kau berbohong lagi."


Ntah kenapa rasaku semakin memanas karena malu.


Dia sedikit terkekeh. "Kok wajahmu memerah."


"Apaan sih." Aku pun menjauhkan badan darinya, tapi tangannya langsung kembali meraihku dalam pelukannya.


Dia menatapku dalam. "Aku tau gimana caranya biar kau pulang."


"Gimana?"


"Kau harus berbuat sesuatu padaku yang sangat ingin kau lakukan. Karena kau datang dengan membawa kerinduan dan kau dapat pulang kalau kau melepas kerinduanmu itu." Jelas Jessen.

__ADS_1


Anjritt... Sumpah... Malu maluin banget... Dia bahkan mudah sekali mengetahui aku sebegini rindu padanya.


"Aku ngak rindu samamu!"


Dia melepaskan dekapannya, menarik badannya kembali menjauh dari padaku. "Terserahmu, kalau kau tetap keras kepala."


Dia bangkit berdiri dan hendak pergi. "Aku mau tidur. Jangan ganggu."


Eh... Kok dia mau pergi...


Aduh... Gimana ini?!


Hem...


Arh... Udahlah. Terpaksa aku mengalah.


"Iya iya. Jangan pergi tidur dulu dong."


Dia masih melanjutkan langkahnya. "Telat. Aku udah malas."


"Ja jangan gitu dong Jes."


Dia tak menggubris dan tetap berjalan dengan wajah datar.


Aku langsung berlari dan meraih tangannya. "Iya."


"Iya apa?"


"Ya itu.."


"Itu apaan?"


"Iya aku rindu. Puas."


"Yang jelas lah, rindu sama siapa?" Dia menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum miring.


"Ish.. Rindu kau lah. Siapa lagi." Cetusku.


Dia membalikkan badannya dan mendekatkan wajahnya padaku. "Terus?"


"Ya, aku ngak tau lagi. Memangnya aku mau ngapain lagi?"


"Bawa rindu, lepas rindu... Paham." Dia kembali mengingatkan ku yang sebenarnya aku juga masih ingat.


Aku memeluknya, mendekapnya erat. Rasanya aku tak ingin melepaskan pelukan ini.


Jessen memegang tanganku dan mengarahkannya pada bahunya, sedang dia memeluk pinggangku.


"Cuma peluk?" Katanya tersenyum kecil.


"Iya lah."


Dia mendekatkan wajahnya ke arah wajahku, semakin dekat dan hampir mengikis antara jarak kami.


Aku menutup mataku.


Terdengar suara tawa kecil darinya membuat aku membuka kembali mataku.


Dia mengusap kepala. "Cuci tu otak." Hinanya.


Sial... Ini hal yang lebih memalukan lebih dari biasanya... Shittt


Dia semakin erat memelukku memelukku dan menempelkan dagunya pada bahuku. "Makasih udah merindukanku."


Aku hanya diam dan merasa sangat senang di perlakukan Jessen seperti ini.


Rinduku terlampiaskan dengan kebahagiaan.


"Tapi ku mohon. Jangan pernah lagi mengingatku. Itu akan membuatmu semakin tersakiti. Lupakan aku."


Aku tersentak mendengar kalimat yang keluar dari mulut Jessen. Kalimat itu sangat menusuk sampai ke tulang.


Syut...


Aku seperti terasa mengambang.


Bush...


Angin dan cahaya membuatku menutup mata. Sesaat kemudian aku membuka mataku.


Aku telah kembali ke kamarku.


Air mata ini menetes. Sebegitu inginkah Jessen menjauh dariku. Kenapa aku tak pernah mengerti kalau dia takkan bisa jadi milikku.


Begitu naifnya aku mencintaimu Jessen... Aku terlalu kanak-kanak dalam menghadapi percintaan sehingga aku tersakiti seperti sekarang ini.


Cih. Dasar bego.

__ADS_1


__ADS_2