Magic You

Magic You
Chapter 87


__ADS_3

Catatan penulis:


Jangan lupa di like komen di vote ya... Kalau ngak ada vote di beri hadiah juga boleh...


Happy reading guys 🤗❤️


Just info:


-IG: gracysvalsa


-WP: GracyaValSa


Kalau mau di follo... Monggo... Hehe...


 


Di perpustakaan aku hanya diam. Banyak pikiran yang ku pikirkan sekarang.


Aku melihat Jessen yang ada di hadapanku.


Move on?... Well sebenarnya apa alasanku harus move on darinya?.... Karena Tessa?


Masa kami musuhan cuma karena cowok.. ngak etis banget.


Aku mengaruk kepalaku. Kenapa aku seprustasi sampai sebegini sih?!.... Pusing aku!


Ku telungkup kan wajah ku ke dalam lipatan tanganku yang ada di atas meja.


Aku harus apa?....


Dalam hati ku yang terdalam sebenarnya aku sangat ingin Jessen kembali padaku, tapi di sisi lain aku tak ingin teman karibku menjadi musuhku...


Aku harus pilih antara pertemanan atau cinta...


Aih... Setress....


Ktak. Aku memekik kesakitan saat ada seseorang yang menyentil keras kepalaku. "Aduh..."


Aku mengangkat kepalaku dan menatap nya tajam. "Apasih Jes, lagi mikir juga!"


"Gagal." Ucapnya datar.


"Huh?"


"Kau bicara." Sambung nya.


"Wait... What? Hold on hold on. Kau yang cari gara gara menyentil jidatku! Ya wajar lah aku bilang aduh..."


"Janji tetaplah janji."


"Ish... Ngak lah Jes..."


Dia acuh dan kembali membaca bukunya.


Ish... Aku pun berjalan ke sebelah nya. Ku turunkan bukunya. "Ngak bisa gitu Jes."


Dia menarik tanganku.


Deb. Dia memelukku.


Badanku membatu dan mataku terbelalak.


Di dia... Me memeluk ku...


Aapa dia mulai menyukaiku?


Senyuman terlukis di wajah ku. Aku sangat senang.


Srek srek... Dia mengibas ngibaskan tangannya pada bahuku. Kemudian dia melepaskan dekapannya dan kembali membaca buku. "Ada daun di punggung mu." Katanya sambil menunjuk ke bawah tanpa melihat nya.


Aku melihat ada daun di bawah sana.


Jleb. Sial. Aku yang baperan.


Aku memukul jidadku. Bisa bisanya aku pikir dia menyukaiku lagi... Astaga...


"Kenapa? Udah mikir yang macam macam huh?" Ledeknya.


Aku menatap nya sinis. "Euh... Ngak lah yau... Eukkk jijik kali." Ucapku tak mau kalah.


"Kau pikir aku bodoh ya. Kau tadi tersenyum."


"Kkau tau dari mana, kau kan ngak liat?" Aku coba membela diri.


"Setelah aku memelukmu. Wajahmu masih tersenyum. Dan aku masih bisa lihat pakai ekor mataku saat aku baca buku tadi."


Jleb...


Sakit hati karena sikap dingin Jessen ❎

__ADS_1


Malu karena kebegoan sendiri ☑️


Hedeh... Ntahlah. Udah di mana pun wajah ku aku juga ngak tau... Bodo amat lah.


Jessen menutup bukunya, meletakkan nya di meja. Dia menatapku datar dengan wajah yang di tumpukan pada tangannya yang tegak menyiku di atas meja. "Kalau di perhatikan lama lama..."


Deg deg... Deg deg... Dia mau ngomong apa?...


"Kau ternyata bego ya."


Jerejeng... Ku menangissss...... (🙋 Autor: angep aja ini back sound lagu nya)


Tega bener yak...


"Eh. Jessen. Aku ngak takut samamu. Lagipun ngapain juga aku harus menuruti mu. Mama bukan papa bukan bahkan, ish..." Jerit ku.


Aku menunjuk nya. "Eh. Sekalipun kau mengancamku. Bodo amat. I don't care... Understand!"


Cih... Dia pikir dia siapa...


Aku bangkit berdiri. "Dengar, sampai kapanpun aku takkan pernah membutuhkan mu. Untuk apa aku harus mematuhi mu. Peraturan sekolah aja sering ngak aku patuhi, kok cemana..."


Aku kembali ke bangku ku yang ada di hadapannya mengambil tasku.


Ku gandeng tas ranselku di punggung. "Aku pergi. Cau..."


Aku pun pergi.


Cih. Rasain. Aku mah bebas sekarang tanpa buku ajaib. Well... Aku harus lebih bahagia lah.


Aku menggunakan ojek online untuk pulang ke rumah ku. Males banget jumpanya...


Setelah sampai di rumah aku membaringkan badan ku dan langsung tidur.


Membayangkan hari ini membuat tulang ku jadi keropos. Lebih baik aku istirahat aja sekarang.


***


Hari ini benar berubah. Tessa sama sekali tak berbicara padaku dan bahkan dia pindah tempat duduk, membiarkan aku duduk sendirian sedang dia bercanda gurau dengan teman teman lain.


Sepertinya Tessa juga telah membicarakan sesuatu tentang diriku, sedang teman teman yang lain memandang ku jengkel dan kesal.


Hem... Aku terasingkan sekarang.


Tet tet... Jam istirahat berbunyi. Aku yang merasa memang sudah terasing kan pun keluar. Aku tak suka di lihati seperti orang jahat.


Aku duduk di halaman belakang sekolah.


Srek srek... Terdengar suara langkah kaki yang bergesekan dengan rumput.


Aku mendongak dan melihat sekeliling.


Kak Rio?!


Wow... Udah pindah ke sini rupanya.


Aku mah diam saja. Dia berjalan melewati ku dan berjalan menuju gudang.


Aku membuang nafas berat. Seingat ku, Bukankah kak Rio adalah jodoh Tessa karena akhirnya mereka saling menyukai... Tapi kenapa sekarang Tessa malah menyukai Jessen...


Dunia ini sangat tidak adil.


"Dik." Panggil seseorang.


Aku kembali mendongak. Kak Rio memanggil ku. "Iya kak?"


"Ngapain di situ sendirian?"


Aku baru teringat, kak Rio ngak boleh suka denganku. Cukup Tessa yang dia sukai, jangan aku.


Hem... Gimana caranya.... Aha! Aku tau!


Ku pasang wajah datar dan menakutkan. "Lagi berbincang dengan temanku."


"Teman? Di sini kosong."


"Di sini ramai kak. Tapi kakak aja yang tidak melihat mereka."


Dia melihat sekeliling, kini wajahnya sedikit pucat. Hehe. "Maksudnya?" Tanyanya.


Aku menunjuk wilayah kosong, kanan kiri dan atas secara menyeluruh.


"Mereka ada di sini." Kataku, kemudian aku menunjuk ke arah nya. "Bahkan ada beberapa di belakang kakak." Aku menakutinya.


Matanya terbelalak. Dia takut denganku karena aneh dan terlihat seperti indigo.


Dia memegang tengkuknya dan melihat kanan kiri waspada. Dia sedikit batuk yang di buat buat. "Ehem. Em... Saya berangkat dulu ya. Kkamu bermain mainlah dengan mereka."


Dia tersenyum miring horor agar semakin membuat nya takut. "Iya kak."

__ADS_1


Dan.... Dia langsung cabut dong... Wkwk...


Baguslah. Jadi aku ngak perlu pusing lagi memikirkan nya. Terutama sewaktu dulu yang membantu ku jauh dari kak Rio adalah Tessa, kalau aku kembali berteman dengannya dan dia suka padaku, siapa yang akan membantu ku menjauh darinya?


Aku memandang langit.


Benar kata nenek itu, hariku akan berubah... Tidak seperti waktu ada buku ajaib...


Aku menghembuskan nafas berat lagi... Menyedihkan.


Ku telungkup kan lagi wajahku di dalam kakiku yang melipat di hadapan wajahku.


Rasanya aku ingin menangis. Tapi... Untuk apa aku menangis...


Aku tenggelam dalam bayanganku sendiri. Serasa sangat hampa berkecambuk dalam hati.


"Heh." Panggil seseorang membuat ku terkejut dan mendongakkan kepala.


"Jessen?!... Aih... Buat kaget aja."


Dia duduk di sebelahku dan menatapku datar.


"Kenapa kau datang ke sini?" Tanyaku memecah keheningan.


Dia masih tak menjawab dan hanya menatap ku datar.


"Aku lagi mau sendiri. Kau balik aja sana ke kelasmu, atau ke perpus atau... Kemana aja kek..." Kataku.


Dia pindah tempat duduk dan sekarang duduk di hadapan ku. Menatap ku dengan serius.


Aku membuang wajahku. "Ngapain. Udah sana aja." Usirku.


Oh. Aku baru paham. Pasti dia mau nagih janji.


"Aku ngak mau jadi babumu. Fix.." ucapku datar.


Dia diam sejenak. Kemudian dia bangkit pergi dan gitu aja.


Cih. Aneh.


Dasar ngak jelas.


Aku kembali melipat kakiku dan mendekapnya erat di hadapanku. Kepalaku ku senderkan pada lututku dan kembali merenung.


Hem.... Gini amat lah hidup yang sebenarnya.


Ternyata aku baru sadar, buku ajaib itu berguna juga.


Walau sedikit nyebelin, tapi punya kebaikan juga.


Karena capek dengan berpikir seharian aku ngak sengaja tertidur.


...


Ktok.


Kepalaku seperti di tokok. Aku mendongak.


Jessen tengah duduk di hadapan.


"Apa lagi." Ucapku cuek.


Dia meletakkan sebungkus... Es krim di hadapanku di atas dengkulku. Huh?


Dia memalingkan wajahnya datar. Kemudian dia bangkit berdiri dan kembali pergi meninggalkan ku.


Aku hanya diam dan memperhatikan dia yang pergi menjauh dengan bingung.


Dia... Kenapa?


Aku melihat es krim yang diberikan nya. Senyuman pun melukis di wajah ku.


Hem...


Aku pun membuka bungkus nya dan kemudian memakannya. "Em... Manis..."


Dia ternyata sangat baik. Aku ngak sangka.


Oo..oO... So sweet....


Kemudian mataku tertuju pada bungkus es krim yang di berikan nya tadi.


Em. Ada kertas penanda buku yang menempel di sana.


Memakannya berarti menyetujui jadi babuku. Besok ada kegiatan ekskul debat bersama pak Saroso, jangan lupa bawa 2 box hps yang ada di kantor guru. Kalau ngak kau lakukan nilaimu akan terancam.


SIAL! ISH....


Dia tau kalau bapak itu ngajar kelas kami, di tambah lagi bapak itu sulit sekali memberi nilai tinggi... Aih... MENGESALKAN!!!!

__ADS_1


"JESSEN... DASAR KAU BEDEBAH!!!!!"


__ADS_2