Magic You

Magic You
chapter 41


__ADS_3

Jessen menatapku datar. "Masuk ke kamarku. Dia aku yang tangani."


"Kau jangan bilang aku di rumahmu ya! Nanti dia kira aku ini wanita apaan..." Tegasku.


Jessen membuang wajah malas. "Hm."


Aku langsung pergi ke kamarnya dan menutup kamar berharap mereka tidak ke sini.


Aduh....


Aku menunggu.


Srekk.


Terdengar suara pintu depan apartemen Jessen yang terbuka.


Degdeg...


Jantungku semakin berdegup kencang.


"Mana Valen?" Suara Ken terdengar berdengung sampai kamar.


Astaga...


"Ini apartemenku." Sambung Jessen.


Bagus Jes.


"Aku tak percaya. Aku mau ke kamarmu."


DAMN...


Oh my God, Oh my God!


Aku harus ke mana!


Aku berjalan tanpa arah di kamar Jessen.


Mampus aku... Mampus!


Ah.. Aku tau! Sembunyi dalam lemari!


Aku langsung bersembunyi dalam lemari Jessen dengan cepat. Duduk di dalamnya dan menutupi badanku dengan berbagai baju.


Sreekk


Pintu kamar ini terbuka.


Ktak


Kemudian tertutup lagi.


"Dimana sopan santunmu. Kau mau masuk ke tempat pribadiku." Kata Jessen.


Sreek


Pintu terbuka lagi.


"Jangan cari alasan." Terdengar sahutan Ken.


Jantungku semakin berkedut tak karuan.


Aku ngak tau lagi harus apa.


Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.


"Val!" Panggil Ken.


Njir


"Val!"


Terdengar suara Ken seperti mengelilingi kamar.


"Cih. Benerkan dia ngak ada." Ucap Jessen datar.


"Denger ya. Kau jangan pernah deketin Valen." Kata Ken.


"Dia. Pacarku." Jessen menekan setiap kalimatnya.


"Pacar? Cih." Ken merendahkan.


Suara kaki terdengar menjauh.


Dan pintu pun tertutup.


Fuhhh...


Aku bisa bernapas lega...


Tapi gila ya si Jessen!


Bisa bisanya dia membiarkan Ken masuk ke kamarnya, sedangkan dia tau aku di sini!


Lihat aja. Setelah ini aku akan...


Srek


Hah? Ken datang lagi?!


Sumpah demi apa?


Crit.


Pintu lemari ini terbuka. Aku tak sanggup melihat ke arah seseorang yang membuka pintu. Aku yakin ini pasti Ken.


Dia menyingkirkan tumpukan baju yang menutupi tubuhku.


"Denger Ken aku bisa jelasin. Aku di sini bukan ngapa ngapain sama Jessen sumpah! Aku bahkan masih perawan! Kalau ngak percaya kita bisa langsung cek ke dokter! Sumpah aku ngak ada ngapa-ngapain sama Jessen!" Kataku tanpa melihatnya.


...


Kok dia ngak ada merespon?


Aku mengintip dengan sedikit mendongakkan kepala.


Aku melihat Jessen.


"Jessen!" Aku langsung bangkit berdiri dan keluar dari dalam lemari. "Heh. Kenapa tadi kau membiarkan dia ke kamar?! Kau kan tau aku di sini!"


Dia menjitak kepalaku. "Kalau aku semakin menghalanginya masuk. Dia akan semakin curiga dan semakin yakin kau ada di sini." Dia menatapku datar.


Bener juga yah.


Si Jessen memang bijak.


Tapi tetap juga aku shock Ken masuk ke kamar tadi. "Tapi kan aku terkejut dia datang.. Untung aku sembunyi."


"Kalau kau tak lakukan itu berarti kau sangat bego." Dia menyentil jidadku. "Itu intinya."


Aku memegangi kepalaku.


Dia duduk di tempat tidurnya, menatap lurus ke depan.


Aku berjalan ke arahnya. Dan kembali memastikan keadaannya dengan memegang jidadnya.


Dia sudah tidak panas lagi.


Syukurlah.


"Aku masih sakit." Katanya.


Aku menaikkan sudut bibir atasku kesal. "Udah ngak panas kok. Jangan tipu-tipu ya."


Dia kembali sedikit terbatuk.


"Heh. Kau ini demam apa batuk sih?"


Dia menatapku lurus. "Dua duanya."


"Ck." Aku pun mengambil obat Paracetamol dan OBH kemudian memberikannya pada Jessen. "Nih minum."


"Eh bego. Airnya mana?"


Hem aku lupa.


"Sabar." Aku pun pergi mengambil air dan memberikannya ke Jessen.


"Telat. Aku udah makan tanpa air."


Ish... Kenapa ngak bilang.

__ADS_1


"Hari ini kan libur. Aku mau keluar." Kataku.


Dia berdiri dan melihatku acuh. "Terserahmu. Kalau kau jumpa sama si Ken. Itu deritamu." Dia berjalan melewatiku.


Eh iya ya. Kalau aku jumpa sama Ken gimana?


Hem. "Ya udahlah aku di di sini aja."


Jessen mengangkat bahunya acuh sambil terus berjalan membelakangiku.


Aku pun mengikutinya dari belakang.


Dia duduk bersender di sofa. Aku pun duduk di sebelahnya, dia melihat ke arahku.


"Kenapa?" Tanyaku.


Dia memalingkan wajahnya sambil menggeleng.


"Btw. Aku bosan. Kau ada ngak film yang enak?" Tanyaku.


"Aku tak ada film apapun."


"Jes Jes. Kau janganlah terlalu serius sama semua hal." Aku menunjuk Jessen dari atas sampai bawah. "Lihat.  Aku aja lihat kau udah seperti robot bernyawa. Terlalu mengikuti aturan, membosankan."


Aku pergi mengambil laptop di kamar dan kembali duduk di sebelah Jessen. Aku meletakkan laptop di meja yang ada di hadapan kami. "Nih. Kita tonton film pembantaian. Wuahaha."


"Aku ngak suka."


"Oh oke. Kalau gitu film misteri?"


"Ngak."


"Romans?"


"Ngak."


"Terus apa dong?"


"Aku ngak suka genre apapun."


Aku mengusap wajahku prustasi. Aku menarik nafas dan mengeluarkannya berat. "Fix kita nonton horor. Ngak ada tapi tapi. Soalnya aku lagi demen nonton horor sekarang!"


Aku turun dari sofa dan duduk di bawah.


Jessen hanya menatapku dengan menaikkan satu alisnya.


"Ngak enak tau nonton di atas. Di bawah lebih seru. Wuahaha." Aku sangat antusias menonton film yang mau kutonton sekarang.


Aku cari film horor yang sama sekali belum pernah kutonton. Aku mengambil ponselku yang ada di sakuku. "Oke Gugel. Film horor terseram yang berasal dari kisah nyata."


Ponselku meloading. "The Exorcism of Emily Rose... Hem, menarik." Ujarku.


"Eh jangan itu. Itu horor banget filmnya." Cetus Jessen.


He hei... Dia takut. Awokawok.


"Hemm kenapa Jes. Kan seru, aku bahkan pingin film yang super duper menyeramkan sekarang. Wuahaha."


Blup


Kepalaku di geplak pake bantal. "Ketawa mulu. Di bilangin juga."


Aku tertawa lepas. Aku menarik tangan Jessen. "Ayolah Jes. Aku lagi pingin banget nih."


Dia pun turun dan duduk di sebelahku dengan wajah datar. "Hanya untuk hari ini."


"Yeay... Wuahaha. Ini pasti seru." Jeritku. "Eh tunggu tunggu. Kita pesan makan dululah. Kita belum makan loh dari pagi." Aku melihat Jessen dengan mata berbinar. "Kita ngak usah masak ya. Beli aja okey."


Jessen jadi menatapku kesal. Kemudian berdiri. "Aku akan nonton kalau kau masak." Dia duduk di atas sofa dengan menutup mata. "Cepat."


Lahh, males banget aku.


Ya udah deh aku masak.


Aku pun pergi ke dapur, kemudian melihat Jessen. "Jes.. aku mau masak apa?!"


Jessen bangkit berdiri dan berjalan ke arahku. Dia membuka kulkas. "Di sini ada ayam." Dia menunjuk ke arah sisi lain dari aku berdiri. "Di sana ada tepung goreng." Dia menunjuk ke arahku. "Masak fried chicken versimu."


"Ck. Iya aku ngak paham."


Jessen mengambil ayam yang ada di dalam kulkas, dia memasukkannya ke dalam satu wadah dan mencucinya. "Ini kan udah di potong potong. Jadi tinggal di bersihkan." Dia pun datang mendekatiku. Dia mengambil tepung yang ada di dekatku. Menyiapkan segala sesuatunya. "Setelah itu... Bla bla bla..." Aku tak fokus lagi Jessen ngomong apa.


Tapi dari tadi Jessen menyiapkan segala sesuatunya, dia terlihat sangat tampan.


Tapi aku serius. Jessen ganteng banget.


Cipratan air mengenai wajahku. "Heh. Aku jelasin, ngapain kau senyam-senyum."


Eh masa?


Aduh Val... Buat malu aja.


"Udahlah. Ngak perlu di bahas." Kataku untuk menaikkan harga diriku.


Dia menyodorkan ayam yang udah di lumuri tepung. "Nah ini kau goreng."


"Iya iya."


Aku pun menggoreng ayam ini.


Sedangkan Jessen memotong motong timur sebagai sayurnya.


Setelah selesai aku pun membereskan semua makanan di meja makan.


Sebelum aku duduk Jessen menjewerku. "Aww." Aku memegangi kupingku kesakitan.


"Pergi dulu mandi."


"Aih. Makan dulu lah Jes." Pintaku.


"Mandi. Sekarang."


Ck. Aku pun pergi mandi.


Ah.. Jessen nyebelin.


Setelah kami selesai mandi.


Kami?


Iya kami. Tapi di kamar mandi yang terpisah ya... Jangan mesum.


Kami pun ke meja makan dan melahap makanan kami.


Aku memainkan ponselku untuk memesan makanan ringan untuk menonton nanti. Kan ngak enak sih kalau nonton tanpa Snack.


Setelah selesai makan aku mencuci piring dan kembali ke ruang tamu yang ada laptopku sebelumnya.


"Sabar ya Jes. Aku tadi pesan Snack untuk di makan selagi kita nanti nonton."


"Hem." Jawab Jessen acuh.


***


Dua jam lebih lamanya kami menonton. Dan aku menyesal menontonnya, film ini di luar dugaanku. Ini sangat seram. Dari tadi aku terus merinding. Aku memaki diriku sendiri kenapa aku aku tadi sok sok-an mau nonton ini. Sekarang aku jadi parno-an.


"Pucatkan mukamu sekarang." Hina Jessen, yang padahal dia juga sama takutnya denganku.


"Ngak usah ngejekin aku. Kau sendiri lebih pucat dari pada aku ya." Aku tak mau kalah.


Aku melihat jam. Udah jam 5. Waktu sedikit terkuras saat menunggu Snack datang. Dan sebentar lagi malam.


Aku jadi takut sendiri.


Wait.. nanti malam kan aku tidur di sofa ini sendirian.


Waduh. Malah masih teringat banget lagi pas pemeran ceweknya kesurupan.


Aih...


Gimana kalau...


"Aku mau minum dan langsung ke kamar." Kata Jessen singkat.


Dia pergi ke meja makan dan menuangkan segelas minuman di gelas.


Aduh.. Gimana kalau dia langsung ke kamar dan tutup pintu.


Dia melihatku. Aku jadi tersentak.


"Aku nanti tutup kamar. Kau jangan lama lama tidur. Biar ngak di ganggu sama roh jahat." Kata Jessen membuat bulu kudukku menegak.

__ADS_1


Aku mematikan laptop dan berdiri. "Kau pikir aku takut apa?! Engak ya!" Aku menguatkan diriku. Sejujurnya aku sangat takut sekarang.


Dia melanjutkan minumnya.


Dia selesai makan dan beranjak berjalan pergi menuju kamarnya.


"He eh... Kau ngak mau minum lagi dulu? Atau baca buku gitu di sini? Kan terangan di sini... Kalau baca di tempat yang gelap itu ngak baik loh. Mata bisa rusak." Aku mencari alasan biar dia ngak jadi ke kamar.


"Kamarku terang." Dia kembali berjalan.


Aku menyusulnya dan berdiri di hadapannya menghadangi langkahnya.


"Em. Ajarin aku Farmakologi sekarang dong." Alasanku yang lain.


Please please... Mau ya...


"Aku malas."


Waduh... Apa lagi nih alasanku sekarang.


Duar...


Terdengar suara petir yang menyambar dari luar. Kemudian di iringi suara hujan yang mengguyur lebat.


Sial


Kenapa harus hujan di saat seperti ini sih!


Dia berjalan mendahuluiku dan masuk ke kamarnya. Dia hendak menutup kamarnya.


"Oke oke. Aku akui. Aku takut." Pekikku.


Dia masih memegang gagang pintu dengan sedikit terbuka. "Trus?"


"Kkau jangan tinggalkan aku sendiri lah." Sambungku.


Dia membuka pintu. Dan bersender pada kusen pintu dengan tangan melipat di dada. "Itu salahmu. Tadi aku udah jelasin dan kau tak percaya. Tanggung sendiri akibatnya."


Aku berjalan mendekati Jessen. "Jangan gitu lah Jes. Aku kan bercanda."


"Intinya kau tetap tidur sendiri. Aku hanya membuka pintu ini."


Ish...


"Emm. Ya udahlah." Aku menunjuknya. "Tapi ingat ya. Jangan di tutup pintunya."


"Hem."


Aku pun pergi ke sofa dan berusaha menenangkan diri.


Aku menghidupkan ponselku.


Duarr


Petir yang menyambar semakin menjadi jadi.


Aku melihat kamar Jessen.


Pintunya tertutup.


Aku langsung berlari ke kamarnya dan mengedor ngedor pintunya.


"Jes. Jes. Buka Jes."


Seseorang menarik pelan rambut belakangku.


Deg deg deg


"Aaaaa." Aku menjerit. Doa langsung kulantunkan dalam hati.


Dep


Lampu ruangan seketika mati karena hujan deras.


"Jessen buka pintunya!" Aku mengetuk terus pintu Jessen dengan keras.


Seketika seseorang memelukku dari belakang.


"SETAN..." Jeritku.


"Mana setannya?!" Orang yang tadi memelukku pun menjerit tak kalah keras dari padaku ketakutan.


Aku melihat ke arahnya. "JESSEN."


Aku melihat dia menutup mata ketakutan.


Ktep


Lampu pun seketika menyala. Jessen membuka matanya perlahan dan melihatku yang juga dari tadi menatapnya bingung.


Menyadari itu dia langsung berdiri tegap dan melepaskan pelukannya.


Dia melihat ke sembarang arah.


"Kau.. sejak kapan ada di sini?" Tanyaku.


"Aku tadi ngambil minum di dapur. Dan melihatmu mengetuk pintuku. Aku mau negor kau tadi. Tapi, lampu mati."


Aku tertawa lepas. "Jadi kau juga ketakutan makanya memelukku tadi, huh?"


Dia menatapku datar. Dan kembali berjalan ke dalam kamarnya.


"Hati-hati di dalam ya Jess." Aku mencoba menakutinya. Gantianlah masa dia aja yang bisa balut nakutin aku.


Dia membalikkan badan. "Kalau gitu kita tidur sama."


Hah?


Dia menarik tanganku.


"Eh. Ngak ada! Aku ngak mau." Aku menepis tangannya.


Emm. Tunggu tunggu, Dari pada aku ketakutan juga semalaman ini dan belum lagi kalau tiba-tiba lampu mati lagi gimana?, lebih baik aku ikut aja.


Dia membalikkan badan membelakangiku. "Terserah. Aku mau masuk."


Aku memegangi salah satu tangan Jessen. "Aku.."


Dia melihatku sekilas.


"Iya iya. Aku ikut."


"Kesempatan habis. Kau terlalu lama menjawab." Dia kembali berjalan.


Aku kembali memegang tangannya. "Jes. Hehe. Maafin aku ya. Please."


Dia memutar bola matanya dengan ekspresi datar. "Cepatlah." Katanya.


"Oke." Kataku girang.


Aku dan Jessen pun masuk ke dalam.


Aku duduk di meja belajar Jessen. "Aku tidur di sini. Dan kau tidur di ranjangmu."


Dia menatapku datar dan berjalan ke arahku. "Aku belum mengantuk." Dia duduk di sebelahku dan membuka buku. "Kita belajar Farmakologi."


"Hah?"


Dia menatapku datar. "Kau yang bilang mau belajar tadi."


Ck. "Hem. Iya iya."


Aku pun berakhir dengan belajar bersama Jessen.


Gila ngak tu. Baru siap dengan ketakutan karena Film horor dan sekarang di suguhkan dengan pelajaran yang mencekam. Dah lah...


***


Setelah selama 2 jam aku belajar. Badan ini terasa sangat pegal. Aku merenggangkan badanku. Kemudian kembali pada posisiku semula. Kemudian aku meletakkan kepalaku di atas tanganku yang kulipat di meja.


"Udah kau tidur aja Jes. Nanti kau makin sakit pula." Ujarku.


Dia menatapku dalam-dalam kemudian memelukku.


Deg


Dia menutup matanya.


Deg


Deg

__ADS_1


Wait what?


"I love you." Bisik Jessen.


__ADS_2