Magic You

Magic You
Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Catatan penulis:


jangan lupa tinggalkan jejak yaa


---------------------------------------------------------------------------


Hari ini hari reunian antar teman-teman kedua orang tuaku. Dan aku sangat bosan dengan ini. Kenawhy? Karena pasti aku bakalan di banding bandingkan dengan Fian yang notabenenya anak pintar cerdas nan jenius yang menjadi primadona setiap keluarga.


Ck. Malasnya...


"Dio... Udah siap nak?" panggil seseorang dari luar kamarku. Itu pasti mama.


"Udah ma," jawabku sambil melangkah keluar kamar, namun sebelum itu mama terlebih dahulu masuk ke dalam kamarku. "Ganti pakaian mu itu. Pakai kemeja dan jas dong. Gimana sih kamu."


Aku berdecak kesal.


"Aduh... ribet ma.. pakai kaos juga ngak masalah kali ma. Kan cuma pertemuan sama beberapa teman mama,"


Mama langsung berjalan ke arah lemariku dan mengambil pakaian sekehendaknya, Mama menyodorkan pakai pilihannya. "Pakai ini."


Mau tak mau aku harus menerima dari pada terkena repetan Mama. "Iya mamaku tercintaaaa." Ucapku terpaksa.


Mama mengangguk dan keluar kamar sambil menutup pintu.


Aku membuka pakaianku. Mulai dari baju dan celanaku.


Aku mulai memakai baju kemeja coklat dan kemudian celana keper hitam dan memasang tali pinggang. Ku ambil jas hitam yang ku gantung tadi setelah mama memberikannya.


Aku berkaca sambil mengibas ngibaskan rambutku dengan tangan.


Cletek


Pintu kamar terbuka, aku menoleh ke arahnya. Gia.


Aku terdiam sejenak melihat dirinya yang tampak cantik. Dia lebih anggun dari biasanya dengan dress coklat di bawah lutut dengan lengan se-siku. Kulit Gia yang putih langsat sangat cocok dengan pemilihan warnanya.


"Lama amat sih! Cepetan. Udah pada kumpul di bawah mau langsung berangkat." Katanya dengan seenaknya masuk ke dalam kamarku.


Pekiknya membuat aku buyar.


Ish. Cerewetnya masih sama saja. Nyebelin.


Well, karena kami tetanggaan jadi wajar saja keluarga kami sering berangkat sama.


"Eh sembarangan masuk kamar cowok. Nanti di apa apain nangess." Ledekku.


Dia berkacak pinggang, "Apa yang susah? Kalau kau coba apa apain tinggal ku tendang aja." Dia mengangkat tangannya dengan wajah sombong, "Bukannya sombong ya.. Aku udah lama belajar bela diri silat. So.. kalau melawan kau, ya kecil lah." Katanya santai.


Aku tersenyum miring, "Sombong benar.."


Dia mengedikkan bahunya. "Bukan sombong. Cuma ngasih tau aja."


Aku kembali melihat ke arah kaca memperhatikan penampilanku. "Eh Gia. Sini deh!" Panggilku heboh.


Gia datang menghampiriku dan melihat ke arah kaca yang tengah ku pandang. "Kenapa?"


Aku menunjuk kaca, "Gila. Ganteng banget aku!" Kataku bangga.


Dia menaikkan sudut bibirnya jijik, "Idih. Sok sok-an. Gantengan lagi Syahrukhan."

__ADS_1


Aku terkekeh, "Is is is... Pecinta anak indi."


"Ih.. ngak ya. Aku mah pecinta indo."


"Itu tadi bilang syarukhan."


"Ya suka suka saya. Kenapa ananda protes?"


Aku mencubit pipinya geram, "Ih..."


Dia menepis tanganku yang mencubitnya tadi. "Sakit bego."


Dia menatapku tajam, "Udah cepetlah. Nanti malah kena marah."


Aku melipat tanganku di dada, "Aku udah siap Gia.."


"Apanya yang udah siap. Rambutmu aja berantakan." Katanya kemudian merapikan rambutku dengan tangannya dengan wajahnya semakin mendekat.


Deg deg... Deg deg...


Sial. Kenapa aku jadi sering deg degan gini?


"Woy. Kenapa?" Tanyanya.


"Em. Itu bibirmu warnanya bagus." Aku menggeleng, "Maksudku warna lipstick nya cocok." Tambahku.


Aih. Bego. Ngapa jadi bahas bibir sih?!


Dia menatapku datar, "Apa pula. Aku bahkan ngak mau dandan tadi. Ini karena di suruh mama." Katanya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Loh kenapa ngak suka. Cantik kok." Ucapku.


"I-iya cantik. Cantik kalau di lihat dari lubang pipet." Kataku mengklarifikasi kalimatku tadi.


Fuh.. untung aku bisa nge-les..


Ktak.


Dia menyentil jidatku kuat, "Aww." Pekikku.


Dia menjulurkan lidahnya mengejekku, "Blee. Rasain."


Dia pergi meninggalkanku.


Aku tersenyum sambil masih melihatnya menjauh dari pandanganku.


Dasar cewe jadi jadian.


***


Semua keluarga berkumpul. Ada keluarga Gia, Fian dan beberapa keluarga lainnya yang menghadiri pestanya. Dan.. banyak juga wanita cantik. Hehe


Setelah selesai makan malam tiba saatnya untuk berdansa bersama pasangan.


Dan lihatlah. Aku akan langsung menggandeng Vye..


Aku langsung berjalan mendekati Vye dan mengulurkan tanganku, "Jadilah pasangan ku berdansa."


Dia tersenyum kecil dan kemudian menerima uluran tanganku, "Baiklah." Jawabnya.

__ADS_1


Kau tanya aku senang atau tidak?


Tentu senang sekali.


Musik di alunkan dan setiap pasangan menari dengan pasangannya dengan romantis. Begitupun aku dan Vye.


Vye sangat cantik, anggun dan menawan. Siapa yang dapat menolak pesonanya?


Kemudian mataku tak sengaja tertuju pada Brian adikku. Usiannya 3 menit di bawahku. Yup kami kembar. Kami bersekolah di tempat yang berbeda. Kenapa? Karena dia tak suka saja jadi pusat perhatian karena kembar. Dia lebih pendiam dari padaku dan betapa aku tak sangka dia menjadi sangat ceria sekarang dengan Gia saat sedang mengobrol sekarang.


Apa yang mereka bicarakan?


Seumur umur aku bahkan jarang melihat Brian tersenyum, sesulit mendapatkan nilai 100 di ujian matematika. Tapi sekarang, dia bahkan tertawa santai pada Gia.


Apaan coba.


***


Selesai acara kami pun pulang menggunakan mobil bersamaan dengan keluarga Gia namun berbeda mobil.


Yup. Kami hanya berangkat dan pulang bersama namun dengan kendaraan yang berbeda. Begitupun keluarga Fian, namun karena rumah Fian lebih jauh dan sulit untuk bisa bersamaan jadi kami berjumpanya langsung di acara saja.


Setelah sampai rumah aku langsung mandi dan merebahkan badan di ranjangku. Aku tertidur pulas karena kelelahan.


Beberapa saat kemudian aku terbangun. Aku menoleh ke arah jendela, membuat aku penasaran akan suatu hal.


Aku bangkit duduk dan melihat ke luar jendela. Tepat di depan jendelaku terpampang jendela Gia yang terbuka dengan jerjak yang melindungi.


Arah meja belajarnya menghadap ke jendela membuat aktivitas belajarnya dapat ku lihat dengan jelas.


Dia tampak serius walaupun tengah mengantuk. Dia menguap beberapa kali membuat aku terkekeh. Lucu juga hiburan malam malam begini.


Aku melihat jam. Pukul 12 malam.


Aku kembali melihat Gia, dia semangat sekali belajar. Walaupun seperti itu dia hanya dapat rangking 3 saja di kelas. Rangking 1 itu Fian yang si Einstein dan Rangking 2 Nahda si ambisius. Sedangkan Gia, dia lebih sering untuk mengerjakan tugas tepat waktu, mengikuti olimpiade dan kegiatan ekskul yang bermanfaat lainnya.


Dan kalau kalian bertanya mengenai aku. Aku bahkan tak pernah masuk ranking 20 besar di kelas. Rangking 30 aja aku udah bangga. Wkwk...


But really. Itu bukan karena aku bego ya, itu cuma karena malas aja. Kalau aku rajin mah, beuh... Di atas rangking 1 pun ngak bisa aku gapai. Wkwk. Ya kali bisa aku rangking 1, rangking 29 aja udah megap dapetinnya.


Kamarku yang gelap membuat Gia tak dapat melihat ku dari sana.


Dia merenggangkan badannya dan kemudian menutup jendelanya.


Yah.. Udah siap belajarnya nih?


Kemudian dia terlihat seperti mencari cari sesuatu. Kemudian dia mengambil ponselnya dan sepertinya mengangkat telpon dari seseorang.


Dia tampak tersenyum sambil mengobrol.


Dia ngobrol sama siapa?


Kok malam malam?


Gia beranjak pergi dan kemudian lampunya mati.


Eh. Kok. Yah... Dia pasti mau tidur. Atau mungkin telponan sama seseorang di ponselnya tadi.


Hm. Terserahlah. Toh juga bukan urusanku.

__ADS_1


__ADS_2