Magic You

Magic You
chapter 23


__ADS_3

Aku melap hidungku yang berair dengan tissu.


"Kau flu." Kak Rio memperhatikanku kuatir.


Aku menggelengkan kepala. "Ah enggak kak. Palingan sebentar lagi sembuh."


Kak Rio tersenyum. "Jadi makin suka kamu deh."


Bibirku menjadi ternganga, aku menggelengkan sedikit kepala menyadarkan diri. Aku mengorek sedikit telingaku yang tak gatal. "A apa kak?"


Raut wajah kak Rio yang tersenyum berubah menjadi kaku. "Em. maksudnya. Aku suka semangat kamu belajar. Hehe."


Aku meng-oh ria dan kembali membahas soal yang ada di hadapanku.


Selang beberapa saat kak Rio mulai bicara membuatku menoleh ke arahnya. " Em, aku beli minum dulu ya. Minum aku udah habis."


Aku mengangguk setuju. Dia pun bangkit berdiri dan pergi.


Saat ketika aku kembali membahas soalnya kepalaku terasa sangat sakit, apakah ini faktor terlalu memporsir belajar? Ntahlah, tapi rasanya sangat berdenyut. Aku masih mencoba berfikir untuk menjawab soal, tapi rasa sakitnya semakin menjadi. Pandanganku menjadi hitam, aku tak dapat melihat apa-apa. Pikiranku menjadi kosong, tak dapat merasakan apapun sekarang!


***


Aku membuka mataku perlahan, pandangan cahaya tampak nanar menusuk mataku membuat aku menutupi wajahku dengan tangan. Pandanganku kembali seperti semula.


"Non, Oalah non. Syukurlah non udah sadar." Bibi tampak pucat melihatku.


Aku coba bangkit duduk.


Sepasang tangan merangkulku. "Kau jangan terlalu banyak bergerak. Tubuhmu sangat lemah."


Aku melihat ke arah seseorang yang menopang badanku. Itu kak Rio, dia duduk di samping tempat tidurku bersama bibi yang duduk di sebelah lain dari tempat tidur.


"Kau pingsan." Dia menatapku dengan raut wajah sedih. "Udah aku bilang jangan terlalu dipaksakan belajarnya. Kamu sih."


Aku memegang kepalaku yang masih terasa sedikit sakit.


"Ini minum dulu." Kak Rio memberikan segelas air padaku. Aku menerimanya, rasanya hangat. Kuteguk air hangat itu. "Lebih baik sekarang?" Tanya kak Rio.


Aku mengangguk dan memberikan kembali gelas itu ke padanya.


"Kau ini membuatku kuatir saja." Tangan kak Rio memelukku erat.


Dia mengelus elus pelan bahu belakangku masih dengan pelukan. "Jangan buat aku panik lagi dong. Takut tau."


Aku yang udah sadar 100% membelalakkan mataku. Sejak kapan kak Rio jadi semanis ini padaku?

__ADS_1


Enggak deng, kak Rio memang selalu manis dan baik padaku. Aku bersyukur punya teman sepertinya.


"Ehem." Terdengar deheman dari sebelahku. "Bibi masih di sini loh." Bibi menatap kami. "Apa perlu bibi keluar dulu?" Goda bibi.


Kak Rio melepaskan rangkulannya dan memegangi leher canggung.


"Apaan sih bi." Aku terkekeh melihat bibi yang menggoda kami.


"Oh ya non. Makan dulu dong, biar staminanya makin fit." Ajak bibi.


Aku menyetujuinya dan beranjak dari tempat tidurku.


***


"Em, enak bi." Aku melahap makanan yang telah di sediakan bibi padaku.


Kak Rio pun mengangguk setuju setelah dia memakan masakan bibi yang di sediakan juga padanya. "Iya bi, enak."


"Oh iya non. Mana teman non yang satu lagi itu." Bibi memegangi dagunya berfikir. "Mas Jessen non."


Sontak aku terlonjak kaget mengingat Jessen. Aku melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 17:30. Damn!!


Aku langsung menelan makananku asal dan berlari ke kamarku mengambil kertas jawaban yang udahku kerjakan.


"Sial, baru satu soal lagi!" Umpatku.


"Eh tunggu!" Kak Rio hendak berdiri menyusulku. Tapi aku yang terlalu panik langsung pergi begitu saja.


Aku langsung berlari ke halte bus terdekat.


Bushh


Waktu yang tepat, bus itu berhenti. Aku langsung masuk.


Di dalam aku masuk berusaha keras mengingat apa yang telah kupelajari tadi. Masih dengan mencorat-coret satu buku yang juga kubawa tadi beserta dengan kertas ini.


Aku hanya berharap satu hal sekarang. Semoga Jessen masih di sana!


***


Aku melihat ke arah jam tanganku. Waktu menunjukkan tepat pukul 18:00. Bus berhenti tepat di depan halte perpustakaan umum. Aku berlari memasuki perpus, aku melihat ke arah meja Jessen biasa duduk. Dan SIAL! DIA UDAH TAK ADA DI SANA!


Kakiku terasa lemas, aku masih berjalan menuju bangkunya.


Ahh.. sudah terlambat.

__ADS_1


Aku terduduk di kursinya. Sambil meratapi soal yang ada di hadapanku sekarang. "Kenapa tadi aku pake acara pingsan sih?!" Aku mengusap wajahku prustasi.


Kutundukkan wajahku kedalam tanganku yang terlipat di meja.


Masih dengan kepala yang tertunduk aku memukul meja dengan satu tangan.


Bruk


''Kalau tau gini, ngapain aku sampai ngerjain mati-matian! Dasar!" Aku mengenggam tanganku dengan penuh amarah. Kulemparkan kertas soal yang berisikan jawabanku ke sembarang arah di meja kesal.


Aku yang masih merundukkan kepala, bernafas terengah-engah. Mau menangis tapi untuk apa?!


"Dasar bego. Kau masih jawab satu soal!"


Suara itu mampu membuatku terlonjak dari bangkuku. Itu Jessen!


Ntah rasa apa yang kurasakan sekarang. Senang? Takut? Shock? Semua bercampur aduk.


"JESSEN!" Teriakku.


Dia menutup telinganya. "Eh bego. Ini perpus!" Dia memekik emosi.


Aku tersenyum bahagia.


"Ngapain kau senyum." Raut wajah datar diberikan padaku. "Kau cuma jawab satu. Kau pikir dengan ini kita bakal pacaran lagi?"


"Ta tapi, aku udah berusaha." Ucapku lemah.


"Janji adalah janji."


Aku kembali terduduk lemas menatapnya.


"Aku tau otakmu takkan sampai untuk menjawab ini." Dia tersenyum sinis padaku.


Aku melihat ke sembarang arah kesal.


Dia memberikan amplop dan kotak di hadapanku, dia bangkit berdiri. "Dasar bodoh." Dia pergi meninggalkanku.


Badanku yang tadi sedikit bertenaga karena makan jadi kembali lemas karena perjuanganku yang sia-sia. Aku menatap barang yang di berikan Jessen ke arahku.


Kubuka amplop yang ada di atas kotak kecil yang di berikan Jessen tadi.


Makan obat dan vitamin yang ada di kotak. Besok jangan sakit, Ingat kau ujian!


Senyum sumringah terlukis di wajahku. Dia peduli atau apa huh? Ini maksudnya apa sih?

__ADS_1


Aku terkekeh kecil.


Dasar Cowok Jenius Gila!


__ADS_2