Magic You

Magic You
Chapter 82


__ADS_3

catatan penulis:


jangan lupa di like komen dan vote ya... kalau habis votenya di beri hadiah juga boleh kok.. wkwk


happy reading guys 🤗❤️


 


"Nanti pulang bersamaku. Paham." Katanya datar.


"Ngak bisa. Aku ada janji sama temanku." Jawabku cepat.


"Siapa."


"Aku kasih tau juga. Kau ngak bakalan kenal."


Dia menatapku tajam. "Cowo cewek?"


"Cowo."


Jessen dengan tatapan datar berjalan ke arahku. Sedikit menunduk kan kepala nya, mensejajarkan wajahnya dengan ku. "Perintahku. Setiap kali kau berjalan dengan temanmu. Beritahu aku di mana tempat nya."


"Lah. Kenapa?"


"Ikuti saja. Jangan banyak bicara."


"Ngak lah. Nenekku aja ngak pernah sampai begitu, kau pula yang seperti itu."


"Tepati janji mu. Ikuti apa yang ku perintahkan."


Aku berfikir sejenak. Jessen... Rekaman...


AH! Aku tau... Jessen udah kembali suka padaku. Hehe... Ya kan..


Aku masih mengingat jelas rekaman Jessen. Dia cemburu waktu aku dekat dengan kak Rio waktu di SMA karena mendekati lelaki selain dirinya. Dan sekarang dia cemburu sama Tian... Haha.... YES! BERARTI JESSEN KEMBALI MENYUKAI KU!


"Kenapa kau senyum senyum." Tanyanya membuyarkan lamunanku.


Aku tersenyum lebar. "Hehe... Kau suka ya padaku... Udah... Jujur aja." Aku menaik turunkan alisku.


Ctak. Dia menyentil jidatku keras. "Aduh." Pekikku.


"Heh. Aku lagi butuh pemain seorang asisten pribadi, yang membawa buku, laporan dan lain sebagainya. Jadi kalau kau kemana mana aku harus tau di mana kau dan kau harus tetap menjalankan tugasmu dengan setia. Paham."


Ish... Kejamnya.


"Masa sih?" Kataku masih tak percaya.


Dia menggelengkan kepalanya dan memutar matanya malas. "Apa setiap orang yang memerintahkanmu kau anggap dia suka padamu huh?"


"Ikuti saja perintah ku." Katanya. Kemudian dia membalikkan badan dan pergi meninggalkanku.


Ish. Kesel juga dengarnya.


***


Sepulang sekolah aku berjalan ke taman. Aku hendak mengembalikan sapu tangan Tian.


Aku berjalan melalui trotoar jalan.


Dan sekarang aku telah sampai di taman. Aku melihat seseorang di bangku taman. Sepertinya itu Tian.


Aku berjalan ke arah nya.


Mataku terbelalak saat melihat dia sangat amburadul. Baju yang di keluarkan dan kotor, begitu pula wajah terdapat memar dan luka dan rambut berantakan. Dia habis berantem?


Dia menatapku datar.


"Kau kenapa?!" Kataku panik.


"Berantem." Katanya santai.

__ADS_1


"Ih ni orang." Aku langsung mengambil ponsel. Memesan obat biru dan alkohol dengan jasa pengantar barang secara online.


Sambil menunggu aku duduk di sebelahnya, membersihkan lukanya dengan air dan sapu tangan miliknya.


"Kenapa sampai begini sih?" Tanyaku lagi.


"Aku tak suka melihatnya. Jadi aku memukul dan berkelahi dengannya."


"Ngapain berkelahi. Wajahmu kan jadi babak belur begini."


"Kalau wajahku begini kenapa rupanya. Siapa yang peduli."


"Ya orang tua mu lah." Kataku lagi.


Dia diam saja dengan tatapan malas ke arah kanan.


"Arh." Pekiknya saat aku ngak sengaja menekan lukanya.


"Eh sorry."


"Hemm" Ucapnya kesal.


Pesanan ku pun datang. Pengantar barang nya memberikan aku obat nya. Aku membayarnya dan pengantar itu pun pergi.


Aku kembali mengobati nya.


"Kenapa kau panik." Tanyanya datar.


"Karena aku peduli samamu. Gimana sih." Kataku kesal.


Dia menaikkan salah satu alisnya. "Untuk apa perduli."


Ngeselin amat sih. Udah di tolongin juga. "Ntah. Pikir aja sendiri." Sambungku.


Aku pun selesai membersihkan luka di wajahnya.


Dia masih tetap menatapku.


Deg deg.


"Apa sih?" Kataku lagi.


"Badanku masih sakit." Katanya datar.


"Tuh kan. Makanya jangan berantem." Aku memarahinya.


Dia memegang tanganku dan menaruhnya di dadanya, perutnya dan sekitarnya lengannya.


Deg deg.


Aduh kenapa makin deg degan.


Dia hendak membuka bajunya.


"Heh. Mau ngapain?!" kataku panik.


"Ya buka bajulah. Biar kau lihat lukanya." Dia ngomong kayak ngak sadar kalau aku ini cewek. SE enak enaknya aja dia ingin menunjukkan badannya padaku.


Aku langsung menutup bajunya. "N ngak usah. Aku ngak bisa ngobatin nya. Gila ya?!"


"Kenapa."


"Karena kau cowok dan aku cewek. Dan..."


"Dan apa."


Ish.. masa dia ngak peka sih.


"Ngak mungkin aku menyentuh badanmu." Aku membuang wajahku malu.


Arh.. apaan sih?!

__ADS_1


Dia kepolosan apa kebodohan sebenarnya?!!!


Aku menutup wajahku. Aku rasa wajah ku sudah sangat panas sekarang.


Kemudian aku menatap nya. "Udahlah. Aku mau pulang."


Aku memberikan sarung tangannya. "Ini punyamu."


Saat aku hendak pergi dia menarik tanganku, membuat aku kembali terduduk menghadap kedepan.


Sontak badanku mematung. Aku merasakan jariku bergerak panik dan matku mengerjap-ngerjap. Tian memelukku.


"Makasih." Katanya.


"Em. I iya iya." Kataku kaku sambil menolak tubuhnya menjauh.


Dia kembali tanganku dan kembali memeluk ku. "Aku masih sakit. Kau harus tetap merawat dengan memelukku."


Huh?


Aku sedikit menggeser badanku agar lepas darinya.


Dia semakin mengeratkan pelukannya. "Tunggu. Sebentar saja, maka aku akan sembuh."


Deg deg


Deg deg


Deg deg


Sial... Jantungku benar benar kehilangan kendali.


Kemudian dia melepaskan dekapannya. Menatap ku, terlukis senyuman smirk pada raut wajahnya.


"Kenapa jantungmu huh?"


Shit.. Sebegitu kencangkah bunyinya?.. malu maluin aja..


Aku membuang wajahku. "Diamlah."


Dia terkekeh singkat. "Aku lapar. Kau harus menemani aku makan."


"Aku tak lapar. Kau makan sendiri aja sana."


"Hem... Mendengar kalimat mu membuat nafsu makanku hilang."


Aku bangkit berdiri. "Udah ya Tian. Aku mau pulang. Capek." Kataku malas.


Dia pun bangkit berdiri.


Dia mengusap kepala ku singkat.


Deg deg.


"Hem. Istirahat gih. Jangan terlalu di porsir belajarnya."


Aduh... Dia kok jadi pedulian gini sih. Ngak. Aku ngak boleh baper.


Aku mengusap tengkukku. "Ya." Kemudian aku pun pulang.


***


Aku terus menenggelamkan wajahku di dalam bantal sambil menelungkupkan badan di ranjangku.


Kenapa kepikiran mulu sama Tian.


Aku menaik dan menjatuhkan kepalaku di bantal ku frustasi.


Arh... Dasar mengesalkan.


Aku menelentangkan badanku kasar. "Ah. Mending aku baca buku... Sebentar lagi seleksi pertama lomba antar sekolah. Aku harus fokus."

__ADS_1


Aku pun berjalan ke meja belajarku dan membaca di sana.


__ADS_2