
Catatan penulis:
Jangan lupa di like komen di vote yau... Kalau lagi habis vote di beri hadiah juga boleh kok...
Hehe...
Happy reading guys 🤗❤️
Aku berjalan pulang bersama dengan Jessen di sebelahku.
Perasaan kami baru aja pacaran, dia mah jutek terus.
Ish...
Tep. Ada tangan yang mengapai dan menarikku membuat ku berhenti dan menoleh.
Tian?
"Iya kak?" Tanyaku.
Dia melepaskan tangannya dan memandang ku datar. "Ngapain jalan sama dia?"
Aku memegangi tengkukku yang tak gatal dengan sedikit tersenyum kaku. "Hehe. Anu kak. Kakaami.." Aku sedikit ragu menjawab nya. Aku melihat ke arah Jessen. Tapi Jessen malah hanya menatapku santai.
Aku memainkan mataku ke arahnya, dengan maksud bilang bantuin cuy...
Tapi dia malah diam dan tak menjawab. Aku mendengus kesal. Ku alihkan kembali pandanganku ke Tian. "Kami pacar kak." Ucapku dengan penuh ke pelan.
Tian diam tak merespon apapun beberapa saat. Kemudian dia mengangguk. "Hm. Gitu."
Aku mengangguk kaku.
Tian mengacak rambutku pelan. Kemudian tersenyum miring. "Kapan putusnya."
Aku melongo mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Kapan... Putus?" Aku mengorek telingaku dan mengulang kalimat untuk sekedar memastikan bahwa kalimat nya.
Dia mengangguk. "Hm. Kapan putus." Dia mengangkat tangannya dari atas kepalaku. "Putus dengannya lebih cepat, lebih baik."
Tian mendekat kan tubuhnya dan hendak memelukku.
Tup. Jessen menghalangi nya dengan tangan kanannya membentang dan menepuk dada Tian.
Jessen dan Tian saling tatap tajam. Tatapan mereka seperti berapi api, layaknya api biru dan merah yang saling menyambar.
Bulu kudukku merinding. Dan mundur perlahan.
"Kau tuli huh? Aku pacarnya." Ucapku Jessen.
Tian tersenyum miring sambil menepis tangan Jessen yang menahannya tadi. Kemudian mengibas ngibaskan tangan di dadanya seperti menghilangkan debu Jessen. "Pacar kan? Bukan suami. Cih."
__ADS_1
Tian mengalihkan pandangannya ke arahku. "Val." Panggil nya.
Aku yang masih cengo agak tersadar. "E.. ya?"
Dia tersenyum kecil. "Aku menunggu."
Lagi lagi kalimatnya membuat aku mangap terdiam.
Kenapa?
Apa yang di tunggu?
Aku putus?
Wait.
What?!...
Dia membalikkan badannya dan pergi.
Pandanganku kosong karena merasa bego. Wait... Aku yang bego apa dia yang bego? Apa autornya yang rada sinting?
Author be like (ಠ_ಠ): HEI!!!
Mataku masih tak lepas sampai kepergian nya.
Ctak. Aku memekik kesakitan setelah Jessen menyentil keras jidadku.
"Apa sih?" Kataku sambil memegangi jidadku.
Aku memayunkan bibirku. "Yaaa... Aku kan shock aja. Abisnya kalimat nya aneh."
Jessen membalikan badannya dan berjalan meninggalkanku.
"Lah kok di tinggal?"
Aku mengikuti nya.
"Jes." Panggil ku yang sekarang ada di sebelah nya.
Dia tak menjawab.
"Jes."
"..."
Ish... "Jes... O Jes..." Panggil ku lagi.
Dia berhenti dan menatapku tajam.
Aku yang agak sedikit kaget dan takut berusaha memberanikan diri yang aku sendiri ngak tau kenapa aku ketakutan. "Kau... Marah?"
"Menurut mu?"
__ADS_1
Aku melihat wajahnya merah padam. Kayanya memang marah.
"Jjangan marah lah Jes. Kan aku ngak ngapa ngapain juga kan sama dia." Ucapku pelan.
"Siapa yang marah. Kalau kau mau jalan sama dia juga terserah." Katanya dengan nada emosi.
Wadau... Beneran marah nih si Jessen.
Aku jadi bingung harus apa.
Aku sedikit menatap nya takut. "Kalau... aku belikan buku fisika. Kau jangan marah lagi ya." Ucapku memohon.
Hehe... Setahuku kan dia suka hitungan kan ya. Jadi mana tau dia jadi tergoda gitu mendengar kalimat Fisika.
Dia masih menatapku datar.
Yah... Kayaknya dia lagi ngak doyan Fisika deh.
"Oh. Kalau gitu aku traktir es krim!" Ucapku girang.
Dia masih menatapku datar.
Aku menundukkan kepalaku. "Maaf lah Jes... Jangan marah gitu. Aku ngak tau mau buat apa." Aku pasrah.
Deb.
"Aku mau peluk." Bisiknya sembari memeluk tiba tiba.
Deg deg..
Deg deg..
Astaga... Ini ngak baik buat jantung njritt.
Aku mendorong nya.
Dia kembali menarik tanganku dan memelukku. "Ngak perlu malu. Tadi juga kita udah lakuin itu."
Aku menatap sekeliling ku. Mereka senyum senyum melihat kami.
Aku meriview ulang kalimat Jessen.
Tadi juga kita udah lakuin itu.
Kalimatnya rancu banget tau....
Aku menyilang kan tangan ku dari balik punggung belakang Jessen. "Eh. Enggak enggak... kami ngak ngapa ngapain kok! Suer!" Ucapku pada orang sekitar.
Tapi mereka masih seperti tak percaya dan malah semakin tersenyum seperti aku berbohong.
Aku mencubit Jessen. "Aw." Kata Jessen masih tak melepaskan pelukannya.
"Lepasin. Karena kau orang mikir yang aneh aneh tau ngak!"
__ADS_1
Dia terkekeh singkat. "Ini hukuman dariku." Bisiknya di telingaku.
JESSEN!!!