
"Aaaaa..." Jeritku shock melihat apa yang telah di lakukan Jessen. "Gilaa..." Tambahku dengan suara yang lebih kencang.
Badanku seperti di goyang-goyangkan, semakin lama semakin kuat. "Non... Non bangun... Non!" Aku membuka mataku, bernafas terengah-engah.
"Non ngak apa?!" Raut wajah bibi tampak panik.
Aku masih coba menyadarkan diriku. Melihat keadaan di mana aku sekarang. Tunggu, aku di kamar?. "Bi, aku. kok. di. kamar?" Aku masih mencoba memahami keadaan ini.
"Tadi kau tertidur di lantai waktu kau berjalan ke kamarmu setelah kita belajar tadi." Ujar Jessen yang dari tadi berdiri bersender di kusen pintu kamarku.
Aku menggelengkan kepala menyadarkan diri.
Astaga... Kok bisa aku bermimpi mesum dengan si Jessen sih!
Valen, kau, harus, cuci otak!
Aku memukul pelan kepalaku. "Astaga."
Bibi masih memperhatikanku kuatir. "Gimana perasaan non sekarang? Non sepertinya sangat kelelahan."
Aku menggelengkan kepala. "Ngak apa bi, Valen sambung tidur aja."
Merasa lega bibi mengelus pundakku. "Ya sudah non, bibi balik ya?"
"Iya bi." Jawabku.
Bibi pun berjalan keluar kamar sambil menuntun Jessen keluar juga. "Mari tuan saya antarkan ke kamar tamu." Ajak bibi, Jessen mengganguk lalu sedikit membalikkan kepalanya melihatku. "Jangan tidur ngigau lagi. Menyusahkan." Dia membalikkan kepalanya dan pergi. Bibi pun menutup kamarku, aku berjalan ke pintu kamar dan menguncinya lalu kembali berbaring di tempat tidurku.
Pikiranku kembali ke bayangan mimpiku tadi. "Val Val, gila kali otakmu ya?!" Aku mengacak rambutku geram.
Aku menutup sepenuhnya badanku dengan selimut dan mendekapnya. "Tobat Val, tobat!"
***
Masih dengan terhuyung-huyung karena mengantuk aku berjalan menuju meja makan. Di sana udah ada Jessen duduk di kursi, dia tampak sangat rapi, kok bisa?
"Pagi." Sapaku sambil duduk berhadapan dengannya.
"Whoam." Aku menguap.
Jessen melihatku datar. "Cuci muka sana." Katanya singkat.
"Ck, nanti." Sambungku malas.
Dia memelototiku seperti mengertak kalau tak mengikuti apa katanya. Aku mendengus kesal. "Iya ya."
Aku pergi ke kamar mandi, mencuci wajahku dan mengeringkannya. Aku kembali ke meja makan. "Udah."
"Hm."
Bibi pun menghidangkan makanan di hadapan kami. "Silahkan di makan." Bibi mengarahkan pandangannya ke arah Jessen. "Sepertinya wajah tuan tak asing." Bibi tampak berfikir sejenak. "Nama orang tua tuan Dominggus Luders ya."
__ADS_1
Jessen mengangguk. "Iya bi."
Bibi tersenyum. "Benerkan dugaan bibi, kalau tidak salah orang tua kamu pernah ada relasi kerja dengan orang tua Valen, tuan Wicaksana Wijaya."
Jessen seperti mengingat sesuatu. "Iya bi, itu temannya papa."
"Bibi pernah ikut tuan Wicaksana ke acara perusahaan, bibi bantu-bantu di sana sebagai seksi konsumsi. Dan bibi lihat kamu dan papa kamu waktu itu. Wajahmu sangat mirip dengannya." Bibi kembali menyumbangkan senyuman.
Jessen membalas dengan senyuman, namun tampak di paksakan.
Hah? Jadi selama ini orang tua si Jessen itu teman papa? Serius? Aku ngak tau ceritanya?
"Wait, aku ngak pernah tau papa Jessen temannya papa aku bi." Ucapku pada bibi.
Bibi terkekeh. "Lah iya non, non kan ndak pernah ikut acara tuan. Alasan yang selalu non pakai mah selalu bilang ke tuan kalau non lagi fokus belajar jadi ndak bisa ikut. Ya toh?"
Aku menggaruk kepalaku sambil tertawa. "Iya bi."
Bibi terkekeh kemudian memulai pembicaraan lagi. "Oh iya non, bibi ke belakang dulu ya. Banyak kerjaan yang perlu di selesaikan."
Aku mengangguk setuju. Bibi pergi ke belakang.
Aku melahap sarapan pagi ini, terasa sangat lezat.
Jessen melihatku lirih. "Heh, tapi aku meragukan hal yang kau pelajari." Sindir Jessen.
Huh... Sabar Val. "Terserah."
"Ngapain?" Kata Jessen sambil melahap sesuap nasi buatan bibi. "Besok kau ujian. Belajar."
Inilah masalahnya kalau berteman dengan orang pintar. Kerjaannya belajar mulu. "Udahlah Jes, sesekali refreshing kek, kepalaku udah panas nih semalam." Aku melipat tanganku memohon. "Please... Hari ini ke taman ya... Ya ya ya."
"Kalau kau mau tetap jadi orang bego, ya terserah." Dia kembali melahap nasi gorengnya.
Arh... Tiada hari tanpa di bilang bego sama Jessen!
"Gini aja, kau kasih aku 1 soal yang kita bahas kemarin. Kalau aku bisa jawab, kita jadi ke taman dan kau jangan bilang aku bego lagi. Gimana?" Aku membuat pilihan padanya.
"Kalau tidak, jangan protes kalau kubilang kau bego. Padahal sebenarnya kau memang bego mau gimanapun cara pandangnya." Tambahnya.
Walau sebenarnya aku ngak terima di hina seperti itu, aku harus tahan! Aku menjabat tangannya. "Iya setuju."
Dia tersenyum meremehkan. Kami pun menghabiskan makanan kami terlebih dahulu.
***
Dia menyodorkan kertas soal yang telah di buat soal olehnya ke arahku. "Kerjakan."
Aku mengambil kertasnya. Aku melihat soal darinya. "Apaan ni, soalnya beda sama yang kita kerjakan semalam! Kau mengerjaiku ya?!"
Aku masih tak terima. "Ngak bisalah Jes. Kau curang!"
__ADS_1
"Kalau aku bisa mengerjakannya dengan cara yang kemarin gimana?" Dia mantangku. "Kalauku kerjakan, kau kalah."
Aku kembali menatap soal di kertas tadi mencoba memahami dan mengerjakannya.
Memang tidak bisa!!
"Aku ngak terima! Kau curang! Licik!" Aku mendorong kertas Jessen dengan kasar.
Jessen kembali menarik kertasnya. "Gini caranya." Dia menjelaskan dengan cepat dan tepat.
"Ngerti kan?" Sambung Jessen. Padahal dari tadi aku buntu menyelesaikannya. Memang otak aku yang terlalu dangkal, ck... Sial. "Ya udah... Kita belajar." Aku pasrah.
Kami pun, atau tepatnya aku pun belajar lagi dengan dia.
***
Kepalaku udah sakit karena di push belajar selama 2 jam. Rasanya gila, aku bahkan belum pernah dua kali berturut-turut belajar selama 2 jam!
Aku menundukkan kepalaku jengah.
Jessen mendorong kepalaku dengan satu jari. "Kerjakan soalnya, ini belum siap."
Aku masih meletakkan kepalaku di meja sambil mengangkat tangan. "Sabar. Kepalaku pusing."
Aku coba menenangkan pikiran. Gimana bisa dia masih bertahan meneruskan belajar? Dia manusia kah?!
"Masih mau ke taman?"
Kalimat itu langsung membuat aku bersemangat, kuangkat kepalaku dan mengacungkan jempol. "Mau."
Dia berdiri dan berjalan keluar aku menyusulnya. Aku melihat ke arahnya yang sekarang di sampingku. "Gitu dong Jes, pusing belajar mulu."
"Hm."
***
Aku memandangi Jessen yang ada di sampingku. Masih dengan ekspresi wajah yang sama, dingin.
"Jes, saranku ya kau harus lebih sering senyumlah. Wajahmu akan lebih berubah kalau kau tersenyum."
Jessen melihat ke arahku. "Berubah apa?"
"Ya berubah jadi lebih ganteng." Sambungku.
Dia terkekeh sejenak. "Jarang-jarang kau memujiku."
"Aku serius loh."
Dia melihatku tersenyum dan mengelus kepalaku lembut. "Iya."
Aku jadi cengo melihat perbuatannya.
__ADS_1