
***Btw, jangan lupa like dulu ya guys sebelum membaca.... Kalau bisa di vote dan deberi hadiah juga boleh... wkwk...
happy reading guys***...
________________________________________________
Pletak
Aku memukul kepalanya keras. "Heh! Kalau ngomong bisa ngak pake otak dikit!"
Aku melepaskan diriku dari Ken.
Aku menginjak kaki Ken. Dia memekik kesakitan.
"Itu balasan karena kau menciumku sembarangan!"
Aku menjewernya sambil menarik tanganku yang memegangi daun telinganya ke bawah. "Dan ini balasan karena kau asal bertindak tak pernah pake pikiran."
"Aa.. iya iya.. Aku salah. Lepasin dong sayang. Aa.."
Aku semakin menjewernya. "Jangan pernah panggil aku sayang!"
"Aa iya iya... Sayan... Valen. Valen."
Aku melepaskan dengan kasar. "Hem!" Aku mendengus. Aku pun pergi dan meninggalkan Ken.
Ck.
Issshhh. Kenapa sih Jessen gak cemburu?!
Ish...
Aku menghentak-hentakkan kakiku sambil pergi menuju kelas.
"Kesel bangeeeet!"
***
Aku semakin kesal sekarang. Cih. Kau tau... Sekarang rupanya mata pelajaran Jessen!
Melihatnya saja aku sudah muak!
Karena aku terus menatapnya dia jadi malah melihatku.
Emosiku semakin meluap...
Aku membuang wajahku kesal. Aku menatap bukuku dan mencoretinya tak jelas!
Untuk meluapkan emosiku aku mengambar manusia lidi di bukuku.
Ini Jessen..
Kemudian aku menggambar batu yang besar. Ku gambar garis panjang ke arah manusia lidinya. Seakan akan batu ini terlempar ke arah Jessen... "Mampus kau." Pekikku pelan.
Kemudian aku mencoret coret kesal kertas ini...
"Mati kau, matiiii..." Kataku dengan geram.
"Valentresia." Panggil Jessen.
"Apa?!" Kataku keras.
Jawabanku di tatap oleh setiap orang di dalam kelas.
Eh.. Aku lupa ini di kelas. Harus sopan Val...
"M maaf pak." Koreksiku.
"Keluar sekarang!"
Ish... Cari masalah aja ni orang!
Aku melihatnya dengan gusar sambil berjalan ke luar.
"Pak Jessen kok jadi dingin gitu sama si Valen?" Terdengar suara berbisik seseorang dengan temannya.
"Ya iyalah. Mereka kan udah putus." Sambung temannya yang lain.
"Oo pantesan."
"Ada kesempatan nih untuk kita.. Haha."
Kupingku panas mendengarnya.
"Heh!" Bentakku.
Semua kelas kembali menatapku.
Mataku ku arahkan ke arah kedua wanita yang cerewet menceritaiku tadi. "Ambil aja tuh. Palingan kau bakalan nyesel."
Aku membalikkan badan kesal dan kembali berjalan keluar.
"Aneh ya... Mana mungkin nyesel. Bapak itu kali nyesel pacaran sama dia. Haha."
"Iya haha."
Mereka berbisik menertawaiku.
Aku kembali berhenti kemudian berjalan ke meja mereka.
Tak
Aku memukul salah satu meja mereka. "Heh! Kalau ngomongin orang, ya di depan orangnya lah! Jangan di belakang-belakang! Dasar cewek ngak jelas!"
"Valen!" Jerit Jessen.
Aku terkejut dan melihatnya.
"Keluar sekarang juga."
Aku menghembuskan nafas kesal...
Aku keluar dan membanting pintu.
***
Aku duduk di kantin kampus. Ngapain juga aku berdiri di depan kelas kaya orang bodoh. Lebih baik aku di sini.
Kenapa hari ini terasa buruk sekali. Bahkan aku sampai tak selera makan apapun.
Jessen... Kenapa coba dia?
Masa cuma karena aku ribut dikit di kelas dia menyuruhku keluar?
Belum lagi dia malah membentukku saat adu mulut sama cewek sok cantik di kelas tadi. Bukannya membelaku malah menyentalku.
Ck
Apa sebenci itu dia padaku?
Emang salahku apa?
Kan dia yang selingkuh.. Kenapa dia yang marah?
Aku meneguk air dingin yang aku beli tadi.
"Hemm.. Dasar aneh." Gumamku.
Aku menelungkupkan wajahku di tanganku yang kulipat di meja. Kepalaku ku arahkan ke kanan menatap deretan meja makan yang kosong melompong. Ya kosong... Namanya jam pembelajaran.
Aku berdecak kesal.
"Lama lagi ngak pulang ya?"
Aku udah malas belajar. Terutama kalau pelajaran Jessen.
Aku nemainkan ponselku malas.
Melihat beranda... Media sosial... Dan setelah itu ku matikan. "Ngak ada yang seru." Ucapku malas.
Aku menghidupkan kembali ponselku. "Jam 4. Seharusnya udah pulang kan?"
Huf...
Aku berdiri dan beranjak pergi ke kelas. Aku mau ngambil tasku.
Setelah aku sampai di kelas. Kelas udah sedikit sepi. Baguslah.
Aku mengambil tasku dan beranjak pulang.
Aku berjalan melalui koridor sekolah dengan tak bertenaga.
"Heh."
Nada yang tidak sopan. Palingan bukan memanggilku. Aku melanjutkan langkahku.
"Woy bego."
Aku menoleh malas.
Sudah kuduga. Jessen.
Aku kembali membalikkan badan tak memperdulikannya dan melanjutkan perjalananku.
Sesaat kemudian dia berada di sebelahku dan menyentil jidatku.
Sakit.
__ADS_1
"Apa sih?!" Bentakku.
Dia menunjukkan lembar kertas ke hadapanku. "Ini nilaimu."
Aku melihat kertas ini.
Damn.. Nilai 20.
"Cuma kau yang ngak lulus mata pelajaranku." Katanya datar.
Aku menghela nafas panjang. "Jadi gimana?"
"Ikut aku." Dia berjalan meninggalkanku.
Ish. Ada aja cobaan hidupku.
Aku mengikutinya.
Dia mengarahkanku ke ruangan. Ruangan dosen.
Dia duduk di suatu kursi. Kemudian aku pun duduk di hadapannya.
Dia memberikan kertas kepadaku. Aku melihatnya, tertulis 50 soal easy.
Heh? Banyak banget.
Aku mengangguk pasrah. "Iya, nanti aku selesaikan. Besok aku kumpul."
Dia menyentil jidatku keras lagi. "Aduh."
"Kerjakan sekarang kalau kau mau lulus."
"Hah?! Ya ngak mungkinlah Jes. Kau gila apa ya?"
"Cepat." Dia tak peduli. Dan melanjutkan aktivitasnya menulis sesuatu di bukunya.
Aku pun mengeluarkan buku tulisku demgan terpaksa. "Ish. Kayak ngak ada waktu aja sih?! Besok kan bisa.."
Aku terus mengoceh sembari membuka buku dan mengeluarkan kotak pensil dari dalam tasku.
Aku membaca soal yang di berikan Jessen. "Payahnya..." Aku melihat depan ke arah Jessen. "Apa ngak ada soal yang lebih mudah? Aku belum belajar."
Dia menatapku acuh. "Jawab atau kau takkan bisa pulang."
Ck. "Jes. Benerlah, aku belum belajar. Kumpul besok aja yahh. Please.." Kataku memohon.
"Kerjakan." Katanya kekeh.
Cih. Nyebelin.
"Jes. Kalaupun aku kerjakan aku bakalan remed lagi."
Dia menarik sedikit kertasku ke hadapannya, dia melihatku. "Yang mana yang kau tak paham."
"Ck. Semua."
Ktok
Sebuah jitakkan mendarat tepat di jidatku. "Aduh."
"Begomu ngak berkurang ya." Hinanya.
Ck. Udah bosan aku dengan makiannya.
"Jadi gimana? Mau ajarin aku atau enggak?" Tegasku.
Dia mengambil pulpennya, menarik bukuku. "Duduk di sebelahku."
Aku pun menarik bangku ku ke arah sebelah Jessen dan memperhatikan pengajarannya.
Wajahnya di arahkannya pada tulisan yang di tulisnya. Dia sangat fokus.
Ntah bodoh entah apa lah aku ini. Tapi aku malah sibuk memperhatikannya, bukan malah fokus pada ajarannya.
Kenapa aku sangat menyukainya?
Dasar bego. Kenapa kau harus mencintai orang yang selalu menyakitimu Valen? Apa kau sudah gila?
"I love you." Aku tak sadar bicara seperti ini. Heh Val! Malu maluin tau!
Dia menoleh ke arahku datar.
Damn.
"I love you farmakologi... Aku suka banget farmakologi... Favorit banget pokoknya." Ralatku.
Aduh... Malu tujuh turunan aku ini...
Calm down Val. Calm down.
Dia menaikkan alisnya. "Hah?"
Dia masih menatapku dengan senyuman miring. "Kalau suka. Kenapa kau tak paham sedikit pun tentang Farmakologi, huh?"
Jleb
"Ya... Terserah aku lah. Mau ngak paham kek, mau paham kek. Yang penting aku suka sama Farmakologi."
Aku tak mau kalah.
Dia menopangkan dagunya pada tangannya di meja menatapku. "Bego."
Rasa malu menyelimuti wajahku sekarang.
Kenapa aku selalu bertingkah bego di hadapan Jessen sih?!
Ish...
Aku membuang wajahku. "Udahlah ngak usah di bahas. Lanjut aja ngajarnya."
Dia menaikkan dan menurunkan bahunya acuh. Kemudian kembali mengajar.
Fuh...
Aku harus fokus pada pembelajaran sekarang. Fokuslah Val.
Bukan tanggung tanggung, Jessen juga memberikan beberapa kuis yang mendampingi pada setiap pengajarannya. Udah ada soal, ada kuis pula... Aihhh...
***
Dua jam kami belajar, eh maksudnya aku yang belajar!
Bahkan ruangan ini udah kosong melompong tak ada siapapun.
"Up. Aku dah ngak sangup lagi!"
Aku menempelkan kepalaku di meja. "Udah siap akhirnya."
Aku sedikit mengangkat kepalaku. "Aku mau pulang."
"Hem."
Aku bangkit berdiri merangkul tasku. "Aku pulang. Makasih bantuannya."
Aku pun pergi.
Aku pergi meninggalkannya dia sendirian.
***
Aku berjalan di koridor yang sepi menuju pintu luar.
Setelah beberapa lama aku berjalan aku pun sampai di pintu luar.
Keadaan sudah gelap di tambah awan hitam mendung menyelimuti langit ini.
Tes tes
Gerimis mulai turun, turun dengan cepat dan dan kemudian turun dengan deras.
Wah... Gimana ini?
Apa aku harus tembus aja nih hujan, dan membiarkan diriku basah?
Ngak ngak. Nanti kalau aku sakit gimana?
Ck.
Aku terus memandangi luar dengan sesekali menoleh ke kanan ke kiri. Mana tau ada kendaraan umum lewat.
Is. Malah sepi lagi.
Aku coba buka aplikasi ojek online.
Eh.. SMS dari siapa ini.
"Plg yth, Paket Unlimited Anda telah berakhir. Pemakaian data selanjutnya akan dikenakan tariff normal."
Heh. Dah habis... Sial.
Aku mengacak rambutku kesal.
Mau pulang pake apa coba?
Kalau nunggu hujan. Sepertinya ini takkan reda..
Ck. Gimana ya?
__ADS_1
Terdengar suara langkah kaki dari belakangku membuat aku refleks melihat ke belakang.
Jessen.
Tentu saja dia belum pulang.
Dia satu satunya yang dapat membantuku sekarang.
Dia berjalan terus melewatiku.
Sebelum itu terjadi aku menarik tangannya. "Eh."
Dia menoleh ke arahku.
"A aku ngak ada paket dan pulsa untuk nelpon orang. Dan sekarang hujan. Kau antarin aku pulang ya.."
"Kenapa pacarmu ngak menunggumu?"
Ish... "Dia bukan pacarku tau! Aku tak pernah sedikitpun mencintainya. Setetes air pun tidak!"
Aku membuang wajahku kesal.
Wait a minute...
Bukankah tadi pagi aku bilang aku suka sama Ken biar dia cemburu.
"Hah?" Dia menatapku tersenyum mengejekku.
Bodoh....
Aku melepaskan tanganku. "M maksudku. Aku... A..ak... Ah, lupakan saja. Kau pulang aja sana."
Dah lah aku ngak ngerti lagi sama diriku.
Dia membalikkan badan. Melipat kedua tangannya di dada dengan sedikit memiringkan kepalanya menatapku.
Aku mengibas-ngibaskan tanganku. "Udahlah, pulang aja sana."
Sebenarnya aku sangat membutuhkannya sekarang. Aku tak tau mau pulang naik apa kalau dia pulang ,shit...
Tapi aku udah malu....
Dia membalikkan badan dan hendak pergi.
Serius dia beneran pergi?
Aku menggigit bibir bawahku takut.
Jangan pergi please...
Dia berjalan semakin jauh kemudian membuka payung saat dia mau menerobos hujan.
"Jessen!" Jeritku.
Aku ngak mungkin tetap di sini. Udahlah. Aku terpaksa tembok. Mau gimana lagi coba?
Dia tak mendengar.
Aku pun berlari ke arahnya, takut dia bakal pergi beneran dan meninggalkanku seorang. "Jessen. Tunggu.. Aku ikut..."
Dia berbalik.
Aku menghela nafas lega saat dia berbalik. Aku berdiri berhadapan dengannya sekarang sambil mengontrol nafas karena mengebu saat lari mengejarnya tadi.
"Jes. Aku pulang samamu ya. Anterin aku sampe ke rumah please.."
"Malas."
Nyess banget jantungku mendengar perkataan singkat tapi sakitnya ngenak banget.
"Jangan gitu lah Jes. Kan aku juga pulang lama karena belajar sama mu. Masa kau tega sih ninggalin aku."
Aku memasang wajah memelas.
"Kenapa aku harus peduli?"
Aku menarik nafas dalam-dalam. Val. Kau harus tenang.
Ingat... Meminta harus tangan di bawah.
"Jes. Tolonggg banget. Ya.." Kataku dengan penuh kelemahan lembutan.
Dia memegang tanganku. Dan berjalan membuatku mengikutinya.
Deg deg... Deg deg...
Kami berjalan ke arah parkiran.
Jessen menekan tombol alarm mobilnya yang bergantung pada kunci mobil. Kemudian membuka pintu mobilnya. "Masuk."
Aku pun masuk.
Dia menutup kembali pintu dan berjalan ke arah lain dari sisi pintu mobil lain pada bagian stir.
Dia membuka pintu, masuk sambil menutup payung dan pintu.
Dia mengibas-ngibaskan rambutnya yang terkena sedikit hujan.
Anjritt, guantengnya...
Aku menampar pipiku cepat agar menyadarkanku dari kebodohan cara berpikir rendah!
Aku fokus melihat ke arah depan.
"Kasih tau aku jalan ke rumahmu." Kata Jessen singkat.
"Arah rumah nenek. Maap jauh."
Dia tak menjawab dan langsung mengemudikan mobilnya.
Brum
Perjalanan sangatlah sunyi. Aku tak berani membuka suara, alias sebenarnya aku juga malas mengobrol. Ntar aku malah salah bicara lagi.
Harga diriku udah sangat jatuh tadi.
Aku harus bisa menaikkannya dengan bersikap tenang seperti tak terjadi suatu masalah apapun. Dan semua akan berlalu... Semoga...
"Belajar yang benar. Jangan pacaran dulu." Jessen membuka obrolan.
Tunggu. Dia nasehatin aku kah?
"Ehm. Kenapa kau peduli?" Aku mulai naik kuping. Hehe. Dia cemburu kalau aku beneran pacaran? Hehe.
"Karena otakmu udah di bawah standar. Kalau kau pacaran, pikiran mu akan bercabag. Belajar aja ngak benar, malah mau mencabangkan pikiran berpacar... bego."
Nyesek. Tapi bener.
"Emang kau orang tuaku apa? Sok sok nasehatin aku."
"Kalau di bilangin, di dengar."
"Iya..." Aku memutar bola mataku kesal. "Cerewet."
Aku kembali fokus menatap depan.
Krukk
Tak sengaja perut ini bergetar. Aku lapar.
Ups.
Jessen melihatku datar.
"Hehe. Aku lapar Jes."
Jessen menepikan mobilnya kemudian berhenti. Dia sedikit berdiri dan mengarahkan dirinya ke bangku belakang mengambil sesuatu.
Dia mengambil tempat minum termos kecil beserta dua roti.
Dia memberikannya padaku.
"Untukku?" Aku tersenyum sumringah.
"Kalau ngak mau, ya udah." Dia hendak mengembalikan makanan itu ke belakang.
"Eh.. mau mau. Hehe."
Dia kembali memberi makanan dan minumannya.
Rasanya sangat cocok dengan cuaca seperti ini. Minuman masih panas juga, ini karena faktor minumannya terkemas dalam termos kecil makanya terasa hangat.
Tanpa sadar aku lupa Jessen udah makan apa belum.
Aku melihat ke arah Jessen. Dia bersender di bahu kursi sambil menutup mata.
Aku sedikit menoel tangannya. "Jes."
Dia sedikit membuka matanya melihatku. "Hm."
"Kau udah makan?"
"Belum."
Lah... Aku udah habisin pula kedua rotinya.
"K kenapa ngak bilang. Aku jadi habiskan semua rotinya."
__ADS_1
Dia tersenyum miring merendahkan. "Aku ngetest kau tadi. Ternyata kau rakus."
Ulu hatiku kembali nyut-nyutan untuk sekian kalinya mendengar hinaan Jessen.