
Catatan penulis:
Hi guys... Kuy di like dulu sebelum membaca. Kemudian komen dan di vote ya... Kalau ngak ada vote di beri hadiah juga boleh...
Please dukung author ya my readers... Biar author makin semangat mengupdate ceritanya....
Makasih untuk partisipasi nya...
Happy reading guys 🤗❤️
________________________________________________
Aku memasuki koridor sekolah. Ku lihat jam tangan ku, pukul 7 pagi tepat. Hem... Ngak terlambat. Cie cie.. Ada rasa bangga tersendiri ea...
Hari ini mata pelajaran olahraga jam pertama. Salah satu mapel favorit aku. Ea..
Karena mata pelajaran olahraga jam pertama. Aku langsung aja memakai baju olahraga, btw aku semangat banget soalnya.
Hem... Ngak sabar nya.
Sesaat kemudian aku melihat Jessen. Dia melihatku dengan tatapan setajam silet. Kemudian dia mengalihkan pandangannya dariku dan kembali berjalan lurus melewati ku.
Em.. kenapa?
Oh.
Sesaat kemudian.. Deb. Aku di peluk seseorang.
"Valen..." Sapa Tessa.
Aku menoleh. "Oy.."
Dia melepaskan pelukannya dan berjalan di sebelahku sambil terus tersenyum.
"Ngape kau. Riang bener." Kataku dengan masang wajah ragu kenormalan Tessa agak terganggu. Canda canda...
"Hari ini pak Hertanto ngak dateng." Ucapnya kegirangan.
"Trus?"
"Jadi kelas olahraga yang seharusnya bapak itu ngajar di gabung kelasnya sama kelas yang olahraga hari ini jam pertama."
"Emangnya apa keuntungan nya?"
Tessa memberhentikan langkah nya dan berbisik ke telingaku. "Keuntungan nya..."
Aku yang penasaran semakin mendekatkan telingaku.
"KITA OLAHRAGA SAMA DENGAN KELAS JESSEN." Jerit Tessa.
Mataku terbelalak tanpa merasakan lagi betapa sakitnya gendang telinga ku akibat pekikkan Tessa.
DAMN
"Seserius?" Ucapku gagap.
"Iya dong." Tessa melipat telapak tangan nya. "Akhirnya bisa bareng juga sama Jessen." Kata Tessa sumringah.
Aku tertegun untuk beberapa saat. Dia, sangat menyukai Jessen ya?...
Rasanya aku merasa sangat sedih. Di satu sisi, kenapa aku masih sulit move on... Padahal aku udah sangat berusaha untuk itu. Di sisi lain... Aku ngak mau ada cinta segitiga, terutama di dalam pertemanan ku dengan Tessa. Aku ngak bisa...
"Oh. Ya,.. kau udah pakai baju olahraga aja."
"Eh. Iya nih." Kataku sambil sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Aku ganti baju dulu ya.. Bye..." Kata Tessa sambil berjalan meninggalkan ku.
***
Jam olahraga di mulai.
Aku tertawa hampir seperti orang gila di dalam hati... Kalian tau kenapa?..
Lihat... Jessen dan salah satu teman perempuannya merupakan lawan ku dan Tessa bermain bulu tangkis.
Haha haha hahahaha.....
Sial...
Pertandingan akan segera di mulai. Dan rasa kesal pad diriku sendiri karena aku sama sekali tak pandai bermain bulu tangkis. Main bulu tangkis ini aja aku terpaksa karena sudah guru yang menentukan.
Damn!
Prittt
Pluit bersiul dan menandakan pertandingan kami di mulai.
Bola di lambung kan oleh Jessen ke arahku.
Aku panik.
Tak. Yup... Tepat mengenai kepalaku.
Aduh... Aku mengelus jidadku. Bolanya emang kecil. Tapi menghantam cukup keras.
Arh.. aku ngak boleh kalah!
Bola di lambung kan kembali. Dan lagi lagi ke arahku.
Tak.
Aku melihat Tessa yang ada di belakang ku. Tessa mengepalkan tangannya memberi aku semangat.
Aku kembali menghadap depan. Okey... Aku harus semangat!
Bola dilambungkan lagi.
Tak. Kena kepala
Lagi..
Tak. Perut.
Lagi..
Tak. Kaki.
Lagi..
Tak. Jidat lagi!
"Cukup. Kayak gini aku bisa babak belur lah! Aku berhenti main."
Aku menjumpai guruku yang ada di ujung lapangan melihat murid lainnya yang sedang bermain Volly.
"Pak. Asam lambung saya naik. Kepala saya pusing. Saya perlu ke UKS pak." Ucapku. Dengan cara ini aku akan berhenti main dengan Jessen.
"Oh. Baik baik." Kata bapak itu.
Hem... Baguslah.
__ADS_1
Aku langsung pergi ke UKS.
***
Aku menelentangkan badanku melihat ke atas langit langit.
Ruang UKS ini kosong. Ngak ada orang. Ibu UKS nya izin sebentar katanya.
Huf... Ngak apa. Yang penting ngak kena bully sama Jessen.
Terdengar seperti ada seseorang yang datang masuk.
Sepertinya ibu UKS sudah datang.
Ruanganku yang di pisah oleh tirai pasien tak dapat melihat siapa yang datang.
Srak.
Tiraiku terbuka menampakkan sosok... Jessen!!
"Curang. Kau selalu curang." Katanya datar.
"Maksudnya?"
"Dari semalam kau mencurangi ku dan pergi dengan orang asing. Sekarang kau pergi dari permainan dengan berbohong kau sakit. Bukankah itu curang huh?"
Aku sedikit terduduk sambil memegangi tengkuku. "Em.. itu..."
"Apa." Tukasnya cepat dengan tatapan tajam.
"Apa kau selalu begini. Dengan mudah memeluk dan menyentuh pria huh?"
"Maksud mu apa sih?!" Aku mulai tak terima dengan spekulasi nya.
"Kau memelukku. Peluk dia. Terus peluk siapa lagi. Cih... "
"Heh! Maksud mu si Tian?! Denger ya, Aku ngak pernah tuh mau memeluk dia, dia yang meluk tiba-tiba!"
Aku bangkit berdiri menghadap nya. "Kau pikir aku wanita apaan! Ish..." Aku menghentakan kaki ku. Dan pergi melewatinya dengan menghantam bahunya keras.
Sebenarnya sakit menghantam bahunya yang keras. Tapi ini ku lakukan agar terlihat keren. Biar aja aku rela!
Tep.
Dia menahan tanganku membuat aku menoleh ke arah nya walau sebenarnya aku kesal. "Apa." Kataku.
Dia melepaskan tanganku. Dan kemudian dia melangkah mendekat padaku. "Dengar. Aku sangat membenci orang yang tak tepatkan janji dan pembohong sepertimu."
Deg deg...
Dia semakin mendekat.
Dia berhenti saat tepat dekat di hadapanku. Menundukkan kepalanya menatap wajah ku lekat. "Aku akan memberikan mu pelajaran nanti."
Deg.
Dia kembali menegakkan badannya dan melewati ku begitu saja.
Baru kali ini dia sangat serius mengancamku.
M maksud nya apa?
A aaku mau di apain samanya?...
Ngak. Pokoknya pulang sekolah ini aku bakalan cabut dari hadapan nya. Kalau perlu aku lewat belakang sekolah dan melompati pagar!
__ADS_1
Aku tak ingin berjumpa dengannya! Fix... Valid no debate!