
Catatan penulis:
jangan lupa di like komen dan vote (kalau vote nya habis, beri hadiah juga boleh) ya.... thanks... happy reading guys 🤗❤️
Jam pelajaran pun usai. Aku tengah berjalan dengan Tessa untuk pulang ke rumah kami masing-masing. Rasanya seperti hampa aja ya kan.. ngak ada ke tempat Jessen lagi.
Hem.. mau gimana lagi? Memang inilah yang seharusnya terjadi padaku.
"Val." Tessa menoel bahuku.
"Ha?"
"Aku mau nanya..."
"Hem. Oke, tanya aja."
"Kau ada hubungan apa sama Jessen? Kenapa.. Kau marah ke Jessen waktu di kantin karena melupakan mu?... Emang kalian udah pernah deket ya? Kok aku ngak tau." Tanya Tessa pemasaran.
Jawab apa ya?... Aku kasih tau juga kau ngak bakalan ngerti Tes... "Em. Itu, ngak ada apa apa Tess, aku hanya kesal aja sama dia."
Aku merenggangkan badanku. "Aku ngak akan mau lagi menyukai."
Tessa tersenyum lebar. "Benarkah?"
"Yup." Kataku bangga.
Tessa kemudian kembali murung. "Val. Aku mau jujur samamu."
"Apa beb?" Kataku sambil mengambil botol minuman ku yang berada di sebelah tasku. Kemudian aku mulai meneguk air minum ku.
"Aku sebenarnya suka sama Jessen."
Spontan air minum yang ku teguk tadi muncrat dari mulut ku. Kemudian aku terbatuk tersedak. "Ohok ohok..."
Tessa membantu ku dengan memukul mukul pelan pundakku. "Eh. Val..."
Aku menlap bibirku sambil menepuk dadaku. "Ngak ngak apa. Aku ngak apa."
"Maaf aku baru kasih tau kau sekarang. Karena aku ngak mau menyakiti perasaan temanku sendiri. Tapi... Karena kau bilang kau ngak mau menyukainya, apakah aku boleh menyukai Jessen sekarang?" Tanya Tessa dengan tatapan sendu.
Aku ngak nyangka. Ternyata Tessa sebegitu besar menahan rasa sukanya pada Jessen selama aku menyukai Jessen selama ini. Kenapa aku selama ini tak menyadari itu.
"Ya. Bebas aja sih Tess.. kan aku juga bukan siapa siapanya Jessen." Kataku pada Tessa sedikit terkekeh garing.
Tessa menatapku dengan penuh haru kemudian memelukku. "Makasih ya Val... Kau sangat mengerti aku."
Dalam pelukan ini sebenarnya aku merasa sedih. Kenapa kami bisa menyukai orang yang sama?... Kenapa?
Drett... Ponsel Tessa berdering. Aku pun melepaskan pelukannya, kemudian dia mengangkat ponselnya. "Halo?"
"Ah. Iya iya. Oke ma, Tessa akan segera pulang." Tessa mematikan ponselnya.
Tessa melihat ke arah ku. "Val. Maaf banget, aku harus pulang naik ojek. Mama dan Papaku menyuruhku untuk pulang dengan segera."
"Oh iya iya.. ngak apa."
"Oke Val... Makasih banyak ya. Love you." Katanya sambil berjalan pergi meninggalkanku.
Kali ini hatiku benar benar hancur. Ntahlah.. rasanya sangat hancur.
__ADS_1
Aku melanjutkan langkahku. Kemudian aku melihat ada seseorang yang mengenakan seragam, jaket jeans biru dengan menggunakan headset di telinga berjalan melintasi jalan raya yang berlampu merah.
Hem.. wajar sih. Namanya lampu merah.
Tapi kemudian aku melihat ada kereta kencang yang ngebut ngebut melaju dengan kencang ke arahnya. Dia yang hanya fokus pada ponselnya tak menyadari itu.
Sial... Aku lagi ngak mood lihat kecelakaan dan mayat yang bertebaran njir...
Aku langsung berlari ke arahnya. Untungnya jarak kami lumayan dekat.
Tep. Aku meraih tangan nya. Kemudian aku menarik nya dan membuat kami terjatuh bersamaan ke arah trotoar jalan. Aku menindih nya.
"Aduh..." Ringisku karena terjatuh. Sedangkan dia hanya melihat ku datar.
Aku pun bangkit berdiri. "Heh!! Kalau nyebrang lihat lihat jalan lah!! Jangan main hp mulu!!" Aku memarahinya.
Dia pun bangkit berdiri. Dia menunjukkan ponsel nya yang sudah hancur karena terjatuh tadi. "Ponsel ku rusak karena mu." Dia menatapku marah.
"Ih... Udah di tolongin juga." Aku menunjuk nya. "Heh, nyawamu itu lebih berharga dari pada ponselmu tau!"
Dia diam untuk beberapa saat. "Kau harus mengganti rugi karena ponselku rusak." Katanya lagi.
"Ih ni anak ya... Heh. Seharusnya kau yang hutang Budi padaku."
Dia memegang tanganku kemudian menarik ku.
Aku berusaha melepaskan tanganku. Tapi tangannya sangat keras mengenggam tanganku, membuatku mengikuti arah jalannya.
"Ish... Lepasin lah."
"Ngak."
"Mau ngapain sih?!" Aku geram.
Tunggu aku seperti mengenalnya. "Tian?!" Pekikku membuat dia menaikkan alisnya dengan tatapan datar.
"Dari mana kau mengenalku?"
Wait... Ngak mungkin kan aku bilang... Woy Tian, kau itu senior ku di rumah sakit!!
Cepat Val... Cepat berfikir...
Mataku tertuju pada bed namanya. Aha!
"Dari bed namamu."
Dia menatapku tak percaya.
"Iya lah aku tau dari bed namamu. Emang kau famous banget apa?... Kan enggak... Jadi jangan sok kegantengan."
Dia tersenyum miring. "Oh ya?"
"Iya lah." Kataku sedikit gaguk.
Kemudian aku menatap ke arah lain. "Pokoknya aku ngak mau ganti rugi hpmu. Kau yang seharusnya utang Budi." Aku kembali menjelaskan padanya bahwa akulah yang di rugikan sekarang.
"Siapa yang menyuruhmu mengganti ponselku?"
Aku melihatnya. "Kan kau sendiri yang bilang aku harus ganti rugi. Aku ngak mau ganti rugi ponselku." Aku bukan karena aku ngak mampu. Tapi ini masalah harga diri.
"Kau bukan ganti rugi ponsel." Katanya.
__ADS_1
Aku menatap nya heran.
"Kau harus mengobatiku sampai sembuh."
"Ih... Ngak ada. Rugi..." Aku bangkit berdiri dan membalikkan badan ku dan hendak pergi.
"Aduh... Akh... Perih banget." Terdengar suara erangan kesakitan dari nya.
Aku menoleh.
"Kau tadi menimpaku. Rasanya sakit tau ngak. Udah badanmu berat, badanku jadi tambah sakit." Umpat nya.
"Aduh... Sakit banget." Dia memeluk badannya sambil menunduk kesakitan.
Ck... Aku pun kembali duduk di sebelahnya. "Mana yang sakit?" Kataku sedikit kesal.
Dia menunjuk tangan, perut, kepala, dan kaki.
"Banyak amat."
"Memang iya... Makanya aku kesakitan." Katanya kesal.
Aku kembali berdecak kesal. Aku mengambil Tissue dan air minumku.
Ku basuh tangan dan kakinya yang lecet tadi kemudian aku seka dengan Tissue.
"Akh pelan pelan lah."
"Terserah aku lah." Aku semakin menekan kakinya.
"Akh... Sakit." Katanya.
Hahaha. Seneng juga lihat dia tersiksa. Dari sekian lama aku yang sering di bully nya di kerja aku selalu makan hati... Dan sekarang aku melihat dia kesakitan, totally aku sangat bahagia.
"Kok ketawa."
"Heh? Apa?" Aku baru sadar aku terlalu ketawa keras tadi.
"Apanya yang lucu." Dia kesal.
"Ngak ada loh."
Dia menatapku kesal.
Setelah beberapa saat aku membersihkan luka nya. Akhirnya selesai.
Aku menutup tempat minum ku. "Udah siap. Aku mau pulang." Aku hendak beranjak.
Dia kembali menarik tanganku. "Heh. Tanganmu juga luka."
Aku melihat tanganku. "Oh. Ini. Biasa aja kali."
Dia menarikku dan membuat aku kembali terduduk. Kali ini dia yang membersihkan luka tanganku dengan air dan sarung tangan.
Well dia sangat telaten. Wajar aja dia jadi senior yang di segani nantinya.
Dia menyerahkan sarung tangan nya padaku. "Besok kau berikan lagi padaku. Di sini dan jam segini. Jangan lupa." Dia bangkit berdiri begitu pun aku.
"Hem." Jawabku. "Aku pulang dulu."kemudian aku pun jalan melewatinya.
Gila juga ya. Bisa bisanya aku jumpa sama si Tian. Ckckck.
__ADS_1