Magic You

Magic You
chapter 9


__ADS_3

Aku termangu duduk di kelas walaupun guru tengah menjelaskan materi. Kepalaku sudah mulai paham  tentang kerja buku mistis ini.


Aku memandangi buku ini. Kapan ya aku bisa bicara sama nenek itu lagi?


"Valen!"


Aku tersentak dari lamunanku dan menatap ke arah depan. "I iya Bu."


"Bengang bengong, bengang bengong... Coba kamu jelaskan apa yang saya terangkan tadi!"


Sial... Lagi mapel fisika pula...


Aku hanya memegangi tengkukku dan tersenyum pasrah.


"Berdiri di luar!"


Hem... Ya sudahlah.


Aku melangkahkan kakiku keluar dan duduk di kursi tunggu di seberang kelas.


Bu Septi yang memarahiku tadi melihatku dengan amarah. "Siapa yang suruh duduk?!... Berdiri!"


Aku langsung berdiri dengan tegap.


"Angkat kaki satu dan buat kedua  tanganmu menjewer kuping!"


Aku langsung mengikuti perintah nya.


"Lakukan sampai jam saya selesai!" Ibu itu masuk ke kelas dan menutup pintu.


"Iya bawel... Dasar killer!" Umpatku dengan penekanan.


Huh, sial sial. Harusnya aku tadi tetap fokus belajar.


Aku memandang sekitar bosan. Mau ngapain coba?


Kakiku mulai terasa pegal. Aku mencoba menurunkan kakiku.


"Hey!! Angkat kaki!" Jerit Bu Septi. Padahal kaca kelas yang membatasi antara koridor dengan ruangan kelas cukup tebal. Kenceng bet dah suaranya...


Buru-buru aku angkat kaki.


"Gila, peka amat. Kaya Jessen!" Pekikku dengan berbisik.


"Apa panggil panggil."


"K kau sejak kapan di sini?!" Terkejut akan kehadiran Jessen.


Jessen memutar bola matanya. "Kau aja yang buta. Segede ini bisa ngak liat."


Jessen duduk di bangku tunggu panjang yang ada di belakang ku.


"Kau ngak masuk?... Atau, kau cabut ya... Ckckck. Tak patut."


Jessen menyandarkan badannya pada bahu kursi. "Aku izin ke perpus untuk belajar persiapan olimpiade."


"Mana bisa gitu? Kalau di sekolah ya belajar seperti biasa. Kalau masalah olimpiadekan bisa belajar nanti, di rumah kek, di waktu istirahat kek. Kaya ngak ada waktu aja..." Ucapku.


Jessen tersenyum miring. "Bisa. Aku buktinya."


Aku berdecak kesal. Iri jadinya, dia bisa se-enak jidatnya buat keluar dari kelas tanpa di marahi guru... Apakah ini kelebihan anak emas. Silau aku liatnya...


Jessen menatapku tanpa berkata apapun.


"Kenapa liatin aku?" Kataku sinis.


"Kau memang bego ya di kelas."


Jleb


Aku mengalihkan pandangan. "Kenapa kalau aku bego?! Masalah?!"


Jessen hening beberapa saat. Kemudian berdiri dan berjalan mendekatiku. "Enggak masalah utusan peri." Dia menjitak kepalaku dan pergi.


"Dasar kakak kelas psikopat!" Pekikku membuat langkahnya terhenti.


Mampus aku.


Dia kembali melangkah ke arahku dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Kalau kau mendekat aku akan lapor ke guru di kelasku!" Aku mengancam.


Jessen tak peduli dan terus melangkah ke arahku.


"Kau sudahku peringatkan!"


Peringatanku di abaikan.


Gila... Gimana nih?


Sekarang Jessen udah di hadapanku. Dia mendekap badan ku.


What!?


Mulut ku terbungkam. Jantungku berdetak kencang... Sangat kencang.


"Emang kalau psikopat bisa meluk cewek dengan lembut?" Bisiknya.


Aku mendorong tubuhku menjauh darinya. "Apaan sih?! Kau cari mati ya?!"


Jessen melipat kedua tangan di dadanya. "Bukan kah kau yang akan mati? Jantungmu berdebar tak normal." Jawabnya singkat.


"Gimana ngak jantungan! Kau memeluk ku tiba-tiba!"


Seperti tidak terjadi apa-apa dia membalik badannya Dan pergi begitu saja.


Aku menggaruk kepala prustasi. "Arh..."


Aku ngak sadar kalau Bu Septi berjalan ke arah ku. "Valen!"


Aku menjerit masih dengan menggaruk kepala. "Apa sih?!"


"Valen!!" Aku tersentak dan menatap Bu Septi.


Aku menganggap. "A.. ah... Ibu, maaf Bu, saya pikir tadi..."


"Tidak ada alasan! Push up 50 kali!"


"Hah?" Aku lemas.


"Cepat!!"


***


"Jessen!" Kataku dengan penuh penekanan.


Jessen hanya menatapku datar.


Aku menghampirinya dan memukul meja. "Kau tau, karena kau aku dapat hukuman tambahan!"


Dia melihat belakangku dan menunjukku. Aku pun mengikuti arah pandangannya. Terlihat petugas perpus yang tampak emosi melihatku, kemudian menyentuh bibir nya dengan jari telunjuk nya mengisyaratkan agar aku diam.


Rrh.


Aku duduk di hadapan Jessen dan mengatur nafas mencoba tenang.


"Fuh..." Aku mulai bicara. "Kak, kakak seneng apa?"


Ini adalah salah satu cara mengetahui hal yang membuat Jessen bahagia, yaitu bertanya langsung.


Dia menaikkan salah satu alisnya. "Baca."


"Oo, baca apaan?"


"Bukan urusanmu."


Ctar


Rasanya seperti di sambar petir cuy...


"Gini loh kak, aku mau beliin kakak buku. Aku ngak mau ada kesalahan dalam membeli. Nanti udah aku beli, kakak malah ngak baca. Kan sedih." Aku memasang wajah memelas dan memasang mata puppy eyes berharap dia akan mengerti. Walaupun kemungkinannya hanya 1%


"Ngak perlu."


Rasanya pingin banget cekik Jessen TUHANNN. Namun tanganku malah ngarahin cekikikanku ke aku. Ngak mungkin kan aku bunuh anak orang...


Rrrrr


Jadi gimana dong buat kau bahagia Jes?

__ADS_1


Aku menundukkan kepala ku lemah. Mau nangis rasanya. Kenapa aku harus ngalamin ini semua? Kenapa harus aku yang harus buat Jessen bahagia dan kalau tidak aku akan sial? Kenapa aku harus menjadi tertekan dengan ini semua karena ngak ada teman yang bisaku ajak komunikasi, karena mereka akan langsung melupakan penjelasanku?


Kenapa... Kenapa...?


Tanpa aba-aba air mata ini jatuh. Rasanya bebanku terlalu berat.


Aku pergi dari hadapan Jessen.


Pergi ngak tau arah mau ke mana.


***


"Hu... Hu... " Aku terus menangis di dalam gudang barang di belakang sekolah. "Nenek kenapa sih ngak datang?... Hu hu. Aku ngak bisa lakukan ini nek..."


Bruk


Terdengar suara benda terjatuh tak jauh dariku dan akupun berjalan ke arah sumber suara.


Aku memegang sapu di tanganku, mana tau ini adalah orang jahat.


Shit... Ada orang yang SEKARAT.


Aku merekam kejadian ini sebagai bukti bukan aku yang membunuhnya.


Aku sangat panik. Tidak berani memegangnya karena aku bisa di anggap sebagai terdakwa.


Aku berjalan ke luar hendak memanggil orang.


"T... Tolong." Suara lelaki itu sangat lemah.


Aduh aku harus gimana?


Aku langsung merekam kembali laki-laki itu dan ponselku dengan kamera yang masih menyalaku letakkan dalam kantong bajuku.


Aku merangkul kakak itu, membawanya keluar...


Sambil menahan berat tubuh kakak ini aku terus berjalan secepat mungkin.


"Ke kenapa k kau meno...longku?" Ucapnya termegap-megap.


Aku menatapnya. "Karena kakak butuh pertolongan."


Dia tersenyum lemah ke arahku. "Ma..ka...sih ya."


Aku hanya mengangguk.


Memang ini bukanlah hal yang tepat untuk di bahas pada saat ini. Tapi, kakak ini beneran sangat manis...


Ngak Val!!! Kau harus cepat!!! Jangan sampai dia mati!!!


Aku memangil taxi dan membawa nya ke rumah sakit.


***


Aku sangat kuartir keadaan kakak itu. Sampai-sampai aku tak terasa sudah berjalan mondar mandir selama 1 jam lebih di ruang tunggu untuk keluarga pasien menunggu.


"Adik siapanya?" Tanya Dokter yang baru keluar dari ruangan kakak itu.


"Enggak pak.. eh dok. Saya temannya."


Dokter itu hanya mengangguk. "Dia baik-baik aja. Hanya kurang istirahat, dan dia makan juga tidak teratur makanya tubuhnya jadi lemah."


Aku bernapas lega.


"Kamu tidak usah terlalu panik." Sambung sang Dokter.


"Iya dok. Apakah saya bisa masuk dok?"


"Tentu."


Akupun masuk ke dalam dan berdiri di dekatnya. Aku melihat kakak itu sangat kelelahan.


Ah sudahlah... Sepertinya aku sudah bisa pergi.


Aku membalikkan badan. Namun pergelangan tanganku di genggam olehnya.


"Tunggu di sini. Aku butuh kamu." Ucapnya sambil membuka sedikit matanya.


Memang otak ini tidak bisa berkompromi dengan keadaan. Tapi memang seriusan kakak ini super manizz...

__ADS_1


__ADS_2