Magic You

Magic You
chapter 73


__ADS_3

Catatan penulis:


Yuhu gengsss.... Jangan lupa di like, comment, vote ( kalau ngak ada beri hadiah koin ya guys... Hehe) dan rate 5 Yau...


oh ya... btw jangan lupa mampir juga ke cerita aku yang baru ya... Judulnya "Choco Cake"


Ceritanya buat nagih loh... wkwk. banyak unsur bapernya. oh iya, ada cogan juga loh... 🙃👍😂


ceritanya mengenai seorang remaja bernama Gralista bernama temannya yang tak sengaja menemukan ruang aneh di rumah Gralista saat ingin menonton film. Hal aneh terjadi pada mereka saat mencoba mengikuti alur kinerja ruangan itu. hal yang hanya sekedar mencoba coba karena penasaran membuat mereka dalam masalah. Ruang itu membuat mereka berada di dimensi lain, bahkan sebelum adanya kemerdekaan!!! membayangkan hal itu... apa yang akan terjadi pada mereka? apakah mereka dapat kembali? atau...


penasaran ya... kuy langsung baca aja cerita baru aku itu... selamat mencoba yau...


Wkwk. Cuma mau bilang itu aja sih...


Thanks bagi yang udah beri, semoga dapet pahala, panjang umur, sukses selalu... Amin...


Oke deh... Lanjut aja bacanya ya guys... Lope yu ❤️


Happy reading...


 


"Kumohon..."


Tidak ada reaksi apapun. Buku ini tak memberikan keajaiban apapun...


"SIALAN!!!"


"BUKU YANG TAK BERGUNA!!!!"


Aku mencampakkan buku ini ke depan...


Shriit....


Terdengar suara pekikan dari buku itu dan buku berhenti dari melambung saat ku lempar.


Buku itu berputar cepat dan angin kencang, sangat kencang menerpa ku. Membuat badanku pun menahan diri agar tetap dapat berdiri.


Srrupp...


Buku mistis itu menghilang dari pandangan.


Aku melihat ke arah Jessen.


Apakah terjadi sesuatu?


Jessen tetap seperti tadi dengan tak ada tanda tanda kehidupan.


Aku menunggu beberapa detik... Tidak ada yang terjadi...


"Arh.... JESSEN!!! KEMBALILAH!!!!"


Hushh.... Angin kencang mendorong ku dan cahaya menyilaukan mataku...


Aku terdorong namun aku tak merasa jatuh.


Kemudian mataku menjadi gelap... Gelap sekali...


Aku tak dapat berfikir lagi...


Semuanya hilang...


Hanya ruang gelap hampa yang ada di alam pikiran bawah sadar ku...


Sungguh aneh...


Kemudian badanku terasa bergetar.


Seperti ada yang mengundang guncang..


"Valen... Valen..." Suara, atau dapat ku katakan ini terdengar lebih seperti mengema di telingaku.


Badanku terus di goncangan.

__ADS_1


Badanku yang awalnya seperti mati kutu tak dapat merasakan dapat bergerak, akhirnya mulai dapat bergerak pada tanganku, kemudian kaki dan badan.


Aku berusaha keras mengerakkan nya.


"Valen!" Kemudian suara yang kencang membangunkan ku.


Aku terlonjak dan berdiri dari ... Duduk?


Huh?


Aku melihat sekitar.


Teman teman sekerja ku mengelilingi ku dan menatapku heran.


"Heh. Kau lama amat tidur." Kata Tria ealah satu rekan kerja ku.


"Tau tuh... Padahal kan masih pagi." Sahut temanku lainnya.


"Cuci gih mukamu. Biar seger.."


Aku masih bingung apa yang terjadi.


Aku pergi ke kamar mandi dan mencuci muka.


Apa? Huh?


Aku membolangkan mataku. "JESSEN! AKU HARUS KE KAMAR JESSEN!"


Aku berlari ke kamar Jessen dengan kencang.


Ku buka pintu kamar Jessen.


Mataku hanya dapat melihat suster perawat yang di tengah membereskan tempat tidur yang kosong. Yang dimana suster itu melihat ke arahku karena masuk mendadak.


Jessen mana?


"Kenapa dok?" Tanya nya.


"Oh. Sudah di pindahkan ke ruang jenazah dok. Keluarga nya sudah datang untuk mengambil tubuhnya."


Deg...


Berarti memang tak ada harapan lagi.


Kakiku melemah. Aku terjatuh dengan posisi terduduk.


Suster yang merapikan tempat tidur itu pun langsung berlari ke arah ku. Dan memegang bahuku. "Eh. Dokter kenapa?"


Aku hanya dapat menangis. Tak dapat berkata apa apa lagi.


Aku menlap air mataku. Berusaha bangkit berdiri, suster itu pun membantu ku berdiri.


Aku menatap suster itu. "Saya mau ke ruang jenazah. Saya mau melihat jasadnya untuk terakhir kalinya."


Suster itu tampak ragu. "Sepertinya keluarga nya sudah membawa jenazah nya pulang dok, untuk di makamkan. Karena memang sudah lama mendiang di angkut dari kamar ini dok."


Aku tak peduli. Aku langsung berlari ke arah kamar Jenazah.


Mencari Jessen.


Jessen tak ku temukan.


Sepertinya memang benar dia sudah tak ada di sini.


Aku kembali menangis dan menlap air mataku. Walaupun air mataku tak berhenti menangis.


Aku berjalan linglung keluar ruangan ini.


Berjalan menuju koridor rumah sakit.


Terus berjalan tanpa melihat ke arah depan.


Bruk...

__ADS_1


Aku menabrak seseorang.


Aku mendongak, itu Tian.


"Kau kenapa?" Katanya sedikit panik karena melihat ku menangis.


Tangis ku kembali pecah. "Dia udah mati Tian... Udah ngak ada di dunia lagi... Hu hu.."


"Eh. Siapa yang mati?"


"Jessen... Hu hu hu..."


"Jessen?"


"Iya... Hu hu..." Aku terus menangis. "Pasien yang kita rawat semalam..."


Tian tampak bingung. "Yang mana?"


"Ish... Kau ini masa lupa sih... Yang memiliki komplikasi jantung loh.... Gimana sih..." Aku jadi sedikit kesal melihat Tian.


Dia semakin bingung. "Kita ngak pernah merawat pasien yang komplikasi jantung kemarin."


"Huh?... Ja jadi... Yang baru meninggal itu siapa?"


"Ah.. itu bapak Sudarno. Baru meninggal karena serangan jantung."


"Lah? Huh?" Aku jadi tambah bingung.


"Udah deh. Kau jadi aneh hari ini."


Aku masih menelaah apa yang terjadi.


"Lanjutkan aja pekerjaan mu. Banyak pasien yang perlu di tangani." Tian pun pergi meninggalkan ku.


Huh? Aneh kan?


Aneh banget...


***


Sepulang kerja ini aku berjalan pulang ke rumah.


Aneh sekali.


Dari tadi aku terus memikirkan hal yang terjadi padaku hari ini.


Aku pun sampai di rumahku.


Ada mobil terparkir di depan pagar dengan seseorang yang berdiri bersender di mobil dengan kepala tertunduk dan tangan dilipat di dadanya.


Dia menggunakan kemeja biru rapi dengan celana keper panjang.


Sepertinya tak asing.


Aku berjalan ke arahnya dan sekarang aku berada di hadapannya. Dia mendongak.


"JESSEN!!!" Pekikku.


Dia menarik tanganku dan merangkul pinggangku, meraih tengkuku dengan tangannya yang lain ke arah wajahnya.


Dia mencium bibirku singkat.


"I Miss You." Itu kata yang keluar dari mulutnya.


"Aku sangat mencintaimu Valen. Sangat."


Aku tersenyum.


Dia memelukku erat.


Cih... Akhirnya aku mendengar kata cinta dari bibir nya langsung.


Aku sangat senang.

__ADS_1


__ADS_2