Magic You

Magic You
chapter 39


__ADS_3

Jessen mengalihkan pandangannya ke arahku. "Buatkan aku makanan." Suruhnya.


Heh? Dia pikir aku apa huh?


"Woy. Aku bukan pembantumu. Jadi jangan memerintahkanku." Bentakku.


Dia tersenyum miring sambil menunjukkan buku mistis di tangannya. Dia memiringkan kepalanya. "Selesaikan atau tidak."


"Iish... Bisanya ngancem. Ck."


Dia kembali memasukkan buku mistis ke dalam sakunya. Dan kembali membaca buku.


Aih... Malasnya.


Aku pun pergi ke dapur memasak makanan.


Aku memasak nasi goreng lagi.


Ya lord... Aku memang minim masak. Aku ngak paham.


Aku pun menyelesaikan masakan dan meletakkannya ke meja makan.


Aku masuk ke dalam kamar lagi untuk memanggilnya. "Udah siap." Kataku.


Dia masih tak menggubris kalimatku.


"Is. Udah masak loh. Aku udah capek masak. Jangan kacangi napa." Pekikku .


Dia menoleh ke arahku datar. Dia sedikit menggerakkan rahangnya ke kanan sekejap. "Sini." Dia memanggilku.


Ck. Aku pun mendekat ke arahnya. Dan menghadap ke arahnya. "Apa?" Kataku.


Dia menaik turunkan telapak tangan ke arah wajahnya bermaksud agar wajahku kudekatkan padanya. "Mendekat."


Aku pun mencondongkan badanku dan menatapnya lekat. "Kenapa?" Kataku malas.


"Pergi mandi. Nanti aku mau mandi setelahmu. Jadi cepat."


"Hm." Aku hanya berdehem ria dengan badan masih mencondong ke arahnya.


"Ya udah. Pergi sana. Ngapain masih di sini."


"Oh. Udah? Gitu doang?"


"Ya."


Aku kembali menegakkan badan. "E eleh. Aku kira ada apa. Rupanya cuma mau ngomong itu."


"Btw, itu udah aku siapkan nasi goreng di meja makan." Lanjutku.


Dia berdiri dan menyentil jidatku. "Kau cuma bisa masak itu?" Katanya meremehkan.


"Ya itu memang yang bisa aku masak. Kalau nggak mau juga ngak masalah, ngak usah kau makan juga terserah.


Dia memutar mata malas. "Udahlah. Cepat sana mandi." Dia mengusirku.


"Iish, tadi nanya sekarang ngusir. Kagak jelas." Cetusku.


Aku pun mengambil bajuku yang ada di lemari.


Tapi kok. Masa aku meletakkan pakaian dalamku di sini. Kalau, baju sih it's oke ya kan... Tapi kalau barang keramatku. Gila aja kalau dia seenaknya melihat punyaku.


Aku pun memasukkan kembali pakaian dalamku ke dalam koper, di saat aku perlu aku bakal ambil.


Ah... Bener bener.


Aku pun mengambil segala keperluanku untuk mandi. "Heh. Di mana kamar mand..." Kataku sambil menoleh ke arah Jessen. Tapi Jessennya ngak ada.


Mana dia?


Aku sambil membawa baju dan peralatan mandiku aku pergi ke luar kamar.


Aku melihat Jessen memakan makananku sambil tersenyum. "Heeeh?.... Dia tersenyum?"


Dia senang aku masakin?


Wkwk


Eh. Serius nih?


Kok bisa?


Aku jadi tersenyum kecil sambil terkikik.


Menyadari aku terus memandanginya, dia pun menoleh ke arahku.


"Apa?" Wajahnya menjadi datar.


"Hem... Aku tau. Kau senang kan aku masakin? Haha." Aku memegangi daguku berlagak seolah olah menganalisis sesuatu. "Kayanya seorang Jessen Luders sudah mulai menyukaiku. Hahaha." Candaku.


Dia menatapku tajam. "Kau. Cepat. Mandi." Tekannnya.


"Iya iya."


Aku kembali terkekeh.


Lucu juga lihat ekspresinya.


"Oh iya. Kamar mandimu dimana?" Tanyaku.


Dia menunjuk ke arah bagian selatan dari tempatnya sekarang. "Di sana."


Kemudian dia tampak mengingat sesuatu. "Heh bego. Di kamar kan juga ada kamar mandi."


Aku memegangi daguku dengan jari telunjuk dan jempolku. "Iye ke?"


"Apa perlu aku yang mengantarmu sampai ke kamar mandi dan memandikanmu seperti anak kecil?"


"Cih. Kau lihat badanku sebesar ini masa kau cap aku seperti anak kecil?!"


"Otakmu kapasitasnya sama dengan anak kecil." Dia menunjukku dengan telunjuknya. "Sulit menangkap hal yang sulit."


Hina kali aku di sini.


"Ngak perlu menghina napa sih. Panas nih kuping dengarnya."


"Heh. Kau selalu tak menerima kenyataan."


Aku menggaruk kepalaku kesal. "terserah lah. Aku tak peduli."


Aku pun pergi ke kamar mandi dan mandi.


Kamar mandi si Jessen kok rapi amat ya... Sepertinya memang dia terlahir menjadi seorang yang yang inteligen dalam segala hal.


Aku melihat ada bathtub di sini.


Apa Jessen biasanya pakai bathtub ini?


Hehe. Kok aku geli ya.


Hem... Kalau aku mandi di dalam, pikiranku jadi melayang.

__ADS_1


Ini kan tempat Jessen berendam kan...


Kalau aku berendam di sini, pasti seolah olah aku mandi bersamanya.


"Haha... Gila gila." Aku terkekeh.


Otakmu loh Val. Kotor sekali... Haha.


Udah udah... Aku mandi dulu lah. Cuci otak Val, cuci otak...


Ckckck.


Aku pun mandi membersihkan diri.


***


Aku pun selesai mandi dan keluar kamar dari mandi.


"Fuhh. Segar." Aku berjalan sambil menghanduki kepalaku.


Aku melihat Jessen yang juga sudah selesai mandi. Terlihat dari bajunya yang sudah berganti dan rambutnya yang basah yang tertutupkan handuk kecil sedang dia masih terus belajar.


Aku mengeringkan rambutku dengan handuk, berjalan ke kasur dan memainkan ponselku.


Aku melihat bukuku dan menulis tanggal hari ini. Mencatat pembelajaran yang akan kupelajari besok.


Sambil bersender di bahu tempat tidur Jessen, aku menulis di sebelah pahaku yang dimana kakiku kulipat menyilang ke depan.


Srett.


Aku menoleh ke arah kursi Jessen yang tergeser ke belakang karena dia berdiri. Dia berjalan dan naik merangkak ke tempat tidur dan mendekat ke arahku. Dia berhenti di depanku dan membalikkan badan duduk di hadapanku membelakangiku. "Keringkan rambutku."


"He? Kau kan punya tangan. Keringkanlah sendiri." Cetusku.


"Cepat. Dari pada nilaimu kuturunkan." Katanya datar.


"Aih... Kok main ngancem lagi sih. Rese banget."


Dia masih duduk membelakangiku tak memperdulikan kalimatku.


Cih. Aku harus mengikuti perintahnya.


Aku berdecak kesal, mendekatinya dengan berjalan berlutut ke arahnya. Aku pun mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ada di kepalanya.


Dia diam, duduk sambil menutup mata dan melipat kedua tangannya dia dada.


Ish... Udah kaya babu aku.


"Heh. Kau pikir aku ini apa sih? Babu tanpa bayaran?!" Aku seketika menggosok kepalanya kuat.


Dia mendongak ke arah atas menatapku. "Ck. Yang benerlah mengeringkannya." Dia kembali menatap depan dan memegang tanganku yang ada di kepalanya. "Mengeringkan aja ngak bener." Dia memeraktekkan cara mengeringkan rambutnya dengan memegang jari tanganku mengarahkanku untuk mengeringkan kepalanya dengan benar.


Jantungku berdegup kencang.


Aku menarik tanganku dari tangannya yang masih memegangi tanganku, tapi dia tak melepaskan tanganku.


Jantungku semakin berdegup tak karuan.


"Kau kan bisa keringkan sendiri pakai tangan." Aku kembali menarik tanganku dari genggamannya. Sekali lagi dia tak mau melepaskan tanganku.


"Aku menganggapmu pacar. Jadi perlakukan aku dengan baik." Katanya datar.


Tangannya yang tadinya mengajariku menggosok kepalanya dengan lembut sekarang berhenti.


Oke. Sekarang jantungku akan meledak!!


Dia kembali melipat kedua tangannya di dada. "Cepat keringkan." Sambungnya.


Aku menurunkan tanganku dari kepalanya dan duduk. "Kenapa sih kau selalu bertingkah seperti ini. Ngeselin tau ngak! Kadang baik, kadang jahat, kadang dingin... Kesel tau ngak!"


Dia membalikkan badan duduk menatapku.


Aku menunjuknya. "Kalau aku baper gimana?! Kau mau tanggung jawab!"


Dia memiringkan kepalanya menatap dengan dingin. "Engak."


Nah kan.


Brengsek kan.


Aku menggaruk tengkukku kesal. "Ck. Ah bodo amatlah." Aku kembali memundurkan badanku sampai ke bahu tempat tidur. Membuang pandangan ke arah kanan. "Sanalah, kembali aja ke bukumu tadi. Rambutmu udah kering." Aku kembali membaca buku dan melihat ponselku sesekali melihat apa yang perlu kutambah di catatan.


Dia masih melihatku.


Aku yang risih di lihatin pun angkat bicara. "Apa? Mau aku belajar di luar kamarmu?" Aku pun merapikan buku, pulpen dan ponselku yang ada ada di dekatku. Aku berdiri dan berjalan ke luar kamar.


Aku memperlambat langkahku untuk keluar pintu berharap dia akan menghadangku.


Ya kaya pilem pilem FTV gitulah...


Lah kok dari tadi dia ngak ada manggil.


Aku sedikit menoleh ke belakang.


Dia udah tertidur di tempat tidurnya.


Iiss... Kok malah tidur sih!


Ngak ada so sweet so sweet-nya.


Ck. Si Bambang satu ini ngeselin banget sih...


Iiiisssss...


Dia menoleh ke arahku. "Lama ya keluarnya."


Ishhh... Malah di suruh beneran keluar lagi...


"Iya... Aku bakal keluar."


Aku pun keluar sambil mengentakkan kaki geram selagi melangkah ke luar kamar.


***


Aku membaca buku hingga tengah malam. Rasanya mata ini sangat berat, sepertinya aku bakalan tertidur deh.


Aku pun meletakkan bantal sofa di salah satu ujung lengan sofa. Aku meletakkan kepalaku di sana dan sisi lainnya untuk kakiku.


Aku tidur dengan menutup wajahku dengan buku yang kucatat tadi.


"Selamat malam." Aku bermonolog.


Aku pun tidur dengan lelap.


***


Aku terbangun dari tidurku.


Mataku kembali kututup, buku masih berada di wajahku. Aku meraba-raba mana ponselku untuk melihat jam berapa ini sekarang.


Hup. Dapat. Aku menemukan ponselku. Aku membuka buku yang ada di atas kepalaku. Aku melihat ponselku. Pukul 4:30.

__ADS_1


Aku memegangi kepalaku berat.


Aku coba untuk mendudukkan tubuhku dan melepaskan selimut ini yang ada di badanku.


Wait. Selimut?


Aku baru tersadar dari tadi ada selimut yang menutupi tubuhku semalaman. Aku duduk di sofa dan terkejut melihat seseorang tengah duduk di lantai beralaskan karpet di bawahku bersandar di sofa yang kutiduri. Itu Jessen yang duduk sambil tertidur.


Dia ngapain di sini?


Aku turun dari sofa dan duduk lantai yang beralaskan karpet juga bersebelahan dengannya. Aku menatapnya lekat-lekat.


Dia ngapain sih? Aku masih bingung ngapain dia di sini.


Dia membuka matanya perlahan. "Tidur aja sana." Katanya.


Aku terlonjak kaget. "Loh?! Kau bangun!" Jeritku.


Dia menutup telinganya. "Ck. Pelankan suaramu." Katanya datar.


"Tunggu dulu. Kau ngapain di sini sih?" Aku mengibas-ngibaskan tanganku. "Sana. Tidur aja di kamarmu."


Dia menatapku datar. "Kau tidur di kamar. Aku di sini."


Aku memicingkan mata.


Kalau dia baik begini takutnya dia akan berbuat yang aneh-aneh samaku.


"Ngak. Aku tidur di sini. Kau aja yang tidur di sana." Jawabku.


Aku bangkit berdiri dan kembali tidur di sofa. Menyelimuti tubuhku dengan selimut.


Dia masih tidur di sini dan tak memperdulikan kalimatku tadi. "Hei. Udahlah. Kau tidur aja di sana."


Kataku singkat.


"Bilang makasih." Dia mendongakkan melihatku.


Aku menyergitkan dahiku. "Untuk apa?"


Dia berdecak kesal. Dia menunjuk selimut yang ada di sofa. "Kau pikir selimut ini bisa berjalan sendiri menyelimutimu?"


"Oh. Jadi kau yang memberikannya."


Dia menjawabku dengan wajah datar.


"Ck. Makasih." Aku mengalihkan pandanganku. "Udah kan. Udah kau sana aja." Sambungku.


"Yang sungguh-sungguh." Tegasnya.


"Iih... Iya. Makasih ya Jessen." Aku meralat kalimat.


Dia sedikit memajukan bibirnya sesaat. "Kaya belum sungguh-sungguh."


Ya lord... Kok pingin nyekek ni orang yak...


"Maaf ya kak Jessen. Aku ulangi lagi ya... Kak makasih telah memberikan selimut ke pada aku. Begini kan kak cara ngomongnya?" Aku memasang wajah tersenyum.


Dia sedikit tersenyum melihatku. "Hm." Dia pun berdiri. "Bangun sekarang. Cepat mandi. Kita akan berangkat ke kampus."


Aku terlonjak dari sofa. "Heh. Ini jam berapa cuy. Kau pagi buta mau ke kampus ngapain... Jadi paranormal pencari hantu? Gila kau ya..."


"Kau mandi udah berapa jam. Belum lagi mempersiapkan sarapan. Intinya sekarang bangun." Dia menyentil jidatku.


Aku memegangi jidatku dengan penuh rasa marah. "Iis... Tadi kau suruh aku tidur, sekarang mandi... Ngak jelas lah."


"Ikuti saja." Dia menatapku tajam.


Aih...


Aku pun pergi ke kamarnya mengambil baju dan melanjutkannys ke kamar mandi untuk mandi.


Airnya sangat dingin. Aku mengigil keluar dari kamar mandi.


Aku melihat Jessen sudah rapi dan sedang membereskan sesuatu di dapur.


Aku menghampirinya memperhatikan apa yang di kerjakannya. "Ngapain?"


Dia tengah mengocok teh hangat. "Ini letakkan di meja makan."


Aku pun menurut dan meletakkan dua teh hangatnya di meja makan.


Aku kembali lagi ke dekatnya.


Dia tengah menggoreng bawang dan meniriskannya, dia letakkan di atas suatu piring kecil. Kemudian dia berjalan ke arah kompor dan mengaduk sesuatu di sana.


Dia melihatku. "Ambilkan dua mangkuk porsi kecil untuk bubur ini."


Aku kembali mengikuti arahannya, kemudian memberikan mangkuk itu.


Dia mengambil mangkuk itu, meletakkannya di meja di dekatnya, dan di masukkannya bubur ke dalam kedua mangkuk itu secara perlahan.


Taburan terakhir dia menaburkan bawang yang dia goreng tadi. Setelah itu dia memberikannya padaku. "Ini, letakkan lagi di sana."


Aku mengangguk...


Setelah selesai. Aku dan Jessen pun duduk berhadapan di meja makan. Aku melahap makanan ini.


Sebenarnya sederhana. Tapi, aku suka.


Setelah memakan sampai habis Jessen melihatku. "Lain kali. Kau yang masak. Aku hanya memberimu contoh sekali. Ingat." Katanya.


"Iya." Sahutku.


Ponselku bergetar, aku pun mengangkatnya.


Tapi ponselku langsung di tarik dengan cepat oleh Jessen.


"Ini siapa?" Kata Jessen.


"Emm. Apa ada Valen? Saya Reza teman kelompoknya."


Oh Reza... Aku dia teman sekelasku. Kami satu kelompok matkul anatomi fisiologi.


"Jam segini ngak sopan menelfon cewek." Raut wajah Jessen tampak tak suka.


"Hem. Maaf, anda siapanya Valen ya?"


"Pacarnya." Katanya datar.


Jessen mematikan ponselnya secara sepihak.


Aku menarik ponselku dari tangan Jessen. "Eh. Kok di matiin."


Jessen menatapku tajam. "Jangan pernah menelepon atau mengangkat sambungan cowok. Aku ngak suka."


"Idih kenapa? Lagi pula kan dia cuma teman sekelompok. Masa ngak boleh?"


Dia melentikkan jarinya di hadapanku. "Mana ada cowok yang nelpon jam 6:30 pagi untuk nanya tugas. Ini cuma alasan."


Dia melipatkan tangan di dada. "Jangan ada cowok lain di ponselmu. Kecuali aku. Paham." Dia mengintimidasiku.

__ADS_1


__ADS_2