Magic You

Magic You
chapter 25


__ADS_3

Dia memberikan jarak antara aku dan dia sebelum dia mulai berbicara. "Kok pacaran sama dia sih?" Dia menatap ku kesal.


"Em." Aku bingung mau jawab apa. Ya kan memang aku selama ini berusaha ngerjai tugas untuk jadi pacar Jessen balik. "Maaf kak." Aku menggaruk tengkukku bingung. "A aku. Ke kelas dulu ya kak." Aku berpamitan Tanpa melihat wajahnya.


Dia kembali meraih dan menggenggam tanganku. "Aku belum siap ngomong tau."


Aduh... Gimana nih.


Aku membalikkan badan kaku.


"Aku duluan yang ngajak pacaran. Kok dia yang di terima?" Dia melepaskan tangannya, melipat kedua tangan di dada dan memandang ke sembarang arah kemudian berdecak. "Kamu kok gitu sih."


Aku jadi merasa bersalah. "Bu bukan gitu kak. Aku hanya.. hanya." Aku bergerak tak karuan. Apa coba mau aku bilang lagi. Seketika ada tangan yang merangkulku dari belakang. "Dia itu ngak suka samamu. Paham ngak?"


Aku menoleh ke arah nya, itu Tessa.


Fuhh, aku bersyukur ada dia.


Tessa menunjuk kak Rio dengan tatapan mengintimidasi. "Jangan ganggu dia." Tessa mengalihkan pandangannya sambil tersenyum padaku. "Kuy masuk kelas." Rangkul Tessa sambil berbalik arah dan berjalan menjauh dari hadapan Rio.


"Jangan pedulikan orang fuckboy seperti dia. Dia mah cuma cari mangsa." Bisik Tessa di telingaku.


Tessa memang membenci lelaki buaya. Dia selalu menatap jijik setiap pria yang mendekatinya. "Eh kau jangan terlalu membenci lelaki tes. Nanti kau terjerat." Ledekku.


Dia memjewer teling ku yang membuatku meringis kesakitan. "Aku ngak bakal mau pacaran sama cowok murahan. Ngerti." Tessa menekan setiap kata yang di ucapkan nya.


"Hm. Tapi aku ragu." Sahutku.


Tessa menghentikan langkahnya."Nih anak ngak bersyukur ya... Udah bagus kubantu melepaskan diri dari si Rio."


Aku cengengesan."hehe, iya iya... Makasih cayangku."


"Ngak usah sok imut. Merinding aku."


***


"Aku mau ke kantin." Tessa bangkit dari duduknya. "Kau ngak ikut val?"


"Ngak. Aku nitip aja ya."


"Hem, iya.."


"Citatu BBQ ya."


"Iya."


Tessa pun melenggang pergi.


Jam istirahat ini aku tetap di kelas. Aku takkan mau ke luar kelas, nanti malah jumpa sama kak Rio.


Ngak, ngak mau!


Drettt


Ponselku bergetar, Jessen menelpon.


"Ha, kenapa?"


"Aku di perpus."


Aku mendengus kesal. Di perpus lagi...


"Aku ngak mau ke sana."

__ADS_1


Dia mematikan ponsel sepihak.


Baru aja balikan sama dia. Pacaran serasa musuhan.


Aku melihat koridor luar yang di batasi oleh jendela kaca.


Aku lihat kak Rio berjalan melintas.


APA?!


Aku langsung berjongkok di bawah meja dengan menutup diriku di antara kursiku dan kursi depanku yang kutarik mendekat ke mejaku.


Duh... Jangan sampai jumpa kak Rio lagi pleaseeee.


Teman-teman kelas menatapku aneh. "Kau kenapa?"


Aku mengibas-ngibaskan tanganku dari balik celah meja. "Udah, anggap aja aku ngak ada. Diem!"


Jantungku terasa berdegup kencang.


Tessa kau cepetan balik!


Duk.


Badanku terpukul oleh suatu kaki. Itu Tessa. "TESSA."


Tessa yang baru menyadari aku ada di bawah kembali menendan ku lebih keras. "Kaget bangsat!"


Aku keluar dari peradabanku tadi sambil tertawa. "Aku lega kau datang."


"Kenapa kau?" Katanya sambil melahap roti yang ada di tangannya. "Takut si Rio datang."


Aku mengangguk.


"Ya kau enak tinggal bilang... Akunya yang ngak tega tes."


"Kenapa ngak tega?"


"Dia itu baik tau ngak. Dia bahkan ngantar aku pulang ke rumah waktu aku pingsan di perpus."


Tessa tersenyum miring. "Itu mah modus playboy." Tessa memutar bola matanya jengah. "Semua bajingan itu selalu manis di awal, pahit kemudian." Tessa menyodorkanku citatu BBQ yang kupesan. Aku mengambil nya. "Dia ngak usah di kasihani. Aku udah sering lihat seluk-bikuk badboy sepertinya."


Kata-kata Tessa ada benernya juga. Aku ngak boleh lemah.


"Oh ya." Tessa kembali memulai perbincangan. "Tadi aku dengar kau balikan lagi sama si Jessen. Kok ngajak balikan, emang kalian pernah putus?"


"Eh itu." Cerita ngak ya sama Tessa? Cerita aja deh. "Kan gini, aku ada salah ngomong gitu ke dia. Aku terlalu mencampuri urusan keluarganya, jadi dia marah gitu sama aku, dan. Dia mutusin aku."


"Serius? Kau udah coba jelasin." Tessa tak percaya.


"Udah, tapi dianya ngak mau dengar. Jadi aku minta kesempatan untuk dapat baikan sama dia. Dan dia ngasih aku soal untuk kujawab.. gitu."


Tessa dengan tenaga badak menjewer telingaku membuat aku meringis kesakitan lagi. "Apaan sih tes!"


"Kau yang apaan! Lemah banget sih kau jadi cewe Val! Kalau kau di putusin ya cari barulah!" Bentaknya.


"Ya masalahnya kalau aku putus sama dia misiku ngak bakal ada habis-habisnya."


Tessa menyergitkan dahinya.


Aku menepuk jidatku. Dia kan ngak bakal ingat tentang buku mistis. "Ah udahlah."


"Jelasinnya jangan setengah-setengah dong Val. Aku ngak paham."

__ADS_1


"Hahh, udahlah. Aku lagi badmood. Ngak usah di bahas."


"Heem" gerutu Tessa.


***


"Wajahmu merusak pemandangan." Hina Jessen.


"Setiap kali kita nge-date kenapa selalu di perpustakaan umum. Kenapa ngak di mall, di taman, ntah di manalah yang penting ngak di perpus." Gerutuku.


"Rupanya kita pernah nge-date?"


Eh iya ya kami kan ngak pernah nge-date. "Eee, enggak sih."


"Belajar lebih penting dari pada nge-date." Sambung Jessen.


Ck, ya sudahlah.


Aku membaca buku kimia yang ada di hadapanku sekarang. "Larutan elektrolit jika dihitung dengan hukum Roult diharapkan mendidih pada suhu 100,24°c dan membeku pada suhu -0,84°c. Akan tetapi ternyata titik didih larutan nya 100,36°c. titik beku larutan sebesar?... ah... Ck, ganti soal ajalah."


Aku membaca soal yang lain. "Tuliskanlah reaksi elektrolisis larutan-larutan di bawah ini.


A. CaCl2 menggunakan elektroda c


Ah... Ini aku ngerti... Hehe


Pertama yang perluku buat itu CaCl2 di ubah jadi Ca positif 2 dan Cl2 negatif 2...


Setelah itu anoda Ca positif 2 +2 elektron --> Ca "


"Salah." Aku tersentak mendengar suara Jessen.


"Salah yang mana?" Tanyaku.


"K+, Na+, Ca2+,Ba 2+, itu dia ngak di pake, di ubah jadi 2H2O + 2e --> 2OH- + H2, jadi di mulai dari katoda dulu."


Aku mendengarkan kalimat Jessen seperti dengungan lebah. Tak pahamlah.


Tapi dari pada semakin memperibet akal pikiranku, aku pura-pura mengangguk mengerti.


Menyadari kedangkalan saraf berfikirku dia menghembuskan nafas berat. "Heh, kau tak mengerti kan."


"Hehe."


Dia menggelengkan kepala dan duduk di sampingku. "Gini caranya." Jessen mengajarku dengan penuh keseriusan.


Bukan malah melihat yang di kerjakan Jessen, aku malah sibuk memperhatikan wajahnya sambil tersenyum simpul. "Kalau di lihat-lihat manis juga."


"Ha?" Dia memalingkan wajahnya ke arahku yang sebelumnya sibuk menulis-nulis.


Eh, keceplosan. "Apaan. Ngak ada." Aku mengelak. "Gimana tadi Ca-nya di apain?" Mengalihkan pembicaraan.


"Ngak ngak, kau bilang aku apa?"


"Ngak ada. Udah kita lanjut belajar aja." Aku menunjuk-nunjuk buku dengan pulpen. "Oh jadi Ca nya di gini-in." Masih berusaha mengalihkan.


Jessen menutup bukunya dan mendekatkan wajahnya ke arahku, membuat jantung ini berdebar keras. "Aku manis?" Dia tersenyum kecil.


Aku mendorong kepalanya dengan telunjuk. "Kita mau belajar kan?! Serius dong." Kataku.


Gerogi menjalar dalam tubuhku.


Dia kembali ke buku yang kami bahas tadi. "Baru kali ini kau bilang aku manis. Kesurupan apa kau? Ckckck"

__ADS_1


Di puji malah ngatain aku... Heh, aneh bin ajaib!


__ADS_2