Magic You

Magic You
chapter 18


__ADS_3

Aku melihat ke arah jam dinding di depan kelasku, 5 menit lagi pulang. Ck, lama banget sih, udah muak nih.


Aku tak menghiraukan guru yang mengajar di depan kelas, aku udah sangat bosan. Rasanya gila sih aku masih ngak fokus belajar, padahal minggu depan aku ujian.


Untuk menghilangkan rasa jenuhku aku menyoret-nyoret buku sele-seleku.


Kringgg


Bel pulang pun berbunyi. Aku pun langsung membereskan buku pelajaranku dan kembali duduk dengan rapi.


"Berdiri!" Kata Jhon ketua kelas kami.


Serentak kami berdiri.


"Beri salam."


"Selamat siang pak." Ucap kami serentak.


"Ya." Pak Sudarmi pun pergi meninggalkan kelas.


Murid-murid kelas juga beranjak dari kelas setelah pak Sudarmi pergi. Begitu pun aku.


Tessa lagi ada keperluan dengan guru jadi aku hari ini pulang sendiri.


Drett


Ponselku bergetar, kulihat nama setan di layar ponselku. Aku pun mengangkat panggilannya.


"Ha."


"Jumpai aku di parkiran." Katanya.


"Hm." Jawabku malas.


***


"Kenapa?" Tanyaku acuh.


Dia heran melihatku. "Kau kenapa?"


"Hem males aku hari ini, bosan, ngak konsen belajar." Gerutuku. "Padahal minggu depan ujian."


Jessen menatapku datar.


Ups, kok aku kasih tau Jessen minggu depan ujian. Pasti dia bakal ngajak aku belajar lagi sama dia. Dibentak lagi dan dihidangkan buku tebal yang isinya penuh angka hitungan dan hapalan.


"Eng maksudku aku lapar... Jadi pusing gitu." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. "Kau mau makan? Kuy lah, aku yang traktir."


Jessen tak mempedulikan kalimatku. "Kita pulang jalan."


Aku celingak-celinguk melihat ke arah belakang Jessen. "Kau ngak bawa kereta?"


"Gak."


Aku menaikkan bahuku. "Oh oke, kita pulang." Aku sih fine-fine aja jalan kaki.


***


Dari sekolah memang pemandangan cuaca udah sedikit mendung, dalam perkiraan ku sih ngak bakal kena hujan karena rumahku juga ngak terlalu jauh. Tapi ni orang rumahnya kan lumayan jauh, masa dia bakal basah kuyup pulang-pulang?


"Jes rumahku udah dekat. Kau gimana?" Tanyaku.


Seperti biasa, wajahnya masih terlihat datar. "Rupanya kenapa?"


"Ya.. ntar lagi hujan. Nanti kau pulang gimana?" Jelasku. "Kau pulang naik bis aja gih. Di dekat sini ada halte."


"Hm." Jawabnya.


Aku mengusap tengkukku yang tak gatal. "Em.. aku deluan ya."


Jessen mengangguk tanpa melihat ke arahku.


***


Sedari tadi aku duduk di meja belajarku terus memikirkan Jessen. Well, aku tau dia orangnya pendiam dan dingin. Tapi khusus hari ini berbeda, dia seperti terlihat sangat kosong.


Ah sudahlah aku mau makan.

__ADS_1


Aku beranjak dari bangku belajarku dan berjalan menuju ruang makan. Aku lihat nenek lagi di dapur yang ruangannya berdekatan dengan ruang makan. Aku menghampirinya dan memeluknya dari belakang. "Nenek."


Nenek tersenyum melihatku. "Valen."


Aku kembali tersenyum.


"Oh iya Val, nanti nenek sama kakek mau pergi ke Bogor ada urusan  penting, kami akan di sana sampai sebulan. Kamu di rumah ya sama Bi Ayu, jaga diri baik-baik." Nenek mengelus kepalaku.


Aku kaget karena informasinya mendadak. "Kok mendadak nek."


Nenek masih mengelus kepalaku untuk menenangkan. "Iya, nenek juga bingung kenapa bisa mendadak gini. Ya tapi mau gimana lagi."


Sepertinya memang lagi banyak kendala di perusahaan papa di Bogor. Aku harus mengerti. "Iya deh nek, ngak apa Valen di rumah, yang penting kan Valen ngak sendiri nek, ada Bi Ayu." Aku meyakinkan diri.


Nenek memelukku. "Jaga diri baik baik ya. Tadi nenek udah pesan sama kakek untuk transfer uang ke ATM kamu. Ingat ya Valen, kalau kamu butuh apa-apa telpon nenek."


"Iya nek."


***


Aku mengantar nenek dan kakek sampai ke depan rumah, di sana sudah menunggu Pak Yani supir pribadi kakek. Aku membantu membenahi koper ke dalam bagasi mobil. Setelah semua selesai aku memeluk mereka. "Cepat pulang ya kek nek."


Mereka mengelus kepalaku. "Kami akan pulang segera."


Mereka pun melepaskan pelukan mereka. Aku berusaha menyemangati mereka dengan senyuman begitupun mereka tersenyum padaku. Mereka masuk ke dalam mobil.


Mereka pergi meninggalkanku. Aku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.


***


Hari sudah semakin gelap ditambah hujan yang mengguyur. Dingin.


Jadi pingin makan mie instan kari ayam.


Aku pergi ke dapur melihat persediaan makanan yang ada.


Hem. Ngak ada mie instan rupanya.


Tapi aku pingin banget miee... Fix aku harus beli!


Aku bersiap pergi. Menggunakan mantel dan payung, aku siap berangkat.


Aku tak mau menyusahkan Bi Ayu, kalau aku bisa kerjakan kenapa harus menyuruh orang lain. "Valen mau beli mie instan bi."


Bi Ayu tampak panik. "Eh lah dalah, bibi aja yang beli non."


Aduh kasian bibi. "Ngak usah bi, kan cuma beli mie instan, Valen bisa kok bi. Lagi pula bibi lagi sibuk, Valen ngak mau ngerepotin."


"Tapi non."


Aku memotong kalimat bibi. "Udah bi ngak apa."


Aku beranjak pergi. "Valen pergi dulu bi."


"Eh iya non."


***


Akhirnya kebeli juga, walaupun hujan-hujan perjalanan ini, kutetap tempuh! Hehe...


Aku berjalan pulang di tengah hujan. Dingin banget... Malah rumah masih jauh lagi.


Aku berjalan sambil memandang sekitarku. Terlihat sepi, aku mempercepat langkahku karena takut. Tak sengaja aku melihat halte, ada sosok yang tak asing di sana. Jessen?


Aku berjalan ke arahnya, aku berdiri di sebelahnya, kubungkukkan badanku sedikit dan melihatnya. "Jes, Jessen kan?" Aku memastikan.


Dia menoleh ke arahku tanpa berkata.


Ya dia bener Jessen.


"Kau ngapain di sini?" Kataku dengan sedikit menjerit. Aku bukan marah, tapi karena suara hujan yang semakin deras aku menaikkan volume suaraku agar terdengar olehnya.


Dia memutar kembali kepalanya ke arah depan, menutup mata sambil melipat tangannya di dada dan bersender di kursi halte.


Aku duduk di sebelah Jessen. "Jes kau harus pulang, hujan udah makin deras. Lihat.. dengan pakaian kaya gitu akan membuat mu masuk angin."  Dia hanya menggunakan menggunakan kaos hitam dan celana pendek.


"Ck, bukan urusanmu." Cetusnya.

__ADS_1


Nih orang ngak tau diri ya. "Jes cepat pulang!" Kataku.


Dia menatapku geram. "Udahku bilang bukan urusanmu! Ngerti ngak!" Bentak nya.


Aku terdiam beberapa saat. Dia kembali ke posisinya semula. Baru kali ini aku lihat Jessen begitu marah, sepertinya memang ada yang ngak beres sama keadaan Jessen sekarang. Ada sesuatu yang terjadi padanya yang membuat dia ngak mau pulang ke rumahnya.


Aku tetap duduk di samping Jessen, ngak tega ninggalin dia sendirian.


Angin dingin mulai semakin menusuk kulitku, aku menggigil. Kupeluk badanku berusaha menghangatkan diri, aku menutup mataku beberapa saat kemudian membuka mata lagi. Aku melihat ke arah Jessen, dia tak bergeming. Gimana nih?


"Pulang sana." Ucap Jessen datar.


"A akuh.. n n ne me ninh.. k ka kau." Jawabku dengan suara bergetar kedinginan.


Kali ini Jessen melihat ke arahku. "Aku ngak butuh teman. Pulang sana!"


Aku menyesuaikan diriku agar suaraku tak terlalu bergetar. "K kalau kkkau ngak ppulang, aaku akan tterus ttemenin."


"Denger, aku tidak akan pulang. Ngerti."


Duh, Jessen keras kepala banget sih.


"Uudah ggini aja, kkau pulang ke rumah ku ajjah... Nggak ppakai ttapi! Ccepat!" Aku bangkit berdiri dan menariknya.


Dia melepaskan tanganku. "Apa sih. Pulang sendiri aja sana."


Ayo Val... Pikir. Gimana caranya biar dia ikut. Ngak mungkin kau tinggalkan dia sendiri di sini, kasian Val... Dia butuh teman.


"Aaku aasmah... Nnanti kalau aaku bengek ddisini kkau harrus tanggung jjawab!" Aku bohong.


Dia melihatku serius.


"Ccepettan!!" Pekikku.


Dia berdiri. "Ck, nyusahin aja."


Kena kau.


***


Bi Ayu melihat Jessen bingung. "Mohon maaf non, ini siapa ya non?"


Aku mencari alasan agar Jessen bisa berteduh di sini. Setidaknya sampai besok, karena aku tau dia pasti lagi banyak masalah di rumahnya. Lagi pula besok kan Minggu, jadi ngak masalah kan dia nginap.


"sebentar ya Jes." Kataku pada Jessen.


Dia mengangguk.


Aku menjauhkan diri sedikit dari Jessen dan  berbisik ke Bi Ayu. "Oh tadi itu nama nya Jessen bi teman Valen. Dia tadi nungguin bis, tapi bisnya dari tadi ngak ada yang lewat. Rumahnya jauh lagi bi, jadi dia nginap di sini ngak apa ya bi... Dia nanti tidur di kamar tamu aja bi... Ya bi... Please." Aku memohon ke bibi.


"Oh iya non ngak apa. Asal dia ngak macem-macem aja sama non."


"Tenang bi... Dia baik kok. Kalau dia aneh-aneh juga Valen bisa bela diri kok bi."


Bibi menyumbarkan senyuman. "Iya non."


Aku kembali ke posisiku berdiri di sebelah Jessen.


Bibi pun kembali ke aktivitasnya membersihkan rumah.


Aku melihat Jessen.


Aku memegang tangan Jessen dan mengarahkannya ke meja makan. "Kau duduk di sini." Aku mendudukkan Jessen di sana. "Aku mau masak mie, kau mau?" Tawarku.


"Hem."


Aku pun pergi ke dapur meninggalkan Jessen di meja makan.


***


"Tada.. " Kataku sambil menghidangkan kedua piring mie, satu untuk Jessen satu lagi untukku.


Jessen melihat ke arah mie buatanku. "Mie nya kemasakkan. Terlalu lembek."


"Ish.. ya udah kalau ngak mau di makan." Kataku.


Kuulurkan tanganku mengambil mie Jessen, tapi dia malah menyentil tanganku keras. "Kalau udah di kasih ngak bisa di kembalikan lagi." Dia tersenyum.

__ADS_1


Apa coba maunya...


__ADS_2