
Aku dan Jessen pun melangkahkan kaki ke hi halaman depan rumahku setelah sampai mengantarkan aku.
Bib bib
Terdengar suara klakson kereta yang berhenti di depan pagarku. Aku dan Jessen menoleh ke sumber suara.
Lelaki itu tampak heboh sendiri turun dari keretanya. Dia seperti orang yang kepanikan.
Aku melihat menerawang lelaki yang menggunakan helm full face dengan jas hujan yang dia kenakan.
"Val..."
Terdengar suara jeritan yang kurang jelas karena di dia menjerit menggunakan helm tanpa membukanya dan juga suaranya di timpa dengan suara derasnya hujan.
Dia berjalan cepat ke arah kami dan berhenti di hadapanku. Dia memasukkanku ke dalam jas hujannya, membuatku ada di depan badannya sangat dekat.
"Kau bersamaku sekarang." Katanya.
Aku sedikit mendongak dari dalam jas hujan ini. Wajahnya masih tak tampak. Ya iyalah, kau tau sendiri kan gimana jas hujan...
Aku mendorong tubuhnya dan keluar dari jasnya kembali ke dekat Jessen yang masih memegangi payung di dekatku.
Dia membuka kaca helmnya menatapku. "Val. Ini aku."
Ken.
Aku tak sudi berada bersama Ken lagi. Dia Psikopat!
"Ngapain kau ke sini?" Aku menatapnya dengan wajah tak senang.
Eh tunggu.. di sini ada Jessen. Aku ngak boleh jutek ke Ken.
Tapi kan... Jessen udah tau kalau aku boong.
Ah udahlah.
"Val. Aku cari cari kau tau ngak. Di kelas, kau enggak ada. Di kantin, kau ngak ada. Aku sampe ke sini dua kali hanya untuk mencari keberadaanmu tau ngak." Ken memarahiku.
"Aku di ruang Jessen tadi. Perbaikan nilai." Aku jujur.
Dia memegang bahuku sambil melihat tubuhku dari atas sampai bawah dengan panik. "Kau... Maksudku. Kau perbaikan nilai dengan apa?! Jangan jangan kau... Astaga... Val!"
Maksud ni orang aku jual tubuh gitu... Cuman untuk perbaikan nilai?!
"Heh! Maksudmu apa?! Aku cuma ngerjakan tugas soal!" Aku menatap Ken menggeleng sambil menunjuk kepalanya. "Gila ya otakmu."
Dia bernafas lega kemudian memberengku lagi dengan tatapan tajam. "Awas aja kalau kau..."
"Apa sih Ken. Aku mana mungkinlah segila itu! Aku punya harga diri! Kau pikir aku cewek apaan?!" Tampikku.
Dia kembali berwajah datar. Kemudian melihat Jessen. "Dan kau. Ngapain nganterin pacarku, huh?! Udah aku bilang, dia milikku."
Jessen dengan raut wajah dingin membalas tatapan Ken. "Dia bukan milikmu."
"Heh. Kau pikir dia milikmu? Cih." Ken melentikkan jarinya di wajah Jessen. "Sadar. Kau itu mantan. Bukan pacar."
Aku melihat Jessen dan Ken bergantian.
Apa yang akan di jawab oleh Jessen sekarang.
"Cih. Dan kau pikir kau siapa?" Kata Jessen singkat.
Raut murka tergambar di wajah Ken.
Wait... Jangan sampai berkelahi.
"Hei anak anak." Terdengar suara lembut dari arah belakang kami.
Aku menoleh. "Nenek."
Nenek melambaikan tangan sambil membuka pintu rumah lebar. "Ayo masuk." Kata nenek dengan suara yang di kencangkan agar menembus suara hujan.
Aku mengacungkan jempol. "Iya nek."
Fuh... Syukurlah nenek datang.
"Kuy masuk. Hujan makin deras nih." Kataku mengalihkan pembicaraan yang panas tadi.
Seperti tak terjadi apa-apa, Jessen berbalik badan dan berjalan. Aku pun mengikuti karena aku berada di bawah payungnya.
Ken memegang tanganku dan kembali memasukkanku ke dalam jasnya. "Kau bareng denganku."
Aku hendak keluar dengan sedikit membuka jas Ken melihat keberadaan Jessen. Tapi Jessen udah agak berjarak dengan posisiku sekarang sambil terus berjalan.
Ck. Sial.
Terpaksa aku mengikuti Ken.
Kami pun pergi berjalan pelan memasuki teras rumah.
Setelah sampai aku keluar dari jas hujan Ken. Pengap dengan wangi parfumnya. Walau wanginya enak, tapi aku tak suka apapun yang bersangkutan dengan Ken!
Nenek sekarang ada di hadapan kami.
"Eh nak Jessen. Udah gimana kabarnya?" Nenek tegur sapa Jessen.
Yup, nenek pasti kenal sama Jessen. Kau tau kan, orang tua Jessen kan teman bisnis kakek nenek.
Jessen tersenyum kecil. "Baik nek."
Nenek membalas senyuman Jessen kemudian mengangguk. Sambil melepaskan helm dan jas hujannya, menaruhnya di kursi depan yang tak jauh dari tempat kami berdiri.
Kemudian nenek melihat Ken. "Eh Ken. Maaf ya merepotin kamu sampai datang dua kali ke sini mencari Valen."
Ken memasang topeng ramah dan polos. "Apa sih yang enggak Ken lakukan untuk calon istri."
Heehhh... "Jijik." Kataku singkat.
Ken mencubit pipiku gemas. "Jijik. Jijik. Ntar jatuh cinta loh."
"Is... Sono Sono..." Usirku.
Dia tertawa dan memelukku.
Damn. Ada nenek anjritt...
Aku mencubit perutnya. "Ada nenek." Pekikku pelan di telinganya.
"Biarin aja. Biar lebih cepat kita nikahnya." Bisiknya lagi.
Shit...
Ken melepaskan pelukannya dari padaku. Kemudian mengalihkan pandangannya ke nenek.
Aku membalikkan badan ke arah nenek kaku setelah pelukan Ken tadi.
"Hahaha. Sudah sudah berantemnya." Kata nenek.
Nenek kemudian melihat kami bertiga. "Ayuk masuk dulu. Di luar dingin."
Kami mengangguk dan masuk setelah nenek masuk.
Ken dan Jessen aku ajak duduk di ruang tamu. Aku melihat Ken dan Jessen bergantian. "Ken Jes. Aku ke dapur dulu. Mau nyiapin makanan." Ijinku.
Mereka mengangguk.
Aku kemudian ke dapur dengan sedikit kaku.
Kok jadi gerogi gini sih.
Aku pun menyiapkan minuman hangat dan roti panggang dengan selai coklat yang ku oleskan pada permukaan rotinya.
Aku berjalan ke arah mereka sambil membawa makanan dan minuman yang kukerjakan tadi.
__ADS_1
Mereka saling diam dengan Ken sesekali melihat Jessen tajam. Sedangkan Jessen... Ya.. anteng anteng aja.
Ken memainkanku ponselnya mengalihkan pandangannya dari Jessen.
Aku berdiri di hadapan mereka sambil memberikan makanan dan minuman. "Em. Ini di makan ya... Semuanya hangat. Biar kalian ngak masuk angin."
Damn. Kok jadi formal begini?!
Aku duduk di kursi lain dari mereka duduk.
Jessen langsung mengambil roti yang ku buat. Memakannya dengan cepat.
Saat Ken mau mengambil roti jatahnya. Jessen menepis tangan Ken dan memakan roti Ken.
"Eh. Itu kan rotiku!" Ken tak terima.
Jessen melirikku. "Pengganti rotiku tadi."
Jleb.
Aku malu mengingat kerakusanku tadi di mobil Jessen.
Aku sedikit berdehem. "Ya."
Ken yang masih bingung menatapku meminta penjelasan.
"Aku buat lagi ya Ken." Kataku lembut agar Ken ngak marah.
Dia kembali meluruskan lipatan kulit jidatnya yang bingung tadi. Dan mengangguk.
Aku berdiri dan kembali membuat roti panggang.
Aku kembali memberikan roti pada Ken dengan sedikit merunduk dan menoleh ke arahnya. "Ini Ken."
Ken melihatku dengan tersenyum "Makasih sayang."
Cup
Dia mencium pipiku.
Aku cengo tak bergeming.
Dia kembali pada posisi duduknya dan melahap roti.
Ntah kenapa bola mataku langsung bergerak melihat Jessen. Dia hanya diam menatap depan sambil menyeruput minuman hangat.
Mataku kembaliku arahkan pada Ken.
"Kenapa?" Katanya masih mengunyah roti. "Ciumannya kurang?"
What!
Aku kembali berdiri tegak. Dan menjitak Ken.
"Aduh." Ken memegangi kepalanya.
Aku menatap Ken dengan tatapan tajam sambil melotot.
Dia terkekeh singkat. Kemudian kembali memakan rotinya.
Tok tok tok.
Pintu depan rumah terketuk oleh seseorang.
"Aku ke depan dulu." Kataku.
"Aku ikut." Sambung Ken.
"Ngak. Kau di sini aja." Tolakku.
Ken mendengus kesal. "Pokoknya aku ikut."
"Ck. Terserah lah." Aku malas beradu mulut dengan Ken sekarang.
"Kok ngatur." Sanggah Ken tak terima.
"Aku tak suka sendiri." Sambung Jessen.
Hemm aneh. Jessen...
Tunggu... Oalah aku baru ingat...
Jessen kan penakut... Wkwk. Apa lagi ini hujan deras.
Astaga...
Aku menepuk pundak Ken. "Ken. Kau di sini aja. Aku cuma sebentar aja lihat depan."
"Ngak." Tolak Ken mentah-mentah.
Waduh. Aku mah kasihan sama si Jessen.
Lagi pun, kan enak juga kalau nanti aku kerjain matikan lampu. Pasti Jessen bakalan peluk Ken ketakutan... Awokawok... Jarang jarang lihat sosok Jessen ketakutan setengah mati.
Terdengar sepertinya aku yang jahat... Tapi kan dia juga tegaan samaku, dia tega menyuruhku mengerjakan soal sampe mual.
Kali ini aku dong yang ngerjain.
"Ayolah Ken. Kali ini aja dengarin aku. Ya..." Kataku memohon.
Dia melihatku dengan sedikit tatapan luluh.
"Aku mau. Tapi, ulangi kalimatmu dengan menggunakan kata sayang. Dan lebih lembut."
Ish... Kaya gini nih kalau memohon sama Ken. Pasti ada aja syaratnya.
Demi menakut nakutin Jessen. Aku rela...
Aku duduk di sebelah Ken. Menatapnya dengan tatapan uwu.. Ish... Kesel sebenarnya. Tapi aku harus lakukan. Aku melipat kedua tanganku memohon. "Ken ku tersayang. Kamu di sini aja ya.. aku cuma sebentar aja kok keluar. Ya sayang..."
Dia sedikit memiringkan kepalanya tersenyum. "Pacarku manis sekali." Jawab Ken
Uekkk, batinku menolak.
Dia mencubit pipiku lembut. "Iya deh. Aku mau." Katanya sembari mendekati wajahnya kepadaku sambil melihat bibirku hendak menciumku.
Aku langsung berdiri. "Oke makasih." Aku pergi meninggalkannya dengan posisi terlungkup mencium bantal sofa yang berada di lengan sofa karena aku langsung berdiri tadi.
Mampus kau kan.
Cara mu tak mempan padaku.
Aku terus berjalan ke pintu depan rumah.
Aku melihat dari lubang kecil berlapiskan kaca yang melekat pada pintu, dimana ini berfungsi untuk melihat siapa tamu yang berkunjung.
Tidak ada orang.
What. Aku ngak salah dengar kan?
Tadi perasaan ada yang ngetuk deh.
Kok...
Ah. Udahlah ngak usah di bahas.
Aku hendak kembali ke ruang tamu.
Tok tok
"Siapa sih?" Pekikku pelan.
Aku dengan cepat langsung melihat ke arah lubang mencek siapa yang datang.
__ADS_1
Njritt. Ngak ada...
Aku auto lagi ke ruang tamu.
Dengan sedikit ngos-ngosan. Aku melihat Ken yang sudah tertidur pulas, sedangkan Jessen Masi sibuk dengan ponselnya.
Aduh... Kok yang bangun malah yang penakut sama sepertiku sih...
Jessen melihatku. "Kenapa?"
Kalau aku kasih tau. Dia bakalan ketakutan juga. Lebih baik ngak usah.
"Eng ngak apa kok."
Dia mengantungi ponselnya. "Tadi ada yang ngetuk. Siapa?"
SHITT...
Aku pernah dengar rumor nih... Kalau kita lagi lihat atau merasakan hal yang ganjil pada malam hari, jangan langsung di ceritakan malam itu juga. Katanya setannya bakalan semakin senang gangguin kita.
Btw, memang tadi setan apa yak?
"Val." Panggil Jessen lagi.
Aku tersadar dari lamunanku. "Eh ngak ada Jes. Hanya... Salah dengar aja." Aku coba berfikir positif dan bergerak tidak parno-an.
Jessen mengangguk sambil bersender pada bahu sofa.
Tenangkan dirimu Val... Jangan penakut... Ingat... Derajat manusia lebih tinggi di bandingkan dengan setan...
Aku menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya.
"Woy bego. Wajahmu pucat."
Wait... Serius?
Aku ternyata benar benar sangat takut.
"Ah. Mana ada. Perasaanmu doang kali. Kataku bercanda gurau. Padahal aku tau ini bahkan tak setetespun lucu.
Aku duduk di tengah. Antara Ken dan Jessen.
Jessen yang otaknya sangat main. Menaruh sikap curiga terhadapku. "Kenapa ngak duduk di sana aja?" Dia menunjuk kursi lain yang ada yang tak jauh dari tempat kami, dimana bangku itu tadi yang ku duduki.
"Iya... Ngak apa. Cuma mau di sini aja. Wkwk."
Dia menjitakku. "Pergi sana. Duduk di situ aja." Usirnya.
Aduh... Malah udah terlanjur takut lagi.
"J jangan lah Jes... Masa aku duduk di situ. Jadi jauh dong sama kalian."
Dia kembali menjitak jidadku. "Duduk di sana."
Aduh... Malah hujan makin deras lagi. Dan di dampingi sesekali petir menyambar.
Ngak ada pilihan lain. Aku harus bangunin Ken biar belain aku tetap duduk di tengah. Aku takut setengah mati kalau di suruh duduk di sana.
Aku menoel Ken. "Ken." Pekikku pelan.
Ken masih tak bergeming.
Aku sedikit menepuk bahu Ken pelan. "Ken. Bangunlah."
Ken masih tak bangun.
Aku jadi menggoncang tubuhnya keras. "Ken. Bangun naapa..."
Dia menguap kemudian tidur lagi.
Sumpah ni anak...kalau tidur kayak badak ya...
Aku kembali menghadap depan karena usaha ku tadi sia-sia.
Duarrr
Tep
Lampu padam!
Aku auto memeluk apapun dan siaoa pun sekarang. "Seremi. Banget ini. Kau jangan tinggalkan aku ya..." Pintaku.
Jessen hanya diam.
Tunggu... Dia kok diam yak?
Dia ngak kesurupan Kan?
"Jes..." Aku menatapnya dengan takut. Wajahnya diterangi oleh cahaya indah rembulan yang menambah nilai plusnya dalam viewku kali ini.
Wait serius... Dia diem doang.
Apa Bener di kesurupan?
Mampus.
Aku harus menyadarkan Jessen.
Pletak
Aku menampar pipi Jessen agar sadar.
Dia menggerakkan kepalanya pelan ke arahku dengan tatapan tajam. "Kenapa kau tampar aku, huh?"
Fuh... Dia masih sadar rupanya.
"Kau sih.. di panggil tadi diam aja! Aku pikir kau kesurupan tau ngak."
Dia memicingkan matanya kesal. "Aku lagi fokus berfikir tadi."
Aku memegangi tengkukku kaku. "Iya ya... Hehe. Maaf."
Dia kembali membuang wajahnya ke sembarang arah.
Bruk..
Suatu barang terjatuh di dekat kami.
Damn... Kenapa hantunya makin ganas?!
Jessen ikut ikutan memelukku.
Benerkan dia penakut juga. Gini aja dia udah takut, gimana lagi kalau aku kasih tau kejadian tadi. Bisa pingsan sama-sama lah kami.
Tapi badannya bukan seperti ketakutan karena keadaan ini. Ini lebih seperti... Dia sangat tenang.
Huh?
Dia mengelus kepalaku.
Deg
Deg
Deg
"Kau harus bahagia, apapun keadaanmu nanti." kata Jessen dengan lembut mengalir di telingaku.
"Jangan pacaran dulu sebelum tamat. Kapasitas otakmu kecil. Pasti akan sulit berpikir bercabang."
Kretek...
Sakitnya hati ini.. Baru aja di lambungkan hati aku ke angkasa karena sikap lembut Jessen. Dan sekarang malah di campakkan ke dalam dunia orang mati jiwa dan raga ini...
__ADS_1
Menyakitkan...