Magic You

Magic You
chapter 12


__ADS_3

...Prov Rio...


"Rio." Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut papa saat bertelepon denganku.


"Iya pa?"


"Besok papa jemput, dan kita balik ke Indonesia." Sambungnya.


"Hah? Tapi pa..."


"Tidak ada tapi-tapi, kamu di sana tidak ada yang perhatikan. Jadi di sini papa bisa pantau kamu."


"Ta tapi pa..."


Tut Tut Tut


Arh.. kenapa harus pindah sih?!


Drett...


Aku langsung mengangkat ponselku yang bergetar.


Aku harus komen ke papa, memangnya salahku apa sampai-sampai harus di pantau segala?!


"Halo pa."


"Haha why you call me pa, beb?"


Aku kembali melihat layar ponselku, Anne.


Ck kenapa sih selalu di waktu yang tak tepat!


"We broke up! Don't call me again!"


Pekikku sambil mematikan ponsel secara sepihak.


Aku sangat kesal hari ini. Lagi pun, mencari pacar itu mudah, hanya dengan berkata manis ditambah sikap dingin, aku dapat membuat wanita tertarik padaku. Aku juga tak pernah mencintai seseorang dengan tulus. Well aku tak pernah merasa rugi sedikit pun.


Ah terserah lah. Papa selalu bertindak seenaknya.


***


"Rio... Mama kangen sama kamu." Pelukan hangat kudapatkan saat pertama kali masuk ke dalam rumah.


Hem... Lumayan seneng juga mendapat perhatian darinya.


Papa yang sedari tadi di sebelahku hanya tersenyum.


Aku rasa bukan karena sesuatu yang buruk terjadi padaku selama aku sekolah di Amerika, tapi karena mereka sangat menyayangi dan menghawatirkan ku.


Papa mengacak rambutku. "Besok kamu ke sekolah bareng papa ya. Nanti papa yang nunjukin dimana kelas kamu."


Aku tersenyum dan mengangguk setuju.


Aku pergi ke kamarku, melihat setiap sisi ruangannya. "Sedikit berubah, tapi tak masalah."


Aku berbaring di kamarku dan meraih ponsel di sakuku. "Alaska Jaya." Aku terkekeh melihat nama sekolah yang akan kumasuki. Apa sesayang ini papa padaku, sampai nama sekolah pun penggalan dari namaku.


Aku coba membuka instagran sekolah papa. Aku melihat gambar siswa siswi di sana, atau tepatnya melihat siswinya. "Lumayan."


Aku meletakkan ponselku sembarang tempat dan melipat tanganku di bawah kepalaku kemudian menutup mata. "Tak sabar sekolah." Gumamku.


***


"Hai saya Rio Alaska. Tinggal di jalan Singosari Jakarta timur." Aku memperkenalkan diri di depan kelas, memasang senyuman kecil andalanku. Tampak banyak wanita yang terpana melihatnya. Sudah kuduga.


"Baik Rio, kamu bisa duduk di bangku kosong yang ada di belakang." Ibu itu mengarahkan tangannya ke arah belakang.


Aku berjalan ke arahnya. Tampaknya dia sangat acuh.


Aku duduk di sebelahnya dan guru pengajar memulai pembelajarannya.


Aku melihat ke arahnya. "Namamu siapa?" Aku mencoba ramah.


Dia tidak menjawab.


Songong ni orang.


Dia mendongakkan kepala dan mengangkat tangan kanannya. "Bu permisi, saya mau pergi ke perpus."


Gila ya?! Seenaknya aja ijin.


Memangnya dia pikir bisa apa?


Guru yang didepan kelas membalikkan badan. "Oh. Silahkan."


Huh?!


Dia pergi gitu aja meninggalkan kelas.


Kalau gitu, aku juga bisa dong? Lagi pula hari ini aku malas belajar.


"Bu saya juga." Sambungku.


Seisi kelas menatapku dan kemudian tawaan membanjiri seisi kelas.


"Kenapa?" Aku bingung.


"Kau pikir bisa keluar kelas seenaknya." Kata seorang murid yang di hadapanku.


"Hei, si Jessen itu Einstein sekolah. Tidak belajar di kelas juga tu anak tetep pinter." Sambungnya sambil tertawa.


Aku hanya menatap mereka dingin dengan maksud agar mereka diam. Seperti mengerti maksud, tatapanku langsung membisukan mulut mereka.


Pagi-pagi udah emosi aku.


***


Jam istirahat kumanfaatkan menenangkan diri. Aku berjalan menuju koridor sekolah, berjalan mengelilingi sekolah.


Lama berkeliling, pegel juga. Aku coba mencari tempat istirahat.


Aku masuk ke satu ruangan. Kelihatannya ini gudang. Gudang ini tak terkunci. Aku melihat sekitar dan mataku tertuju pada bola basket di atas lemari. Aku berjalan menuju lemari itu dan kemudian meraih bola basket nya.


Aku melihat ada perempuan duduk sendirian di gudang sambil melamun. Wajahnya sangat standar, tapi tampak sangat polos.


Karena aku butuh hiburan, jahili kali ya...


"Hu... Hu... " Lah dia kok nangis? Jadi ngak tega. Tapi tangan ini sudah terlanjur jahil mendorong kardus di hadapanku.


"Nenek kenapa sih ngak datang?... Hu hu. Aku ngak bisa lakukan ini nek... "


Tunggu tunggu... Kok kardus nya jatuh ke arah ku!


Bruk


Dan badanku pun tertimpa kardus. Tidak berat sih, tapi masalahnya kenapa jadi aku yang kena?


Hal itu membuatku terduduk. Perempuan itu datang dengan memegang sapu.


Karena terlanjur tampak bodoh dengan tertimpa kardus ini. Aku coba beracting seakan-akan sekarat. Berharap dia pergi meninggalkanku karena takut.


Yang benar saja dia beneran takut. Sampai sampai merekamku. Haha, dia takut jadi tersangka ya?


Tapi kok aku kepo jadi sama ni cewe.


"T... Tolong." Aku bersuara seolah-olah lemah.


Dia panik dan kembali merekamku. Haha...


Aku yakin 100% dia bakal meninggalkanku terbirit-birit.


Tapi tunggu dia malahan meletakkan ponsel di kantongnya dan merangkulku.

__ADS_1


Baik banget dia.


Dia masih tampak kesusahan membawaku ke luar gudang. Tapi dia masih berusaha sekuat tenaganya.


"Ke kenapa k kau meno...longku?" Masih dengan acting sempurna.


Dia kembali menatapku. "Karena kakak butuh pertolongan."


Deg


"Ma..ka...sih ya."


tak tau apa yang terjadi dengan mimik wajahku. Dia tampak memalingkan wajahnya dan mengangguk.


Kok rasanya jadi ngak karuan ya.


Dia memangil taxi dan membawaku  ke rumah sakit.


***


"Rio?" Dokter menatapku bingung saat dia masuk ke ruangan yang di dalamnya hanya aku dan dia seorang. "Kau ngak sakit kan?"


"Kak Heru, bilang aja aku sakit. Aku malas belajar di sekolah hari ini." Aku menatapnya acuh.


Kak Heru adalah saudaraku dari keluarga papa. Aku tau dia bekerja di sini, jadi aku tak terkejut.


Dia menjitak kepalaku sambil berdecak. "Bandel kau ya. Ngak, kau harus tetap sekolah."


"Please dong... Sekali baik sama aku napa, ya... "


"Apa untungnya kalau aku baik samamu?"


"Dapat pahala. Oke"


Dia menjitak kepalaku lagi. "Tapi besok kau harus sekolah."


"Sip." Aku mengacungkan jempol.


Kak Heru balik badan dan berencana keluar. Aku baru teringat sesuatu. "Oh ya kak. Nanti jangan lupa buat surat keterangan aku di rumah sakit ya kak, biar guru ngak curiga, dan jangan lupa di kirim filenya ke papa, jadi ngak curiga juga."


"Hem." Kak Heru mengiyakan dengan deheman. "Kalau sama cewek yang udah nungguinmu di luar, aku bilang apa?" Sambungnya.


Dia nungguin aku?


"Bilang aja aku sakit perut. Selebihnya kakak yang tambahi, ingat kak agak dramatisir ya."


Kak Heru menggelengkan kepalanya. "Gila kau ya, dasar Playboy cap kakap."


Kak heru pun pergi.


Aku pura-pura lemas ah.


Tak lama setelah kak Heru pergi, aku mengintip sedikit dari mataku yang terpejam tadi. Perempuan itu datang.


Anehnya dia hanya memperhatikanku. Wait... Dia mau pergi?!


Aku langsung menarik tangannya pelan. "Tunggu di sini. Aku butuh kamu."


Dia membalikkan badan dan mengusap tengkuknya kaku. "Em. Tapi aku harus balik ke sekolah kak. Nanti aku di pikir bolos."


Yang bener aja, dia polos banget. "Nama mu siapa?"


"Valen kak."


Aku menggelengkan kepala. "Bukan, nama lengkap mu."


"Valentresia kak."


"Kelas?"


"XI MIPA 1 kak."


Karena dia takut di bilang bolos, jadi aku chat papa aja,  aku bilang aku sakit ke papa jadi di temenin sama teman. Biar dia dapat ijin di kelasnya.


"Aku udah izinin kamu. Sekarang kamu di sini aja. Temenin aku."


"Kok bisa?"


Aku terkekeh kecil. Dia tidak tau aku anak siapa rupanya. "Bisa dong."


Aku menggenggam tangannya. "Udah di sini aja."


Bukannya senang, dia malah melepaskan tanganku.


"M.. maaf kak. Tapi seperti nya aku harus kembali ke sekolah." Sambungnya dan pergi.


Baru kali ini lihat cewek yang begini.


***


Dari tadi di rumah aku terus mikirin dia.


Siapa tadi namanya? Ah iya, Valentresia.


Aku coba searching namanya di intagran. Dan ya, aku menemukannya. Aku follow dia. Kalau di lihat-lihat, manis juga.


Aku memukul kepalaku. "Apaan sih Rio! Kesambet!"


Tapi ntah mengapa aku selalu pantengin intagrannya, udah follback atau belum.


Krukk...


Perut ini terasa sangat lapar, aku makan dululah.


Selagi aku berjalan ke meja makan, aku melihat ponselku yang bergetar.


Yupss dia follback aku.


Lah kok aku jadi riang gini.


Apa perlu aku jadiin dia pacar ya?


Hm, why not?


***


Di kantin aku memandangi Valen yang tengah duduk dengan temannya.


Biasanya setiap wanita kalau aku pandangi pasti langsung menatapku balik. Auraku memang memikat.


Bukan Valen yang menatapku balik tapi temannya. Terlihat temannya berbisik sesuatu ke Valen, yang membuat Valen melirikku sekilas. Aku coba tersenyum manis padanya, tapi dia malah acuh mengalihkan pandangannya. This is the first time of my life...


Selang beberapa saat, dia pergi. Kemana?


Aku tunggu beberapa saat setelah dia pergi, baru aku mengikutinya. Biar tak ketahuan.


Ck... Kehilangan jejak.


Jalannya cepet banget. Bisa sampai ngak kelihatan lagi.


Tapi aku beneran penasaran dia pergi ke mana. Aku terus aja berjalan di koridor sekolah sambil melihat ke kanan ke kiri, siapa tau jumpa.


"Hai kak." Seorang perempuan dengan beberapa temannya yang sekarang di hadapanku.


Ck, ganggu aja.


Tunggu dulu, aku ngak boleh kasar sama dia. Aku masih baru di sini. Harus membaur.


Aku memasang topeng senyuman manis. "Iya?"


Mereka menyergit kegirangan.


Cih... menjijikan.

__ADS_1


"Kak nama aku Mina."


"Aku Cika."


"Evi."


"Aku Yeny."


"Della."


Lah kok jadi perkenalan gini? Ck... Males banget nanggepin nya. Ini saat yang sangat tidak tepat.


"Oh.., hai." Aku mengusap tengkukku yang tak gatal. "Aku banyak urusan. Kita sambung nanti aja ya."


Mereka menatapku kecewa. "Yah... "


"Ya udah deh kak, da da kak... " Ucap salah seorang dari mereka. Dan di ikut dengan teman lainnya.


"Da da kak."


"Bye."


Aku pergi meninggalkan mereka.


Aku masih terus berjalan dengan tujuan yang sama, mencari Valen.


Lama keliling koridor, kok ngak nemu juga ya. Malah bentar lagi masuk.


Apa mungkin dia di perpus?


Ya karena diakan tampak polos. Biasanya orang-orang yang begituan suka ke perpus. Ya kan?


Aku memasuki perpus. Langkahku terhenti melihat dia ada di perpus. Lagi tiduran di meja. Aku menghampirinya.


"Kamu sakit?" Tanyaku.


Dia mendongakkan kepalanya. "Eh kak Rio."


Aku tersenyum. "Mau aku rawat?"


Dia tertawa. "Aku ngak sakit kak. Cuma lagi banyak pikiran aja."


Aku mengusap-usap pucuk kepalanya dan tersenyum.


"Dari kemarin aku mikirin kamu terus." Gombalku.


Hem. Taktik merebut hati wanita.


"Mungkin karena kakak masih kurang enak badan kak. Mau aku anterin ke UKS?"


Aku tertawa girang. Rasanya sangat lucu. Bukannya baper, malah nanya keadaan. "Kamu kok manis banget sih."


"Manis apanya kak? Sepet iya..." Dia tertawa.


Kami berdua jadi tertawa bersama.


"Nanti aku antar pulang ya." Ajakku.


"Oh ngak usah kak. Ngerepotin."


"Enggak lah, masa ngerepotin. Kamu kan udah baik ke aku, jadi aku juga harus baik ke kamu dong."


"Oke deh kak." Dia menyetujui ajakanku.


"Oke. Oh ya aku minta nomor kamu ya."


"Ini kak."


"Oke."


***


Aku menunggunya di gerbang sekolah. Sambil memandangi ponselku. Terlihat pantulan wajahku yang sumringah di layar ponsel.


Bahagia itu sederhana.


Ponselku bergetar. Terlihat nama Valen di layar ponselku. Dia men-chatku.


"Maaf kak. Hari ini aku ngak bisa pulang bereng kakak. Ada yang perlu aku urus."


Huh? Rasanya kecewa.


"Yah... Okelah. Tapi besok harus pulang bareng."


Tak ada balasan darinya. Kenapa?


selang beberapa detik dia meneleponku.


"Jangan pernah hubungi dia. Ngerti!" Terdengar suara pria yang tak asing.


Dia siapa?! Seenaknya mengaturku!


Aku tetap menunggu Valen keluar sekolah di gerbang. Pasti mereka akan keluar dari sini.


Tak menunggu lama. Aku melihat Valen dan ... Jessen?


"Valen." Aku berjalan ke arahnya.


Dia terlihat menjadi canggung. "Oh... Kak."


Sebelum Valen menyambung kalimat nya Jessen menyingkirkan Valen ke belakang badannya dan menatapku tajam.


Aku tak suka melihat tatapannya. "Sorry. Aku tak punya urusan denganmu. Jadi kau bisa menyingkir."


"Dia pacarku."


What?! Aku melihat ke arah Valen. Valen melihat Jessen terkejut dan heran, dia menyergitkan dahinya.


Ah.. aku paham. Valen bukan pacarnya. Dia hanya ingin aku menjauh dari Valen. Huh, kau pikir aku bodoh. Kau tak tau berurusan dengan siapa ya?


Aku merangkul Jessen dan berbisik padanya. "Tipuan yang klasik." Aku menepuk pundaknya dan menatapnya sinis.


Dia malah menatapku datar dengan senyuman. Kemudian menoleh ke arah Valen.


Valen tampak berpikir sesuatu. Kemudian berkata dengan canggung. "Em. Iya, aku pacarannya."


Jessen kembali menatapku dengan tersenyum sinis. Dia menaikkan salah satu alisnya. "See."


Jessen berjalan melewatiku. Aku melihat Valen yang masih tak bergeming dari posisi dia berdiri. "Ma maaf kak, aku."


"Ngapain berdiri di situ. Cepat." Kalimat Valen dipotong Jessen dengan cepat.


Valen langsung bergerak sigap mengikuti Jessen.


Huh?


Aku langsung menarik tangan Valen. "Ngak usah di turutin. Ikut aku aja."


Jessen berhenti dan berjalan ke arahku. "Lepaskan tangannya."


"Kalau aku ngak mau, kau mau apa?" Kataku menantang.


Valen malah melepaskan tangannya dariku. "Maaf kak, hari ini aku ada urusan sama kak Jessen. Maaf... banget kak." Valen melipat kedua tangannyanya memohon.


Melihat ketulusan Valen, hatiku luluh. Aku mengelus kepalanya. "Iya, tak apa. Tapi ingat ya, besok harus pulang bareng." Aku menaikkan kelingkingku janji.


Valen menyambung kelilingku dengan kelingkingnya dan menatap tersenyum. "Oke kak."


Jessen melanjutkan jalannya tak peduli. Valen mengikutinya sambil melambaikan tangan ke arahku.


Aku membalas dengan lambaian tangan dengan senyuman.


Apa bener mereka pacaran?

__ADS_1


__ADS_2