Magic You

Magic You
chapter 36


__ADS_3

Catatan penulis:


Maaf ya para readers ku yang terkasih selama 2 hari ini aku ngak up date.


Hari ini aku up chapter yang panjang... Pokoknya. Semoga permohonan maaf ini di terima ya guys... I love you guys... Thank you...


Happy reading ya...


______________________________________


Kami pun keluar theater bioskop setelah film selesai. Aku masih tersenyum senyum malu karena tingkah Jessen yang ketakutan tadi. Bahagia ku sederhana ya... Haha


"Film horor kok riang?" Ken menatapku aneh.


Aku melihat ke arahnya. "Ngak apa. Hehe."


Senyuman ku menular padanya. "Manis." Katanya singkat.


Aku berhenti tersenyum bingung dengan kalimatnya. Menyadari aku berhenti tersenyum juga. "Eh. Maksudnya tadi aku makan permen. Rasanya manis." Katanya kaku.


"Hem. Oke." Aku jadi ikutan kaku.


"Kok jadi kaku gini sih. Hahaha." Dia memelukku menghentikan langkah kami. Dia kembali memberi jarak sedikit di antara kami. "Aku cium ya." Godanya.


Dia mendekatkan wajahnya ke arahku.


Mataku membulat kaget.


Aku tau dia itu nekatan, tapi ngak di depan Jessen juga!!!


Seketika Jessen menarik kerah baju Ken membuat dekapan Ken melepas dari ku.


Jessen menarik badan Ken dengan keras, menjauhkan nya dari hadapanku. "Dia. Milikku." Jessen menekan setiap kalimatnya.


Mulut ku terbungkam.


Sekarang giliran Ken yang menarik kerah baju Jessen. "Siapa yang kau sebut milik mu hah?" Ken mendorong badan Jessen. "Dia pacarku. Kau pikir kau siapa?!" Ken mulai menaikkan suaranya.


Dengan pandangan datar Jessen tersenyum kecut. "Aku pacarnya sejak SMA. Dan sampai sekarang."


Ken tampak berfikir sambil menahan amarahnya, dia menatapku tajam. "Maksudnya apa sih Val?! Aku ngak ngerti!" Kata Ken meminta penjelasan.


Aku menatap sekitar. Kami jadi bahan tontonan. Aku harus meredakan kegaduhan ini. Aku merangkul tangan Ken agar menjauh sedikit dari tempat Jessen, agar dapat berkomunikasi dengan tenang tanpa gangguan tatapan orang. "Kita bahas di luar aja." Bisikku.


Alasan pertama kenapa aku tarik tangan Ken bukan Jessen karena... Satu, si Ken kayaknya orang yang ngak bisa tahan emosi dan akan melakukan keributan tak mempedulikan orang yang melihat. Kedua, aku tau si Jessen orangnya lebih tenang dan ngak sebrutal Ken.


Ken melepas tangan ku. "Aku ngak mau. Bahas sekarang." Dia ngotot di jawab.


Aduh... Malah jadi tambah rame lagi.


Aku kembali menarik tangannya ke bawah. Membuat dia sedikit membungkuk.


"Apa sih Val?!" Dia menatapku kesal.


Ku dekatkan bibirku ke telinganya. "Nanti aku cium." Bisikku.


Aku tau ini gila dan bodoh. Tapi ngak ada cara lain, ni orang otaknya mesum, jadi salah satu cara terbaik. Dan yang pasti aku ngak bakal mau cium dia. Ini cuma taktik aja biar dia diem.


Dia malah menatap ku dengan tersenyum nakal. "Dua kali."


Wait. What?! "Hah?!"


Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Cium aku dua kali nanti. Ditambah sama pelukan yang kau janjikan."


Tunggu dulu. Kenapa ekspresinya berubah?! Ini apa coba?!


Dia menggandeng tanganku dan berjalan mendekati Jessen yang tadi kami tinggalkan. "Kau jangan dekati Valen." Ancam Ken. Dan kami kembali berjalan meninggalkan Jessen seorang diri dengan menatap kami tajam.


Kami berjalan ke parkiran dan pergi dengan keretanya.


Firasat ku kok ngak enak ya.


***


Kami berhenti di satu taman. Karena ini malam jadi sepi, aku pun turun kemudian dia menyusul turun dari keretanya.


Aku memegangi leher ku. "Ehm. Di sana ada halte." Aku menunjuk halte yang tak jauh dari kami. "Aku naik bus aja. Aku pergi dulu ya."


Untungnya di sana ada banyak orang. Jadi ngak mungkin di macam-macam, ya kan?


Aku melangkahkan kaki menjauh darinya. Dia menghadang jalanku dengan berjalan ke depan ku dan berhenti di sana. Dia merentangkan tangannya dan mengerutkan bibirnya.


Waduh... Bahaya nih...


Aku pura-pura bodoh. "K kau. Kenapa?"


Dia menurunkan tangannya dan wajahnya menjadi kesal. "Ngak perlu sok amnesia deh. Kau harus tempati janji."


"A aku... Em..."


Aduh... Apa aku langsung lari aja ya?


Aku berjalan cepat melewati Ken mencoba berlari. Dia menangkap tanganku yang membuat ku berhenti. "Maaf tapi aku ngak bisa!" Kataku dengan menutup mata tanpa berbalik karena takut melihatnya.


Dia berjalan ke depan ku sambil masih memegang tanganku. Dia melepaskan tangan ku. Aku membuka mataku. "Jadi maksudmu punya pacar itu si Jessen?" Ken menatapku serius.


Aku memegang tengkuk ku lagi. Aku jadi ngak enak jawabnya.


"Jadi pacarku. Jangan sama dia."


Kok jadi serius gini.


Tapi aku memang ngak mau juga pacaran sama dia maupun Jessen.


Fixs aku hanya mau ini misi selesai aja udah.


Dia berdecak. "Val. Denger ngak sih?!"


Ahrr... "Iya dia pacar ku."


Wajahnya tajam menatap ku dan tiba-tiba mencium ku di pipi.


Cup


Cup


Dia menciumku dua kali!!!


Tadinya aku lagi mikir jadi kosong karena ciuman darinya. "Jangan pikirin dia." Dia menyentil jidatku. "Cukup aku yang ada di pikiran mu. Ngerti." Dia tersenyum tanpa dosa.


Dia menegakkan badannya. "Cuma aku yang boleh cium pacarku."


"Sembarang. Aku bukan pacar mu!" Pekikku.


Dia berjalan ke belakang ku tak memperdulikan kalimat ku. "Udah aku bilang. Aku ngak terima penolakan."


Dia berjalan ke keretanya yang ada di belakang, mengendarainya dan berhenti di sebelahku. "Naik. Aku antar pulang."

__ADS_1


Dari pada terjadi hal yang lebih gila lagi. Aku tak akan mau naik. "Ngak. Aku naik bis aja."


"Naik atau ..."


"Aku naik bis aja. Jangan paksa. Nanti aku menjerit." Kataku sebelum dia melanjutkan kalimat absurd nya.


"Huh." Dia menghela nafas. Dia turun. "Jangan buat aku jadi semakin ganas."


"Iya iya... Aku naik."


Terpaksa aku pun naik. Ck.


***


Aku berbaring di kamarku sambil memegangi ponselku. Aku membaca ebook dengan fokus karena tak bisa tidur.


Ponselku bergetar. Nomor yang tak di kenal. Siapa malam-malam gini chat aku.


Aku pun membuka pesannya.


Orang asing: Heh. Tidur sana.


Idih. Siapa dia nyuruh-nyuruh. Dan dia tau dari mana aku belum tidur.


Ah iya ya. Kan terlihat aku masih online.


Tapi ini siapa?


Aku tak membalas chatnya. Takutnya orang jahat.


Aku kembali membaca. Entah dari kapan aku mulai rajin belajar, tapi sekarang hidupku sudah mulai membaik karena semakin mengasah otakku.


Drett drett


Ponselku bergetar lagi. Kali ini dia menelpon ku.


"Halo. Siapa ini?" Kataku setelah mengangkat ponselku.


"Aku bilang tidur ya tidur. Jangan cuma di baca." Bentaknya.


"Kau siapa sok kenal sok dekat sama ku. Ku laporin ke polisi baru tau." Kataku tegas padanya.


"Kau pacar macam apa tak mengenal suara pacarmu sendiri."


Pacar?... Hem aku tau, dari nada suara yang barbar, suka ngatur dan selalu mengatakan aku pacarnya padahal engak... Ini pasti Ken.


"Apa urusanmu. Aku masih belajar."


"Hem, gitu."


"Iya. Udah ya aku matiin. Banyak kerjaan."


"Em oke. Belajar yang bener."


"Iya."


Tunggu dia tau nomorku dari mana?. "Eh. Kau dapat nomor ku dari siapa?"


Dia tertawa. "Ada deh."


"Ih.. sok buat orang jadi kepo. Eh.. denger ya, aku ngak bakal kepo. Dasar sok ganteng. Udah lah aku malas bicara dengan mu."


"Malas tapi masih lanjut ngomong. Gimana sih." Suaranya sok di manja manjakan.


"E eleh... Dasar cowok ngak jelas." Aku langsung mematikan ponselku. "Cih. Sok oke amat tu orang."


Dasar kecebong kecentilan...


Tapi mata ini sepertinya sudah sangat mengantuk.


Aku pun tertidur dengan sangat lelah.


***


Aku menutup mataku karena kesilauan cahaya lampu.


Terang banget.


Aku merangkul selimut ku dan memiringkan badan ke arah kiri. Aku membuka mataku sedikit dan kembali menutup nya.


Aneh ya... Kok ada Jessen di sini.


Jessen...


Jessen...


JESSEN!


Aku membuka mataku menyadari ada Jessen. Sedang menatap ku dalam pembaringan nya di tempat tidur.


Aku langsung berdiri dari kasurnya.


Ini tempat yang berbeda dari pada sebelumnya. Ini bukan rumahnya sebelumnya... Dan kau tau apa yang lebih gila... Aku masih bisa berfikir tentang keadaan ruangan kamar sedangkan kondisi ku sekarang ada di kamar cowok yang tadi aku tinggal gitu aja kemarin!


Dia masih menatapku sambil beranjak duduk.


"Kkau dari tadi udah bangun?"


Dia mengangguk dengan ekspresi datar.


Dia ngak ngapa-ngapain aku kan?... Aku melihat diriku. Baju ku ngak berantakan. T t tapi bisa aja dia udah berbuat suatu hal yang... Yang... Aihh... SERIUSAN NIH....


"KKAU NGAPAIN AKU DARI TADI."


Dia berdiri dan mendekatiku. Dia berhenti di hadapanku dengan wajah datar. "Ngak ada."


Ctak.


Dia menyentil jidatku. "Masakin aku makanan. Ngak boleh mie instan."


Dia pun melalui ku.


Aku membalikkan badan melihat nya. "Enak aja. Emang aku babu mu!"


Dia menoleh melihatku. "Lakukan dan selesaikan misi mu."


Ck. Aku harus mendengarkan nya. Sial!


"Cepat." Lugasnya.


"Iya iya." Kataku datar.


Aku keluar kamar Jessen. Sepertinya dia tinggal di apartemen...


Hemm... Setiap ruangan yang ku pandang di tempat ini sangat rapi.


Cowok idaman...

__ADS_1


Eh apaan sih!


Aku memukul kepalaku.


Jangan lagi...


Aku pun melanjutkan jalan ku ke dapur Jessen. Aku melihat bahan bahan yang ada di dapur nya.


Aku ngak terlalu pandai memasak. Jadi aku mau masak apa ya?


Selagi aku masih berfikir, Jessen duduk di meja makan yang berhadapan dengan dapur. Dia menatapku.


"Ish... Jangan di lihatin lah. Jadi makin buntu tau ngak." Kataku kesal.


Sebenarnya aku jadi deg-degan kalau di lihat sama dia... Jujur, aku bukanlah orang yang mudah move on. Tapi setidaknya aku udah berusaha. Aku harus bisa ngak baper sama ni orang.


"Kau mikirin apa?" Tanyanya.


"Bukan urusanmu." Jawabku datar.


"Dengar ya... Aku udah ngak suka lagi sama mu. Jangan baperan."


Dia tersenyum miring. "Jadi kau selama ini suka samaku." Ejeknya.


Ish... Salah ngomong lagi...


"Ya enggak lah." Bantahku.


Ingat Val... Dia udah tunangan...


Harus cari topik lain. "Kapan kau nikah?" Tanyaku.


Pandangan nya semakin mengintimidasi ku. Lah emang salah ya?


Dia berdiri dan berjalan ke arahku.


Dia semakin mendekat dan dekat. Dan sekarang dia ada di hadapanku. "Aku ngak bakal nikah sama dia. Dia bukan tunangan ku lagi." Katanya datar.


Rasanya kok bahagia sekali mendengarnya...


Eh Val ingat kau udah punya pacar...


Eh tunggu, kok aku, Ken, kok.. Val... Kau mengakui Ken pacar mu?!


Ngak ngak... Aku ngak mau...


Intinya aku ngak mau sama dia... Pokoknya jangan... Aku bakal cari cowok lain... Yang pasti bukan dia!


Aku menokok kepalaku untuk menyadarkanku dari pikiranku yang semakin lama semakin bobrok!


Jessen memegang tanganku. "Udah bego. Makin bego nanti."


Ish... Datang yang satu ini... Tukang hina kerjanya...


"Bisa ngak sih ngak bilang aku bego." Aku berdiri tegak menghadap Jessen. "Aku udah capek-capek belajar biar lulus kedokteran begini. Kau masih bilang aku bego. Hargai kenapa sih.."


Dia menyentil jidatku. "Hari ini aku bakal ngajar kelasmu. Seberapa pintar sih kau sekarang."


"Hah?! Masa?!"


Dia melipat kedua tangannya di dada. "Jangan banyak bicara. Cepat masak."


Mengingat kejadian aku pulang di pagi buta sewaktu SMA setelah dari rumah ni orang. Aku jadi takut. "Eh. Aku nanti pulang naik apa?"


Dia membalikkan badan. "Pandai-pandailah. Kau bilang kau sudah pintar sekarang."


Sial!


Ish... Arhhh


Aku pun kembali memasak dengan perasaan geram.


***


Masakan sudah jadi. Aku memberikannya pada Jessen di meja makan. "Aku pulang." Kataku setelah memberikan nasi goreng di hadapannya.


Aku membalikkan badan dan berjalan ke pintu apartemennya hendak keluar.


"Eh." Dia memanggil ku.


Ya Tuhan... Apakah dia mau mengantar ku...


Akhirnya dia berubah...


Aku pun membalikkan badan dengan bersukacita. "Iya." Sahut ku.


Dia menatapku datar. "Jangan pacaran dengannya. Kalau tidak, kau tak akan lulus di mata pelajaran ku."


Hehe... Kenapa dia jadi perhatian gini...


Aku tak jadi pergi menuju pintu apartemennya. Aku berjalan dengan sedikit berjinjit ria ke arah nya. Sekarang aku di hadapannya dan duduk dengan memegangi wajahku centil. "Hemm. Kau cemburu ya..."


Dia tersenyum singkat. "Heh. Kasian aja aku lihat dia pacaran dengan mu. Kau akan menjadi beban."


Iish.. aku memasang wajah jutek. "Lah kau sendiri kenapa bilang ke Ken kalau aku pacarmu?! Kalau aku menyusahkan kenapa kau mau sama ku."


Dia hanya menatapku datar.


"Jawab dong. Ngak bisa kan?"


Aku pun bangkit berdiri. Dan beranjak pergi dari tempat ku.


Beberapa langkah kaki aku berjalan. Dia menarik tanganku dan memelukku.


Deg.


Deg.


Deg.


"Kau masih terikat dengan ku. Jadi jangan pernah mencoba membuat ikatan dengan orang lain selain aku." Suaranya sangat dekat di telingaku. Membuat jantung ku terus berdegup sangat kencang.


Dia melepaskan pelukannya dan melihat ku datar seperti tak terjadi apa-apa.


Aku membatu di tempat.


Dalam pikiran ku aku sangat berusaha membencinya dan melupakan dirinya tapi dalam hati aku sangat menginginkan nya. Kenapa hati ini tak bisa kompromi dengan otak ku.


Val kau ini kenapa sih?


Dia membalikkan badan dan hendak beranjak pergi.


"Jessen! Jangan pernah lakukan apapun yang membuat aku semakin menyukaimu! Aku benci kau! Jangan pernah lakukan apapun... Pokoknya jangan!" Bentakku sambil terengah-engah menarik nafas.


Dia menghetikan langkah nya dan membalikkan badannya. "Jauhi dia. Dan selesaikan misimu."


Aku mengepal tangan ku.

__ADS_1


Kenapa kau tak mau mengerti perasaanku...


__ADS_2