
Beberapa hari kemudian.
Jessen berjalan keluar dari parkiran mobil kampus bersama Valen menuju halaman kampus. Hari ini adalah hari pertama Valen berada di kampus. Menginjakkan kakinya sebagai Mahasiswa Baru atau dapat di sebut Maba.
Ini adalah hari MOS pertama Valen!
Jessen tak hentinya menatap sang istri yang sama sekali takkan bosan bagi matanya untuk di tatap. Di tambah lagi karena kejadian beberapa hari lalu yang benar-benar memuaskannya di kamar membuat Jessen ingin lebih sering melakukan nya lagi.
Setelah berada di lapangan. Terdapat banyak mahasiswa yang mengenakan baju serba putih dan celana serta rok hitam. Menandakan mereka juga merupakan Maba di sini.
Valen menghentikan langkahnya dan menatap Jessen dengan senyuman. "Sampai sini aja antarnya. Kamu ke kelas aja gih.." Suruh Valen.
Jessen tersenyum. "Oh... Jadi ceritanya ngusir aku nih..." Jessen pura pura ngambek.
Valen mencubit pipi Jessen sesaat kemudian melepaskannya. "Sejak kapan jadi sok manja begini sih... Gemes deh.."
Jessen kembali tersenyum. Kemudian mengacak rambut Valen. "Biarin... Biar kamu ngak kabur ke cowok lain."
Deg!
Ntah kenapa Valen teringat dengan kejadian kuliahnya. Dia pasti bakalan berjumpa dengan Ken.
"Sayang..." Panggil Jessen menghancurkan lamunan Valen.
"Eh iya..."
"Kamu kenapa tiba tiba diam?" Kemudian wajah Jessen berubah datar. "Kamu.. jangan jangan bener kamu ada cowok lain." Jessen seperti bisa membaca pikiran Valen.
Valen buru buru menggeleng. "Engak kok."
"Terus kenapa kamu diam?"
Valen berusaha berfikir cepat.
'Ah.. aku tau!'
"Aku tadi mau cium. Tapi... Karena kita udah di depan orang ramai, jadi ngak bisa deh." Valen ngarang.
Jessen tersenyum. Kemudian mendekatkan kepalanya ke telinga Valen. "Kalau gitu nanti pulang kampus kita senam malam ya." Bisik Jessen.
Valen menatap Jessen bingung. "Memangnya ada senam malam malam? Jessen.. biasanya itu senam pagi dan sore biar sehat. Kalau malam mah orang ngak pernah lakuin." Jelas Valen dengan pikiran polosnya.
Valen benar benar berfikir bahwa yang di maksud senam adalah benar benar olah raga senam, bukan begitu an... Ckck...
Jessen terkekeh melihat keluguan istrinya. Sangking gemasnya Jessen melayangkan ciuman singkat di bibir Valen.
Blush..
Wajah Valen memerah.
"Aku ke kelas dulu ya sayang... Bye.." Jessen yang tau bakalan di omeli istrinya karena mencium nya di depan umum nyosor pergi meninggalkan Valen yang mematung.
Valen menutup wajahnya malu. "Astaga... Jessen!!!" Pekiknya pelan.
Sedangkan Jessen terkekeh dan berjalan kembali santai menuju kelas.
***
Dari lantai atas Jessen memperhatikan Valen yang tengah berdiri panas panasan di sana.
'Kayanya ngak mungkin aku minta jatah nanti malam. Pasti kecapean dia.' Batin Jessen.
__ADS_1
Sesaat kemudian terlihat Ken yang tengah memandu Maba di sana. Terlihat banyak wanita yang memekik kecil karena terpesona dengan wajah tampan Ken.
Jessen jadi panik sendiri mengingat istrinya di sana. Dia sangat tak suka jika Valen melihat pria lain dengan tatapan terpesona selain dari padanya.
Jessen mulai fokus menatap istrinya. Jessen kembali menarik sudut bibirnya. Istrinya sama sekali tak perduli dan hanya menundukkan kepala karena panas.
Beberapa saat kemudian dosen kelas Jessen masuk. Membuat Jessen mau tak mau harus masuk ke kelas.
Dan ya.. Jessen percaya pada istri nya. Dia yakin Valen tak akan bisa di ganggu gugat oleh siapapun.
Valen yang berjemur di luar ini terasa sangat jengah. Sudah panas di tambah lagi dengan mendengarkan kalimat songong dari pemimpin MOS membuat dia kesal sendiri. 'Masih mahasiswa aja songong... Hei, aku udah tamat lagi!' Pekik Valen dalam hati.
Ktak
Kepala Valen di ketuk oleh seseorang yang ada di atas nya.
Valen mendongak.
Ken!
Valen kembali menundukkan kepalanya.
'Ngak ngak... Jangan dia..' Harap Valen dalam hati.
Ken terkekeh. Sesangar itukan aku? Pikir Ken.
"Fa!..." Panggil Ken pada temannya yang ada tak jauh dari nya.
Teman yang di panggil itu pun menoleh.
"Kau yang mimpin sekarang." Tambah Ken membuat orang yang di suruh tadi pun mengangguk dan mulai memimpin. Sedang Ken duduk di sebelah Valen dan menatap Valen.
"Apa sih! Pergi sana!" Pekik Valen yang sedikit kencang membuat Ken jadi tersenyum. Rencana awalnya Ken hanya ingin menggoda adik kelasnya ini karena begitu penakut. Ternyata dia malah lebih galak dari pada yang dia bayangkan.
"Eh. Kau sekarang ikut aku." Ken menepuk pundak Valen.
Karena merasa di sentuh. Valen terlonjak kaget kemudian menatap sinis Ken. "Aku udah ada yang punya. Jangan harap." Kata Valen dingin.
Ken menatap Valen.
"Serius? Dia udah punya pacar?... Kenapa aku kesel ya?...ck.' Pikir Ken.
"Eh. Kepedean banget kau. Aku nyuruhmu mengikuti ku karena kau harus ku beri hukuman. Kau sangat tak sopan pada senior mu." Ken berusaha menaikkan derajat nya kerena baru di tolak mentah-mentah.
Valen berdesis. "Mana ada aku ngak sopan?"
"Heh. Kau tadi waktu kami menjelaskan hanya lihat ke bawah. Seharusnya kau menghargai kami di sini. Kau mau kamu beri surat peringatan dan melaporkan tindak ketidaksopanan mu hm?"
Ken berdiri. "Cepat ikuti aku." Kemudian Ken berjalan.
Terpaksa Valen harus mengikuti apa katanya.
Sesaat berjalan di belakang Ken. Valen melihat Cya yang mengangkat sedikit tangannya dengan telapak tangan mengepal. "Semangat." Kata nya tanpa bersuara.
Yup! Itu jodoh nya Ken!!!
Valen tersenyum simpul kemudian kembali mengikuti Ken.
***
"Jadi namamu siapa?" Tanya Ken saat mereka tengah duduk berhadapan di meja suatu ruangan.
__ADS_1
"Valentresia."
Ken menganguk dan melihat daftar nama mahasiswa. "Ah.. Kedokteran hm?"
"Ya."
Ken sedikit mendesis karena Valen tak terlalu banyak bicara. Padahal dia berharap bisa bicara banyak dengan wanita yang di hadapannya ini. Dan sampai mengetahui kalau Valen tak memiliki kekasih, harap Ken.
"Mana ponselmu." Tanya Ken.
'Oh... Dia kepo ya... Oke aku akan buka kalau aku udah ada yang punya jadi dia ngak bakalan dekati aku... Fix!" Batin Valen.
Valen langsung membuka bercandanya dan syukur nya kalau wallpaper nya ini adalah foto Jessen.
"Nah." Kata Valen tersenyum miring.
Ken menatap Valen tajam. 'Kok di kasih gitu aja sih? Ngak ada perlawanan gitu?' Batinnya.
"Kenapa? Ngak jadi ngeliat nya? Oh ya udah."
Saat Valen hendak menarik kembali ponselnya ke dalam sakunya langsung di tarik oleh Ken. "Jadi lah."
Ken melihat foto profil Jessen.
Matanya terbelalak. Kemudian menatap Valen shock. "Kau istrinya Jessen?!"
Deg!
"K-kkok k-kkau tau."
"Jessen bilang dia punya istri. Dan... Ternyata itu kau..."
"E-em. Iya." Valen bingung harus berekspresi apa. Bangga karena punya suami ganteng, pintar dan super duper idaman kaum hawa. Atau dia harus malu karena menikah di usia yang sangat muda yang pasti di pikir orang kalau itu terjadi karena mereka itu salah jalan.
Ken mengelus elus dagunya sambil memperhatikan Valen. 'Kalau di lihat lihat Valen ngak cantik cantik amat. Tapi kenapa Jessen dan bahkan aku bisa suka lihat dia ya?'
Ken menggeleng geleng kan kepalanya. Dia tak ingin di cap sebagai Pebinor alias Perebut Bini Orang. Jadi Ken menjauhkan pikirannya untuk tidak tertarik pada Valen.
"So.. Sejak kapan kalian nikah?" Tanya Ken penasaran.
Valen menaikkan salah satu alisnya. "Eh. Ngak usah kepo." Ucap Valen merasa terusik dengan pertanyaan Ken.
"Ya udah terserah.." Ken melipat tangannya dan menatap ke arah lain kesal tak mendapatkan jawaban dari kedua pasutri ini.
"Ya udah." Sambung Valen cepat.
Kemudian Ken teringat kembali fokus nya kenapa dia manggil Valen. "Eh. Tadi kan aku mau hukummu."
"Salahmu sendiri kenapa jadi ngobrol."
Ken terkekeh sambil memegangi tengkuknya. "Hehe. Iya sih.."
"Ya udah. Karena kau itu istrinya Jessen teman terbaik ku. Aku takkan menghukummu. Tapi ingat! Jaga perilaku mu. Sopan sama senior.. Paham."
"Hm. Iya.."
"Iya apa?.." Ken menuntut kelengkapan kalimat Valen.
"Iya kakak...."
"Haa... Gitu dong. Udah sana balik ke barisan." Ucapi puas kemudian merintah nya.
__ADS_1
Valen pun kembali berjalan ke barisan dan kembali di jemur di siang bolong.