Magic You

Magic You
chapter 53


__ADS_3

Dia hanya menatapku datar.


Aih...


Aku mencoba menetralkan jantungku dengan sedikit terbatuk. "Ehem. Ngak usah di anterin. Valen pergi sediri aja nek."


Ken berjalan ke arahku membelakangi nenek.


Deg


Deg


Dia sekarang di hadapanku. Aku menatapnya kaku.


Dia menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya kemudian menyentuh bibirku dengan jari telunjuk yang menyentuh bibirnya tadi. Dia memandang ke sembarang arah sambil tersenyum.


Apa maksudnya coba?


Dia membalikkan badan dan kembali ke tempat nenek.


Dia menyalim nenek. "Kami berangkat ya nek." Dia menoleh ke arahku tersenyum aneh. Kemudian keluar.


Aku pun berjalan ke arah nenek dan menyalimnya. "Valen berangkat nek."


"Iya."


Beberapa langkah setelah aku berjalan keluar. Aku menoleh ke belakang memastikan nenek udah menutup pintu. Takutnya nenek ikut ikutan salah sangka juga.


Nenek sudah menutup pintu. Syukurlah.


Aku kembali berjalan.


Aku mengejar Ken ingin menjelaskan sesuatu. Aku tak tak mau jadi salah pemahaman seperti sekarang.


Aku mengehentikan langkahku. "Ken mana?"


"Nyariin aku?" Aku menoleh ke sampingku.


Deg


Itu dia.


Val. Kau harus bisa ngomong sekarang.


Tapi jantungku beneran berdetak kencang, karena hal bodoh yang kulakukan tadi.


"Semalam aku minta cium malu-malu. Sekarang malah ngebet mau nyiumnya." Ledek Ken.


"M mana ada?! A aku tadi kayak gitu karena takut... Kau tadi bilang tentang hantu. Jadi aku shock!"


"K kita be berangkatnya sendiri sendiri aja. Aaku luan." Aku berjalan sambil menatap depan linglung.


Aduh Val. Kok kau salting gini sih?


Ken menarikku dan menggendongku ala bridal style. Membawaku masuk ke mobilnya yang berada di sebelah kami.


Dia mendudukkanku di kursi depan sedangkan dia duduk di sebelahku di kursi kemudi.


Dia diam sambil tersenyum.


"GGila ya?!"


Dia mengangguk dan mendekatkan tubuhnya padaku. "Iya. Aku gila karena kau."


Deg


Deg


"Cium lagi dong. Tapi.. agak pelan ya." Dia mengedipkan matanya."


Aku membuang wajahku. "Kan udah aku bilang aku ngak sengaja! Dan... Kita mau berangkat. Apa gimana sih?! Cepatlah!"


"Kau grogi kok lucu ya."


Aku melihatnya. "Aku sama sekali ngak gerogi!"


"Hehe. Btw, lip tint mu masih menempel di bibirku loh." Dia tersenyum kecil sambil memegangi bibirnya.


Aku langsung mengambil tissueku. Beranjak dari bangkuku kesal menghampirinya dan dengan cepat hendak menlap bibirnya.


Dia memegang tanganku dan sedikit menarikku dan mendudukkan di pahanya. Merangkul pinggangku. Dia menatapku dengan sedikit mendongak melihatku dengan menaikkan alisnya dan tersenyum miring. "Kau... Agresif sekarang ya."


Deg


"Hah? A apanya yang agresif!" Aku langsung menlap bibirnya kesal. "Noh tu bibirmu. Mau kulap! Biar ngak ada bekas lagi!"


"Yah. Kok di lap."


Aku bangkit berdiri dan kembali ke tempat dudukku.


Dia menarik tanganku membuatku kembali terduduk di pahanya. Kembali merangkul pinggangku. "Kau harus buat bekas lagi."


"Bekas?! Maksudnya nyium kau?!"


Dia mengangguk.


Aku menjitak kepalanya. "Ngak!"


Dia mengeratkan rangkulannya. "Kalau ngak kau yang cium. Aku yang cium. Dan..." Dia menatapku tajam tersenyum licik. "Aku akan melakukan lebih dari pada sekedar menyium." Dia mengigit bibir bawahnya.


Aku hendak memukulnya, tapi dia langsung memutar badanku ke sebelahnya, menimpa salah satu kakinya di atas pahaku dan mendekap punggung belakangku membuat kedua lenganku berada di pundaknya. "Lelaki lebih kuat daripada wanita." Bisiknya.


Cih. Aku kalah telak.


Dia menatapku tajam. "Gimana? Kau yang lakukan atau ak.."


Cup


"Udah kan! Sekarang lepas." Aku membuang wajahku malu.


Aku lakukan biar langsung kelar.


Dia masih cengo.


Aku mendorong tubuhnya. "Cepat lah lepas. Kan udah di cium!"


"Ha hah? Kenapa?" Katanya tersadar.


"Is lepas lah!"


"Kkau tadi cium aku?" Katanya terbata bata.


"Ck. Iya... Kan udah. Cepat lepas!"


"Aaku belum siap kali ngatur posisi. Ulang-ulang." Dia mengatur posisinya.


"Ngak ada! Tadi kan udah!"


"Ck. Lagi."


"Kan udah tadi! Kau ngak bisa nempatin janji!"

__ADS_1


Dia mengusap wajahnya kesal. "Ah.. Kenapa tadi kau tiba-tiba sih. Aku jadi ngak ada persiapan."


"Kau juga sering tiba-tiba! Kau bahkan lebih gila!" Pekikku.


"Tepatin janji lah!" Sambungku.


Dia terkekeh kecil.


"Kenapa ketawa?!"


"Agresif." Ledeknya.


"Hah? Ish... Kan itu karena biar cepat kelar! Bukan karena aku kepingin! Lagipun itu pun karena terpaksa tau ngak!"


"Hem." Dia mengangguk tapi dengan ekspresi tak percaya.


"Ish.. Apa sih Ken?!"


"Iya.. ngak apa."


Dia memiringkan kepalanya menatapku. "Lain kali aku yang cium. Biar lebih lama durasinya."


"Lain kali aku bawa pisau. Biar ku cucuk matamu kalau sekali lagi mau cium aku."


Dia tersenyum. "Keras kepala ya."


"Kalau ngak keras bukan kepala namanya!"


Dia mencium pipiku singkat. "Itu hukuman karena membuatku kesal."


"Ken!"


Dia mengacak rambutku. "Love you."


Deg


Jantungku terus berdegup kencang sedari tadi sampai sekarang.


Aku membuang wajahku.


"Cepat lepaskan!"


"Iya sayang." Dia pun melepaskanku.


Aku langsung dengan cepat beranjak menuju bangkuku.


Aku menatap ke arah kiri. "Cepat jalan."


"Hah?"


"Jalan... cepat." Pekikku.


"Hah?"


Aku pun melihatnya kesal. "Tuli ya!"


"Kalau ngomong sama orang di lihat orangnya dong."


"Ya udah. Cepat jalan."


Dia mengepalkan tangannya menutup mulut menahan tawa. "By. Kamu deg degan banget ya. Tegang benget. Dan juga, lihat tuh muka." Dia menunjuk wajahku. "Merah kaya tomat."


Aku memegangi wajahku dan menatapnya kesal. "Ngak ada. Pokoknya cepat lah kemudikan mobilnya. Lama amat sih!" Aku coba menyangkal keadaanku.


"Iya by ku tersayang."


Dia pun menghidupkan mesin dan mengemudikan mobilnya. Dia menatap depan dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.


Shit. Kenapa jadi grogi beneran sih!


***


Aku memainkan ponselku karena kurang kerjaan. Dosen belum masuk.


"Eh. Valen." Seseorang menyapaku. Aku mendongakkan kepalaku menatap dia yang sekarang di hadapanku.


"Iya?"


Dia langsung duduk si sebelahku dengan sangat antusias. Btw, dia bukannya Cya, murid terpintar di kelas.. Well, aku tau dari daftar nilai Jessen yang kemarin sempat terlihat olehku. Nilai dia tertinggi, belum lagi dia selalu menjawab pertanyaan dosen dengan cepat dan tepat saat mata pelajaran berlangsung. Jadi ngak salah lah ya kan aku menganggapnya murid terpintar.


"Valen. Jangan mau terhasut oleh mereka yang ngekedekin kamu semalam. Mereka memang iri aja liat kamu. Jadi tetap semangat ya."


Aku terkekeh. "Apaan sih beb. Aku juga ngak pernah masukin hati kok. Biasalah, kalau artis kan memang banyak haters-nya. Haha." Kataku santai.


"Iya, wkwk. Heters\=ngak mampu, makanya suka mengejek." Dia menyenggol tanganku sedikit, sambil melihat ke kanan. Ternyata ada mereka yang julitin aku semalam. Dia mengedipkan mata, aku mengerti kodenya, dia juga ingin menghina mereka.


"Haha. Bener banget."


Aku melihat mereka yang tampak panas dengan omongan kami.


"Eh. Katanya dosen ngak Dateng. Kita keluar aja dulu yuk beb. Dari pada bareng netijen yang selalu kepoin hidup orang di sini." Katanya menghina.


"Haha ashiapp.."


Kami pun pergi ke luar.


Setelah beberapa langkah berjalan. Dia memulai pembicaraan. "Kau tau Val. Aku juga gedeg sama mereka. Mereka julitin aku mulu, cuma perkara aku selalu jawabpin pertanyaan dosen. Kesel."


"Iya.. bener itu. Kalau memang pingin jadi di perhatikan dosen, ya jawab dong pertanyaan dosen. Jangan halangi orang." Sahutku.


Dia mengacungkan jempol. "Mantep. Memang bener."


"Tenang aja Val. Aku orangnya ngak suka cari perkara, tapi kalau mereka yang Luan cari perkara sama aku. Aku bakal ladenin. Tapi.. pakai cara cantik." Bisiknya.


"Gimana?" Kataku kepo.


"Setiap kali mereka nanti persentase kelompok, aku bakalan sebutin nama mereka yang harus menjawab pertanyaan ku. Jadi kalau mereka ngak bisa jawab, whehehe, dosen bakalan cap mereka jadi murid yang bego. Dan hatiku akan puas. Whuahaha." Katanya dengan tertawa bagaikan iblis mendapatkan mangsa.


Wadidaw... Cara kick orang jenius memang beda... Aku salut.


Aku tepuk tangan. "Mantep beb. Aku mendukungmu 100%. Whuahaha." Aku pun tertawa bagaikan sobat iblis yang bahagia tanpa beban.


Mampus kan kalian para juliters... Bengek kau nanti. "Makanya mereka jangan macam macam. Whuahaha." Sambungku.


Kami saling merangkul seperti si kembar Dajal yang akan melancarkan aksinya.


Dia mengacungkan kelingkingnya. "Teman?"


Aku menggeleng.


Dia tampak kecewa. "Yah.."


"Bukan teman. Sobat Dajal. Whuahaha." Aku meraih kelilingnya dengan kelingkingku.


Dia ikutan tertawa Dajal juga. "Whuahaha."


Dapet juga aku sobat seperti Tessa. Pintar. Tapi bedanya, Cya ada bumbu bobroknya.


Wkwk. Ngak apa. Aku suka.


***

__ADS_1


Pulang kuliah, aku berjalan sendiri. Aku mempercepat langkahku agar tak berjumpa dengan Ken.


Aku bakalan sial kalau jumpa dengannya.


Aku mencium aroma yang tak kuharapkan. Ini seperti parfum...


Aku menoleh. Ken!


Damn!


Kalau aku berlari bakalan ngak sempat. Oh ya, aku punya semprotan cabe di dalam tas.


Hah! Mantap!


Aku menatap miris diriku. Ke apa tadi pagi aku ngak ngantongin semprotan ini. Ck. Lain kali semprot ini akan ku kantongin!


Aku mengambil semprotan di dalam tasku, aku membalikkan badan. Dia udah hampir dekat.


"Berhenti!"


Dia masih berjalan ke arahku.


Aku mengangkat tanganku yang memegang semprotan cabe. "Aku ada semprotan cabe! Jangan mendekat, atau kau akan menyesal!"


Dia masih berjalan ke arahku.


Sekarang dia hampir dekat.


Aku langsung memasang kuda-kuda dan memegang semprotan.


Srett


Kok ngak ada airnya?


Aku kembali menekan.


Srett


Aku menggoyangkan semprotan ini. Ck. Habis?!


Kapan aku pake?


Aku melihat ada yang aneh dari botol kecil semprotan ini.


Ada kertas putih yang berisikan tulisan kecil yang menempel di sana.


"Udah aku tukar🙃"


Ini. Siapa yang bikin?


Jangan jangan.


Deb


Aku di peluk Ken. "Aku yang buat. Biar kamu ngak macem-macem."


Arh.... Darahku naik di ambang kenormalan.


Burgh


Aku memukul perutnya keras. Menginjak kakinya dan mendorongnya hingga terjatuh.


Wew. Kuat juga saya..


Aku langsung pergi berlari.


Kali ini keberuntungan ada di pihakku. Bis telah berhenti dan hampir hendak berjalan. Aku mempercepat langkahku dan masuk bis dengan cepat.


Mati kau!


Aku dapat lolos dari Ken!


***


Aku menatap langit-langit kamarku.


Huf... Hari yang melelahkan.


Aku sangat kelelahan. Baru masuk, tugas numpuk, kawan banyak julid, jumpa orang psiko mulu... Arh... Setress...


Aku menutupi wajahku dengan selimut. "Kapan aku tamat dari kuliah ini. Ck."


Tapi ada satu hal yang menyembuhkan kekesalanku pada hari hari berat yang kulalui.


Drett


Ponselku bergetar.


Cya...


Ah, syukurlah dia menelponku di saat aku beneran boring.


Aku mengankat telponnya.


"Hai." Kataku


"Hai Val."


"Kau lagi apa?" Tanyaku.


"Biasa... Hanya membaringkan tubuhku di kasur."


"Hahaha. Kok sama."


"Oh ya.. wkwk. Btw, aku bosen banget nih."


"Sama."


"Jalan jalan yuk. Aku yang bayarin."


"Aku mau ikut... Tapi ngak perlu lah sampai di bayarin beb. Wkwk."


"Ngak apa kali Beb. Sans aja."


"Oke deh kalau begitu."


"Oke... Aku siap siap dulu. Kita ketemu di lapangan basket dekat SMA Brawijaya ya..."


"Oke beb... Sampai jumpa lagi."


"Oke."


Aku pun mematikan ponselku.


Yesssss..... Ada juga akhirnya hiburan di tengah kekesalan ini.


Thanks Lord...


catatan penulis:


jangan lupa tinggalkan jejak ya... (like, comment, dan kalau bisa vote ya guys...) Thanks...

__ADS_1


__ADS_2