
...Ken prov...
Aku tak fokus pada pembelajaran lagi sekarang. Tubuh ini terasa sangat panas menahan emosi.
Baru kali ini, sepanjang sejarah kehidupan yang kujalani sekarang aku emosi tak terkontrol seperti ini!
Aku terus bernafas dengan terus mendengus kesal.
Bagaimana bisa Jessen mencium Valen seenak jidatnya?!
Well. Sebenarnya aku juga begitu sih.. Tapi aku sangat tak terima kalau Valenku di sentuh apalagi di cium oleh orang lain selain aku. Aku tak terima!
Aku mendengus kesal setiap kali mengingat kejadian itu. Membuat darah ku naik pagi pagi!
Sial!
"Woy Ken." Panggil Grabta yang duduk si sebelah bangkuku sekarang.
"Apa?" Aku melihatnya dengan tatapan api yang menyala-nyala.
"Oy. Santai dong."
Aku membuang malas wajahku ke semi arah.
"Ken. Kenapa kau? Mukamu merah padam." Dia menatapku ngeri.
Ck. Ya iyalah! Gimana enggak!
Valen di cium orang anjritt!
"Bukan urusanmu." Ucapku tanpa melihat ke arahnya.
"Hm. Terserah."
Aku terus memainkan pulpen di tanganku dengan geram. Aku harus jumpai Valen di jam istirahat ini..
***
Aku mencari Valen dengan memandang setiap sudut kantin.
Aku menemukannya!
Bruk
Aku memukul meja makan Valen dan menatap tajam.
"Ken?" Valen manatapku.
Aku coba mengatur nafasku agar setiap kalimat yang akan kusampaikan nantinya jelas. "Apa ku bilang mengenai ciuman." Suaraku sedikit kutinggikan.
Dia diam. Dan temannya menatapku dan Valen secara bergantian.
Ck. Aku sangat kesal kalau sudah begini.
Aku langsung duduk di hadapannya dengan terus mengepakkan tangan emosi. "Pipi dan bibirmu hanya milikku." Jelasku.
Sesaat aku melihat wajah teman si Valen yang cengo mendengar kalimat yang keluar dari bibirku.
Teman si Valen mukaknya ngak bisa di kondisikan ya.. Kesel aku lihatnya...
Valen yang terlihat sedikit panik sedikit membolangkan matanya memberi kode agar menutup mulut. "Apaan sih Ken?"
Tetap saja aku tak peduli. Kau hanya akan menjadi milikku!
"Aku tak terima. Lihat aja nanti." Kataku dengan suara lantang.
Aku berdiri dan pergi beranjak dari tempat ini.
Aku berjalan menuju koridor kampus.
Langkahku terhenti melihat Jessen tengah berbincang dengan seorang wanita.
Jessen tampak marah dan sedikit mendorong tubuh wanita itu.
Aku jadi penasaran sama apa yang mereka bahas. Baru kali ini aku melihat Jessen sangat marah.
Aku berjalan mendekat ke arah mereka sedikit mengendap endap. Aku berjalan dengan badan yang menempel di dinding dimana kebetulan ada tiang penyangga yang menempel pada dinding tersebut yang mampu menutupi diriku dari satu sisi terhadap pandangan Jessen.
Sekarang aku sudah lumayan bisa mendengar perkataan mereka.
Wanita itu tampak terkekeh hambar. "Kau pikir bisa semudah itu melepaskanku huh?"
"Cih. Kenapa tidak?"
"Arh.." Wanita itu tampak mengamuk.
"Aku ini tunanganmu! Perlakukan aku dengan baik!"
Hah? Jessen udah tunangan?
Memang bangsat tu anak ya! Masih bisa bisanya mendekati Valen!
"Tunangan bukan berarti kau segalanya bagiku." Ucap Jessen dengan nada tajam. "Aku tak pernah mencintaimu. Sekecil apapun."
"Aku hanya perlu mengabulkan satu lagi permohonanmu, yang pasti bukan menikahimu. Dan setelah itu kau takkan menganggapku lagi. Itu kan yang ada di kontrak perjanjian kita." Sambung Jessen.
"Cih. Kau masih memegang perjanjian menjijikkan itu ya."
"Dengar. Perjanjian itu kita tanda tangani sebelum aku terlanjur mencintaimu Jessen." Suara perempuan itu terdengar parau setelah sebelumnya sangat sombong.
"Perjanjian adalah perjanjian. Kau telah menandatangani itu." Kata Jessen dingin.
"Oke fine!" Nada suara wanita itu meninggi. "Besok aku akan datang lagi ke sini. Dan kau... Kau harus melakukannya!"
"Terserah." Jessen tampak acuh kemudian pergi meninggalkan wanita itu yang tetap mematung dengan amarah.
Sesaat kemudian wanita Mamita itu tersenyum licik. "Lihat saja. Kau pikir aku tak tau dengan wanita dambaanmu itu, huh? Aku akan menciummu di depan wanitamu. Kau akan hancur."
Kemudian dia pergi.
Ntah apa yang menyelubungi pikiranku sekarang.
Tapi getaran dada ini malah melonjak kegirangan dengan rencana wanita itu. Apakah aku harus melancarkan rencananya?...
Arh..
Aku menjambak rambutku kesal. Ngak, ngak Ken..
Tapi aku berharap rencana wanita itu berjalan lancar. Aku sangat tak rela Valen jatuh pada Jessen, titik.
Ini kesempatan bagus untukku.
***
Aku berfikir keras semalam kemarin. Aku harus bisa merebut Valen kembali padaku.
Aku sangat merindukan memeluknya lagi. Sumpah.. Aku sangat candu padanya.
__ADS_1
Aku di kelas sibuk dengan ponselku menchat Valen.
Setelah beberapa lama menunggu. Dia tak membalas chattanku. Bahkan tak membacanya.
Ck.
Aku coba menelpon Valen. Aku sangat tak suka saat dia mengacuhkanku.
Dia masih tak membalas panggilanku. Aku mulai geram sendiri.
Aku tak habis akal!
Sekarang aku akan ke kelasnya. Dengan tampang yang sangat meyakinkan aku datang ke kelas Valen. Kalimat yang terbesit dalam benakku saat berjumpa dengan dosen pengajar nanti Valen di panggil TU.
Aku yakin bakalan di izinkan. Pasti. Terutama aku adalah ketua Badan Eksekutif Mahasiswa.
Aku harus berjumpa dengannya hari ini.
Aku berjalan ke kelasnya.
Aku masuk ke kelas Velen.
Dan ya. Yang masuk adalah dosen yang paling baik seantero kampus. Ini akan semakin mudah.
Aku mengeruk pintu. Bapak dosen melihatku.
"Maaf pak mengaggu waktunya." Kataku sopan.
"Iya. Ada apa Ken?" Pak Sudarsono menanyakan perihal kedatanganku.
"Saya mencari Valentresia pak. Di panggil oleh pihak TU kampus pak." Kataku bohong.
Pak Sudarsono mengangguk kemudian menghadap ke arah murid. "Valentresia."
Valen berdiri. "I iya pak."
Suasana hati sangat senang melihatnya.
Sejak kapan aku begitu menggilai wanita seperti sekarang... Aku tak tau... Tapi aku sangat mencintainya.
"Silahkan ikuti Ken, ada yang perlu kamu urus di TU." Sambung pak Sudarsono.
Dia mengangguk kemudian berjalan ke arahku. Kami pun pergi ke luar kelas.
Setelah beberapa saat berjalan di koridor. Valen mulai mencurigaiku.
"Ada masalah apa aku sama TU?" Tanyanya dengan sedikit nada tajam.
Aku menghentikan langkahku.
Oke aku sudah tercyduk berbohong. Sekarang aku harus berkata jujur.
"Kau ngak ada masalah sama TU. Masalahmu itu denganku." Jawabku singkat.
"Kau gila ya! Nanti kalau dosen tau kalau dari tadi kita keluar karena kau berbohong. Kita akan mendapat masalah besar! Astaga.... Aku masih MABA Kennnn! Kau membuatku di posisi yang bahaya!" Suaranya memekik menusuk telinga. Dia sangat marah.
"Itu salahmu. Kenapa kau malah pacaran sama si kutu kupret itu!" Kataku tak kalah kesal dengan perilakunya yang selama ini acuh terhadapku.
Aku tak tahan lagi menahan rindu.
Aku menarik badannya ke dalam pelukanku. "Putusin dia kek!" Kataku Jujur dari hati terdalam.
Dia malah memukul perutku membuat aku meringis kesakitan dan spontan melepaskan pelukanku dan langsung memegangi perutku.
"Heh. Aku ngak bakal mau jadi pacarmu. Aku itu cintanya sama Jessen." Katanya singkat.
Dia beneran cinta sama si Jessen?
Membuatku menjadi kesal dan semakin kesal.
"Apa bagusnya sih dia? Gantengan lagi aku, manisan juga aku, dan aku sangat yakin aku pasti sulit untuk kau lupakan. Ya kan?" Kataku singkat padat dan jelas.
"Euhh. Apanya... Pokoknya gini ya Ken, kau carilah wanita lain yang lebih baik dari pada aku. Pasti banyak yang mau samamu."
Aku melihatnya tajam. "Jessen itu pasti bakalan menyakitimu."
"Hah?"
Aku memutar bola matanya sedih. "Aku tak mau orang yang kucintai tersakiti."
Oke... Ini sedikit berlebihan. Tapi aku tak ingin membuat mata Valen kembali pada Jessen.
Aku mulai melemahkan suaraku. "Aku sangat mencintaimu." Ucapku dari dalam lubuk hati terdalamku.
"Ta tapi, kenapa? Kenapa kau sangat cinta samaku, padahal kita juga baru jumpa?"
Aku menyoroti mataku dalam. "Aku tak tau kenapa. Tapi aku sangat mencintaimu. Apa aku salah?" Aku mulai menahan kesedihanku.
Dia terdiam sejenak.
"Ken. Aku... " Suara terdengar melemah.
"Val." Aku memotong kalimatnya. "Aku akan menunggumu. Cintaku takkan berubah." Aku tersenyum kecil dan pergi meninggalkannya.
Aku tak sanggup jika mendengar kalimat penolakan lagi darinya.
Dia memegang tanganku yang menghentikan langkah kakiku. "Ken. Please. Aku ngak bisa. Jangan mengharapkanku, Karena aku juga tak dapat membalas cintamu. Please.. aku ngak bisa."
Aku menatapnya kosong.
Aku kembali di tolak.
Aku sangat sedih. Dada ini terasa sangat sesak.
Aku berusaha tersenyum bahagia walau ini sangat bertolak belakang dengan hatiku sekarang. Aku menertawai diriku yang begitu naif tentang cinta. "Heh. Lucu ya.. Aku tak pernah merasakan hal sesakit dan sesesak ini." Aku mengangguk sambil menatap matanya. "Kau berhasil membuatku sangat tersakiti. Makasih." Aku pergi.
Sakit. Sangat sakit.
Aku berjalan melewati koridor.
Dan aku kembali melihat wanita yang kemarin dengan Jessen kembali berbincang.
Aku kembali menyembunyikan badan. Namun kali ini aku bersembunyi di antara tumbuhan indor yang ada sedikit jauh dari mereka.
Tak berselang lama. Aku melihat Valen yang hendak melewati koridor ini belum menyadari Jessen ada di sini. Mataku kembali melihat wanita yang bersama dengan Jessen, dia melihat Valen kemudian tersenyum licik. Dia menatap Jessen. "Cium aku. Maka aku anggap kita impas. Aku takkan mengaggumu." Katanya.
"Bagaimana aku bisa mempercayai kalimatmu?" Kata Jessen datar.
Dia mengambil seperti dokumen dan menandatanganinya. "Aku sudah menandatanganinya. Kau bebas."
"Sekarang aku anggap kau menyetujui permintaanku." Timpa wanita itu.
Dia tersenyum pada Jessen yang hanya dapat diam.
Wanita itu beneran mencium Jessen.
Cih. Murahan.
__ADS_1
Wait. Aku lupa kalau Valen akan berjalan ke sini.
Mataku kembali melihat ke arah Valen.
Sial. Dia melihat kejadian itu.
Dia terdiam. Mematung.
Wanita itu sengaja.. Dia tau Valen ada di sini.
Jadi ini cara piciknya.
Cih. Salut aku.
Sebentar. Ini kesempatan besar untukku.
Aku akan kembali mendapatkanmu Valen.
Valen yang ingin berjalan ke arah mereka aku sangkal dengan menutup matanya. Aku memeluknya. "Dia akan menyakitimu." Sambungku. Aku perlahan melepaskan tanganku dan membuatnya menatapku.
Aku melepaskan dekapanku. Kemudian menarik Valen ke suatu tempat.
***
Aku melihat Valen nangis seperti ini sangat menyayat hatiku. Aku sangat tak tega melihatnya menangis.
Aku tak berani membuka suara.
Kami sedari tadi duduk di taman yang kampus yang sepi karena jam pelajaran masih berlangsung.
Dia berusaha bernapas dengan normal. Tapi nafasnya terus tersengat sengat karena menangis. "Hu hu. Ken... Kenapa bisa begini? Hu hu."
Aku tak menjawab apapun. Aku hanya coba menenangkannya dengan mengelus punggung belakangnya.
"Hu hu. Kau udah tau tentang dia berdua di belakangku ya?"
Aku memalingkan wajahku. Apa perlu kuberitahukan kebenarannya?
Tapi itu akan membuat Valen akan kembali mencintai Jessen dan meninggalkanku. Aku tak mau!
"Huaaa... Heeee heee.." Dia terus menangis.
Aku menepuk nepuk pelan badannya masih berusaha menenangkannya. "Udah udah. Jangan nangis lagi."
"He... Gimana ngak nangis... Dia ciuman sama yang lain... Dia jahat... Hee..."
Aku melihat Valen... Sepertinya dia terlihat sangat membenci Jessen setelah kejadian tadi.
Ini terasa sangat yg gila. Tapi, Aku senang kau jadi membencinya Val.
***
Sepulang kuliah ini aku sangat senang. Valen akan kembali padaku.
Walau terdengar seperti aku sangat jahat pada Jessen, tapi aku tak peduli.
Yang penting Valen akan kembali padaku.
Setelah jam pembelajaran kuliah selesai tadi. Aku pergi ke kelas Valen.
Aku melihat ke dalam lokalnya. Valen tak tampak.
Ada seorang wanita yang datang mendekat padaku dengan centil. "Hai kak Ken."
Cih. Aku bahkan tak mengenalnya. Sok akrab banget nih orang.
Tapi aku butuh dia untuk memberikan informasi. Aku yakin dia pasti tau.
Aku menbuang rasa jijik ku jauh jauh dan berusaha menatapnya walau tetap dengan wajah tak suka. "Valen kemana ya?"
Wanita itu tampak kesal sesaat karena aku datang bukan untuk mencarinya. Cih. Ya iya lah... Dia sama sekali bukan tipeku.
Kemudian dia kembali tersenyum. "Kenapa ngak cari aku aja." Dia memperagakan gerakan kedua tangannya menopang dagu seperti koegrafi gerakan girlband Cherrybelle lagu you are beautiful.
Ihh...
Sabar Ken. "Eh. Aku nanya. Kau ada lihat Valen atau enggak. Kalau enggak aku mau langsung balik."
Dia tampak berfikir sejenak dengan memegang dagunya. "Enggak kak." Jawabnya.
Ck. Mana lagi si Valen...
"Kak." Panggilnya dengan suara sangat antusias mengejutkanku.
"Apa?" Kataku malas.
"Kan karena yang kakak cari ngak ada di sini. Pastinya kakak langsung pulang lah ya kan?" Tanyanya sambil tak memudarkan senyumannya yang mulai terlihat horor.
"Iya terus?" Aku memicingkan mataku. Firasatku usah mulai ngak enak.
"Berarti aku bisa pulang bareng kakak dong." Katanya riang.
"Kau gila ya?!" Aku shock dengan kalimat wanita itu.
Dan dia masih tersenyum. "Sebagai adik kelas yang baik. Aku harus nemenin kakak biar ngak kesepian ngak ada teman ngobrol di jalan. Hehe."
Hah? Alasan macam apa itu?!
Sangat sulit di terima akal sehat!
"Ngak, aku pulang sendiri." Tolakku cepat.
Aku segera meninggalkannya dari ruangan kelas itu.
"Lah... Kok pergi... Kak! O kak!" Dia terus memanggilku.
Aku mempercepat langkahku.
Sial! Bukannya jumpa Valen, malah jumpa yang spesies yang beginian...
Ck. Jijik aku.
***
Aku terus menatap layar ponselku di kamar. Aku duduk di meja belajar sambil bersandar pada bangkuku.
Apa aku telpon Valen aja ya?
Ah... Kalau di pikir pikir ngak usah deh. Dia pasti lagi badmood banget sekarang. Aku tak ingin membuatnya jadi kesal hari ini.
Tapi besok. Besok aku harus menjumpainya.
Dan mulai besok aku akan buat dia jadi mencintaiku dan bukan Jessen si kutu kupret!
catatan penulis;
jangan lupa di like, vote, rate dan kalau bisa beri hadiah ya guys... hehehe... tapi itu terserah kalian ya... yang penting kalian senang bacanya...
__ADS_1
love you guys...