
Catatan penulis:
Hi readers ku. Jangan lupa di like dulu ya sebelum di baca... Hehe... Biar semangat aku makin nambah, eaa...
Dan juga jangan lupa di comment ya, kalau bisa di beri hadiah dan di vote ya readers ku ✨...
Thanks... Happy reading guys 🤗
______________________________________
Aku berjalan bersama Cya melalui koridor sekolah yang cukup ramai karena pembelajaran hendak di mulai.
"Cy. Aku semalam mimpi." Aku memulai pembicaraan. Rasanya jika aku curhat sama Cya pasti lebih lega, karena kalau aku ngomong sama nenek, aku pasti semakin merepotkannya.
"Mimpi apa beb?" Dia penasaran.
"Aku mimpi Jessen." Ucapku sambil menerawang ingatanku semalam.
Dia menutup mulutnya menahan tawa. Kemudian Cya mulai bicara masih dengan terkekeh. "Kangen banget ya, sampai di mimpiin. Haha."
Aku memasang wajah kesal. "Is.. Serius loh."
Dia menepuk pundakku pelan. "Hedeh. Mbak mbak. Masa lalu, biarlah masa lalu..." Cya seakan menyairkan lagu dangduttan padaku.
Aku menyentil jidatnya. "Nyebelin banget."
Dia terkekeh dan memelukku. "Udahlah beb. Cari cogan baru aja napa sih beb."
"Iya loh..."
"Nah. Gitu dong." Katanya senang sambil mengacungkan jempolnya menempel ke wajahku.
Aku sedikit mendorong tangannya itu. "Hidung aku makin pesek lah." Ucapku kesal.
"Hahaha." Dia tertawa.
Seketika tawaannya berhenti sesaat ketika wajahnya menghadap ke arah depan kami.
Aku yang dari tadi berbicara dengannya sambil berhadapan pun melihat ke arahnya depan mengikuti arah pandangannya.
Ken.
Ken dari tadi ngak sadar ada di hadapan kami karena memainkan ponselnya, dia berjalan terus semakin mendekat.
Cya tampak sangat panik. Tak biasa dia seperti ini.
Cya menarik tanganku. "Beb. Aku mau pergi dulu. Kau ikut engak beb?"
"Ke mana?"
Cya menarik tanganku dan berjalan cepat. "Ke mana aja."
Karena tarikan tangan Cya membuatku berjalan... Maksudnya berlari bersamanya.
Setelah cukup jauh kami berlari Cya pun berhenti dan melepas tanganku.
Cya memegang dadanya ngos-ngosan. "Huf... Hampir aja."
Aku melihatnya keheranan. "Kenapa beb?"
"Males aku lihat si kentang!" Gerutu Cya sambil mengentakkan kakinya.
"Males?" Aku mengelus kepalaku berfikir. "Ah.. aku tau. Memang sih si Ken nyebelin."
"Bukan cuma itu. Yang paling nyebelin itu Dia Tunanganku."
Aku terbatuk tersedak ludahku sendiri. "Ohok ohok." Kemudian aku mulai tertawa. "Eh. Seriusan?!"
"Kok ketawa sih... Temennya kesusahan malah kegirangan."
"Hehe. Ehem ehem. Maaf ya." Mohon ku.
Aku memegangi pundaknya. "Mantep Cy." Godaku lagi.
"Valen.. Ish.."
"Whuahah. Ngak lah. Bercanda."
"Becanda mulu."
"Ngak apa dong. Biar panjang umur." Sambungku cepat.
"Hem.. Macamlah." Dia memutar bola matanya gusar.
"Eh. Btw, kita ngak masuk ke kelas?" Tanganku.
__ADS_1
"Em. Sebentar lagi aja deh."
"Oke. Terserahmu aja beb. Asal jangan sampai kita telat aja masuknya." Aku mengingatkan.
Dia mengangguk.
***
Jam pelajaran telah berlalu. Semua mahasiswa pulang ke tempatnya masing-masing, ada pula yang masih mengikuti kegiatan kemahasiswaan dan ada juga yang melakukan hal lainnya.
Aku langsung saja pulang ke rumah, malas untuk melakukan kegiatan lain. Huff...
Aku naik bis menuju rumah sambil memainkan ponselku.
Sesaat kemudian aku pun sampai di rumah.
Aku membuka pagar yang tertutup dan kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Aku melihat bibi yang sibuk dengan pekerjaan rumah tangganya. Hem...
Aku kembali melanjutkan langkahku ke dalam kamar. Malas sekali aku...
Aku menutup pintu kamarku dan duduk di meja belajarku dengan menyenderkan badanku di bahu kursi malas.
Mataku tertuju pada buku ajaib.
Cih.
Aku meraihnya dan memutar mutarnya di tanganku. "Semua karena kau, aku jadi semakin tergila gila pada si kutu kupret Jessen. Sial." Kataku sembari tertawa mengetahui kebodohanku.
"Hm.." Aku mengerutkan bibirku sambil masih memutar mutar buku ini. "Kemarin bayangin Jessen ada di kamarku. Gimana kalau bayangin aku ada di kamarnya? Cih..." Aku memukul kepalaku sambil tersenyum bodoh. "Val Val. Dasar setres. Haha."
Shhyut...
Seketika ambang gravitasi hilang dari padaku sekarang. Aku melayang!
Apa ini?!
Bush...
Sedetik kemudian cahaya pekik menusuk masuk ke mataku. Aku menutup mataku dan aku seperti terbawa arus.
"Aaaaaa...." Aku menjerit kengerian takut dengan apa yang terjadi padaku sekarang.
Bruk.
Aku terjatuh dari jarak yang cukup rendah seperti jatuh dari kursi.
Sakit cukk...
Kemudian aku perlahan membuka mataku. Rasa sakit di bokong tak terasa lagi karena aku sangat terkaget dengan keadaan yang ada di hadapanku sekarang.
Aku di mana?
Aku berdiri dan memandang sekitar. Memutar badanku perlahan memperhatikan tempat ini.
Jleb.
Jessen?
Jjessenn?
"JESSEN!" Akhirnya suara jeritku pun keluar.
Perutku rasanya tergelitik dengan kejadian ini. "Haha. Sumpah ya... Lucu banget, bikin ngakak..."
Jessen hanya menatapku datar. "Jessen lagi... Astaga..."
Aku memegangi perutku sambil terus tertawa. "Gila.. Gila.. bisa kali memang otakku ini. Astaga.."
Dia berjalan mendekatiku.
Sekarang dia ada di hadapanku. "Apa yang aneh?"
Aku merangkulnya. "Eh Bambang... Kemarin aku mimpi kau ke rumahku dan sekarang aku mimpi aku yang kerumahmu. Whuahah."
Aku di jitak Jessen.
Aduh... Sakit...
Wait, sakit? Memang mimpi kalau sakit terasa?
Ah... Ngak mungkinlah ini nyata.
Aku masih melanjutkan tawaanku sambil melepaskan dia dari rangkulanku.
"Udah lah... Aku tau memang rada aneh mimpiin kau. Ya tapi mau gimana lagi, udah terjadi."
__ADS_1
Dia kembali menjitakku. "Ini bukan mimpi." Katanya datar.
Aku semakin tertawa. "Coba tipu tipu ye... Saya tak percaya lo...."
Heh. Dasar mimpi.
Dia menggelengkan kepalanya dan berjalan ke arah dapur, mengambil segelas air putih dan datang ke arahku lagi. "Kau masih percaya ini mimpi."
"Ya iyalah."
"Apa perlu aku menyirammu." Katanya datar.
Aku mengangguk tanpa ragu. Ya kali ini nyata... Mana mungkin.
Cubrash...
Dia menyiramkan air itu ke wajahku. Aku beneran terasa air itu mengguyurku.
"Jes... Cubit aku sekarang." Dia mencubit lenganku. SHITT ... Sakit...
INI NYATA?!
Eh..
Ngak ngak... Aku masih ngak percaya ini nyata.
"Masih ngak percaya?"
Aku mengangguk sedikit ragu. "Iya... Mana mungkin ini nyata."
Benerkan?
Dia mencubit lenganku.
"Ah. Sakit Bambang!"
"Ini bukan mimpi."
Mataku terbelalak shock banget. Aku shock bukan hanya karena ada Jessen di sini. Tapi aku shock bahkan hampir sakit jantung karena aku berada di Amerika tanpa identitas AMSYONGGG....
Sedetik kemudian aku berfikir.
Gimana bisa aku ke sini?
"Jes. Kok aku bisa di sini?! Misi ku kan udah selesai."
"Manaku tau."
Aku berfikir sejenak... Jangan jangan, apa karena aku bilang "...Gimana kalau bayangin aku ada di kamarnya?"
Damn!...
Wait. Jadi yang kemarin aku mimpiin Jessen datang ke rumah aku itu nyata dong?
"Ja jadi. Kemarin itu kau datang ke rumahku kan?"
"Ngak."
"Serius nih?" Aku memastikan.
"Ngapain aku ke rumahmu." Kemudian dia menaikkan alisnya. "Hem. Jadi kau pernah mimpiin aku datang ke rumahmu? Cih." Dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum miring menghinaku.
Shit... Malu banget aku kalau bilang iya... Di kira aku cinta mati pula sama dia!
"Eh. Mana ada!"
"Tadi, kau sendiri yang bilang."
"Pokoknya ngak. Ngak ada!"
Dia memutar bola matanya acuh. "Terserah lah."
Kemudian dia berjalan melewatiku dan duduk di meja makannya sambil menuangkan air putih dan minum.
"Terus aku gimana?" Ucapku sambil memandangnya.
"Apa?" Katanya datar.
"Ish... Aku pulangnya gimana ini?"
"Kau pikir aku peduli." Katanya datar.
Ya Lord... Tega amat sih ni orang...
"Jessen aku serius!... Aku ngak mungkin pulang naik pesawat... Aku ngak ada identitas yang ku bawa sekarang!"
__ADS_1
"Jalan kaki sono."
Anjritt... Tega bener...