Magic You

Magic You
Hukuman


__ADS_3

Catatan penulis:


jangan lupa like komen dan vote ya.... jangan lupa tinggalkan jejak 🤩...


semakin banyak kalian mendukung semakin cepat aku up ceritanya guyss..


oke, thanks ya. happy reading guys 🤗😁


Aku mencoret coret buku yang ada gambar yang ada gambar penulisnya.


 


Aku mencoret coret buku yang ada gambar yang ada gambar penulisnya.


Aku menambahkan kumis, bulu hidung dan rambut panjang pada wajah penulisnya. Kemudian terkekeh. "Jelek banget sumpah." Hinaku pelan.


Sungguh aku gabut di kelas. Guru yang mengajar sangat membosankan.


Apa coba itu? Angka angka yang memuakkan dan membosankan. Ck. Ntah apa coba? Gak berguna.


Aku melihat ke arah hp ku. Memeriksa gambar galeri.


Aku mengulum senyuman saat melihat photo Vye yang begitu manis saat berolahraga.


Aku harus bisa mendapatkannya. Dengan cara apapun!


"Oy!" Pekik seseorang pelan berusaha merusak lamunanku.


Ck. Sibuk amat sih. Aku pura pura acuh.


"Dio! Oy! Jangan main hp!" Bisik seseorang itu yang aku yakin itu pasti Gia.


Aku masih pura pura tuli. Aku menghempas hempaskan tanganku menyuruhnya diam. Merusak lamunan saja.


Brak...

__ADS_1


"DIO!!!" Bentak seseorang di sebelahku setelah menggebrak mejaku.


Aku terlonjak kaget dan mendongakkan kepalaku.


Aku tersenyum cengengesan saat melihat Pak Yani sudah emosi, "Eh bapak. Ganteng banget hari ini pak." Pujiku pada lelaki paruh baya yang setengah botak ini.


Bapak itu semakin marah, "Kamu menghina saya ya?! Keluar sekarang!"


Hem. Sudah dugaan ku dia pasti merepet. Mana pernah bapak ini jadi ramah dan lembut seperti yupi.


Aku bangkit berdiri dan keluar kelas dengan santai. "Ya udah iya.." Sambungku acuh.


"Kamu juga Gia!" Bentak bapak itu sesaat kemudian. Aku menghentikan langkahku dan melihat apa yang akan terjadi.


Gia terkejut dan menatap takut bapak botak ini. "I-iya pak."


"Kenapa lagi bibirmu. Di merah merahi lagi... Mau jadi apa kamu!"


Ups. Itu pasti karena lip tint yang ku suruh dia pake tadi.


"Sudah!" Bapak itu menunjuk Gia dan aku bergantian, "Kalian ikut bapak ke lapangan sekarang!" Bentak bapak itu. Kami sama sama mengangguk.


***


Kami di jemur di tengah lapangan yang di sinari cahaya silau dan panas. Gia menendang kakiku.


"Aw sakit." Ringisku.


Dia berkacak pinggang dengan mata melotot, "Kalau ngak karena kau menyuruhku memakai lip tint ini. Aku ngak bakalan sampai di hukum hormat tiang bendera!" Katanya tak terima.


Aku mengendikkan bahuku, "Bomat."


Aku kembali menghadap depan.


Dia kembali menendang kakiku, "Dio!" Bentaknya.

__ADS_1


"Ck. Sakit." Aku menoleh ke samping melihatnya. "Apa sih sayang... Jangan kasar dong." Ucapku gombal.


"Tanggung jawab!" Kesalnya.


Aku menaikkan salah satu alisku dan tersenyum miring, "Mau tanggung jawab apa hm? Belum juga di apa apain."


Plak


Dia menggeplak kepalaku membuat aku meringis, "Oy! Kasar amat sih jadi cewe!"


Dia menaikkan bola matanya ke atas meledekku, "Bomat," sambungnya mengikuti gerakanku tadi.


Aku kesal dan kembali menghormat bendera.


Terjadi keheningan beberapa saat. Aku menoleh ke arahnya. Dia tengah mengipas ngipas kepanasan.


Aku berdiri di hadapannya menutup sinar matahari yang menerpa wajahnya, "Gimana? Ngak panas lagi kan?" Tanyaku menoleh ke belakang.


Dia mendongak menatapku kesal. "Masih panas!"


Aku mendengus kesal. Gak tau berterimakasih banget sih. "Dasar kau ya.."


Kalimatku terpotong saat dia memegang pinggangku dari belakang membuat aku terdiam.


Dia menarik badanku ke arah lebih ke kanan dan aku mengikutinya. "Nah, disini baru tertutupi." Sambungnya.


Dia mengelus pinggangku. Jantungku berdegup kencang. Tanpa aba-aba aku menutup mataku, sentuhannya lembut dan mendominasi membuat aku terbuai.


Cutt


"Aww.." Pekikku saat dia mencubit di atas pinggangku. Aku menoleh ke belakang, "Apa lagi sih?!"


"Keringatan banget sih! Jorok!" Hinanya.


"Bomat." Kataku jengkel.

__ADS_1


Bisa bisanya pikirannya mengatakan aku jorok perkara keringat. Aku kan keringat karena nutupi badan dia dari sinar matahari juga!


__ADS_2