Magic You

Magic You
Chapter 86


__ADS_3

catatan penulis:


Cuma mau bilang, jangan lupa di like komen di vote ya... kalau ngak ada vote bisa di beri hadiah juga ❤️...


IG: @gracyavalsa


WP: GracyaValSa


thanks guys... happy reading guys 🤗❤️


Kalimat Jessen terus terngiang ngiang di otakku.


Aku akan memberikan pelajaran padamu nanti.. i...i...


DAMN!!


Bahkan aku sekarang belajar sangat tak tenang sekarang.


Udah Val... Tenangkan dirimu... Fokus fokus...


Tarik nafas.... Buang... "Fuh..."


Dah. Sekarang aku udah lega..


Syukurlah...


Aku menoleh melihat Tessa yang ada di sebelahku. Dia tampak sangat diam setelah mata pelajaran olahraga tadi.


Kenapa ya?


"Tes." Panggil ku.


Tessa menatapku tajam tanpa menjawab.


"Kau.. kenapa?"


Masih tak menjawab pertanyaanku, dia langsung menghadap depan ke arah guru yang menjelaskan.


Wajahnya tampak kesal.


Apa dia lagi halangan ya?


"Tes. Kau M ya?"


"..."


"Em. Kalau ngak M, terus kau kenapa beb?"


Dia tiba-tiba menoleh ke arahku tajam. "Kau tadi berduaan kan sama Jessen. Udah ngaku aja."


Dia menutup bukunya kesal. "Aku benci punya teman penghianat sepertimu. Dasar penipu."


"Tes.."


"Udahlah. Aku tau kau tak terima kan kalau aku berusaha dekat dengan Jessen makanya kau mendekatinya dengan diam diam. Teman macam apa kau ini."


Deg...


"Kenapa kau berfikir sejahat itu padaku.."


"Kau lebih baik diam. Aku membencimu sampai kapanpun."


Tet... Tet... Tet... Di saat bersamaan bel pulang berbunyi.


Tessa memalingkan wajahnya dari ku dan menyusun bukunya asal dan memasukkan nya dalam tasnya.


"Berdiri." Ucap ketua kelas kami.


Seluruh kelas langsung berdiri. Dan aku pun berdiri juga dengan kaku.


"Beri salam."


"Selamat siang bu." Ucap murid serentak.


Aku hanya diam sambil melihat Tessa yang sangat kesal padaku.

__ADS_1


"Siang." Gurupun pergi dari kelas kami.


Tessa pun langsung pergi tanpa berkata apapun.


Apakah aku sejahat ini pada teman karibku sendiri?


Kenapa aku sejahat ini...


***


Aku berjalan sangat hampa. Aku tak tau... Ini pasti semua karena salahku.


Tep.


Seseorang memegang pundakku.


"Tessa." Dugaku, kemudian aku menoleh.


Aku kecewa. Ini ternyata Jessen...


Aku tertunduk.


Jessen... Eh. JESSEN?!


Aku mendongakkan kepalaku. "Kak. Aduh kak... Maaf banget soal apapun yang ku lakukan ke kakak yang buat kakak marah. Ya... Please.."


Dia hanya menatapku datar.


"Tolong lah kak. Aku lagi banyak masalah. Semua ku pikirkan. Jadi jangan buat aku jadi setres lagi dong..." Aku melipat kedua tanganku di hadapan nya memohon.


"Aku akan tetap memberikan mu pelajar." Ucapnya datar.


Aku mengangguk kepalaku. "Aduh... Setres banget sih... Kok gini amat ujian hidup ku..."


Dia memegang kerahku belakangku ke atas seperti membawa kucing.


"Ikut aku sekarang."


Ya Lord... Ya Lord... Ngak tau lagi aku mau bilang apa...


***


Dia melepaskan tangannya dari kerah ku.


"Aku akan menghukummu. Kau tak boleh berbicara dalam satu hari ini. Kau hanya bisa mengangguk. Paham."


"Enak aja. Ngak mau."


"Kalau kau bisa menyelesaikan hukumanmu dengan benar dan tepat. Aku akan menuruti semua perintah mu selama sehari. Gimana?" Tawarnya.


Wow... Sepertinya sangat menguntungkan.


"Tapi... Kalau kau gagal. Kau harus jadi babuku selama seminggu."


Well... Aturannya cuma mengangguk kan ya... Cuma sehari juga kok... Sepertinya aku bisa.


"Dan kalau aku bisa menempati janjiku, kau akan menuruti perintah ku selama satu harian kan?"


Dia mengangguk.


"Dan kalau kau ngak tepati janji kau harus mengerjakan tugas ku selama seminggu. Gimana?"


"Deal." Dia menyetujui dan mengulurkan tangannya.


Aku pun menjabat tangannya setuju. "Deal..."


"Temani aku ke perpus sekarang."


Aku mengangguk. Hehe.. ini sangat mudah.


Kami pun berjalan ke perpus. Melewati taman...


Tep. Ada tangan yang mengengamku.


Aku menoleh kebelakang.

__ADS_1


Tian?...


Waduh... Bisa berabe nih...


Tunggu. Aduh.. Aku di kerjai sama Jessen ternyata... Aku baru sadar, pasti dia sudah menyadari ini akan terjadi.


Aku menatap Jessen kesal.


Dia menatap ku dengan senyuman miring kemenangan.


Sial!!!!


Kenapa tadi aku setuju!!! Dasar bego!!!


"Kau ngapain sama dia?" Tanya Tian.


Aih... Matilah sudah...


"Dia..." Sebelum Jessen menjawab pertanyaan Tian timbul ide cemerlang dari otakku. Aku memukul perut Jessen.


Jessen menatapku bingung.


Aku mengambil ponselku. Dan mengetik sesuatu.


Hehe... Jessen bilang aku hanya boleh mengangguk kan... Tapi tak melarang ku untuk menulis kata kata di ponsel bukan?... Hehe... Kena kau sekarang!


"Aku harus tetap diam dan hanya dapat mengangguk sekarang. Kenapa?... Karena aku main Truth or dare sama temanku. Dan aku dapat Dare ini... Hehe... Maaf ngak bisa jawab pertanyaan mu secara lisan." Tulisku. Kemudian aku arahkan pada Tian. Tian pun mengangguk.


"Rasain kau." Tulis ku dan ku arahkan pada Jessen.


Jessen menatapku datar. Tapi aura kesal muncul di wajah nya.


Hahaha...


Puas aku lihat nya...


"Oh ya. Tadi pertanyaan ku kenapa kau sedang bersamanya?" Tanya Tian.


"Oh. Aku main Truth or dare sama dia. Jadi dia lagi memantauku Tian. Gitu... Hehe." Ketikku pada Tian.


Tian menganguk.


"Kalau gitu. Aku ikut kalian." Kata Tian.


"Kau tak boleh ikut. Ya kan Valen?" Ucap Jessen padaku sambil mengambil ponselku dan memasukkan nya ke dalam tas miliknya.


Sial... Aku di kerjain lagi. Gimanapun aku harus mengangguk.


Aku mengangguk.


Jessen mengelus kepalaku meledekku. "Sepertinya Valen lebih suka saat kami berdua saja. Ya kan Valen?"


Ish...


Aku diam.


Jessen sedikit membolangkan matanya melihat ku.


Dengan kesal aku pun terpaksa mengangguk.


"Nah kan pinter."


Jessen menatap Tian. "Dalam permainan nya kami tidak di perbolehkan untuk bicara. Jadi aku mengambil ponselnya supaya benar benar dia tak boleh bicara." Ucap Jessen.


Ish.. nyesal aku ngak bilang sesungguhnya tadi ke Tian.


Arh... Kenapa aku bego banget...


"Valen pernah bilang dia lagi malas berbicara dengan setiap orang, kecuali aku. Jadi kau bisa pergi sekarang." Kemudian Jessen melihatku dengan senyuman miring. "Ya kan?"


KESALNYAA.....


Aku mengangguk


Aku terpaksa mengangguk. Ini demi agar aku menang dalam melaksanakan tantangan ini...

__ADS_1


Tapi rasanya... Bangsat banget!!!


Lihat aja nanti pembalasan ku nanti Jessen!!!


__ADS_2