
Sepulang kuliah aku tak pulang ke rumah Jessen. Aku di perpus kota.
Aku masih memikirkan bagaimana nasibku sekarang.
Tessa akan pergi, aku ngak mungkin kembali ke tempat nenek dan kakek. Kejauhan. Dan yang pasti aku ngak mau pulang ke rumah Jessen.
Aku tidak mengerti pola pikir Jessen sekarang. Antara dia serius melakukannya apa engak, aku tak paham. Serius. Aku pusing.
Mau ngak mau aku harus telpon nenek.
Aku pun menelepon nenek.
Tut Tut Tut
Nenek tak mengangkat panggilanku.
Aku mengusap wajahku gusar.
Apa yang akan aku lakukan sekarang?!
Ponselku bergetar.
Aku harap ini nenek.
Aku melihat layar ponselku. Ini Jessen.
Aku tak mau mengangkatnya.
"Kenapa tak menungguku?" Ucap Jessen yang rupanya sedari tadi di sini.
Aku tersentak kaget.
Dia duduk di sebelahku menatapku datar.
Aku sedikit demi sedikit menjauhkan diri dari padanya.
"Eh bego. Kau kenapa?" Katanya datar.
Aku memukul meja. "Kau yang kenapa? Kenapa tadi kau..."
"Menciummu." Katanya datar. Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya. "Karena kau pacarku." Jawabnya singkat.
Aku berdiri mendekatinya dan memukul kepalanya. "Heh bobrok. Kan kita pacaran hanya setingan doang. Cuma karena untuk menyelesaikan misi dari buku."
"Kalau aku ngangab ini serius, gimana?" Sambungnya.
Deg
Aku auto terdiam.
Dia menatapku datar. "Ayo pulang." Dia memegang tanganku dan berjalan.
***
Aku duduk di ruang tamu bersama Jessen. Aku memperhatikannya dalam dalam. "Kau serius sama apa yang kau katakan tadi?"
Dia melihatku. Mendekatkan dirinya padaku kemudian memelukku. Dia tak berkata apa-apa.
Bahuku basah oleh air. Bahu Jessen bergetar. Apa dia menangis?
"Jes?" Aku memanggilnya pelan.
Dia semakin mendekapku dan semakin terdengar suaranya yang menahan tangis.
Eh?
"Kalau aku boleh minta padamu. Jangan tinggalkan aku ya." Katanya dengan suara parau.
"Aku takkan meninggalkanmu." Jawabku.
Tapi masalahnya, apa yang sampai membuat Jessen menangis?
Dia melepaskan dekapannya. Dan menatapku. "Kalau aku cium, boleh?" Pintanya dengan mata berbinar dan tersenyum.
"Heh! Kau..." Jeritku sebelum dia memeluk dan mencium bibirku.
Mataku terbelalak.
Dia menjauhkan wajahnya dan kemudian tertawa.
"Apanya yang lucu!"
Dia semakin tertawa dan kembali menciumku. Setelah itu dia kembali menjauhkan bibirnya dan menatapku dengan senyuman. Dia sedikit mendorongku dengan masih memelukku membuat kami berbaring di sofa dengan saling tatap. Dia berada di sebelahku dengan tetap memelukku. Dia menimpakan salah satu kakinya ke atas kakiku dan mencengkram kakiku yang ada di bawah kakinya, membuat kakinya mengapit kakiku. Dia mengeratkan pelukannya dan tersenyum manja. "Lagi."
Aku menokok untuk ntah keberapa kalinya. "Anjrit!"
__ADS_1
Tak peduli seberapa kuat aku memukul kepalanya dia kembali menciumku sekejap.
Dia tertawa. Kemudian dia menutup matanya. "I love you." Ungkapnya pelan.
Perasaan senang menyelimuti diriku.
"Apa kau bilang? I love you?" Tanyaku memastikan.
Dia membuka matanya. "Apa perlu aku cium lagi biar kau mengerti?"
Aku tersenyum. "Ngak perlu."
"Tapi aku nya yang mau menciummu lagi." Katanya sambil terkekeh dan kembali menciumku sekilas. "Makanya jangan pancing aku." Dia kembali menutup matanya.
"Sampai berapa lama kita pelukan. Aku mau belajar." Ujarku.
Tak mungkin aku terus di sini. Dengan posisi... Pelukan.
Dia membuka matanya. "Takkan kulepas." Hardik Jessen.
Sekarang dia menatapku datar. "Val. Aku ada cerita."
"Hem." Sahutku.
"Ada pasangan yang saling mencintai. Namun sang kekasih akan pergi jauh meninggalkan pasangannya itu." Kata Jessen.
"Kenapa kekasihnya pergi?" Tanyaku.
"Karena dunia ini tak mengijinkan mereka bersama. Dan mereka harus berpisah demikian jauh. Mereka takkan bisa berjumpa lagi."
Aku memegang daguku berfikir. "Kalau aku yang ada di cerita itu dan aku yang menjadi pasangan yang harus pergi. Aku hanya meminta pada semesta untuk menjaga orang yang ku cintai itu. Jangan sampai dia tersakiti dan terluka. Karena aku tak dapat melihatnya lagi. Dan kalau aku pasangan yang di tinggalkan, aku akan mencari cara untuk dapat kembali bersama dengannya. Karena aku mencintainya." Sambungku.
Jessen menatapku dengan tatapan berkaca-kaca, memelukku semakin erat. "Aku sayang kamu."
Aku terkekeh. "Kok nangis sih? Hahaha."
"Abisnya kamu manis." Candanya.
Beberapa saat kemudian. Aku terbangun dari tidurku. Jessen masih tertidur pulas di hadapanku.
Aku mencoba berdiri dari tidurku kemudian merenggangkan badan.
Aku pergi ke dapur dan meneguk minuman.
Dia melihatku, kemudian berjalan ke arahku. Dia mengambil gelas yang kugenggam tadi dan meminumnya.
"Itu kan minumku."
"Aku haus."
"Ya. Tapi kan bisa ambil gelas lain Jes."
Dia tak menggubris kalimatku. Dan kembali meneguk minuman dari gelasku tadi.
Aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Aku mau mandi." Katanya. "Dan kau. Juga jangan lupa mandi."
"Iya.." Sambut malas.
Aku melihat dia pergi dan beranjak ke kamar mandi.
Aku pun membenahi pakaianku untuk kupakai nanti setelah mandi.
Setelah mandi aku kembali membaca buku di ruang tamu. Jessen juga belajar di sini, di sebelahku duduk di bawah lantai.
"Jes. Kau belajar aja di kamarmu." Usulku.
"Aku sebenarnya lagi malas baca." Katanya.
Aku menyerngitkan dahi. Baru kali ini aku mendengar kata malas terucap dari mulut Jessen. "Kau. Malas baca?"
Dia mengangguk. Kemudian menatap ke sembarang arah sambil memegangi tengkuknya. "Cium."
"Hah?"
Dia menatapku dan memelukku. "Cium." Ulangnya.
Jantungku berdegup kencang.
"Tapi ciumnya agak lamaan ya." Pintanya.
Mataku membulat. "Jes! Apaan sih." Aku mendorongnya, tapi tangannya lebih kuat memelukku dibandingkan kekuatanku. Dia memunyunkan bibirnya ke depan merayuku.
"Jessn.."
__ADS_1
Bibirnya mendarat tepat di atas bibirku.
Dia menjauhkan diri sebentar dan kembali menciumku.
Deg
Deg
Deg
Dia menjauhkan lagi dirinya dan memelukku erat dan hangat.
Aku sedikit terbatuk kecil agar dia melepaskan dekapannya. "Ehem."
"Tadinya aku mau belajar. Tapi aku jadi semakin malas." Dia terkekeh kecil. "Jangan lepas pelukannya."
Tanpa aba-aba tanganku malah memeluknya.
"Hem.. Apa perlu kita lanjutkan di kamar?" Bisik Jessen di telingaku.
Aku mendorongnya menjauh. "Heh?! Jangan main main! Shh."
Dia tertawa dan semakin memelukku. "Aku akan melakukan perlahan." Desisnya pelan.
Aku mencubit perutnya keras.
Dia tertawa lepas. Kemudian kembali duduk tegap seperti semula di sebelahku. "Heh. Aku ngak semesum itu." Bantahnya dengan masih sedikit tertawa.
Dia kembali melihat bukunya dan membaca.
Aku memegangi wajahku yang kurasa udah sangat memerah.
Hari ini adalah hari yang benar-benar di luar dugaan. Aku bahkan tak tau kalimat apa yang tepat untuk mendeskripsikan hari ini.
Senang? Bingung? Aneh? Ntah lah
Tapi aku aku menyukai hari ini.
***
Aku tersentak terbangun dari tidurku seperti biasa. Aku tertidur di posisi belajarku semalam, aku melihat ke sebelahku. Jessen tertidur dengan memelukku.
"Hei bangun." Aku sedikit menaik turunkan bahuku tempat dia bersandar.
"Eem." Erangnya.
"Aku mau mandi." Kataku. "Kau hari ini masuk ngajar?"
Dia mengangguk. "Hem. Di kelas lain." Jawabnya.
"Ya udah kalau gitu. Sana mandi." Suruhku.
Dia mendongak melihatku. Dia menunjuk nunjuk bibirnya.
Heh? Aku belum ngerti maksudnya.
Dia terus menunggu kemudian menjadi kesal. "Ck." Dia berdecak kesal dan mengubah posisinya duduk menghadapku yang masih menghadap depan. Dia memegang tubuhku dan mengerakkan badanku tepat menjadi berhadapan dengannya.
Dia mendekatkan wajahnya kearahku. "Cium."
Hah? Lagi?
Jessen jadi semakin genit.
Aku menjewernya membuat dia meringis kesakitan. "Aa.. Kok di jewer sih? Sakit tau..."
"Biarin.. kamu sih makin genit." Aku melepaskan jeweranku tadi.
Dia membolangkan matanya dan tersenyum nakal. "Tunggu... Kamu? Kau memanggilku kamu?"
Eh... Kenapa jadi aku yang sok lembut manggil dia pake kamu sih?!
"E.. Eng.. ngak kok. Salah dengar kali." Sangkalku. Aku mencoba berdiri dari dudukku. Dia menarik tanganku membuat badanku menjadi menimpanya. Dia memelukku. "Coba ulangi. Panggil aku pake kata kamu."
"Ngak mau. Aku ngak mau." Bantahku.
Dia sedikit memiringkan kepalanya dan tersenyum. "Love you."
Mukaku menjadi memanas karena kalimat yang keluar dari bibirnya barusan.
catatan penulis:
jangan lupa di like, vote dan rate ya guyssss
love you...
__ADS_1